Baptisan Batak Pertama

Gerrit van Asselt membabtis Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon

 
0
330
Orang Batak dari Tanah Batak Merdeka 1861: Foto Koleksi Van Asselt

Pada perayaan Paskah 31 Maret 1861 di Sipirok, sebelum Rheinische MissionsGesellschaft (RMG) Jerman, resmi mengawali misinya di Tanah Batak, 7 Oktober 1861, Van Asselt membaptis dua orang Batak pertama, sebagai buah sulung penginjilan­ di Tanah Batak, setelah mereka dinilai cukup siap,[1] yakni Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon.

Pada Desember 1859, setelah banyak berdoa dan berjuang, Van Asselt memutuskan untuk meminta pe­ngunduran dirinya sebagai Pengawas Tanaman, untuk bisa lebih fokus mengabdikan diri sebagai misionaris penginjilan. Bersamaan dengan itu, Rheinische MissionsGesellschaft (RMG) Jerman telah berencana melaksanakan misi ke Tanah Batak.

Sementara, pada perayaan Paskah 31 Maret 1861 di Sipirok, sebelum RMG resmi memulai misinya di Tanah Batak, Van Asselt membaptis dua orang Batak pertama (sulung) buah penginjilan­nya, setelah mereka dinilai cukup siap,[2] yakni Simon Siregar (Si Main) dan Jakobus Tampubolon (Si Pagar). Suatu perayaan Paskah menyenangkan yang telah lama dirindukannya. Van Asselt mengucapkan terima kasih kepada Tuhan dari lubuk hatinya dan hampir tidak bisa mengungkapkan betapa besar sukacita perasaannya.[3] Kita memandang, sesungguhnya gereja-gereja di Tanah Batak (HKBP, HKI, GBKP, GKPS, GKPA, GKPB, GKPI, GKLI, Katolik, GMI, GPI, GBI, dll) sepantasnya memperingati dan merayakan tanggal 31 Maret 1861 sebagai Hari Baptisan Batak atau hari kelahiran Gereja di Tanah Batak (Th. Müeller Krüeger)[4] dalam suatu upacara sendiri-sendiri atau bersama, tanpa ego sektoral organisasi gereja.

Setelah Hari Baptisan Batak pertama itu semakin lebih banyak orang yang tertarik datang ke pendidikan baptisan yang dilayani Van Asselt. Yakobus dan Simon Petrus pun selalu membawa sukacita; mereka membawa Injil ke kerabat me­reka dan pergi ke kampung-kampung di sekitarnya. Setelah jiwa mereka dibebaskan dari jerat iblis (kegelapan), mereka tidak beristirahat melainkan selalu ingin berbagi kebahagiaan dan kedamaian kepada semua orang Batak.

 

Cuplikan Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 3 Oleh Ch. Robin Simanullang. Informasi lebih lanjut: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1] Coolsma, S., 1901, bl. 308

[2] Coolsma, S., 1901, bl. 308

Advertisement

[3] Asselt, G. van, ca.1895: bl.10-11.

[4]   Sitompul, A.A. Dr. Pdt.. 2005 (1981). Sitotas Nambur Hakristenon di Tano Batak, Cetakan Kedua; Jakarta: Dian Utama., h.16-18.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here