Penegak Nilai-Moral Batak

Peluncuran Buku Hita Batak A Cultural Strategy (7)

Ch. Robin Simanullang Hita Batak A Cultural Strategy
 
0
196
Penulis Ch. Robin Simanullang foto bersama dengan Pendeta Dr. Richar Daulay dan Forum Jurnalis Batak dan Keluarga Pamuharaja Simanullang

Secara keseluruhan (holistik), narasi buku ‘babon’ tiga jilid total 2,688 halaman ini adalah penegakan nilai-nilai moral, citra dan jatidiri Batak, semacam apologet Batak, untuk meluruskan misinformasi dan disinformasi ataupun misleading content oleh pihak asing atau siapa saja, tak terkecuali oleh misionaris, yang selama ini membunuh karakter Batak. (Roma 14:16: Apa yang baik yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah). Demikian Ch. Robin Simanullang penulis buku Hita Batak A Cultural Strategy kepada wartawan seusai kebaktian peluncuran buku tersebut di Sopo Marpingkir HKBP, Jakarta Timur, Minggu 18 Desember 2022.

Dia menjelaskan, di antaranya, tentang perang Batak, misi Islam terutama misi Kristen, yang pengungkapannya, dia ibaratkan, laksana cucuran api air mata kesedihan cinta yang membara di tengah kegelapan. Hal mana ketika catatan-catatan sejarah yang dia temukan menyatakan kebenaran lain yang berbeda dengan ‘kebenaran kemapanan’ selama ini; hal itu sangat mengagetkannya serta menyedihkan, dan dia sempat ingin ‘menyembunyikan’ atau tidak perlu diungkapkan, ibarat pantang menyebut ‘nama bao’ (nama besan). Tapi, kontemplasi dan transformasi yang menjadi prinsip berpikir merdeka buku ini, sebagai sebuah strategi kebudayaan, dia harus menyatakannya. Kendati berat dan sakit ibarat cucuran api air mata kesedihan cinta yang membara (gurgur, metafora); dan/atau betapa sakit dan perih, ibarat mencubit diri sendiri, untuk menghadirkan kesadaran baru dan paradigma baru, menuju hidup baru (reborn).

Ch. Robin Simanullang menjelaskan, penulisan buku ‘strategi kebudayaan Batak’ ini dikembangkan dengan Teori Hita Batak yang juga disebut Teori Pusuk Buhit atau The Hilltop Theory, terutama dalam penulisan dialog mitologi dengan sejarah Batak. Sumber utama buku ini adalah Pustaha Batak yang ditulis dan diwariskan oleh para leluhur, kakek-nenek dan orangtua, dalam hati Hita Batak, dielaborasi dan komparasi dengan sumber-sumber lainnya terutama sumber ‘riset’ bibliografi yang ditulis oleh siapa saja: orang Batak atau asing, cendekia murni maupun Freemasonry korup, misionaris atau kolonialis, positif atau negatif, objektif atau subjektif. Dia berpandangan, objektivitas penulisan sejarah terletak pada kualitas subjektivitasnya. Sama sekali tidak ada penulisan (ilmiah) sejarah (historiografi) atau nilai-nilai peradaban lainnya yang hampa subjektivitas. Objektivitas sejarah itu terletak pada kualitas subjektifnya.

Ch. Robin Simanullang dan Istri Boru Purba, diulosi hula-hula Purba, Sitimjak dan Simarmata

Maka, secara khusus bagi Hita Batak, Ch. Robin Simanullang berharap, mari kita lengkapi, rekonstruksi dan sempurnakan (update) atau revitalisasi Pustaha Tumbaga Agong dan Pustaha Tumbaga Holing yang kita warisi dalam tulisan hati kita, dengan sentuhan pena, tuts keyboard komputer atau gawai (gadget), baik dalam bentuk cetak dan digital maupun dalam bentuk suara dan gambar, dengan perubahan narasi kontemplasi berbasis (visi dan perspektif) nilai-nilai luhur Batak, sebagai bagian penting dari strategi kebudayaan Batak, yang merupakan hakikat buku ini.

Sementara, tegasnya, bagi pihak mana pun, sama sekali tidak ada niat membatasi kebebasan menulis tentang Batak dari perspektif masing-masing. Menurutnya, yang telah meriset 700-an buku/dokumen tua tentang Batak, tidak ada tulisan tentang Batak, seburuk dan sejahat apa pun, yang tidak mengandung manfaat atau berdampak baik. Maka, dia menyampaikan rasa hormat dan berterimakasih kepada siapa saja penulis tentang Batak, apa pun motif, maksud dan isi tulisannya. Dia berpegang pada Amsal Habisuhon (Kearifan, filosofi) leluhur Batak yang mengajarkan: Suhar di bagasan roha, alai menghorhon tu na denggan (Berlawanan dalam hati, tapi berdampak baik). Leluhur Batak mengajarkan untuk Bisuk: Tidak hanya berkecerdasan intelektual, melainkan juga, berkecerdasan emosional, spiritual dan lebih lagi berkecerdasan iman!

Dia mengungkapkan, keyakinan yang bisuk (arif) adalah anugerah (pemberian gratis Ilahi) terbaik, yang memberinya selaksa inspirasi dalam penulisan buku ini. Dia merasakan hal itu dengan penegasan, bahwa kekuatan dan motif pribadi semata-mata tidak pernah bisa menyediakannya. Melainkan dia harus memosisikan diri sudah selesai dengan kekuatan dan motif kepentingan pribadinya. “Itu adalah Anugerah Seni Hidup; sebagaimana dianalogikan Robert Gardner (1909) bahwa, pelukis tidak bisa melukis objek yang paling sederhana sampai dia bisa kehilangan individualitasnya dalam kesadaran objek, dan menciptakan kembali ide dalam bentuk seninya. Pematung tidak dapat mewakili ide yang memilikinya sampai seluruh jiwanya berdenyut di balok marmer, sampai ia kehilangan dirinya dalam anggota badan dan saraf dan otot, dalam darah hangat, dalam kekuatan hidup dari bentuk yang dia kreasikan,” jelas Ch. Robin Simanullang.

Itulah salah satu alasan dia memberi judul utama buku ini: Hita Batak A Cultural Strategy. Yang secara sederhana dia maknai: Hita Batak sebuah ‘frame’ strategi kebudayaan yang memfasilitasi interpretasi masa lalu, pemahaman masa kini, dan visi masa depan. Sebuah narasi literasi kontemplasi masa lalu, kini dan masa depan, dalam visi, perspektif, paradigma dan eksistensi intersubjektif Hita Batak: Batak Trisilais (Marhaporseaon tu Debata, Martutur Dalihan Na Tolu, jala Marparange Anak/Boru ni Raja = Berkepercayaan kepada Tuhan, Berkekerabatan Tungku Nan Tiga, dan Berperangai Pangeran/Princess).

Ch. Robin menjelaskan, strategi kebudayaan adalah suatu narasi literasi habisuhon (narasi literasi kearifan) proses berpikir, belajar serta karsa buddhayah raksasa yang mendalami, mereview dan kontemplasi kearifan nilai-nilai luhur budaya dan religi dalam berbagai dimensi dan lintas disiplin ilmu (saintifik), yang memfasilitasi interpretasi baru, merevitalisasi dan mentransformasinya secara inovatif dalam visi, paradigma dan perspektif strategis futuristik sebagai masterplan kehidupan lebih bermakna masa depan berkelanjutan, hingga memperoleh bagian strategis dalam kehidupan kekekalan kodrati Ilahi (religius).

Dapat juga disebut secara sederhana sebagai suatu frame narasi literasi budaya Batak. Literasi budaya Batak yang dia maknai sebagai suatu  proses kemampuan dalam membaca, mendengarkan, menghitung, menulis, mengetahui, memahami, menganalisa, mengomperasi, menginterpretasi dan memaknai serta mengomunikasikan narasi nilai-nilai luhur budaya Batak itu secara kontemplatif, transformatif dan kolaboratif.

Atau singkatnya, strategi kebudayaan adalah suatu pendalaman dan kontemplasi nilai-nilai luhur kebudayaan masa lalu dan kini serta menarasikannya dalam visi dan perspektif strategis futuristik sebagai masterplan kehidupan masa depan yang lebih bermakna. Dia menyebut, strategi kebudayaan itu adalah narasi (literasi) kontemplasi masa lalu, kini dan masa depan, demi kehidupan bermakna berkelanjutan (sustainable), hingga memperoleh bagian strategis dalam kekekalan (religius). Strategi kebudayaan yang berpegang teguh pada literasi kebenaran nilai-nilai luhur di jalan linearnya sendiri, menaklukkan zaman demi zaman, menegaskan cengkeramannya pada masyarakat penganutnya, sampai akhirnya fajar menyingsing ketika dia dengan penuh kemenangan mengatasi semua rintangan dan menangkap peluang, serta bermakna membimbing bahkan mengubah hidup manusia yang ingin tahu ke arah mana mereka akan pergi pada hari esok demi memuliakan hidup dan kemanusiaan. “Itulah strategi kebudayaan; Sangat ideal, tetapi sekaligus strategis dan praktis (implementatif),” terangnya.

Advertisement
Ch.Robin Simanullang dan Istri Boru Purba menerima Dengke dan Ulos dari Hulahula Simarmata sebagai doa dan ucapan syukur atas kesehatan dan usia 70 tahun.

Maka untuk itu, dalam proses penulisan buku ini, dilakukan rangkaian riset (studi) bibliografi, dan penggalian sejarah dan oral history (sejarah lisan), turiturian, dongeng, tonggotonggo (narasi doa), ende dohot andung (kidung dan ratapan), serta kelaziman cerita percakapan sehari-hari (empiris); Pengumpulan dan pemahaman informasi secara cerdas dan bijak (bisuk) serta mengekstrak dan menggabungkan data dari berbagai sumber informasi dan mengubah informasi menjadi format narasi baru yang transformatif dan visioner berorientasi masa depan (futuristik). Sebagai menu cerita (story), sebagai data atau fakta, dalam penyajian narasi serta pembaharuan naratif dan paradigma dalam buku (frame literasi) strategi kebudayaan suku bangsa Batak ini. Narasi dari cerita (story) yang meliputi mitologi, sistem nilai dan sosial, budaya, sejarah, dialog mitologi-sejarah, kerajaan, akulturasi budaya (kolonisasi, islamisasi dan kristenisasi) dan eksistensi (jatidiri) Batak; singkatnya kebudayaan atau peradaban Batak, menuju Orde Hidup Baru (Orhiba) Hita Batak. Yang pada hakikatnya adalah merupakan proses rekonstruksi dan revitalisasi visi narasi (literasi) Pustaha Tumbaga Agong (Pustaka Tembaga Agung) dan Pustaha Tumbaga Holing (Pustaka Tembaga Berkilau) atau Heilige Boek Batak yang diwariskan lisan dan empiris sejak leluhur Batak.

Ch. Robin Simanullang mengatakan, buku ini hanya salah satu dari frame strategi kebudayaan Batak, yang berfokuskan pada pembaharuan narasi (narasi baru) kontempelasi masa lalu, kini dan masa depan. Sebagai salah satu bagian paling strategis dalam strategi kebudayaan Batak secara keseluruhan yang menunjukkan betapa pentingnya nilai-nilai budaya bagi kesejahteraan dan menetapkan arah masa depan peradaban dan kehidupan Hita Batak yang lebih bermakna.

Literasi Strategi Budaya yang berpusat pada visi yang mengandalkan nilai intrinsik budaya dan kekuatan budaya Batak untuk menginspirasi, memperkaya, memampukan dan mengubah kehidupan masyarakat, komunitas hita Batak. Visi strategi kebudayaan yang didukung oleh Tiga Karsa Literasi (daya, kekuatan jiwa, kehendak, niat, cita, tekad) Strategi Kebudayaan Batak; Tiga Karsa (Literasi) Strategi Kebudayaan Batak tersebut adalah: 1) Kontemplasi; 2) Transformasi; 3) Kolaborasi Sosial; Atas nilai-nilai luhur intrinsik budaya Batak. Dia menjelaskan, buku ini hanyalah salah satu literasi, yang tentu mesti dilanjutkan dan disempurnakan secara kolaboratif (kolaborasi sosial) oleh semua Hita Batak dari berbagai lapisan dan elemen, puak, punguan, lintas disiplin keilmuan, lintas kepercayaan serta pegiat seni dan budaya Batak: Untuk menegakkan nilai-nilai moral, citra dan kebanggaan jatidiri Hita Batak. (Bersambung)

Tim Reporter Tokoh Indonesia dan The Batak Institute. Editor: Mangatur L Paniroy Simanullang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini