Transformasi Nilai Kebatakan

Ngeri-Ngeri Sedap!

 
0
67
Tiga Karsa Strategi Kebudayaan Batak

Leluhur Batak mengamanatkan (metafora): Lambiakmi ma galmit! (Cubitlah perut sendiri). Bermakna: Bila kelakuan anak kurang baik, sadarilah bahwa itu karena kekurangan orangtua sendiri sebagai teladan. Apakah kita, orangtua Hita Batak, hari ini masih berkarakter Batak? Atau yang paling sederhana: “Apakah hari ini kita berbahasa Batak dengan anak-cucu kita?”

Pada masa lalu, era kolonisasi dan misionisasi, di Tanah Batak, proses transformasi sosial ini berlangsung campur-aduk: secara individual (interpersonal), sistem sosial (penjajahan feodalisme dan doktrin agama), evolusi dan revolusi, peperangan (pemberontakan) dan kekerasan individu (penyimpangan sosial), yang berada di bawah tekanan arus narasi terdistorsi, misinformasi dan disinformasi. Sehingga, sangat memerlukan perubahan naratif baru, transformasi strategis.

Perubahan narasi baru dan esensial dalam transformasi strategi kebudayaan Batak adalah bahwa nilai-nilai luhur budaya yang religius adalah kekuatan untuk mengubah kewajiban moral menjadi fakta moral. Jadi esensinya adalah revitalisasi progresif, kreatif dan inovatif: Berpikir raksasa, belajar raksasa, dan berkarsa buddhayah raksasa berkekuatan nilai-nilai luhur budaya religius kebatakan. Sikap dan tindakan raksasa apa yang bisa kita lakukan? Kata bijak Napoleon Hill mengatakan: “Jika Anda tidak dapat melakukan hal-hal besar, lakukan hal-hal kecil dengan cara yang hebat.”[1] Contohnya, biasakan berbahasa Batak dan sopan kepada anak-cucu. Sangat sederhana, tapi sangat hebat!

Strategi kebudayaan itu adalah berorientasi masa depan, futuristik; Transformasi masa depan. Masa depan bukan berarti hanya hari esok diri kita sendiri, tetapi masa depan anak-cucu dan generasi-generasi berikutnya. Sebagai salah satu unsur transformasi masa depan strategi kebudayaan (Batak), adalah generasi muda. Apakah kita mempunyai keyakinan bahwa anak-anak dan cucu kita akan memiliki keberadaan dan eksistensi kebatakan seperti yang kita harapkan? Atau justru sebaliknya, kita sangat mengkuatirkannya? Lalu, dengan mudahnya kita menumpahkan kesalahan kepada mereka dengan terjadinya penyimpangan nilai-nilai yang dianutnya dalam era millenium ketiga ini?

Miriam Finn Scott (1921) dalam How to Know Your Child (Bagaimana Mengenal Anak Anda) menegaskan, kita harus melihat jauh ke dalam di balik gejala tersebut, dan jika kita melihat dengan jujur, mata terbuka, kita akan sering menemukan bahwa sumber penyakit – masalah serius pada anak kita yang menyakitkan dan mempermalukan kita – terletak di dalam diri kita sendiri; bahwa pada kenyataannya kita, orangtua, adalah masalahnya, bukan anak kita.[2]

Maka leluhur Batak mengamanatkan: Lambiakmi ma galmit! (Cubitlah perut sendiri). Bermakna: Bila kelakuan anak kurang baik, sadarilah bahwa itu karena kekurangan orangtua sendiri sebagai teladan. Apakah kita, orangtua Hita Batak, hari ini masih berkarakter Batak? Atau yang paling sederhana: “Apakah hari ini kita membiasakan diri berbahasa Batak dengan anak-anak kita?” Bahasa adalah induk narasi dan nilai budaya yang paling tua dan esensial. Cara terdalam menarasikan karakter Batak adalah berbahasa Batak. Finn Scott mengatakan apa yang tidak cukup kita sadari adalah bahwa anak kecil memperoleh kebiasaan hidupnya sebagian besar dari kita, orangtuanya. Anak-anak kita sebagian besar adalah reflektor, peniru, dari diri kita sendiri; dan jika kebiasaan mereka buruk, jika karakter mereka kurang berkembang atau tidak berkembang, jika perilaku mereka menyinggung kita dan memberikan janji yang tidak menyenangkan tentang masa depan, maka dalam diri kita sendiri, kita harus mencari setidaknya beberapa penyebab kelemahan mereka dan kecenderungan yang tidak menguntungkan.[3]

Salah satu prinsip hidup orang Batak, seperti juga umumnya manusia beradab, adalah Anakhonhi do hamoraon di ahu (Anakku itulah kekayaanku); Maka orangtua berusaha melakukan yang terbaik bagi anaknya. Tetapi hal ini tidak cukup hanya dengan niat dan tekad juang baik, tetapi harus dicerdaskan ilmu pengetahuan mendidik anak dan pengenalan diri sendiri. Finn Scott mengatakan, kebanyakan orangtua dengan sungguh-sungguh berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi anak-anak mereka; Saya tahu betul tentang pengorbanan diri yang terus menerus dilakukan ibu untuk anak-anak mereka. Namun, ini bukanlah masalah niat; ini adalah masalah pengetahuan, dan masalah pengetahuan diri.[4]

Menurut Scott, subjek ini secara alami membagi dirinya menjadi dua topik: pertama, apa kesalahan atau kesalahan perkembangan atau ketidaktahuan dalam diri kita yang mungkin sama sekali tidak kita sadari, yang mungkin menjadi sumber kesalahan yang disesalkan pada anak-anak kita; dan kedua, bagaimana kita menjalankan usaha untuk menemukan mereka; dan, setelah kekurangan ini dikenali, bagaimana kita mencoba memberantasnya dan bagaimana kita menangani masalah serius untuk pengembangan diri yang lebih baik? Yang terpenting dari keduanya adalah masalah analisis diri, atau diagnosis diri. Lakukan dengan diri Anda sendiri persis seperti yang dilakukan dokter yang baik: tanyakan pada diri Anda, periksalah diri Anda.[5] Lambiakmi ma galmit!

Jika Anda menuntut bentuk “perilaku baik” tertentu, seperti ketaatan, rasa hormat, perhatian, tidak mementingkan diri sendiri, bersyukur, apakah Anda selalu, dengan karakter perilaku Anda sendiri terhadap mereka, menginspirasi mereka untuk merespons dengan cara yang diinginkan? Jadi kita mungkin mempertanyakan diri kita sendiri tanpa batas waktu, pertanyaan kita muncul dari kesalahan yang tampak pada anak kita dan hubungan kita dengan kesalahan itu. Dalam cinta kita akan ketertiban dan kedamaian dan ketenangan, kita mungkin menuntut kepatuhan pada standar kita sendiri dari anak; Dan kita mungkin menemukan bahwa kita telah menegur anak itu karena tingkah lakunya yang normal, sampai kita akhirnya menanamkan pada anak itu rasa bersalah dan menaburkan benih penipuan atau pemberontakan di dalam dirinya.[6]

Seorang anak dengan perlakuan seperti itu dapat berubah menjadi bom kebencian, kemungkinan besar akan meledak dengan cara apa pun dan dengan cara yang paling menakjubkan. Kita mungkin menemukan bahwa kita telah jatuh ke dalam kebiasaan, ketika ada yang tidak beres dengan diri kita, untuk menimpanya pada anak; dengan menghukumnya tanpa alasan, dengan menekannya, dengan secara sewenang-wenang menolak tuntutan sahnya. Kita mungkin menemukan bahwa kita memiliki rasa hormat yang terlalu tinggi terhadap apa yang orang lain pikirkan tentang anak-anak kita dan perilaku mereka; bahwa di balik seluruh sikap kita terhadap anak-anak kita terdapat pertanyaan yang paling konvensional dan mengerikan, “Apa yang akan dikatakan orang?” Kita mungkin menemukan bahwa kita telah terbiasa berbicara dengan lantang dan tajam kepada anak, akibatnya anak yang meniru berbicara dengan cara yang sama kepada kita, dan, menyelesaikan siklus kecil ini, bahwa kita marah tidak hormat. Kita mungkin menemukan bahwa kita telah tergelincir ke dalam sikap mengetahui segalanya terhadap anak-anak kita, yang tidak pernah dapat kita akui dengan jujur.[7]

Advertisement

Penemuan semacam itu hampir tidak akan berakhir jika kita tidak melakukan eksplorasi diri. Dalam premis bahwa perubahan itu abadi, Hita Batak dituntut terus melakukan eksplorasi diri, memulihkan, mengubah, merevitalisasi, meningkatkan kualitas karakter Batak dimulai dari diri sendiri.

