Bukan Susu Tetapi Makanan Keras

Peluncuran Buku Hita Batak A Cultural Strategy (6)

Ch. Robin Simanullang Hita Batak A Cultural Strategy
 
0
430
Ir. Nikolas Sinar Naibaho, MM, penasehat Forum Jurnalis Batak menyatakan terimakasih dan bangga sebagai bagian dari Forjuba dimana seorang penasehatnya menulis buku ini.

Penulis buku Hita Batak A Cultural Strategy, Ch. Robin Simanullang, menjawab pertanyaan wartawan seusai kebaktian peluncuran buku tersebut, di Sopo Marpingkir HKBP, Jakarta, Minggu 18 Desember 2022, menyebut substansi dan perspektif buku ini ‘bukan susu tetapi makanan keras’. Maka sejak awal dia mempresentasikan (menyosialisasikan) buku ini, dia merasakan adanya ‘keengganan’ bahkan ‘semacam ketakutan’ tokoh-tokoh dan pandita Batak tertentu untuk berkolaborasi mendukung penerbitan bahkan untuk sekadar menghadiri acara kebaktian peluncuran buku ini.

Hal itu dirasakannya sejak proses sosialisasi buku ini, 2 Februari 2021 sampai 28 November 2022; selain 200-an orang (tokoh) yang sudah membeli buku ini (print on demand) dan mengapresiasinya; sebagian lagi ‘menolak’ membeli/memiliki buku ini bahkan ada yang beranggapan buku ini merusak Batak, Anti Misionaris dan Anti Gereja Batak. “Mereka itu rata-rata berpendidikan tinggi, pengurus perkumpulan Batak, jenderal dan pejabat berpengaruh, yang belum pernah membaca apa isi buku ini. Bahkan ada tokoh Batak pejabat penting yang paling berpengaruh saat ini yang sudah kami kirimi buku ini sejak 2 Februari 2021 yang semula memberi dukungan untuk penerbitan dan peluncuran buku ini, kemudian mengulur-ulur waktu, yang kami pandang sebagai perubahan pikiran dan penolakan. Tidak tertutup kemungkinan beliau memiliki perspektif dan kepentingan yang berbeda dengan buku ini; yang tentu harus kami hormati,” ungkap Ch. Robin Simanullang, tanpa menyebut nama tokoh tersebut.

“Maka kami pun menyelenggarakan acara peluncuran buku ini dalam kesederhanaan, tidak mengundang banyak tokoh (Adat dan Pandita), hanya mengundang 10 orang tokoh dan Pandita saja yang kami pandang (sample) yang ‘sewajarnya memiliki’ kepedulian terhadap Habatahon dalam inkulturasinya dengan agama Samawi, khususnya Kristen. Di antaranya ada yang merespon walau tidak hadir, tapi ada pula yang tidak merespon sama sekali walau sekadar basa-basi,” ungkap Ch. Robin Simanullang. Memang, aku Simanullang, dia sebagai seorang jurnalis punya kelemahan yakni kurang tertarik lebih mengandalkan pendekatan personal, melainkan lebih memilih mengutamakan pendekatan profesional. “Jika mereka merasa terpanggil kita sambut dan syukuri, jika tidak atau bahkan dipandang bisa mengganggu kepentingannya, mesti kita hormati,” kata penulis buku The History of Simplicity tentang kisah kesederhanaan seorang jenderal yang berkecimpung dalam dunia intelijen yang rumit.

Dia menyadari, buku Hita Batak A Cultural Strategy ini, secara metafora, bukan gula-gula (permen) atau susu, melainkan makanan keras; yang juga diibaratkannya laksana api air mata pencarian dan penegakan kebenaran tentang Batak. Buku yang ‘out of the box’ mendobrak kemapanan (dominasi) informasi selama ini yang dinilainya banyak yang misinformasi (tidak sengaja) bahkan disinformasi (disengaja) dan/atau misleading content yang menjelek-jelekkan dan membunuh karakter Batak.

Dia menjelaskan, hasil riset bibliografi, dalam konteks sejarah misi kristenisasi di Tanah Batak, contohnya, ada beberapa pengungkapan penting dalam buku ini, yang bukan susu melainkan makanan keras khususnya bagi Gereja-Gereja Batak, antara lain:

Pertama: Proses misi kristenisasi seiring evangelisasi RMG di Tanah Batak ditandai keterlibatan langsung misionaris, khususnya Nommensen, dalam Perang Batak; kristenisasi dengan pedang (perang suci), kristenisasi Injil terdistorsi berparadigma Taurat.

Kedua: Penistaan (pengkafir-kafiran berlebihan dan insinuasi kanibalis) oleh para penulis asing dan misionaris terhadap orang Batak (kepercayaan, adat dan budaya leluhur Batak),  demi rating heroisme mereka, bermuara pembunuhan karakter Batak dan menjauhkan Si Singamangaraja sebagai Raja Imam dan personifikasi Batak, dari Injil.

Ketiga: Proses misi yang mendistorsi Injil, atau kristenisasi berparadigma Taurat di Tanah Batak dan pembunuhan karakter Batak tersebut, berakibat pergulatan konstan Gereja-Gereja Batak sampai hari ini.

Ch. Robin Simanullang menjelaskan, buku ini menyajikannya dengan dukungan literatur sezamannya yang sangat memadai, dan dianalisis, interpretasi dan apresiasi dengan pisau analisa nilai-nilai luhur Batak dalam pusat visi dan perspektif Batak yang sejak leluhur telah berpegang pada amsal klasik: Saluhut panggulmit ni ngolu saguru tu lomo ni Debata do (Segenap denyut kehidupan tergantung kehendak Tuhan); Dinarasikan secara kontemplatif dan transformatif yang dikomparasi dan elaborasi dengan nilai-nilai baru (inkulturasi, atau pengudusan kebudayaan) yang futuristik, dalam kasih, iman dan pengharapan; Serta kemerdekaan berpikir dan kecerdasan iman untuk secara jujur menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran.

Maka, The Batak Institute pun dalam kata pengantar buku ini juga menyatakan, sesunguhnya kita berharap diskursus tentang substansi buku ini kiranya berlangsung secara cerdas dan bijak (bisuk), belajar dari amsal klasik Batak: Purpar pande dorpi bahen tu dimposna (ribut ahli dinding demi kokohnya); Suhar di bagasan roha alai manghorhon tu na denggan (Berlawanan dalam hati tapi berdampak kebaikan); Marhabisuhon dalam proses berpikir dialektika dan kecerdasan iman. Proses keingintahuan, apa yang terbaik bagi kita. Saat kita selalu tersenyum memikirkan masalah serius. Saat kita benar-benar optimis. Saat kita selalu mementingkan kebajikan dan keindahan batiniah maupun lahiriah sebagai Anak/Boru ni Raja. Saat mata kita tertuju pada masa depan (marpanatap tu jolo). Yang selalu merajut mimpi fajar di mata hati dan suara darah kita dan gigih berjuang melawan kegelapan ketidaktahuan. Penulisan yang menempatkan nilai-nilai luhur Batak sebagai narasi utama (meta-narrative), namun pada saat bersamaan secara transformatif membersihkan nilai-nilai Batak yang agung itu dari kekurangsempurnaan (bahkan mungkin kesalahan), untuk membuatnya (merevitalisasinya) dengan mengacu (tunduk) pada eksposisi kebenaran sesuai dinamika zaman kini dan masa depan.

Dijelaskan, secara sederhana, anggap saja beberapa pengungkapan penting dalam buku (monografi) ini, bertujuan untuk menyajikan penelitian ilmiah dasar dengan kredibilitas yang dapat dipertanggungjawabkan; sebagai tesis baru, atau sebuah antitese atau hipotesa baru yang perlu dibuktikan kebenarannya; atau suatu pengungkapan fakta literatur oleh seorang jurnalis (Indepth Reporting), seorang generalis atau awam. Maka, khususnya kepada para pendeta, teolog dan cendekia Batak, kiranya melakukan riset lebih mendalam (antara lain berupa tesis atau disertasi, proses dialektika) untuk menyempurnakan kebenaran atau mengoreksi kekurangsempurnaan buku ini.

Advertisement

“Kiranya Hita Batak, terutama para teolog dan cendekia Batak, tidak lebih memilih terdiam dalam kebanggaan lembah kemuliaan keteologian dan kecendekiaan, dan menghabiskan hari-harinya (kita masing-masing) di pengasingan arus keheningan spiritual dunia fana, tanpa suara yang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang (pun diri sendiri) dalam kebenaran. Dengan itu, kita harus mengevaluasi seberapa layak kita hari ini mewarisi nilai-nilai luhur budaya Batak dan seberapa benar kita dapat memahaminya dalam perspektif dan strategi kebudayaan Batak untuk menjawab setiap tantangan zaman, di mana kita masing-masing (sendiri atau berkolaborasi) dapat merevitalisasi pikiran, hati dan suara darah kita memasuki orde hidup baru.” Demikian Ch. Robin Simanullang. (Bersambung)

Tim Reporter Tokoh Indonesia dan The Batak Institute.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini