spot_img

Api Air Mata Pencarian Kebenaran

Peluncuran Buku Hita Batak A Cultural Strategy (4)

Berita Terbaru

Prakata upacara Kebaktian Peluncuran Buku Hita Batak A Cultural Strategy karya kontemplatif Ch. Robin Simanullang di Sopo Marpingkir HKBP, Jakarta, Minggu 18 Desember 2022, dimaknai ucapan pendek metafora ‘Api Air Mata Pencarian Kebenaran’. Prakata atau Hata Huhuasi tersebut disampaikan Mangatur L. Paniroy Simanullang mewakili Keluarga Penulis, The Batak Institute dan Penerbit Pustaka Tokoh Indonesia; setelah Master of Ceremony (MC) Anita Simanullang mengajak hadirin memulai acara dengan melantunkan kidung Indah Rencana-Mu Tuhan.

Mangatur LP Simanullang mengawali dan mengakhiri dengan ucapan salam Batak: “Horas tondi madingin, Pir tondi matogu.” Dengan sukacita dan kerendahan hati, kata Mangatur, kami mengucapkan puji dan  syukur kepada Debata Jahoba Mulajadi Nabolon yang kita sembah dan muliakan dalam nama Tuhan Yesus Kristus, atas anugerah dan kasih karuniaNya yang telah dilimpahkan kepada kita sehingga kita berkesempatan mengikuti Kebaktian Ucapan Syukur Peluncuran Buku Hita Batak A Cultural Strategy ini. Mauliate ma, di Ho o Debata, ala basaM.

Kemudian, Mangatur LP Simanullang memaparkan ‘kesaksiannya’ selaku bagian dari keluarga yang aktif di Pustaka Tokoh Indonesia dan The Batak Institute, tentang proses penulisan buku ini yang sangat relevan dengan syair kidung Indah rencanaMu Tuhan; Kepada Bangsaku; Walau semula kita tak tahu dan tak mengerti semua jalan Tuhan. Pengungkapannya sebagaimana disebut penulisnya, laksana cucuran api air mata pencarian kebenaran, api air mata kesedihan cinta yang membara di tengah kegelapan; Hal mana ketika catatan-catatan sejarah yang ditemukan menyatakan kebenaran lain yang berbeda dengan ‘kebenaran kemapanan’ selama ini, hal itu sangat mengagetkan serta menyedihkan, dan ingin ‘disembunyikan’ atau tidak perlu diungkapkan; ibarat pantang menyebut ‘nama bao’ (nama besan). Tapi, kontemplasi dan transformasi yang menjadi prinsip berpikir merdeka buku ini, penulis harus menyatakannya.

Hal tersebut, tentu mengundang kontroversi. Hal itulah antara lain yang dimaksud Pendeta (Emeritus) Dr. Dr. Richard Daulay, MTh, MA dalam khotbahnya tentang buku paling tebal dan komprehensif tentang Batak yang mengundang kontroversi. “Buku terbaik adalah buku kontroversial,” kata Daulay, yang juga memaparkan bagaimana ketika dia menulis disertasi kontroversial sehingga dia terancam dipenjara.

Pada bagian akhir prakatanya, Mangatur LP Simanullang memaparkan, dukungan keluarga, The Batak Institute dan Penerbit Pustaka Tokoh Indonesia, untuk menerbitkan buku ini, secara mandiri dan merdeka, dan memilih hari terbaik meluncurkannya pada saat penulisnya genap memasuki hidup baru usia 70 tahun (18 Desember 1952 – 2022); Sebagai hari ucapan syukur sekaligus sebagai penghargaan atas kerja keras penulis yang tak terukur dalam menulis buku ini. Kiranya buku ini berguna menjadi narasi dan literasi garam dan terang dunia, khususnya bagi Bangso Batak.

Apa yang dikemukakan Mangatur LP Simanullang dengan kata metafora ‘Api Air Mata Pencarian Kebenaran’ adalah tajuk Kata Pengantar The Batak Institute yang diterbitkan di Jilid 1 buku ini. Dipaparkan, bahwa buku ini hadir dengan fakta-fakta dan rujukan yang sangat lengkap sezamannya dan dinarasikan (analisis, interpretasi dan apresiasi) sesuai visi, nilai-nilai dan perspektif Batak. Sebagaimana hal itu sering dikemukakan penulisnya dalam berbagai paparan dan diskusi (percakapan) dengan beberapa tokoh dan lembaga. Pembicaraan paling mendidik, membimbing dan mencerahkan mengemuka dari kalangan pendeta dan cendekiawan yang sudah membeli dan membaca buku ini (print on demand; pre-order). Sebagian berpandangan bahwa pemaparan buku ini merupakan narasi nilai-nilai luhur budaya, sejarah, mitologi (teogoni) dan teologi post-kolonial yang memerlukan ‘habisuhon (kearifan), keberanian, ketahanan dan kecerdasan hati, batin, moral dan iman’ untuk memaparkan kebenaran: meluruskan misinformasi dan disinformasi tentang Batak selama ini; walaupun sebagian mereka dalam beberapa hal, terutama paparan proses kristenisasi orang Batak yang ditandai dengan perang suci era Nommensen, mempunyai pandangan berbeda atau diferensiasi, yang dikemukakan secara terbuka atau tersirat.

Secara khusus Pendeta (Em) Prof. Dr. Jan Sihar Aritonang, Guru Besar Sejarah Gereja Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Jakarta, yang berkenan meluangkan waktu dan ketajaman ‘mata elang’-nya yang sangat bijak, tajam dan berharga mengkritisi dan mengoreksi serta memberi arahan dan bimbingan yang sangat mencerahkan demi perbaikan dan penyelarasan buku ini.

Di antaranya, Pendeta (Emeritus) Emilkam H. Tambunan, Ph.D, seorang penulis dan ahli sejarah gereja (independen); yang kemudian dituangkan dalam kata sambutannya yang memandang buku ini: Wonderful, Ajaib dan Sangat Menyenangkan serta Scientific; Juga, Pendeta Dr. Victor Tinambunan, MST, Sekretaris Jenderal HKBP; Pendeta (Em) Prof. Dr. Jan Sihar Aritonang, Guru Besar Sejarah Gereja; Pendeta (Em) Dr. Dr. Richard Daulay, MTh, MA, juga dosen sejarah gereja, dan teristimewa Pdt Estomihi Hutagalung, MTh yang tengah menyelesaikan studi doktoralnya berkaitan dengan Habatahon dan teologi Kristen; serta puluhan pendeta, cendekiawan dan tokoh lainnya (yang tidak dapat disebut satu persatu), yang memberi apresiasi, koreksi dan pandangan kritis demi penyempurnaan buku ini. Selain itu, buku ini juga dikirim kepada Ompu i Ephorus HKBP (Emeritus) Pdt. Dr. J.R. Hutauruk, seorang ‘Guru dari para Guru Besar’ Sejarah Gereja, khususnya Gereja Batak, untuk diapresiasi atau dikritisi.

Secara khusus Pendeta (Em) Prof. Dr. Jan Sihar Aritonang, Guru Besar Sejarah Gereja Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Jakarta, yang berkenan meluangkan waktu dan ketajaman ‘mata elang’-nya yang sangat bijak, tajam dan berharga mengkritisi dan mengoreksi serta memberi arahan dan bimbingan yang sangat mencerahkan demi perbaikan dan penyelarasan buku ini; walaupun dalam beberapa hal penulis mempunyai pandangan, perspektif, analisa, interpretasi dan apresiasi berbeda (diferensiasi). Di tengah  adanya ‘perbedaan’ itu, kita (penulis dan The Batak Institute) sangat merasakan bimbingannya yang tulus dan penuh kasih; yang kita maknai, supaya buku ini bisa bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran; terang cahaya kasih tanpa syarat, tanpa ada nuansa kemarahan, balas dendam (membalas penistaan dengan penistaan) apalagi insinuasi dan kebencian.

The Batak Institute mengungkapkan bahwa penulis juga berterimakasih kepada Prof. Uli Kozok, cendekia Jerman, seorang peneliti bahasa, budaya dan sastra Batak terkenal, yang memberikan masukan dan kritik terutama perihal tinjauan paleografi Surat Batak. Walaupun buku ini memiliki perspektif yang berbeda terutama dalam hal awal mula dan penyebaran aksara Batak. Beliau, penulis pandang merupakan representasi para penulis dan cendekia asing tentang Batak; yang umumnya menulis Batak dari pinggiran; yang banyak dikutip, dirujuk, diinterpretasi, dianalisis dan diapresiasi, serta dikritisi (diluruskan) dalam buku ini.

Keluarga dan tamu undangan pada acara peluncuran Buku Hita Batak A Cultural Strategy

Dimana semua tulisan cendekia asing itu sangat penting dan berharga dalam penulisan buku ini; kendati dalam perspektif buku ini, banyak di antaranya yang dipandang misinformasi dan disinformasi atau misleading content; sengaja atau tidak, telah membunuh karakter Batak. Namun penulis dan The Batak Isntitute sangat berterimakasih atas perspektif para penulis asing tersebut yang sangat berharga dan berguna sebagai alat bantu (assistive tools) yang mencerahkan (enlighten) dan mencerdaskan; dengan tidak menempatkannya sebagai MAJIKAN dan TUAN (master, control, dominate, rule, hold, take control) atas perspektif kita sendiri (perspektif Batak dalam buku ini).

The Batak Institute memaparkan, sejalan dengan prinsip dasar penulisan buku Hita Batak A Cultural Strategy ini, mengacu metode ‘riset jurnalistik’ (Indepth Reporting: Laporan mendalam untuk mengetahui cerita di balik peristiwa, baik sudah lama terjadi maupun baru terjadi, dengan menganalisa dan mengapresiasi/interpretasinya, sehingga memberi pemahaman baru atas masalah atau peristiwa tersebut semacam sintesis baru. Berpedoman ‘metode riset jurnalistik’ 5W+1H+2A yakni What (Apa), Who (Siapa), Why (Kenapa), Where (Dimana), When (Kapan) dan How (Bagaimana); Analysis (Analisa) dan Appreciation/Interpretation (Apresiasi/Interpretasi), yang diupayakan dengan mencermati (analisa, interpretasi dan apresiasi, sintesis) atas temuan fakta atau informasi (5W+1H+2A) dengan tiga langkah:

Pertama, mencermati temuan bukti fakta (literatur, oral story dan sebagainya) dan mengevaluasi kekuatan fakta (informasi) tersebut;

Kedua, menandai batas-batas narasi tersebut dengan analisis logis, yang memanifestasikan generalisasi apa yang mengalir dari fakta dan generalisasi apa yang tidak (misleading content), dalam sorotan terang visi (pisau analisa, perspektif) nilai-nilai luhur intrinsik kebudayaan Batak;

Ketiga, berusaha memberikan sintesis (interpretasi/apresiasi) narasi baru yang transformatif dan futuristik dalam memaknai informasi (secara rasional, sosiologis, metaforis, filosofis dan religius) yang sejalan dengan nilai-nilai kebatakan ideal dan empiris (sebagai meta-narrative), atau kalau bisa disebut, sintesis kontemplasi transformatif dan futuristik dalam visi dan perspektif Hita Batak.

Selain beberapa tokoh yang disebut di atas, kita (penulis dan The Batak Istitute) juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah membeli (membaca) print on demand buku ini serta memberi apresiasi, masukan dan kritik, baik di media sosial maupun mimbar lainnya, yang tidak dapat disebut satu persatu; yang semuanya sangat bermanfaat untuk melengkapi dan menyempurnakan penulisan buku ini. Satu di antaranya melalui Zoom Meeting, Partungkoan Zoom FGD (Focus Group Discussion) Batakologi yang difasilitasi Yayasan Pusat Peradaban Batak yang dipimpin dan dikelola Dr. Benny Pasaribu (host), Dr. Pirma Simbolon (co-host, moderator), Lamsiang Sitompul, MH (co-host), Pdt. Dr. Riris Johana Siagian, M.Th (co-host, moderator) dan Dr. Rosdiana Rajagukguk (co-host). Juga diskusi dengan rekan-rekan jurnalis yang berhimpun dalam Forum Jurnalis Batak (Forjuba) dan Forum Penulis dan Wartawan Indonesia (FPWI).

Tim Reporter Tokoh Indonesia dan The Batak Institute. (Bersambung)

Beli Buku Hita Batak A Cultural Strategy

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Beli Buku The Story of Simplicity Mayjen TNI Dr Suyanto
Beli Buku Hita Batak A Cultural Strategy

Latest News

Pebulutangkis Muda, Syabda Perkasa Belawa, Meninggal Akibat Kecelakaan

Jawa Tengah - Pebulutangkis muda Indonesia, Syabda Perkasa Belawa, meninggal dunia di usia 21 tahun dalam kecelakaan di tol...

Tetap Terhubung

26,568FansSuka
654PengikutMengikuti
1,675PelangganBerlangganan

Berita Lainnya