Perspektif dan Pemalsuan Nilai Luhur Batak

PengantarBuku Hita Batak A Cultural Strategy

 
2
121
Buku Hita Batak A Cultural Strategy

Sudah lumayan banyak tulisan mengenai suku bangsa Batak, yang ditulis oleh orang asing, yang tentu dalam perspektif asing. Maka untuk melengkapi dan pemperkayanya sangat diperlukan banyak penulisan yang bervisi dan berperspektif Batak, yang berpusat pada hati dan nurani orang Batak sendiri yang secara empiris mewarisi ‘tulisan dalam hati’ pustaha leluhur Batak. Yakni Pustaha Batak (pustaka dalam visi hati Batak) yang tidak pernah dibaca oleh orang asing dan tentu tidak pernah menjadi referensi oleh para penulis (cendekiawan) asing.

Dalam konteks ini, tentu kita sangat menghargai semua penulisan asing tentang Batak, walaupun hampa refrensi hati Batak, sehingga banyak yang bernada fals, minor, miring, insinuatif dan berprasangka negatif; Karena perbedaan visi dan perspektif di samping akibat keterbatasan dan ‘ketersesatan’ pengetahuan mereka yang hampa Pustaha Batak (yang ditulis dalam hati Batak). Sebab, umumnya mereka menulis Batak dari pinggiran, dari sumber-sumber Dalle (Batak tersesat dan tercemar serta Batak pengkhianat) di perbatasan (pinggiran) yang tidak lagi bervisi dan berhati Hita Batak, bahkan sudah malu dan tak mengaku Batak lagi. Tentu saja, sangat mungkin, penulisan yang bersumber dari Dalle tersebut fals, minor, tersesat, insinuatif dan negatif.

Memang, perihal perspektif itu tergantung di mana seseorang berdiri. Bahkan, jika dua orang yang berdiri tepat di samping satu sama lain tidak melihat hal yang persis sama. Jika kita melihat seekor gajah dari jarak dekat, gajah itu terlihat besar. Tetapi jika kita melihat gajah yang sama dari jarak jauh, gajah itu terlihat kecil. Dunia adalah bagaimana kita melukisnya. Begitulah cara kita melihat sesuatu. Semua perspektif tergantung di mana kita berdiri. Sebagaimana Lao-tzu berkata dalam Dao de jing: “Ketika orang melihat sesuatu itu indah; Hal-hal lain menjadi jelek. Ketika orang melihat beberapa hal sebagai baik; Hal-hal lain menjadi buruk.”[1]

Demikianlah perspektif orang asing, dari tempat asing, atau dari tempat pinggiran Tanah Batak, bahkan ketika orang asing berdiri berdampingan dengan kita, tidak melihat hal yang persis sama. Belum lagi berbicara tentang pusat berpikir, hati nurani dan suara darah Batak yang pasti berbeda dengan pihak asing. Maka sangat wajar bila perspektif asing tentang Batak tidak selalu sama, atau bahkan sangat jauh berbeda, daripada perspektif Batak sendiri. Bahkan sesama Batak pun tentulah tidak selalu mempunyai penglihatan yang sama. Maka kita mesti marhabisuhon (bijaksana) memahami perspektif tersebut. Sebuah kata metaforis  Chuang-tzu menyebut: “Jika kita dapat melihat bahwa bumi hanyalah sebutir pasir dan bahwa ujung rambut seperti gunung maka kita telah memahami masalah perspektif ini.”[2] Namun, yang dialami Hita Batak bukan semuanya murni perspektif natural (misinformasi), melainkan juga perspektif palsu yang disengaja (disinformasi).

Sebagai contoh, asal kata dan sebutan nama Batak, umumnya penulis asing, di antaranya CM. Pleyte Wzn (1894) dalam Bataksche Vertellingen (Narasi Batak), menyebut bahwa orang Batak sendiri tidak suka disebut Batak, bahkan akan tersinggung bila disebut Batak.[3] Ini pandangan yang aneh, salah dan ter­sesat, cenderung miring. Kenapa aneh, salah dan tersesat? Karena mereka mendapat sumber dari Dalle (Batak na lilu, Batak tersesat, Batak bindoran parjehe – Batak bunglon pengkhianat). Tentu (secara etnologis) akan lebih tepat dan orisinal bila mereka mendapat sumber dari pusat jantung Tanah Batak dari mana orang Batak menyebar dan di mana kebudayaan Batak berkembang lebih orisinal atau sangat sedikit dipengaruhi (tercemar) budaya luar (tetangga atau asing). Di centrum Tanah Batak (seputar Danau Toba) orang Batak sangat bangga dengan kebatakannya: Ahu Batak! Hita Batak! Bagi orang Batak asli, arti dan makna hakiki dari nama dan sebutan Batak adalah manisia (manusia), seperti halnya Adam (manusia) dalam Genesis: De naam Batak beteekent „mensch”.[4] Ini adalah contoh fundamental kesalahan dan ke­tersesatan sebagian besar penulis asing tentang Batak, bahkan ironisnya diikuti sebagian penulis/cendekiawan Batak sendiri.

Contoh lain, yang menjadi ikon kesalahan dan ketersesatan para cendekiawan asing tentang Batak; ketika ahli geologi dan botani Jerman-Belanda Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn meneliti Tanah Batak (1841-1842) berkesimpulan dalam buku laporan penelitian ilimiahnya Die Battaländer auf Sumatra (1847) bahwa Danau Toba itu tidak ada, hanya ilusi optik (optische täuschung), optical illusion, mirage, fatamorgana atau mitos.[5] Bayangkan, Tao Toba (Danau Toba), danau vulkanik agung yang mengguncang bumi 74 ribu tahun lalu serta yang begitu luas dan indah disimpulkan secara ilmiah oleh ahli geologi Jerman-Belanda (Barat yang mengaku-ngaku bangsa Arya dan cendekia), hanya ilusi optik (optische täuschung). Geli! Geok! Sebab, Danau Toba itu nyata, otentik dan adalah simbol jantung hati orang Batak. Danau suci orang Batak! Mengapa Junghuhn tersesat dan membuat kesalahan fatal yang geok (geli) itu? Sudah pasti, karena dia, seperti penulis asing lainnya, menulis Batak dari pinggiran, tidak dari jantung hatinya, dan hanya mau/mampu memandang dari jauh dan tidak mampu menembus pandang gumpalan awan di hadapannya sehingga menyebut Danau Toba  hanya ilusi optik (optische täuschung).

Begitu pula ketika berlangsungnya penyebaran agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak, juga dilakukan dengan ‘kesalahan fundamental’ dengan sikap ekstremis terpengaruh situasi dan semangat Perang Salib atau Perang Sabil di Eropa dan Timur Tengah yang berkepanjangan; Secara khusus kondisi di Jerman sebagaimana digambarkan Dr. C. Snouck Hurgronje (1915) dalam Majalah Belanda De Gids, 1915, No.I, berjudul De Heilige Oorlog Made in Germany, sehingga misionaris memilih kristenisasi melalui Perang Suci (Holy War) di Tanah Batak; Begitu pula Paderi memilih Perang Sabil sadis di Tanah Batak.

Para misionaris nyaris tidak pernah berusaha serius lebih mengutamakan Evangelisasi dengan lebih dulu memahami Teologi Batak[6] tentang The High God,[7] Debata Mulajadi Nabolon (Sang Khalik Mahabesar), Na Sada Sitolu Suhu (Satu dalam tiga unsur: Tritunggal), Na so marmula so marujung (yang tidak bermula dan tidak berujung), dan bertahta di langit tertinggi (langit ni langitan); Di mana unsur-unsur religius­nya sangat banyak yang berkesesuaian dengan agama samawi (agama Abrahamik), khususnya Taurat (PL), sebagaimana dikemukakan Pandortuk (Van der Tuuk).[8]

Mereka justru secara radikal (ekstrem) menista, merendahkan dan menghancurkan kepercayaan leluhur Batak kepada Debata Mulajadi Nabolon tersebut. Padahal nilai-nilai kepercayaan itu sangat menyatu dengan semua aspek kehidupan (yang berpusat pada visi dan hati) Batak, sampai hari ini. Bahkan ironisnya, ketika Si Singamangaraja XI maupun XII sebagai Raja Imam dan personifikasi Batak, berusaha menemui para misionaris tetapi tidak direspons bahkan ditolak.[9] Hati Hita Batak merasakan hal ini adalah kesalahan fundamental yang justru menjauhkan (menolak) Raja Imam dan personifikasi Batak itu dari Injil,[10] yang juga bermakna menjauhkan kebenaran Injil dari lubuk hati terdalam Batak, yang berakibat sampai hari ini di mana gereja-geraja Batak mengalami pergulatan yang konstan;[11] dan parahnya terjebak pula dalam dimensi waktu siklus (berulang kembali ke titik awal), yang semestinya berdimensi linear.

Kita sesungguhnya sangat bersedih harus menuliskan hal di atas. Laksana cucuran api air mata kesedihan cinta yang membara. Sebab apa yang dilakukan oleh para misionaris untuk me­nyampaikan Kabar Baik kepada orang Batak adalah  anugerah yang sangat agung bagi sebagian besar orang Batak. Dan (namun) justru kebenaran hakiki dalam Injil itulah yang mengilhami dan menguatkan hati (api air mata cinta yang membara menjadi api air mata yang menerangi) kita untuk menuliskannya (2 Tim. 3:16), setelah berpikir dalam hati, merenung dalam hati dan berdoa dalam hati.

Advertisement

Tentu saja bukan untuk mengurangi rasa hormat dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para misionaris, di antaranya Ompu i Nommensen yang berkekuatan Nabi Eropa di Tanah Batak, melainkan justru dimaksudkan untuk mencerahkan dan mencerdaskan iman (kecerdasan iman, kecerdasan hati) kita sendiri dan orang-orang Batak yang berkenan, untuk ‘melepas tali sepatu dan celana Jerman/Eropa’ dalam mengaplikasikan kebenaran Injil. Supaya orang Batak Kristen menumbuhkan (menghidupkan) Injil dalam benak ha­tinya yang terdalam, layaknya Pustaha Batak, yang secara total memengaruhi (mengendalikan) seluruh hidupnya, seperti visi dan hati leluhur Batak (orang Batak) diliputi kepercayaan dan nilai-nilai adatnya yang religius. Suatu hal yang sulit dilakukan dengan akal atau hati Jerman yang ternyata tahun 2017 sudah 34% atheis atau tidak berafilisasi kepada salah satu agama.[12] Maka, setelah lebih 150 tahun, orang Batak Kristen sudah menerima kabar baik Injil, seyogianyalah lebih baik dari pemahaman dan ‘pangulahonon’ para Misionaris, ahli Taurat dan Farisi. (Mat. 5:20).

Selain itu, salah satu ‘tali sepatu dan celana Jerman (Eropa)’ yang dikatakan disematkan di kepala orang Batak, yang sudah saatnya dilepas adalah kerak racun konsepsi Heiliger Krieg, apa pun tujuan mulianya, apalagi mengatasnamakan Tuhan; karena menurut para teolog Perjanjian Baru (Injil) dan ahli sejarah bahwa Perang Suci dan/atau Perang Salib adalah ‘monumen kebodohan manusia’ (monument the human folly)[13] dan merupakan ‘satu tindakan intoleransi panjang dalam nama Tuhan yang merupakan dosa terhadap Roh Kudus’ (the sin against the Holy Ghost).[14] Khususnya dalam konteks Hita Batak, kiranya agama jangan menjadi doktrin yang justru menjadi pemisah kekerabatan Dalihan Na Tolu. Baik Hita Batak yang beragama Kristen, jadilah Garam dan Terang Dunia; Maupun Hita Batak yang beragama Islam, jadilah Rahmat bagi Semesta Alam (Rahmatan lil’Alamin). Le­pas ‘tali sepatu dan celana Eropa dan Timur Tengah’ yang penuh kerak racun Crusades and Sabil Wars (Perang Salib dan Sabil).

Di samping itu, sangat mungkin ada kesengajaan pihak asing yang terafilisasi kelompok rahasia intelektual korup Freemasonry jahat[15], demi kepen­tingan penjajahan, yang sengaja mengaburkan dan memalsukan nilai luhur budaya dan sejarah Batak, antara lain dengan menghancurkan bukti-bukti sejarah Batak supaya tidak bisa lagi diteliti dan dibuktikan kebenarannya sehingga Batak disebut suku bangsa tanpa sejarah; Serta sengaja memutuskan hubungan orang Batak dengan leluhurnya dengan berulang-ulang (masif) mengatakan bahwa leluhur Batak itu goblok, kasar, paling bia­dab di dunia, kanibalis paling biadab dan tak jelas asal-usulnya. Sebagaimana ‘dibongkar’ oleh Jüri Lina tentang kejahatan para Freemason itu dalam Architects of Deception, The Concealed History of Freemasonry (Arsitek Penipuan, Sejarah Tersembunyi Freemasonry).[16] Apa yang dikemukakan Jüri Lina bukan isa­pan jempol. Bayangkan, dalam konteks Batak, bukan hanya ‘cendekia’ penjajah tetapi juga para misionaris, selalu menyebut Raja Imam Batak, Si Singamangaraja, seorang kanibalis biadab, dan kanibalisme itu disebut seolah bagian dari karakter, moral dan budaya Batak.[17] Sebuah penis­taan dan pembunuhan karakter Si Singama­ngaraja sebagai personifikasi Batak, oleh asing, cendekia kolonialis-misionaris dan Freemasonry korup yang teramat sadis. Pembunuhan karakter Batak yang sistematis sadis, yang berdampak hingga hari ini. Bahkan oleh sebagian orang yang menyebut diri atau berlatar belakang Batak intelektual dan dewan mangaraja adat-budaya Batak sendiri, yang secara sadar atau tidak, menempatkan dirinya dalam kabut perspektif asing dan Dalle.

Maka, sangat arif bila orang Batak tidak ada lagi berwatak Dalle yang menista suku bangsanya sendiri dengan menyanjung doktrin ‘tali sepatu dan celana Eropa maupun Arab’; Seperti, menyanjung kolonialis dan misionaris sebagai pahlawan dan sebaliknya justru menista para raja-raja dan pejuang rakyat Batak sebagai pecundang. Itu adalah watak dan karakter Dalle! Sebaiknya, jadilah sebagai diri sendiri, Batak religius, Batak Anak ni Raja, berintegritas tinggi, berhati nurani, bervisi dan berjatidiri Hita Batak yang memiliki kecerdasan iman: Batak Trisilais! Hal ini, mengundang kontemplasi dalam curahan api air mata cinta dalam kesedihan atau sakit gigi yang menyakitkan.

Penyair Kristen Arab-Libanon Kahlil Gibran dalam syairnya bertajuk Contemplations in Sadness (Renungan dalam Kese­dihan) menyuarakan: “Penderitaan orang banyak adalah seperti penderitaan karena sakit yang menggerogoti, dan di mulut masyarakat ada banyak gigi yang rusak dan sakit. Tetapi masyarakat menolak pengobatan yang hati-hati dan sabar, memuaskan dirinya dengan memoles eksterior dan mengisinya dengan emas berkilau yang membutakan mata terhadap ke­rusakan di luar. Tetapi pasien tidak bisa membutakan dirinya sendiri terhadap rasa sakit yang terus-menerus. Banyak dokter gigi sosial yang berusaha untuk menangani kejahatan dunia, menawarkan tambalan kecantikan, dan banyak di antaranya adalah penderita yang tunduk pada kehendak para reformis dan dengan demikian meningkatkan penderitaan mereka sendiri, menarik lebih dalam kekuatan mereka yang memudar, dan menipu diri mereka sendiri lebih pasti ke jurang kematian; …. di mana kebohongan dan kemunafikan berlaku; dan di gubuk-gubuk orang miskin, di mana ketakutan, ketidaktahuan, dan kepengecutan tinggal. Para dokter gigi politik jari-jari lembut menuangkan madu ke telinga rakyat, berteriak bahwa mereka mengisi celah-celah kelemahan bangsa. Lagu mereka dibuat agar terdengar lebih tinggi dari suara gerinda batu kila­ngan, tetapi sebenarnya itu tidak lebih mulia dari suara katak di rawa-rawa yang tergenang.”[18] Atau yang paling lazim disebut dalam bahasa rakyat jelata: seperti katak di bawah tempurung.

Cukup indah menggambarkan situasi kebatakan kita pada masa lalu yang berdampak hingga hari ini. Bahkan kita dan generasi muda kita pun terbuai ekstasi kosmetik kecantikan luar. Seperti yang disuarakan syair Kahlil Gibran: “Kecantikan adalah milik kaum muda, tetapi kaum muda yang untuknya bumi ini diciptakan hanyalah sebuah mimpi yang manisnya diperbudak oleh kebutaan yang membuat kesadarannya terlambat; ….. Tujuan kegembiraan kaum muda – mampu dalam ekstasi dan tanggung jawabnya yang ringan – tidak dapat mencari pemenuhan sampai pengetahuan menandai fajar hari itu. Banyak di antara mereka yang mengutuk dengan racun hari-hari mati masa muda mereka; …. yang menggunakan hati mereka hanya untuk menyelubungi belati kenangan pahit masa depan, melukai diri mereka sendiri karena ketidaktahuan dengan panah tajam dan beracun pengasingan dari kebahagiaan. Usia tua adalah salju di bumi; itu harus, melalui terang dan kebenaran, memberikan kehangatan kepada benih-benih pemuda di bawah, melindungi mereka dan memenuhi tujuan mereka sampai Nisan datang dan melengkapi kehidupan murni pemuda yang tumbuh dengan kebangkitan baru. Kita berjalan terlalu lambat menuju kebang­kitan keting­gian spiritual kita, dan hanya bidang itu, yang tak berujung seperti cakrawala, adalah pemahaman tentang keindahan keberadaan melalui kasih sa­yang dan cinta kita pada keindahan itu.”[19]

Kutipan Hata Huhuasi Penulis Buku Hita Batak A Cultural Strategy: Ch. Robin Simanullang.

Footnote:

[1] Ocean, Wide, 2020. Three in The Morning and Four in The Afternoon. Fremantle: Vivid Publishing, p.82-83.

[2] Ocean, Wide, 2020, p.83.

[3]   Pleyte Wzn,C.M., 1894: Bataksche Vertellingen, Utrecht: H. Honig, blz.VII-VIII.

[4]   Freudenberg, R., 1904: Onder de Bataks op West-Sumatra, Lichtstralen op den Akker der Wereld, II-III, Rotterdam: M. Bredée, bl.88.

[5]   Junghuhn, Franz Wilhelm, 1847 (Band 1): Die Battaländer auf Sumatra, Berlin: G. Reimer, s.270.

[6] Schreiner, Lothar, 1978: Telah kudengar dari ayahku – Perjumpaan Adat dengan Iman Kristen di Tanah Batak, Jakarta: BPK Gunung Mulia, h.xii.

[7]   Tobing, Philip O Lumban, 1956: The Structure of the Toba-Batak Belief in the High God, Amsterdam, Vergouwen, Jaoob van Campen, p.4-7.

[8]   Nieuwenhuys, Rob (Editor), 1982: b.84

[9] Hemmers, JH., 1928: Schetsen uit Het Leven van Ludwig Ingwer Nommensen, den Apostel der Batakkers, Amsterdam: Bosch R Keuning, Baarn, bl. 133.

[10] Bandingkan: Abram J. Klassen, ed., 1967: The Church in Mission, California: Board of Christian Literature, Mennonite Brethren Church, p.232

[11] Warneck, Johannes (Auteur); H.v.L. (Coauteur), 1927: Hoe het tegenwoordig in de Bataklanden gesteld is, Amsterdam: Halfstuivers-Vereeniging der Rijnsche Zending bl.2.

[12]  World Population Review; https://worldpopulationreview.com/countries/germany-population/

[13]  Tyerman, Christopher, 2004: Fighting For Christendom Holy War And The Crusades, New York: Oxford University Press Inc, p.vii.

[14]  Tyerman, Christopher, 2004: p.14.

[15]  Freemasonry, asal kata mason, maçon (Perancis), artinya ‘tukang batu’; sebuah organisasi tertutup (rahasia) yang anggotanya (Freemason) diikat sumpah setia membangun komunitas dan pengertian bersama atas kebebasan berpikir (akal) dengan standar tinggi, tetapi ada yang korup (jahat), sering menyesatkan dan melakukan pemalsuan (penipuan) intelektual.

[16] Lina, Jüri, 2004: p.12.

[17] BRMG 1878 (12), p. 368; Terjemahan Kozok, Uli, 2010: h. 73; dan, Radermacher, J.C.M., 1787: Beschryving van Het Eiland Sumatra, in Zo Verre Het Zelve tot Nog toe Bekend Is; in Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen, Derde Deel; Rotterdam: Reinier Arrenberg; Amsterdam: Johannes Allart; Batavia: Egbert Heemen, b. 26.

[18]  Gibran, Kahlil,  1947: The Secrets of The Heart, p.307-308.

[19]  Gibran, Kahlil,  1947: The Secrets of The Heart, p.308-310.

 

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here