Batak Bersatu, Belajar dari Jong Bataks Bond

Peluncuran Buku Hita Batak A Cultural Strategy (10)

 
1
981
Ch. Robin Simanullang dan Istri AN Boru Purba, bersama Hotman Jonathan Lumban Gaol, Asdon Hutajulu, Nikolas Sinar Naibaho dan Jonro Munthe, pengurus dan penasehat Forjuba pada peluncuran buku Hita Batak A Cultural Strategy di Sopo Marpingkir HKBP Jakarta, Minggu 18/12/2022.

Jong Bataks Bond yang didirikan para pemuda-pelajar Batak pada 24 Oktober 1926, dapat kita jadikan sebagai acuan tentang persatuan dan kesatuan Hita Batak, dan siapa orang Batak, serta siapa Suku Bangsa Batak dalam perjuangan kebangsaan (nasionalisme) Indonesia berbasis eksistensi kebatakannya (strategi kebudayaan Batak).

Penulis Ch. Robin Simanullang menjelaskan kepada wartawan seusai peluncuran buku Hita Batak A Cultural Strategy di Sopo Marpingkir HKBP, Jakarta, Minggu 18/12/2022, hal tersebut adalah salah satu topik yang diulas dalam buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 2 Bab 8.2.9: Gerakan Nasionalisme Batak; perikop: Spirit Jong Bataks Bond; dan Jilid 3 Bab 12.4: Belajar dari Jong Bataks Bond.

Mereka mendirikan perserikatan Jong Bataks Bond atas kebanggaan jatidiri dan eksistensi Suku Bangsa Batak dalam kesadaran dan perjuangan nasional. Dalam Statuten (Anggran Dasar) ditegaskan salah satu tujuan pendirian Jong Bataks Bond adalah berupaya menjunjung tinggi serta bangga terhadap budaya Batak.

Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap, lahir di Medan, 27 April 1907, meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 19 Desember 1948 pada umur 41 tahun. Salah seorang tokoh pendiri Jong Bataks Bond (1926), Tokoh Sumpah Pemuda 1928, Menteri pada Kabinet Presidensial, Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II, Kabinet Sjahrir III; dan Perdana Menteri: 3 Juli 1947 – 29 Januari 1948, membentuk Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet Amir Sjarifuddin II. Ia seorang politisi sosialis, pemimpin sayap kiri terdepan pada masa Revolusi. Pada tahun 1948, ia wafat ditembak oleh seorang letnan Polisi Militer, satuan khusus Angkatan Bersenjata Indonesia, diduga (tanpa pembuktian dan peradilan) terkait Peristiwa Madiun 1948.

Salah satu gerakan paling sukses dalam kepesertaan Jong Bataks Bond adalah Sumpah Pemuda 1928. Di mana, antara lain, Amir Sjarifuddin Harahap, mewakili Jong Bataks Bond berperan penting. Selain itu, banyak peristiwa historis menentang penjajahan dan kebijakan yang tidak adil diprakarsai oleh pemuda. Seperti yang dilakukan oleh Mangaradja Hezekiel Simanullang, yang populer dengan panggilan Tuan Manullang, pada saat berusia 19 tahun telah menyerukan kebangkitan nasional dalam koran yang diterbitkannya bersama Gaius Sihite dan Immanuel Siregar, yakni Sondang Bintang Batak, 1907, ketika mereka dipecat dari Seminari Narumonda karena dianggap memimpin 120 siswa (tahun 1905) melakukan pemogokan memprotes kebijakan misi dan kolonial.

Kaum muda selalu berperan dalam mengubah dan membentuk arah perkembangan dunia dan dalam banyak kasus, kekuasaan akhirnya mendengarkan seruan mereka yang mendesak untuk bertindak. Begitu pulalah para pemuda pelajar Batak yang membentuk Jong Bataks Bond sebagai wadah perjuangan mengubah dan membentuk arah perjuangan nasionalisme berbasis nilai-nilai luhur budaya kebatakannya.

Dalam kondisi Tanah Batak dan orang Batak yang terpecah-belah politik devide et impera, anak muda pelajar Batak berdiri dalam eksistensi intersubjektif kekitaan Bataknya melakukan aksi kolektif kolaboratif, tanpa mau dipisahkan puak dan agama. Mereka bersatu-padu untuk menghadirkan perubahan bersejarah dalam menghadapi tantangan zaman. Mereka pemuda pelajar Batak yang tidak mau diam menerima status quo devide et impera, mereka memimpin gerakan perubahan yang dimulai dari diri mereka sendiri untuk memimpin bangsanya yang adalah masa depan mereka sendiri. Mereka menghadapi dunia kolonial dengan cara berpikir baru, sikap baru dan tindakan baru yang berkecerdasan, dengan berpegang pada jatidiri dan nilai-nilai luhur budaya leluhurnya. Sebuah gerakan strategi kebudayaan Batak, di mana ideologi dan esensi perjuangannya diukir dan diamanatkan dalam statuta Anggran Dasar Jong Bataks Bond.

Surat Kabar Jong Batak No.2 tahun 1927 menulis berita tentang tujuan pendirian Jong Bataks Bond, di antaranya: 1) Menguatkan kembali upaya untuk mengangkat kehormatan budaya Batak; 2) Berupaya menjunjung tinggi serta bangga terhadap budaya Batak; 3) Menumbuhkan kesadaran dan kebersamaan bagi pengembangan budaya Batak yang merupakan sebuah kesatuan dari suku Mandailing, Angkola, Toba, Simelu (Simalungun), Karo, Nias dan lainnya (Pakpak-Dairi); 4) Suku-suku tersebut merupakan kesatuan dari Suku Bangsa Batak yang sadar bahwa untuk mencapai sesuatu yang lebih besar haruslah disertai semangat dan kesehatan fisik yang baik; 5) Sejalan dengan itu, organisasi mengakui bahwa perlunya mengembangkan perasaan kesetiakawanan untuk seluruh penduduk pribumi di Indonesia dan menguatkan keinginan bagi kemajuan dengan bekerja keras; 6) Sebagai perkumpulan orang Batak, JBB diharapkan mampu berbuat banyak untuk menciptakan kesejahteraan lahir dan batin bagi orang Batak; 7) JBB menyadari perlunya penguatan pemahaman mengenai Negara bagi penduduk di tanah Indonesia.

Semangat ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman para pelajar Batak yang bergabung dengan Jong Sumatranen Bond yang merasa kurang mendapat tempat dalam mengekspresikan perjuangannya dalam wadah JSB tersebut, sebagaimana ditulis oleh Sanusi Pane, Gindo Siregar dan Aminoedin Pohan dalam Koran Jong Batak No.1, Januari 1926. Aminoedin Pohan menulis, “Siapakah di antara kita yang tidak merasa sedih bahwa hingga kini pekerjaan kenasionalan para Pemuda Sumatra hanya dilakukan oleh satu pihak saja, yaitu saudara-saudara kita dari Minangkabau, sedangkan kelompok lainnya malu-malu tinggal di belakang terus? Apakah orang-orang tidak menyadari bahwa pemberian penerangan dari satu pihak saja mengenai masalah-masalah Sumatra akan memberi kesan yang menyesatkan…?”

J.Th.Petrus Blumberger (1931) dalam De nationalistische beweging in Nederlandsch-Indië (Gerakan Nasionalis di Hindia Belanda) mengatakan, dengan cara ini para pemuda Batak membentuk persatuan mereka sendiri, yang disebut ‘Jong-Bataks Bond’. “Para pemuda ini tidak merasa betah dalam persatuan di mana orang Minangkabau mendominasi. Mereka ingin berjuang di lingkaran mereka sendiri untuk mewujudkan cita-cita rakyat mereka, seperti yang mereka tunjukkan dalam undang-undang asosiasi: menegakkan dan menghormati nama populer ‘Batak’’ serta mengembangkan rasa solidaritas di antara orang-orang Batak.”

Maka untuk mencapai tujuan pendirian Jong Bataks Bond tersebut dilakukan beberapa hal yakni: a) Menciptakan sebuah ikatan di antara pelajar-pelajar yang berasal dari Batak, baik itu pelajar sekolah atas maupun menengah, dan mengatur mereka yang tidak berasal dari pelajar untuk maju dan memiliki keahlian; b) Memperkuat dan memelihara semangat belajar para anggota; c) Meneruskan upaya agar kebudayaan Batak mendapat tempat terhormat dalam pergaulan dengan kebudayaan lainnya; d) Menjembatani penyebaran pengetahuan umum kepada para anggota; e) Berlatih olahraga. “Sangat ideologis, visioner dan strategis tetapi sekaligus praktis dan realistis bersahaja. Sebuah strategi kebudayan!,” terang Ch. Robin Simanullang.