Dalam laporan penelitian psikologi Rich Janzen, S. Mark Pancer, Geoffrey Nelson, Colleen Loomis, dan Julian Hasford (November 2010): Evaluating Community Participation as Prevention: Life Narratives of Youth (Mengevaluasi Partisipasi Masyarakat sebagai Pencegahan: Narasi Kehidupan Pemuda),  hal mana model dimulai dengan remaja yang masuk dan keluar dari lingkungan komunitas karena faktor individu (motivator dan hambatan internal) dan kualitas setting komunitas (faktor yang memfasilitasi dan menghambat partisipasi mereka). Hasil dari partisipasi masyarakat meliputi refleksivitas pribadi, atau makna bahwa pemuda melekat pada pengalaman partisipasi mereka, dan dampak yang lebih konkret, termasuk persepsi mereka tentang perubahan karakter dan perubahan dalam keterlibatan masyarakat. Akhirnya, model mengakui bahwa partisipasi masyarakat dan konstruksi narasi kehidupan adalah proses interaktif dan berulang. Artinya, keduanya memengaruhi dan membentuk satu sama lain dalam siklus yang sering diulangi seperti yang direpresentasikan dalam putaran kembali ke pengaturan komunitas.[8]

Selain itu, partisipan juga menyoroti perubahan karakter positif yang dihasilkan dari partisipasi kesamaan mereka. Oleh karena itu, temuan mereka mencerminkan studi yang menunjukkan hubungan antara keterlibatan dalam pengaturan komunitas dan kesejahteraan. Secara khusus, temuan mendukung manfaat yang terkait dengan program pencegahan berbasis komunitas, termasuk peningkatan kepercayaan diri dan harga diri, kontak dan dukungan sosial yang ditingkatkan, dan peningkatan keterampilan dan pengetahuan (Pancer & Cameron, 1994). Terakhir, peserta juga mencatat bahwa partisipasi komunitas mereka menghasilkan peningkatan keterlibatan komunitas di masa depan, juga sesuai dengan penelitian sebelumnya. Analisis mereka lebih lanjut menyoroti bahwa pemuda cenderung mengulangi partisipasinya di lingkungan komunitas yang sama atau lainnya jika pengalaman partisipasi sebelumnya positif.[9]

Ya, tanamkan karakter Batak kepada generasi muda secara bermartabat, melalui pola pengasuhan dan panutan positif, yang dimulai dan berkekuatan dari dan dalam diri sendiri. Intinya adalah berpusat pada keteladanan orangtua. James Baldwin mengatakan, anak-anak tidak pernah pandai mendengarkan orang tua mereka, tetapi mereka tidak pernah gagal untuk meniru mereka.[10]

Strategi kebudayaan adalah proses belajar raksasa, berpikir raksasa, dan berkarsa buddhayah raksasa, dimulai dari diri sendiri tanpa batas waktu dan tanpa kata terlambat saat kita berani mulai melakukannya. Mulailah dengan cara sederhana tetapi strategis, antara lain (awali), dengan membiasakan berbahasa Batak setiap kali berinteraksi dengan anak-cucu.

Namun, di sisi lain, betapa buruknya pun pembunuhan karakter yang kita hadapi, yang juga telah memengaruhi karakter kita dan anak-anak kita hari ini, sangat tidak perlu merasa terlalu kuatir atau ketakutan atas karakter Batak masa depan. Kekuatiran berlebihan, atau ketakutan adalah hantu ketidaktahuan dan takhayul. Sebagaimana disebut Edward Huntington Williams dan Ernest Bryant Hoag (1923) dalam Our Fear Complexes (Kompleks Ketakutan Kita): “Mereka adalah binatang hitam fantasi yang melumpuhkan jam bangun kita dan mengisi mimpi kita dengan rambut gimbal yang tidak wajar. Sebuah ‘represi’ hanyalah hantu dari sesuatu yang tidak nyata, atau monster yang belum terpenuhi dan tidak ditaklukkan.”[11]

Ketakutan menghantui orang-orang religius sama seperti mereka yang tidak beragama; yang cerdas sebanyak yang tidak cerdas; ini memang sebagian besar masalah emosi dan relatif sedikit hubungannya dengan keyakinan atau kecerdasan. Tapi emosi bisa dipahami dan dilatih, dan kita harus menjadi tuan, bukan budak emosi kita.[12] Dan rambut gimbal seperti itu cenderung membentuk ‘konflik’ dan ‘represi’, dan membawa perubahan karakter yang tidak menguntungkan.[13] Williams dan Hoag mengatakan ketakutan, secara singkat, merangkum beberapa fungsi yang diketahui dikendalikan atau dipengaruhi oleh kelenjar pituitari. Organ ini tidak hanya memengaruhi pertumbuhan dan fungsi tubuh tertentu, tetapi juga dapat menentukan perubahan karakter dan sikap mental.[14]

Jangan takut! Bahkan justru kita (Hita Batak) harus berada di barisan terdepan optimisme, kepercayaan dan keberanian raksasa dengan inovasi budaya menggunakan kembali konten nilai luhur budaya yang intrisik di subkultur kita sendiri untuk menanggapi tantangan yang muncul dan melompatinya. Sebagai pencerahan, dalam ruang lingkup lebih khusus, persaingan bisnis, Douglas B. Holt, pakar terkemuka dalam strategi merek, bersama Douglas Cameron, Co-Principal The Cultural Strategy Group, dalam bukunya Cultural Strategy, menggunakan strategi kebudayaan memandu para manajer dan pengusaha tentang bagaimana memanfaatkan peluang ideologis inovatif untuk membangun merek yang tepat, menanggapi permintaan yang muncul dan melompati merek petahana yang sudah mengakar.[15] Film Ngeri-ngeri Sedap, cukup baik melakondramakan hal ini.

 

Petikan Pendahuluan Buku Hita Batak A Cultural Strategy, oleh Ch. Robin Simanullang.

 

Footnote

[1]   Lerumo, Tefo, 2019. Inspiring Quotes. Ebook: 20something publishing, p.10.

[2]   Scott, Miriam Finn, 1921: How To Know Your Child; Boston: Little, Brown and Company, p. 294.

[3]   Scott, Miriam Finn, 1921: p. 295

[4]   Scott, Miriam Finn, 1921: p. 297

[5]   Scott, Miriam Finn, 1921: p. 297-298

[6]   Scott, Miriam Finn, 1921: p. 299-301

[7]   Scott, Miriam Finn, 1921: p. 302

[8]   Janzen, Rich; Pancer, S. Mark; Nelson, Geoffrey; Loomis,Colleen; and Hasford, Julian, 2010:  Evaluating Community Participation as Prevention: Life Narratives of Youth,; Journal of Community Psychology, Volume 38/No. 8/November 2010; ISSN: 0090-4392; Hoboken: Wiley-Blackwell, p.1001.

[9]   Janzen, Rich; Pancer, S. Mark; Nelson, Geoffrey; Loomis,Colleen; and Hasford, Julian, 2010:  p.1002-1003.

[10]  Lerumo, Tefo, 2019. Inspiring Quotes, p.413.

[11]  Williams, Edward Huntington; Hoag, Ernest Bryant 1923: Our Fear Complexes; Indianapolis: The Bobbs-Merrill Company, p. Introduction

[12]  Williams, Edward Huntington; Hoag, Ernest Bryant 1923: p. Introduction

[13]  Williams, Edward Huntington; Hoag, Ernest Bryant 1923: p. 22-23

[14]  Williams, Edward Huntington; Hoag, Ernest Bryant 1923: p. 240-241

[15]  Holt, Douglas B. & Cameron, Douglas, 2010: Cultural Strategy: Using Innovative Ideologies to Build Breakthrough Brands; Oxford: Oxford University Press.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here