Asal Kata dan Nama Batak

Apa dan Siapa Batak

 
0
64
Apa dan Siapa Batak; Buku Hita Batak A cultural Strategy Jilid 1

Selama ini banyak argumentasi dan telaahan asal-mula pemberian nama Batak kepada komunitas suku bangsa berkekerabatan Dalihan Na Tolu ini; Tapi umumnya terlepas dari mitologi Si Raja Batak yang menjadi akar atau sumber nilai-nilai, karakter dan eksistensi orang Batak. Mitologi Si Raja Batak itu adalah awal mula (akar, hulu) dari semua nilai dan aktivitas kehidupan kebatakan; Terserah dari mana pun argumentasi, teori dan hipotesa asal-usul sejarahnya.

Oleh Ch. Robin Simanullang, Penulis Buku Hita Batak A Cultural Strategy

 

Kata dan nama Batak adalah berarti manusia. Berawal dan menjadi subyek utama mitologi (turiturian) leluhur Batak, sebagai pribadi manusia pertama dan/maupun dalam pengertian kolektip sebagai manusia (Batak) umumnya. Batak itu berarti manusia (manisia, ihat manisia), yang menjadi identitas pribadi manusia pertama dan identitas pribadi manusia-manusia (Batak) berikutnya, yang juga berarti sebagai identitas kelompok (kolektip) suku bangsa Batak.

Dalam Mitologi Batak tentang penciptaan manusia dan alam semesta, dikisahkan bahwa pasangan manusia pertama dinamai Ihat Manisia dan Itam Manisia yang berarti Kakek Manusia dan Nenek Manusia, atau Kakek Batak dan Nenek Batak; Dalam silsilah suku Batak yang disalin  Johannes Warneck (1906) Si Raja Batak dinamai Ompu Jolma. Dijelaskan, Ompu Jolma adalah nenek moyang semua Batak;[1] Dimana setiap orang Batak yang agak terbangun dapat mengikuti silsilah keluarga­nya hingga saat ini. Jadi Ompu Jolma adalah sebutan lain dari Ihat Manisia (Kakek Manusia, kakek Batak pertama). Jolma  artinya Manusia (Manisia), dan Manisia (Manusia) berarti Batak dalam arti nama personal, sekaligus juga nama majemuk (kolektif); Seperti halnya nama Adam.

Freudenberg dalam bukunya Onder de Bataks op West-Sumatra (1904) di bawah perikop ‘Karakter dan Moral Orang Batak’ (Het Karakter en de Zeden der Bataks) juga telah memahami bahwa: Nama Batak berarti ‘manusia’ (De naam Batak beteekent „mensch”).[2] M. Joustra juga memahami arti nama Batak adalah manusia. “Batak oorspronkelijk niets anders dan „mensch” heeft beteekend.” (Batak awalnya tidak berarti apa-apa selain “manusia”).[3]

Dalam dialog mitologi dengan sejarah Batak (The Hilltop Theory) yang diuraikan berikutnya dalam buku ini bahwa nama Batak itu menunjukkan karakter, jatidiri, dan eksistensi pribadi dan/atau kelompok kolektip orang Batak. Jadi secara etimologi, asal mula kata Batak adalah bersumber dari mitologi  penciptaan manusia (pasangan Ihat Manisia dan Itam Manisia, Ompu Jolma atau nenek-moyang manusia) yang juga berarti Batak; Mitologi penciptaan tersebut juga dinamai Mitologi Si Raja Batak: Mitologi penciptaan nenek-moyang Batak.

Kemudian, nama dan sebutan Batak itu juga diperkuat dari kebiasaan leluhur Batak, terutama para raja dan malim, yang selalu mam-batak hoda (me-nunggang kuda; Pam-batak hoda (pe-nunggang kuda); Mulai dari Mongolia, ke Formosa, ke Yunnan, hingga ke Tanah Batak. Bahkan Debata Mulajadi Nabolon juga dipercaya sebagai penunggang kuda terbang (bersayap) Hoda Sihapaspili (kuda ber­bulu putih bersih seperti kapas). Kuda Sihapaspili (tanpa sayap) juga menjadi tunggangan favorit leluhur Batak, mulai dari Si Raja Ihat Manisia, Si Raja Miokmiok, Eng Banua, Eng Domia, Si Raja Tantan Debata, Si Raja Batak dan kedua putranya (1) Guru Taea Bulan dan (2) Raja Isumbaon (semuanya bersifat pribadi dan kolektif), serta Sorimangaraja I-XC (mitologi), hingga Raja Sisingamangaraja I-XII (empiris bersifat mistis). Mereka semua adalah pambatak hoda (penungggang kuda) yang lincah, berani dan tangguh.

Penulis berinisial “JS” di suratkabar Misi Barmen, Immanuel Edisi 17 Agustus 1919, yang mengutip buku berjudul ‘Riwayat Poelaoe Soematra’ karangan Dja Endar Moeda terbitan 1903, halaman 64, menulis: “Adapoen bangsa jang mendoedoeki residentie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanja. Adapoen kata ‘Ba-tak’ itoe pengertiannja: oerang pandai berkuda. Masih ada kata Batak jang terpakai, jaitoe “ma-ma-tak”, jang artinja menaiki koeda.”

Jadi asal-usul dan terminologi kata Batak itu adalah berasal dari kata asli Bahasa Batak yakni Batak dalam arti manisia (manusia) dan pam-batak hoda (penunggang kuda). Pambatak hoda itu juga selalu dilengkapi dengan batahi (tongkat cambuk). Dalam aksara Batak, huruf k ditu­lis dengan huruf h (ha) dengan tanda penghambat. Koras, ditulis dan kemudian diucapkan dengan kata horas. Jadi, terminologi kata Batak adalah paduan kata pambatak (kata dasar batak = tunggang; dengan awalan pam = pe; penunggang) dengan kata batahi (batak). Secara harfiah, Batak arti­nya manusia penunggang kuda bertongkat cambuk yang tangkas dan gagah berani. Dr. Johannes Warneck, Ephorus Mision Barmen di Tanah Batak (1920-1932), juga berpendapat: Batak berarti ‘penunggang kuda yang lincah’ (Batak bedeutet Pferd Reiter die agiler).[4]

Advertisement

Nenek moyang dan orang-orang Batak tempo dulu juga selalu menggunakan kuda sebagai tunggangan (kendaraan) untuk menjelajah pebukitan Bukit Barisan, bahkan sampai ke wilayah Sumatera Timur dan Singkil, Gayo-Alas (Aceh, saat ini); Juga ke pesisir Timur, Nakur, Aru dan Tamiang (1200-1600-an). Juga sebagai alat peng­angkut (hoda boban, kuda beban), di antaranya dari dan ke kota pelabuhan dan perdagangan Sibolga, terutama Barus di psisir Barat sejak 1250 sM.[5]

Namun, selama ini ada juga yang beranggapan penyebutan nama Batak itu justru bermula panggilan plesetan masyarakat luar yang sering melihat orang yang datang dari kawasan pegunungan Bukit Barisan, wilayah sekitar Danau Toba (Tapanuli, Tapian Na Uli, air nan indah), selalu menunggang kuda (mambatak hoda) sambil menggenggam tongkat cambuk (batahi).

Pandangan yang keliru: Kata dan nama Batak itu bukan bermula dari plesetan, melainkan (sebaliknya) kemudian dianggap sebagai plesetan. Penulis berinisial ‘JS’ dalam suratkabar Immanuel Edisi 17 Agustus 1919 yang telah dikutip di atas, melanjutkan kalimatnya: “Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan) kepada bangsa itoe…”: Kemudian diperbuat (dijadikan) sebagai kata pemaki atau plesetan; Sekali lagi, ‘kemoedian hari’.

Mereka (orang luar) yang sudah mengetahui arti menunggang dan tongkat cambuk dalam Bahasa Batak (mambatak dan batahi), menganggap memplesetkan panggilan si penunggang kuda tersebut dengan sebutan Batak. Karena di mata mereka, orang yang datang dari tepian Danau Toba itu adalah orang yang keras dan berani yang selalu menunggang kuda sambil menggenggam tongkat cambuk (batahi). Bagi sebagian orang, hal itu menunjukkan si penunggang kuda tersebut keras dan kasar sehingga mencemaskan dan menakutkan, apalagi sejak Herodotus (450 sM), Ptolomaeus (160M) dan Marco Polo (1292), serta oleh penjajah Belanda dan para missionaris telah memviralkan orang Batak itu kanibalis.[6] Maka, mereka menganggap kata Batak itu sebagai pelecehan atau plesetan.

Joustra menyebut tidak ada yang diketahui secara pasti tentang asal usul dan arti nama Batak. Sehubungan dengan nama yang ditemukan oleh seorang penulis tua, Bateck, diduga ini bisa berarti: bertato. ”Makna yang dimiliki mamatak dalam bahasa Batak di Toba akan memberikan dasar bagi penjelasan tentang kata Batak berarti: “penunggang, orang yang menunggang kuda. “Bagi saya bukan hal yang mustahil karena alasan linguistik dan karena alasan analogi.”[7]

Atau seperti dikemukakan oleh Paul McGuire (1942) dalam Westward The Course The New World of Oceania: “Ketika Mandailing dimenangkan oleh Padri. Sekarang Mandailing  membantah bahwa mereka adalah orang Batak; mungkin karena kata Batak berarti pemakan babi dan merupakan istilah pelecehan Muslim.”[8] Walaupun hanya segelintir orang Batak beragama Islam di Mandailing berpandangan demikian.

Pandangan keliru yang sama, atau rancu tentang asal kata dan nama Batak, dikemukakan juga oleh CM. Pleyte Wzn (dianggap mewakili orang asing atau non-Batak lainnya) dalam bukunya Bataksche Vertellingen (Narasi Batak) terbitan 1894, sebuah buku yang berbicara tentang cerita atau narasi (vertellingen), legenda (legenden) dan dongeng (sprookjes) Batak. Pleyte meng­awali dengan kalimat: De benaming Bataks, doet het bestaan van een volk, dat zoo heet, vermoeden (Nama Batak, menunjukkan keberadaan orang yang disebut), maksudnya orang Batak sendiri (pen: sangat tepat). Menjadi keliru dan rancu, ketika dia sebut: Namun sebutan ini, seperti juga Tanah Batak, tampaknya tidak bersumber (tidak diketahui) dari penduduk asli (Toch is dit, evenals een land der Bataks, althans bij de inlanders onbekend).[9]

Bahkan, lanjut Pleyte, ketika seseorang bertemu dengan orang Batak, kiranya tidak (jangan) menggunakan (menahan diri dari penggunaan) kata batak, karena ini dipahami sebagai kata pelecehan. Apa yang dikemukakan Pleyte terakhir ini merupakan anggapan umum orang luar terhadap orang Batak. Orang luar yang menganggap kata Batak itu sebagai pelecehan. Sementara bagi orang Batak yang memahami nilai-nilai kebatakan justru bangga sebagai orang Batak (disebut Batak); Hanya mereka yang tidak lagi memahami jatidirinya sebagai Batak, memang ada yang sudah merasa malu menyebut dirinya Batak, karena terpe­ngaruh anggapan orang luar sekitarnya.

Padangan sangat keliru yang tampaknya bersumber dari Dalle (Batak tersesat) dikemukakan M. Buys, Pendeta di Hindia Belanda dalam Amsterdam. A. Akkeringa 1886, sebagaimana dikutip Bestuurders van Nederlandsche Zendelinggenootschap (1889) menulis tentang keinginan orang Batak untuk memutuskan masa lalu mereka sendiri, bahwa:

“Sepanjang masyarakat itu, terutama di daerah-daerah di mana mere­ka bersentuhan dengan orang Melayu dan Eropa, ada keinginan yang kuat untuk perubahan keyakinan agama dan apa yang berhubungan dengannya. Keluhan ini bukan karena kebutuhan religius yang lebih dalam dan lebih murni yang membuat diri mereka terasa di dalamnya – yang kita sebut kehidupan pikiran orang Batak tampaknya pada umumnya agak miskin – tetapi merupakan hasil dari penghinaan yang mereka alami dan lakukan serta meremehkan masa lalu mereka.

Mereka malu dengan masa lalu ini, demikian diyakinkan oleh Tuan Dirks, dan kemudian juga oleh para misionaris di Sipirok, dan oleh karena itu ingin pindah agama. Nama Battak atau Batta berlaku bagi mereka sebagai nama panggilan, dan mereka tidak pernah menggunakannya ketika disebut berbicara tentang diri mereka sendiri. Mereka lebih suka disebut orang Mandailing, Angkolas, Toba, sesuai dengan lanskap tempat mereka tinggal. Para kepala suku dan tokoh lainnya di antara mereka lebih suka berbicara bahasa Melayu, jika mereka memiliki kesempatan untuk mempelajari bahasa ini, dan menampilkan diri mereka sebagai orang Melayu, setidaknya di daerah-daerah di mana pemerintah kita berada.[10]

Kekeliruan yang sama juga dikemukakan oleh Dr. Hendrik Blink (1905) dalam Nederlandsch Oost- en West-Indië: “Bahasa Batak dituturkan oleh orang Batak di Tapanoeli, bagian dari pantai Timur Sumatera dan daerah sekitarnya. Nama tersebut dianggap oleh penduduk sebagai olok-olok, dan sebisa mungkin dihindari di hadapan mereka.”[11]

Pleyte, Hendrik Blink dan para pemerhati lainnya, yang memperoleh informasi tentang Batak di luar centrum Tanah Batak atau dipinggiran (zona bebas isolasi indah Tanah Batak),[12] menjadi keliru karena memandang orang Batak yang sudah tidak tidak lagi memahami jatidirinya sebagai Batak, dan/atau sudah merasa malu disebut Batak, sebagai representasi orang Batak. Padahal orang Batak seperti itu di mata orang Batak, disebut dalle (berasal kata delley,merujuk Deli yakni orang Batak yang menjadi orang Deli), atau Batak na lilu, Batak yang sesat. Mereka ini umumnya tinggal di daerah pesisir atau perbatasan, yang menjadi narasumber para pemerhati yang menjadi keliru tersebut. Seperti halnya kekeliruan E. Nijland (1893) menyebut: “De naam Batta of Battah (uitgespr. als Battak) geldt eigenlijk voor scheldnaam, door de Maleiers aan het volk gegeven. De Battaks zelf noemen zich: Toba’s.” (Nama Batta atau Battah (diucapkan Battak) sebenarnya adalah nama kutukan yang diberikan oleh orang-orang Melayu. Para Battak sendiri menyebut diri mereka: Toba).[13]

Orang-orang yang beranggapan asal kata Batak itu dari plesetan Batak, sangat tidak pernah melihat orang Batak yang berada di pusat inti peradaban Batak, Centrum Tanah Batak (Centrum der Battalander), sebagai subjek, melainkan hanya sebagai objek. Seolah-olah orang Batak tidak tahu dan tidak berhak mengenal diri dan menyebut dirinya siapa atau manusia apa. Seolah-olah suku bangsa Batak adalah kumpulan manusia ‘hewan bodoh’ tanpa tahu siapa namanya sendiri, atau tidak berhak menamai dirinya siapa (Batak), atau tidak tahu menyebut tanah leluhurnya dengan nama apa, sehingga mesti orang lain yang berhak menamainya Batak atau tidak. Bukankah orang-orang seperti itu narsisme yang sangat mendegradasi (degrading)[14] orang Batak? Mereka sebenarnya tidak banyak tahu tapi merasa lebih tahu. Istilah Batak: Pamalomalohon! (A fool who feels smarter).

Kekeliruan dan kerancuan pun berpuncak pada anggapan (kalimat) Pleyte (seperti banyak pemerhati lainnya), bahwa Batak yang berbica­ra tentang dirinya sendiri atau sukunya, akan tidak pernah menggunakan kata Batak untuk tujuan itu, tetapi untuk lebih mendefinisikan dirinya sendiri atau orang yang ia maksudkan, marga, keluarga, atau tempat asalnya.[15]

Pandangan Pleyte ini perlu disempurnakan demikian: Bagi orang Batak yang tidak lagi mengenali jatidirinya, bahwa mereka akan tidak pernah menggunakan kata Batak untuk berbicara tentang dirinya sendiri atau sukunya; Tetapi bagi orang Batak yang mengenal jatidiri kebatakannya, kata dan nama Batak itu, selalu digunakan untuk lebih mendefinisikan dirinya sendiri, marga dan keluarga, atau tempat asalnya, Tanah Batak.

Namun, pandangan (kekeliruan dan kerancuan) Pleyte tersebut dapat dimengerti, karena dia banyak mendapat informasi dari sumber yang tinggal di daerah sekitar pesisir dan perbatasan Tanah Batak zona bebas splendid isolation Tanah Batak, seperti perbatasan dengan Minangkabau, Aceh dan Melayu (Pleyte menyebutnya selatan Padangsche Bovenlanden dan Kesultanan Siak dan utara wilayah Aceh). Walaupun Pleyte sendiri menyadari bahwa Danau Toba sekitarnya adalah inti dari Tanah Batak. Pleyte menyebut, inti dari daerah ini adalah Danau Toba dengan kawasan sekitarnya, yang secara tradisional menjadi markas orang Batak dan dari mana mereka secara bertahap menyebar ke pantai Barat dan Timur Sumatra.[16]

Bernhard Hagen (1898) dalam Anthropologischer Atlas Ostasiatischer & Melanesischer Volker (Atlas Antropologi Orang Asia Timur & Melanesia) mengemukakan bagaimana orang Batak yang sudah Islam di dataran pesisir Deli, menjadi menyebut diri Melayu dan merasa malu mengakui bahwa ayah atau kakek mereka adalah orang Batak yang asli. Bernhard Hagen mengatakan:

“Orang Batak di pegunungan tinggi Sumatera juga adalah orang kafir dan “pemakan babi” dan fakta yang disayangkan bahwa tiga perempat dari mereka adalah keturunan langsung dari kafir pemakan babi yang dianggap hina, seperti saya, sekarang muncul sebagai orang Melayu yang bangga dan eksklusif di dataran pesisir Deli. Saya sudah cukup berdiskusi di publikasi pertama saya tentang hal ini. Seringkali sangat sulit untuk membuat orang-orang mengakui bahwa ayah atau kakek mereka adalah orang Batak yang asli dan tidak ada yang lalai untuk menambahkan permintaan maaf atau mengurangi fakta yang memalukan: “Suda lama masok malaju” dia telah lama menjadi Malayu: Menjadi seorang Mohammedan, karena Malayu dan Mohammedan identik untuk orang-orang ini. Kata Malayu bukan sekedar istilah etnologis tapi juga agama bagi mereka, dan ketika seseorang menjawab pertanyaan tentang kewarganegaraannya: Saja orang malaju (Saya orang Malayu), harus dipastikan terlebih dahulu bahwa mereka bukan hanya miliknya. Ingin mengungkapkan afiliasi agama. Ras campuran secara khusus lebih menyukai ungkapan ambigu ini.”[17]

Apa yang dikemukakan Dr. Bernhard Hagen cukup jelas tentang orang-orang Batak yang sudah masuk Islam dan menjadi mengaku Melayu serta malu dan tidak mengaku lagi sebagai Batak. Ironisnya, orang seperti itulah menjadi ‘sumber terpercaya’ para penulis asing, yang menulis Batak dari pinggiran.

Bernhard Hagen menjelaskan mengapa dia menganggap penduduk dataran tinggi tengah Sumatera, yang dia sebut sebagai kelompok primordial atau premalayes yaitu yang tinggal di pegunungan Atjeher, Alas dan Gajo di utara dan Menangkabaumalayen di bagian selatan, dan Batak berada di tengah lebih mampu menjaga diri mereka, relatif murni dan tidak tercampur di pedalaman, karena mereka duduk di dataran tinggi seperti di benteng yang tidak dapat diakses. Oleh karena itu mereka semua menunjukkan kesamaan dan kedekatan yang besar satu sama lain dalam karakteristik antropologis mereka. Sementara mereka yang tinggal di dataran pantai yang rendah, datar, dan mudah diakses dijajah dan ditempati oleh orang asing, dan populasi bercampur dengan mereka.[18]

Secara khusus tentang orang Batak, Bernhard Hagen menjelaskan tempat domisili orang Batak di dataran tinggi tengah yang besar di utara dan selatan Danau Toba mungkin terkenal, jadi saya tidak perlu mengatakan sepatah kata pun tentang mereka. Pengukuran dan pengamatan saya telah menunjukkan kepada saya bahwa pada dasarnya ada dua jenis orang ini, yang berwajah pendek dan lebar, dan yang berwajah panjang dengan wajah berbentuk jerawat; memiliki tengkorak mesocephalic panjang dengan indeks yang sama (77,1 dan 77,8) dan memiliki ukuran tubuh yang kira-kira sama, tetapi yang satu memiliki indeks wajah 82,3, yang lainnya 104,3. Sebagian besar orang yang diukur berasal dari daerah yang secara antropologis relatif murni yaitu pesisir utara Danau Toba.[19]

Sementara perihal orang Alas dan Gajo, secara antropologis, Bernhard Hagen menegaskan keduanya adalah suku Batak yang sepenuhnya Muhamedan, yang memiliki tempat tinggal mereka yang belum banyak dieksplorasi di antara tanah Batak dan Aceh. Secara somatik, mereka benar-benar mirip dengan Batak, ya, menurut ukuran mereka menurut saya mereka lebih murni dari darah ini, dan termasuk masyarakat Sumatera yang paling sedikit terpengaruh oleh pengaruh asing.[20]

Bangga Sebagai Batak

Sejak jauh-jauh hari, orang-orang yang dianggap diplesetkan dengan panggilan Batak, sama sekali tidak merasa tersinggung, malah merasa bangga menyebut diri Batak. Karena sejak mula (mitologi) leluhur, sejak dari Formosa dan Yunnan (sejak 2000-1500 sM), sudah menyebut diri Batak (manusia ciptaan Debata Mulajadi). Orang luar yang jus­tru menganggap sebutan Batak itu sebagai plesetan panggilan kasar, meren­dahkan dan penghinaan.

Bahkan bagi orang luar, sampai saat ini masih hidup anggapan jika menyebut Batak adalah kasar (bisa menyebabkan orang Batak tersinggung), sehingga memanggilnya orang Tapanuli dan/atau orang Medan. Padahal orang Batak sendiri (yakni mereka yang berperilaku dan berkarakter Batak sesuai nilai-nilai kebatakan sehingga layak dipanggil anak ni raja), justru merasa bangga jika disebut Batak. Hanya mereka yang tidak lagi memahami nilai-nilai luhur kebatakan (khususnya Dalihan Na Tolu), atau mereka yang tidak bisa lagi mengenal diri sebagai Batak, yang memang sudah merasa kurang senang bahkan malu disebut Batak, karena dari segi nilai adat budaya DNT mereka sudah sangat kesulitan mengidentifikasi diri sebagai orang Batak. Jadi, jika Anda menemukan seseorang Batak (bermarga atau berlatarbelakang Batak), tapi tidak mau dan malu disebut orang Batak, maka Anda dapat menyimpulkan bahwa orang itu adalah Dalle, atau Batak na Lilu (Batak yang sesat) yakni mereka yang tidak lagi memahami dan mengenal jatidiri, nilai-nilai adat dan budaya Batak.

Bandingkan dengan sebutan China dan Kristen: Sebutan China, orang luar menganggapnya sebagai panggilan kasar, sehingga menyebutnya Tionghoa (orang dari Tiongkok). Di antaranya yang paling lucu, ketika ada sebuah negara memformalkan penyebutan Tionghoa untuk menyebut orang China (dilarang menyebut China), mengeluarkan Keputusan Presiden No 12 Tahun 2014 (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono), mengganti sebutan China menjadi Tionghoa atau Tiongkok. Padahal orang Tionghoa dan bangsa/negaranya sendiri secara formal menamakan diri China, selalu bangga sebagai China. Justru mereka selalu memakai kata dan nama China sebagai identitas kebanggaan utamanya. Lihat saja contohnya, di setiap event perlombaan olahraga yang akan mengharumkan nama bangsa, tidak pernah memakai atribut nama Tionghoa, tetapi selalu bangga dengan sebutan China. Tapi mungkin ada saja orang-orang China perantauan yang merasa malu atau segan atau takut disebut China dan lebih senang disebut Tionghoa, mereka itu adalah Dalle China.

Begitu pula panggilan Kristen kepada para pengikut Kristus, awalnya oleh orang-orang Yahudi menganggapnya sebagai sebutan penghinaan kepada pengikut Kristus, karena mereka tetap percaya dan setia kepada Kristus walau telah dihukum mati di kayu salib, suatu bentuk hukuman paling hina pada masa itu hingga saat ini. Tetapi para pengikut Kristus (Kristen) sendiri tidak tersinggung atau malu dengan sebutan itu, malah bangga menerimanya sebagai pertanda pengikut Kristus yang setia. (1 Petrus 4:16). (Dari Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 1)

Selengkapnya tentang Apa dan Siapa Batak, baca dalam Buku Hita Batak A Cultural Strategy.

Guru Etos Indonesia Jansen Sinamo, dalam kata sambutannya mengatakan: “Anda yang Batak tidak bisa disebut Batak jika belum tuntas membaca buku ini. Anda yang non-Batak belum paham apa itu dan siapa itu Batak jika belum membaca habis buku ini.” Informasi selanjutnya: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

 

Footnote:

[1]   Warneck, Johannes, 1906: Tobabataksch-Deutsches Wörterbuch, Batavia: Landsdrukkerij, s.246-247.

[2]   Freudenberg, R., 1904: Onder de Bataks op West-Sumatra, Lichtstralen op den Akker der Wereld, II-III, Rotterdam: M. Bredée, bl.88.

[3]   Joustra, M., 1920: De Bataks, b.122.

[4]   Lumbantobing, Andar, Pdt. Dr, 1996: Makna Wibawa Jabatan dalam Gereja Batak, Jakarta: BPK Gunung Mulia, h.1.

[5]   The Hilltop Theory, Sejarah, Sub-Bab 3.3; dan Kerajaan Batak Bab 6.

[6]   Sub-Bab 7,3: Stigmatisasi Kanibalis Biadab.

[7]   Joustra, M., 1920: De Bataks, b.122.

[8]   McGuire,  Paul, 1942: Westward The Course The New World of Oceania, New York: William Morrow & Co, p.370-371.

[9]   Pleyte Wzn,C.M., 1894: Bataksche Vertellingen, Utrecht: H. Honig, blz.VII-VIII.

[10]  Bestuurders van NZG, 1889 (Vier-en-Dertigste Jaargang): Mededeelingen van wege Het Nederlandsche Zendelinggenootschap; bijdragen tot de kennis der zending en der taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch Indië; Rotterdam: M. Wyt & Zonen, blz.217.

[11]  Blink, Hendrik, Dr., 1905: Nederlandsch Oost- en West-Indië, geographisch, ethnographisch en economisch beschreven; Eerste Deel, Leiden: E.J. Brill, b.289.

[12]  Bab 7 Misteri Isolasi Indah, Sub-Bab 7.1-2.

[13]  Nijland, E., 1893: Schetsen uit Insulinde, Utrecht: C.H.E. Breijer, b.191.

[14]  Degrading, merendahkan: menggambarkan sesuatu yang tidak sopan atau tidak terhormat seperti komentar merendahkan yang membuat marah semua orang yang mendengarnya. Kata degrading (merendahkan) berasal dari menurunkan, yang berarti “memperlakukan seseorang dengan jijik.” Jadi sesuatu yang merendahkan itu kejam, dimaksudkan untuk menjatuhkan seseorang atau kelompok. Misalnya, jika Anda pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa semua wanita (atau pria, anak-anak, atau orang-orang dari tempat tertentu atau yang berbicara bahasa tertentu atau milik kelompok ras tertentu) “semuanya sama,” Anda telah mendengar komentar yang merendahkan martabat. (https://www.vocabulary.com/dictionary/degrading).

[15]  Pleyte Wzn,C.M., 1894: blz.VIII.

[16]  Pleyte Wzn,C.M., 1894: blz.VII.

[17]  Hagen, Bernhard, 1898: Anthropologischer Atlas Ostasiatischer & Melanesischer Volker; Mit Unterstützung der Kgl. Preuss. Akademie der Wissenschaften; Wiesbaden: CW Kreidel’s Verlag, s.II.

[18]  Hagen, Bernhard, 1898: s.IX.

[19]  Hagen, Bernhard, 1898: s.IX.

[20]  Hagen, Bernhard, 1898: s.X.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here