Advertisement
Jong Bataks Bond, 1926. Foto Museum Sumpah Pemuda

Siapa para pemuda yang tergabung dalam Jong Bataks Bond itu? Mereka adalah para pemuda yang berasal dari semua puak Batak (Toba, Angkola-Mandailing, Simalungun, Pakpak-Dairi, dan Karo). Mereka tidak membeda-bedakan kebatakan semua (keenam) puak Batak itu. Mereka semua bangga dan menjunjung tinggi budaya Batak: Hita Batak!

Siapa-siapa orangnya yang menyatakan bangga dan menjunjung tinggi kebatakan itu? Antara lain, Amir Sjarifuddin Harahap, Diapari Siregar, Ferdinand Lumban Tobing, Amijn Pane, Sanoesi Pane, Roempia Boekit, Salomo Oedjoeng, Jaidim Poerba, Majoedin Loebis, Moerad Poerba, Suka, Amejufrrouw Hilde Loemban Tobing, GM Loemban Tobing, Soelleman Siregar, Moerad Tandjoeng, Abd. Abas Harahap, A. Hakim Harahap, Walter Loemban Tobing, M. Hamid, Pangariboean Siregar, Willem Siregar, R. Boental Sinambela, Herman Hoetabarat, Pamenan Harahap, B. Hoetasoit, St. Panggabean, SBP Mangoensong, OA Tamboenan, A. Siagian, A, Nasoetion, SD. Tagor, N. Tampoebolon, Johan L. Tobing, Abdurrachman Harahap, Noerminah, Ronggoer Loebis, Abdoel Moekti, Amir Radjab, HA Domitian, R. Sodjoeangon, SBS Hamid, W. L. Toroean, G. Tamboenan, B. Nasoetion, A. Siregar, Silitonga, M. Tandjoeng, A. Siregar, C. Sitompoel, H. Loebis, K. Siregar, P. Siregar, M. Nalib, J. Manalu, A Horman Siregar, Z. Baharoedin Pasariboe, Moh. Din Siregar, Abel Sinaga, Boediman, A. Siregar, K. Simatoepang, C. Sitoempoel, S. Goeltom, Gindo Siregar, Abas Hoetasoehoet, Polim Saroempaet, Koebit Sitmpoel, Polycarpus Goeltom, Rufinus L. Tobing, Ongkoe Siregar, Boerhan Nasoetion, Jansen Hoetapea, A. Sjoekoer Hr, Albert Siregar, Abd. Hakim Hr, Marinus Siahaan. Mereka semua adalah para pemuda terpelajar, pemikir dan pelaku pejuang strategi kebudayaan Batak yakni para pejuang nasional yang bangga sebagai orang Batak, bangga dan menjunjung tinggi eksistensi intersubjektif Batak.

Jong Bataks Bond yang berdiri dalam sebuah pertemuan para pelajar Batak di Bandung pada tanggal 24 Oktober 1926 juga mengubah dan memilih pengurus pusat, yakni: Ketua Diapari Siregar, Wakil Ketua Amir Hoesin, Sekretaris G.L. Tobing, Sekretaris II Ali Akbar, Bendahara Mahjoedin Loebis, Adminitrasi Moerad Tandjoeng. Selanjutnya muncul beberapa orang Batak sebagai tokoh nasional, di antaranya Prof. Dr. Todung Sutan Gunung Mulia Harahap, sebagai Anggota Volksraad Perwakilan Batak Kristen yang kemudian pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan (14 November 1945 – 28 Februari 1946). Juga Amir Sjarifoeddin Harahap, menjabat Menteri pada Kabinet Presidensial, juga Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II, Kabinet Sjahrir III; dan Perdana Menteri: 3 Juli 1947 – 29 Januari 1948, membentuk Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet Amir Sjarifuddin II.

Menurut Ch. Robin Simanullang, penampilan dan narasi strategis Jong Bataks Bond ini adalah tambang energi inspirasi agung bagai api yang tak kunjung padam bagi orang Batak, bukan hanya kaum muda, tetapi juga semua lapisan usia, marga, puak, punguan, lembaga adat, lembaga keagamaan dan lain sebagainya, untuk mereview dan mengontemplasi diri dalam gerakan transformatif dan kolaboratif untuk lebih memaknai eksistensi dan jatidiri intersubjektif  kekitaan (aku di dalam kita dan kita di dalam aku) dalam hidup dan kehidupan kemanusiaan Hita Batak yang lebih adil dan beradab, jasmani maupun rohani, memasuki Orde Hidup Baru (Orhiba). Demikian Ch. Robin Simanullang. Bersambung.

Tim Reporter Tokoh Indonesia dan The Batak Institute. Editor: Mangatur L Paniroy Simanullang

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini