Hita Batak A Cultural Strategy

Frame Literasi Strategi Kebudayaan Batak

 
1
79
Tiga Karsa Strategi Kebudayaan Batak

Hita Batak sebuah ‘frame’ strategi kebudayaan yang memfasilitasi interpretasi masa lalu, pemahaman masa kini, dan visi masa depan. Sebuah narasi literasi kontemplasi masa lalu, kini dan masa depan, dalam perspektif, paradigma dan eksistensi intersubjektif Hita Batak. Batak Trisilais! Atau, suatu frame literasi strategi budaya Batak.

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

 

Dalam pandangan kita (penulis), utamanya dalam penulisan buku ini, bahwa strategi kebudayaan adalah suatu narasi literasi habisuhon (narasi kearifan) proses berpikir raksasa, belajar raksasa serta karsa[1] buddhayah raksasa (narrative wisdom of giant thought, giant study and giant buddhayah karsa process) yang mendalami, memfasilitasi interpretasi, review dan kontemplasi kearifan nilai-nilai luhur budaya dan religius dalam berbagai dimensi dan lintas disiplin, serta merevitalisasi dan mentransformasinya secara inovatif kolaboratif (kolaborasi sosial) dalam paradigma dan perspektif strategis futuristik sebagai masterplan kehidupan lebih bermakna masa depan yang berkelanjutan, hingga memperoleh bagian strategis dalam kehidupan kekekalan kodrati Illahi (religius).

Dapat juga disebut sebagai suatu frame narasi literasi budaya Batak. Literasi budaya Batak yang kita maknai sebagai suatu  kemampuan dalam membaca, mende­ngarkan, menghitung, menulis, mengetahui, memahami, menganalisa, mengomperasi, menginterpretasi dan memaknai serta mengomunikasikan, menuliskan dan menyuarakan, narasi nilai-nilai luhur budaya Batak secara kreatif, kontemplatif, transformatif dan kolaboratif.

Atau singkatnya, strategi kebudayaan adalah suatu pendalaman dan kontemplasi nilai-nilai luhur kebudayaan masa lalu dan kini serta menarasikannya dalam perspektif strategis futuristik sebagai masterplan kehidupan masa depan yang lebih bermakna. Atau, strategi kebudayaan itu adalah narasi (literasi) kontempelasi masa lalu, kini dan masa depan, demi kehidupan bermakna berkelanjutan (sustainable), hingga memperoleh bagian strategis dalam kekekalan (religius). Strategi kebudayaan yang berpegang teguh pada literasi kebenaran nilai-nilai luhur di jalan line­arnya sendiri, menaklukkan zaman demi zaman, menegaskan cengkeramannya pada masyarakat penganutnya, sampai akhir­nya fajar menyingsing ketika dia dengan penuh kemenangan mengatasi semua rintangan dan menangkap peluang, serta bermakna membimbing bahkan mengubah hidup manusia yang ingin tahu ke arah mana mereka akan pergi pada hari esok demi memuliakan hidup dan kemanusiaan. Itulah strategi kebudayaan; Sangat ideal, tetapi sekaligus strategis dan praktis (implementatif).

Maka untuk itu dilakukan rangkaian riset (studi) bibliografi, dan penggalian seja­rah dan oral history (sejarah lisan), turiturian, dongeng, tonggotonggo (narasi doa), ende dohot an­dung (kidung dan ratapan), serta kelaziman cerita percakapan sehari-hari (empiris); Pengumpulan dan pemahaman informasi secara cerdas dan bijak (bisuk) akan mengekstrak dan menggabungkan data dari berbagai sumber informasi serta mengubah informasi menjadi format narasi baru yang transformatif berorientasi masa depan. Sebagai menu cerita (story), sebagai data atau fakta, dalam penyajian narasi serta pembaharuan naratif dan paradigma dalam buku (frame literasi) strategi kebudayaan suku bangsa Batak ini. Narasi dari cerita (story) yang meliputi mitologi, sistem nilai dan sosial, budaya, sejarah, dialog mitologi-sejarah, kerajaan, akulturasi budaya (kolonisasi, Islamisasi dan Kristenisasi) dan eksistensi (jatidiri) Batak, menuju Orde Hidup Baru (Orhiba) Hita Batak. Yang pada hakikatnya adalah merupakan proses rekonstruksi dan revitalisasi narasi (literasi) Pustaha Agong (Pustaka Agung) dan Pustaha Tumbaga Holing (Pustaka Tembaga Berkilau) atau Heilige Boek Batak yang diwariskan lisan dan empiris sejak leluhur Batak.

Buku ini hanya salah satu dari frame strategi kebudayan Batak, yang memfokuskan pada pembaharuan narasi (narasi  baru) kontempelasi masa lalu, kini dan masa depan. Sebagai salah satu bagian paling strategis dalam strategi kebudayaan Batak secara keseluruhan yang menunjukkan betapa penting­nya nilai-nilai budaya bagi kesejahteraan dan menetapkan arah masa depan kehidupan yang lebih bermakna. Strategi Kebudayaan Batak yang mengacu pada Tolu Dasor Batak (Tiga Nilai Dasar Batak) atau Trisila Batak, yakni: 1) Marhaporseaon tu Debata (Berkepercayaan kepada Allah); 2) Martutur Dalihan Na Tolu (Berkekerabatan Tungku Nan Tiga); 3) Marparange Anak/Boru ni Raja (Berkarakter Putera/Puteri Raja).

Literasi Strategi Budaya yang berpusat pada visi yang meng­andalkan nilai intrinsik budaya dan kekuatan budaya untuk menginspirasi, memperkaya, memampukan dan mengubah kehidupan masyarakat, komunitas hita Batak. Visi strategi kebudayaan yang didukung oleh Tiga Karsa Literasi (daya, kekuatan jiwa, kehendak, niat, cita, tekad) Strategi Kebudayaan Batak; Tiga Karsa Literasi Strategi Kebudayaan Batak tersebut, yakni: 1) Kontemplasi; 2) Transformasi; 3) Kolaborasi Sosial; Atas nilai-nilai luhur intrinsik budaya Batak.

Narrative-frame ini, bukan buku teks prosedural ilmiah tentang mitologi, filsafat, antropologi, kebudayaan, sejarah Batak, dan berbagai disiplin ilmu lainnya; Melainkan sebuah frame narasi literasi yang berpikir merdeka dari jeratan akademik. Kendati demikian, frame buku ini serius dan strategis, lintas disiplin, tetapi sederhana, bersahaja dan merdeka! Frame li­terasi strategi kebudayaan yang mencoba melakukan tiga hal: Pertama, mencermati bukti fakta dan mengevaluasi kekuatan fakta dalam sorotan terang visi strategi kebudayaan; Kedua, menandai batas-batas narasi dengan analisis logis, yang memanifestasikan generalisasi apa yang mengalir dari fakta dan generalisasi apa yang tidak; Ketiga, mencoba memberikan sintesis narasi baru sosiologis, filosofis dan religius memaknai kehidupan yang sejalan dengan fakta-fakta nilai-nilai kebatakan empiris (faktual) yang futuristik. Sebuah frame narasi strategi kebudayaan Batak, yang menyentuh filosofi hidupnya, akhlaknya, agamanya, adat-istiadatnya dan ‘takdir­nya’ di masa depan yang berkelanjutan secara linear!

Advertisement

Prof. Dr. Cornelis Anthonie van Peursen (1976) menyebut strategi kebudayaan adalah upaya manusia untuk belajar dan merancang kebudayaannya. Menurutnya, kebudayaan sebe­tulnya bukan suatu kata benda melainkan suatu kata kerja. Kebudayaan adalah karya kita sendiri, tanggung jawab kita sendiri. Demikian kebudayaan dilakukan secara ‘fungsional’, yaitu sebagai suatu relasi terhadap rencana hidup. Kebudayaan itu lalu tampak sebagai suatu proses belajar raksasa yang sedang dijalankan oleh manusia. Ini berarti bahwa perkembangan kebudayaan tidak terlaksana di luar diri kita sendiri, tetapi manusia sendirilah yang harus menemukan suatu strategi kebudayaan.[2]

Strategi Kebudayaan berakar dari pertanyaan dalam diri manusia yang diperjuangkan oleh semua kalangan. Pertanyaan itu, misalnya, bagaimana manusia dapat memberikan jawaban tepat mengenai pertanyaan-pertanyaan besar yang menyangkut tujuan hidupnya, makna kehidupan, norma-norma yang mengatur kontak antarmanusia dan perkembangan masyarakat secara tepat dan lain-lain. Pertanyaan mengenai hakekat kebudayaan sebetulnya sama dengan pertanyaan mengenai hakekat manusia.[3]

CA van Peursen menyebut kebudayaaan adalah sebagai manifestasi kehidupan setiap orang atau kelompok orang yang selalu mengubah alam. Kebudayaan merupakan semacam sekolah di mana manusia dapat belajar, manusia tidak hanya bertanya tetapi juga bagiamana harus menyikapi segala sesuatu yang ada dan terjadi di alam. Manusialah yang membuat sesuatu dengan tradisi itu, ia menerima, menolaknya atau mengubahnya. Itulah sebabnya mengapa kebudayaan merupakan cerita (narasi) tentang perubahan-perubahan: riwayat manusia yang selalu memberinya wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada; Kebudayaan itu ibarat sebuah cerita yang belum tamat yang masih harus disambung. Maka diperlukan sebuah gambar kebudayaan yang sekaligus juga merupakan peta se­hingga kita dapat menggambarkan perkembangan zaman dari dahulu, kini dan hari depan.[4]

Jadi, singkat kata, strategi kebudayaan itu adalah karya raksasa dalam poses belajar raksasa dalam sebuah cerita, kisah, narasi inovatif, perspektif dan futuristik yang selalu diperbaharui (berkembang) dari zaman ke zaman berikutnya; Dan buku ini adalah sebuah frame narasi (literasi) strategi kebudayaan Batak.

Jeff Chang, Liz Manne & Erin Potts dalam A Conversation about Cultural Strategy (2018) menyebut: “Strategi kebudayaan adalah bidang praktik yang memusatkan seniman, pendongeng, pembuat media, dan pemberi pengaruh budaya sebagai agen perubahan sosial. Strategi budaya berbicara tentang visi terluas dan harapan tertinggi kita. Dalam ranah keadilan sosial, ini berarti menempa dan memelihara masyarakat yang adil, inklusif, dan adil. Dalam jangka panjang,[5] strategi budaya membuka celah, menata ulang dan menulis ulang narasi yang dipegang dengan keras, mengubah ruang dan norma bersama yang membentuk budaya.”[6]

Menurut Chang, Manne & Potts, setiap organisasi dan praktisi strategi kebudayaan memiliki teorinya sendiri; Teori yang disederhanakan untuk bidang strategi budaya adalah: Cerita dan narasi mengubah cara orang memandang diri mereka sendiri dan peran mereka di dunia. Ketika diaktifkan dan dibawa bersama oleh ide-ide baru dan ruang cerita dan narasi yang umum, orang memiliki kekuatan untuk bersatu mengubah norma, kebijakan, dan sistem budaya melalui pilihan hidup mereka.[7]

Perihal, apa itu budaya; Dalam The Culture Group, disebut bahwa budaya memiliki dua definisi: (1) Keyakinan, nilai dan adat istiadat yang berlaku dalam suatu kelompok; cara hidup kelompok; (2) Seperangkat praktik (termasuk semua bentuk mendongeng dan pembuatan seni) yang berisi, menyebarkan, atau mengungkapkan gagasan, nilai, kebiasaan, dan perilaku antara individu dan kelompok. Jadi budaya adalah jumlah total dari kepercayaan, nilai, adat istiadat dan cara hidup sekelompok orang yang berlaku serta praktik yang mewariskan budaya. Budaya, seperti narasi yang mendefinisikan dan didefinisikan oleh mereka, dapat menghasilkan dan memperkuat ketidakadilan dan ketidaksetaraan, atau mereka dapat menciptakan kemungkinan yang lebih besar untuk inklusi, kesetaraan dan keadilan yang lebih besar untuk semua.[8]

Sebagaimana disebut CA van Peursen bahwa kebudayaan itu ibarat sebuah cerita yang belum tamat yang masih harus disambung untuk menggambarkan perkembangan zaman dari dahulu, kini dan hari depan; Juga mengalami perubahan naratif, sebagaimana disebut dalam Toward New Gravity Today (Menuju Gravitasi Baru Hari Ini, 2017): Bahwa perubahan naratif itu adalah tentang pergeseran paradigma dan wacana dari waktu ke waktu; Juga seperti dinasihatkan ahli strategi Ryan Senser, Bridgit Antoinette Evans dan Andrew Slack tentang strategi narasi jangka panjang “yang dirancang dari waktu ke waktu untuk menciptakan perubahan besar dalam narasi, nilai, keyakinan, dan perilaku orang; Atau seperti yang dikatakan Senser,“Narasi adalah strategi menuju tujuan; alat untuk menata ulang cara orang merasa, berpikir, dan menanggapi dunia.“[9]

Perubahan naratif itu selalu muncul dan abadi, mulai dari zaman mitologi hingga saat ini dan masa depan. Jee Kim, Liz Hynes & Nima Shirazi (2017) menyebut manusia, sebagai makhluk sosial pencari pola, mengumpulkan kumpulan cerita yang saling menguatkan, pada gilirannya membangun akal sehat bersama dan membangun stereotipe tentang orang dan tempat, komunitas dan budaya, ideologi dan institusi. “Narasi inti ini, yang menjadi dasar pemahaman kita tentang dunia dan kemampuan kita untuk menavigasi melaluinya, memelihara perasaan memiliki dan terpinggirkan; yaitu, mereka secara tidak sadar menggambarkan siapa yang ada dalam kelompok Anda (Kita) dan siapa yang bukan — siapa kita dan siapa mereka; Narasi sering menentukan siapa yang pantas mendapatkan solidaritas atau cemoohan, kasih sayang atau penghinaan, ketakutan atau kesetiaan kita.”[10]

Selama ini, sejarah dan nilai-nilai peradaban Batak atau karakter Batak banyak dinarasikan dengan persepsi dan interpretasi yang cacat dan terdistorsi serta analisis yang tidak cermat dan pemahaman yang tidak lengkap dan akurat: Bukan hanya misinformasi tetapi disinformasi. Suatu rangkaian narasi yang dialami oleh leluhur Batak; Sejak sebelum masehi, ketika Herodotus pada abad 4-5 sM me­ngawali menarasikan tentang Padaioi (kanibalis) orang Batak,[11] dilanjutkan Ptolomaeus, ilmuwan Mesir dalam Geographia (160 M) menarasikan Barussie Anthropophagi (Barussie yang Kanibal)[12] di Taprobana (Sumatera); Marco Polo dalam The Travels of Marco Polo (1292)[13]; serta diekori secara sensasional oleh Nicolo di Conti (1449) dan Odarus Barbosa (1516); yang menjadi rujukan narasi para pemerhati dan cendekia dunia: Radermacher menulis narasi tentang kanibal Batak 1787, disusul William Marsden yang mengisahkan perjalanan Giles Hollopway dan Charles Miller di Tanah Batak (1772 dan dipublikasi 1871 dan 1811); dan Wilhelm Junghuhn (1843) yang secara khusus melakukan penelitian geologi pertama ke Tanah Batak; Apalagi kompeni Belanda yang menjajah Tanah Batak sejak 1830-1940 dan teristimewa para misionaris yang hidup bersama orang Batak sejak tahun 1857-1940; Serta sejumlah cendekiawan dan pelancong dunia lainnya, telah menarasikan Batak dari sudut pandang mereka sendiri, yang informasinya terdistorsi, missinformation (tidak sengaja) bahkan disinformation (sengaja); Sehingga terjadi pembunuhan karakter Batak secara masif dan sistematis selama ribuan tahun (sejak tahun 450 sM), sengaja atau tidak, tanpa pernah ‘dibantah’ atau dinarasikan oleh orang Batak sendiri tentang keberadaan, eksistensi atau jatidirinya yang sesungguhnya.

Distorsi informasi, misinformasi dan disinformasi atau kebohongan, pemalsuan informasi (cerita dan narasi) telah dibi­arkan menjadi ‘sejarah’, dan dianggap menjadi ‘kebenaran’. Sangat menyesatkan dengan menyebutnya ‘fakta’ yang sebenarnya bukan fakta. Intelektual asing berkolaborasi dengan ‘budaya kebohongan kolonial’ sesuka hatinya menyebut leluhur orang Batak itu apa: Antara lain, sebagai manusia pamakan daging manusia paling biadab di dunia, tidak bermoral,[14] tidak punya sejarah dan lain sebagainya. Bahkan orang Batak, selain mengalami pugilisme intelektual, juga menderita pugilisme fisik dalam perang ‘yang adil dan beradab’ alias perang suci ala asing (kolonisasi dan misionisasi) serta penindasan dan penghisapan kapitalis kolonial. Fisik, moral dan karakter Batak benar-benar tertindas dan terbelenggu: Pembunuhan karakter yang menjurus pemusnahan! Genosida karakter Batak.

Petikan dari Pendahuluan Buku Hita Batak A Cultural Strategy. Selengkapnya baca Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 1, 2 dan 3. Informasi lebih lanjut: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1]   Karsa buddhayah: Karsa, n 1 daya (kekuatan) jiwa yang mendorong makhluk hidup untuk berkehendak; 2 kehendak; niat (KBBI); Buddhayah (Sansekerta), bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal), hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia: Budaya, kebudayaan.

[2]   Peursen, C.A. van, Prof, Dr., 1976: Strategi Kebudayaan, (Terjemahan: Cultuur in Stroomversnelling – Strategie van De Cultuur oleh Dick Hartoko), Jakarta: BPK Gunung Mulia & Kanisius, h.233.

[3]   Peursen, C.A. van, Prof, Dr., 1976: h.9.

[4]   Peursen, C.A. van, Prof, Dr., 1976: h.11-13..

[5]   Selain itu, dalam konteks kekinian, jangka pendek, ia berperan dalam kampanye – membantu membentuk opini, keyakinan, dan perilaku yang mengarah pada kemenangan pemilu, legislatif, dan kebijakan.

[6]   Chang, Jeff;  Manne, Liz; Potts, Erin, 2018: A Conversation about Cultural Strategy; Medium.com: https://medium.com/a-more-perfect-story/a-conversation-about-cultural-strategy-9e2a28802160.

[7]   Chang, Jeff;  Manne, Liz; Potts, Erin, 2018: ibid.

[8]   Chang, Jeff;  Manne, Liz; Potts, Erin, 2018: ibid.

[9]   Kim, Jee; Hynes, Liz; Shirazi, Nima, (Foreword), 2017: Toward New Gravity, Charting a Course for the Narrative Initiative, p.8.

[10]  Kim, Jee; Hynes, Liz; Shirazi, Nima, (Foreword), 2017: p.1.

[11] Kowal, Johannes, 1922: Berichte über Sumatra bis zum beginn des 16 Jahrhunderts, Inaugural-Dissertation, zur Erlangung der philosophischen Doktorwürde der Hohen Philosophischen Fakultät der Schlesischen Friedrich- Wilhelms-Universität zu Breslau. Promotion 26 Juli 1922; Wüstegiersdorf (Głuszyca): M. Jacob, s. 6.; dan, Simatupang, TB, 1991: Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, h. 32.

[12] Geographia dalam cerita “Tabula Asiae XI dan XII” karya kartografer Ptolomaeus sekitar tahun 150-160 Masehi. Direproduksi dan dipublikasikan dalam bentuk peta oleh Sebastian Munster dkk pada 1540 dan Willibald Pirckheimer dkk 1541.

[13] Polo, Marco (1254-1323?); Wright, Thomas (ed), 1886: Travels of Marco Polo the Venetian; London: George Bell & Sons, p.366-367.

[14] Hobhouse, Leonard Trelawny, 1920: Morals in Evolution, A Study in Comparative Ethics, Fifth Edition; New York: Henry Holt and Company, p.426.

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here