Agama Jangan Lagi Memisahkan Kita!

Peluncuran Buku Hita Batak A Cultural Strategy (9)

Ch. Robin Simanullang Hita Batak A Cultural Strategy
 
0
395
Ch. Robin Simanullang dan Istri bersama Jonro Munthe Pemimpin Umum/Pemred Majalah Kristiani Narwastu saat peluncuran Buku Hita Batak A Cultural Strategi, di Sopo Marpingkir, Jakarta Minggu 18/12/2022

Salah satu Bab dalam buku Hita Batak A Cultural Strategy bertajuk Agama Bagi Hita Batak, dengan sub-judul Perilaku Habatahon dalam Doktrin Agama (Jilid 3 Bab 12). Dan Sub-sub-Babnya: Ketika Agama Menjadi Pemisah; Batak: Toleransi Berpikiran Besar; Transformasi Sosial Batak; dan Belajar dari Jong Bataks Bond.

Penulisnya, Ch. Robin Simanullang kepada wartawan menjelaskan, salah satu ikhtisar dan ikhtiar buku ini adalah: “Agama jangan lagi memisahkan persaudaraan Hita Batak! Mari suarakan dan lakoni bahwa Batak adalah insan religius dengan toleransi berpikir besar (sebagaimana dahulu disuarakan Si Singamangaraja, dan Hatopan Kristen Batak yang dipimpin Tuan Manullang, dkk), menggerakkan (merevitalisasi) transformasi sosial Batak; dan dengan belajar dari Jong Bataks Bond (yang didirikan berbasis kecintaan dan kebanggaan pada budaya Batak oleh para pemuda-pelajar Batak dari semua puak Batak.”

Batak adalah insan religius. Sejak leluhur telah mempercayai Debata Mulajadi Nabolon sebagai Sang Khalik Mahabesar yang tidak bermula dan tidak berujung. Leluhur Batak lebih mengenal kepercayaan tersebut sebagai adat, way of life, jalan hidupnya secara total, yang menjadi tradisi empiris, baik secara religius, filosofis, moral dan sistem sosial (kekerabatan), ugari (hukum dan adat) serta berbagai corak budi-dayanya; daripada sebagai doktrin agama. Dalam konteks inilah orang Batak mengatakan: Leaan do halak na so maradat, sian na so marugamo (Lebih hina orang tidak beradat, daripada tidak beragama).

Kemudian terjadi akulturasi kolonial dan inkulturasi agama Islam dan Kristen yang prosesnya bersifat antagonistis dan persaingan kedua agama misi Samawi itu bernuansa situasi Timur Tengah dan Barat. Beriringan dengan politik devide et impera (kolonial), maka terjadilah pemisahan yang tajam di kalangan halak hita Batak, baik dalam teritorial administrasi pemerintahan (Pantai Timur dan Barat), terutama faktor agama (Islam dan Kristen): Ketika Agama Menjadi Pemisah.

Dalam Sub-Bab ini dipaparkan (lead): “Diawali persaingan misi Islam dan Kristen di Tanah Batak, terutama sejak 1800-1900-an. Sejak itu orang Batak mulai mengalami degradasi eksistensi intersubjektif kehitaanna (kekitaannya) oleh perbedaan dan fanatisme sempit agama. Mengeleminir dan mendistorsi nilai-nilai luhur budaya sebagai kekuatan pengikat persaudaraan yang berhati dan bersuara aliran darah Batak (secara variatif), dengan narasi-narasi asing dan misionaris (Islam-Kristen) yang menyesatkan (misinfomasi dan disinformasi); Bahkan telah membunuh karakter Batak secara keseluruhan (genosida karakter Batak). [Tentang Pembunuhan Karakter Batak ini dibahas secara detail (dengan referensi yang sangat memadai) dalam Jilid 2 Sub Bab 7.3: Stigmatisasi Kanibalis Biadab; 7.4: Stigmatisasi Late, Elat dan Toal; 7.5: Pembunuhan Karakter Batak].

Periode perkembangan agama (kepercayaan) di Tanah Batak berlangsung melalui proses inkulturasi, transformasi dan ‘pengudusan kebudayaan’ yang juga diwarnai perang suci (holy war) Islamisasi (Jilid 2 Bab 8.1: Perang Batak I, Padri dan Jilid 2 Bab 10: Islamisasi) dan Kristenisasi (Jilid 2 Bab 8.2: Perang Batak II, Si Singamangaraja XII, dan Jilid 3 Bab 11: Kristenisasi). Proses Islamisasi dan Kristenisasi terjadi terutama sejak 1800 sampai 1900-an. Sebagian orang Batak yang tinggal di perbatasan Aceh, Melayu dan Minangkabau yang sejak 1400-1600-an sudah beragama Islam, mulai menerima agama Islam pada tahun 1800-an, baik dengan kesadaran sendiri maupun oleh faktor di luar kemauannya sendiri. Terutama orang Batak yang tinggal di Mandailing dan Angkola diislamkan oleh Paderi, 1816-1833, namun gagal mengislamkan orang Batak yang tinggal di pusat Tanah Batak sekitar Danau Toba.

Lalu misionaris dari Belanda (1857) dan Jerman (1861) mulai mengajarkan Injil di Tanah Batak Merdeka, pusat Tanah Batak; dan berpuncak pada proses kristenisasi sejak 1878-1918. Terjadilah persaingan penyebaran agama Islam dan Kristen di Tanah Batak. Kolonialis mengambil sikap ‘netral’ dengan membatasi penyebaran agama Kristen di tempat di mana Islam sudah berkembang, dan sebaliknya membatasi penyebaran agama Islam di mana agama Kristen sudah berkembang. Kolonialis Belanda pun menggandeng (memanfaatkan) dan memfasilitasi misionaris Kristen meluaskan pengajarannya ke seluruh Tanah Batak merdeka yang mereka sebut sebagai orang Batak kafir dan Sipelebegu.

Maka, sejak adanya perbedaan agama, orang-orang Batak pun mulai terpisah-pisah.

Maka, sejak adanya perbedaan agama, orang-orang Batak pun mulai terpisah-pisah. Orang-orang Batak yang sudah beragama Islam di perbatasan (Aceh, Melayu dan Minangkabau) banyak yang tidak mengaku lagi sebagai orang Batak, bahkan sebagian sudah menghilangkan marga dan identitas kebatakannya. Seperti orang Batak Karo yang sudah beragama Islam di kawasan Dusun Tanah Karo, sebagian tidak lagi mengakui Karo sebagai Batak, bahkan mereka banyak berasimilasi menjadi Melayu/Deli (sebagai awal mula kata Dalle, orang Batak yang sudah menjadi Deli). Begitu pula Batak Pakpak-Dairi di perbatasan Gayo-Alas, Aceh, Batak Simalungun dan Batak Toba di perbatasan Deli Serdang, Asahan dan Labuhan Batu (Indragiri); Juga sebagian Batak Mandailing berasimilasi dengan Minang dan sebaliknya; Beberapa di antaranya tidak lagi mengaku Batak, menghilangkan keberadaan dan eksistensi kebatakannya.

Namun, sebagian besar Batak di Angkola-Mandailing yang beragama Islam masih mempertahankan identitasnya sebagai orang Batak. Juga, Batak di Karo, Simalungun dan Pakpak Dairi, seperti halnya Batak di Toba. Tidak hanya orangtua, tetapi juga para pemuda pelajar; Pada tahun 1926, para pemuda pelajar Batak, telah mengambil langkah strategis, bervisi dan berperspektif strategi kebudayaan, yang bangga sebagai orang Batak. Dengan motivasi mempertahankan dan mengagungkan kebanggaan keberadaan dan eksistensi Batak dalam perjuangan kebangsaan (nasionalisme Indonesia), mereka bersatu-padu, tanpa membedakan agama dan puak, mendirikan organisasi perjuangan Jong Bataks Bond.

Jong Bataks Bond adalah sebuah perkumpulan pemuda Batak yang sangat baik dijadikan acuan dan panutan untuk mempersatukan orang Batak, tanpa batas agama, puak atau wilayah teritorial asal (Toba, Angkola-Mandailing, Simalungun, Pakpak Dairi, dan Karo); Mereka bersatu dalam Jong Bataks Bond, dengan dan untuk menjunjung tinggi kebatakannya dalam kerangka perjuangan kebangsaan Indonesia Merdeka. Hal ini terlihat jelas dari maksud dan tujuan pendirian Jong Bataks Bond dalam Anggaran Dasarnya. Demikian Ch. Robin Simanullang. (Bersambung)

Advertisement

Tim Reporter Tokoh Indonesia dan The Batak Institute. Editor: Mangatur L Paniroy Simanullang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini