Ompu i Ephorus HKBP

Peluncuran Buku Hita Batak A Cultural Strategy (8)

[ Ch. Robin Simanullang ] [ Hita Batak A Cultural Strategy ]
 
0
264
Para misionaris di Tanah Batak pada Konferensi tahun 1899

“Secara pribadi selaku Jemaat HKBP, saya sangat setuju dan bersyukur atas pemberian gelar terhormat, agung dan mulia OMPU I kepada Ephorus HKBP (bahkan juga kepada para Pucuk Pimpinan Gereja-Gereja Batak lainnya). Walaupun dari sudut pandang Imamat Am yang Rajani (Imamat Am Orang Percaya) dan Reformasi Protestan hal tersebut terbuka untuk didiskusikan (debatable),” demikian pernyataan Ch. Robin Simanullang, penulis buku Hita Batak A Cultural Strategy, ketika ditanya Wartawan seusai acara kebaktian peluncuran buku tersebut di Sopo Marpingkir HKBP, Jakarta, Minggu, 18 Desember 2022.

Wartawan, bertanya seraya menunjukkan diagram Ephorus HKBP (1861-1940) pada Jilid 3 buku tersebut, hal mana Ephorus juga disebut sebagai padanan Superintendent: “Bagaimana pendapat Anda tentang pemberian gelar kehormatan Ompu i kepada Ephorus HKBP; dan sejak kapan gelar mulia itu diberikan?”

“Kami belum menemukan dokumen kapan persisnya pemberian gelar Ompu i kepada Ephorus HKBP. Kami tidak/belum menemukan dokumen dimana para Ephorus (Superintendent) Gereja Batak Misi RMG (1861-1930) dan Ephorus HKBP (sejak 1930 -1940) digelari Ompu i, pada masa mereka menjabat Ephorus atau semasa mereka masih hidup. Kemungkinan gelar tersebut baru diberikan sejak kemandirian HKBP, ketika Pandita Batak mulai menjabat Ephorus (1940),” jawab Ch. Robin Simanullang, seraya menjelaskan penulisan buku ini membatasi riset bibliografi sejarah misi di Tanah Batak sampai 1940. Sebelumnya, dia menduga pemberian gelar itu dimulai sejak era kepemimpinan Ephorus IL. Nommensen (1882-1918); “Tetapi ternyata, kami tidak/belum menemukan dokumen penyebutan gelar Ompu i Ephorus kepada Nommensen, juga kepada para Ephorus (Misionaris Jerman) lainnya sampai tahun 1940.”

Ch. Robin Simanullang menjelaskan, dari dokumen yang kami temukan, Superintendent (Ephorus) Gereja Batak Misi RMG yang pertama adalah Misionaris Johann Carl Klammer, berkedudukan di Sipirok (1861-1866). Kemudian digantikan Misionaris August Schreiber, berkedudukan di Parau Sorat (1866-1873). Lalu, August Schreiber kembali ke Jerman dan kemudian hari menjadi Inspektur RMG, dia digantikan kembali oleh Misionaris Johann Carl Klammer, berkedudukan di Sipirok (1873-1882).

Ephorus HKBP 1861-1940

Kemudian digantikan Misionaris IL.Nommensen (1882-1918), pertama kali sebutan Superintendent diganti dengan sebutan Ephorus sesuai Ordonansi Gereja Batak Misi RMG yang baru, dengan rincian tugas dan tanggung jawab yang relatif sama dengan Superintendent; antara lain: bertugas berhubungan dengan Barmen dan jika perlu dengan Pemerintah, mengirim laporan tahunan seluruh pekerjaan ke Barmen, dan mengatur masalah keuangan. Belum bermakna sebagai pucuk pimpinan, Ompu i, atau Raja Imam, melainkan sebagai Superintendent, pengawas atau Praeses RMG di Tanah Batak.

Pada saat Nommensen menjabat Ephorus, dia didampingi Ephorus Kedua Misionaris Christian Philipp Schutz (1895-1920) berkedudukan di Sipirok (Angkola) dan Wakil Ephorus Misionaris Metzler (1895-1920) berkedudukan di Pearaja; sementara Ephorus Nommensen pindah ke Sigumpar (sejak 1890-1918). Setelah Nommensen wafat (23 Mei 1918), digantikan Misionaris Van Kessel (sisuan bulu misi di Lintongnihuta) sebagai Pejabat Ephorus (1918-1920); seraya mempersiapkan Ephorus definitif, yakni Ephorus Dr. Johannes Warneck (Ephorus Misi RMG 1920-1930) dan Ephorus HKBP (de jure) Pertama (1930-1932). Lalu, digantikan Ephorus HKBP P. Landbrege (1932-1936) dan Ephorus HKBP Dr. Ernist Verwiebe (1936-1940). Kemudian HKBP mandiri secara de jure dan de facto ditandai terpilihnya Pendeta K. Sirait (11 Juli 1940) sebagai Ephorus HKBP Pandita Batak Pertama.

Ephorus IL Nommensen

“Dari dokumen sezamannya yang kami temukan, tidak satu pun Ephorus/Superintendent Misionaris Jerman tersebut yang digelari Ompu i,” ungkap Ch. Robin Simanullang. Tetapi dia menemukan buku/dokumen pemberian panggilan Ompu (tanpa i) kepada Nommensen bertepatan pesta emas 50 tahun dia ditahbiskan sebagai pendeta misi di gereja Barmen, yang diadakan pada tanggal 13 Oktober 1911, di Sigumpar; para Pandita Batak memberinya panggilan Ompu tanpa i; tanpa terkait secara langsung dengan jabatan Ephorus, melainkan karena dia sudah lanjut usia. Semasa Nommensen masih hidup, tidak ada dokumen dia digelari Ompu i. Terbukti juga kemudian Ephorus sesudah Ompu Nommensen, yakni Van Kassel, Johannes Warneck, P. Landgrebe, dan E. Verwiebe, kita tidak (belum) menemukan dokumen yang menunjukkan keempat Ephorus sesudah Nommensen tersebut pun dipanggil Ompu atau Ompu i,” ungkap Ch. Robin Simanullang.

Ephorus HKBP Dr. Johannes Warneck

Namun pada dokumen-dokumen kontemporer (masa kini) para Ephorus HKBP itu, terutama Nommensen, digelari Ompu i. Menurut Ch. Robin Simanullang, penganugerahan gelar panggilan Ompu atau Ompu i kepada Ephorus HKBP setelah mandiri (1940) pastilah mempunyai maksud dan harapan yang baik dan mulia. Orang Batak, khususnya jemaat HKBP tentu sangat mengharapkan Ephorus HKBP itu menjadi Imam panutan, Raja Imam, sebagai bagian dari pembumian iman Kristiani, di mana Ephorus itu sudah selesai dengan dirinya sendiri dalam urusan duniawi, baik pada saat menjabat maupun setelah selesai menjabat (emeritus). Paling tidak sudah mengesampingkan (tidak lagi mengutamakan) kepentingan diri sendiri dalam urusan duniawi. Sebab, menurutnya, akan terasa janggal mereka dipanggil Ompu i ketika masih memiliki kepentingan duniawi, misalnya, menjadi politisi, seusai menjabat Ephorus. “Tentu hal seperti itu akan sangat mendegradasi makna pemberian gelar kehormatan Ompu i, yang bertujuan dan bermakna mulia tersebut. Bahkan, semestinya, keinginan ketenaran anumerta pun harus dibuang dari pikiran mereka; Sebab surga telah menghasilkan kebajikan yang ada dalam diri mereka,” harap Ch. Robin Simanullang.

Dia berharap, kiranya Ompu i Ephorus dan pemimpin Gereja Batak lainnya (Bishop, dll), benar-benar menjadi Raja Imam bagi orang Batak; dalam pengertian sebagai teladan spiritual yang penuh kasih membungkuk kepada orang yang berposisi di tempat yang lebih rendah, yang sering tampil mengunjungi jemaat sebagai Ompung Na Martuatua i dalam sosok papa dan hina (pasifis jalan Kristus). “Maka pemilihan pimpinan Gereja (Ephorus, Bishop, dan sebagainya) perlu dipikirkan ulang: 1) Menghindari pemilihan secara politik (demokrasi politik, sekuler); dan 2) Memfasilitasi Allah sendiri yang memilihnya (Luk. 1:9; Kis 1:26) dengan proses yang lebih sempurna dan Alkitabiah,” harapnya.

Dia mengatakan: “Masa lalu, sudah berlalu. Kita sedang berjalan hari ini menjemput hari esok. Gereja-gereja Batak kiranya jangan terjebak dalam pergulatan konstannya, siklus yang melingkar. Bahkan jangan terjebak dalam kelompok komunitasnya yang tertutup (Gereja Suku yang tertutup), melainkan mesti kelompok yang terbuka (tedek), tanpa kehilangan jatidirinya, sebagaimana layaknya peradaban Batak yang terbuka, kontekstual dan egaliter. Sifat rasis dan kesukuan yang tertutup adalah penyakit kanker yang amat berbahaya. Namun, menurutnya, Gereja-Gereja Batak (khususnya HKBP na bolon i) sebagai Gereja Suku terbesar di Indonesia tidak mesti meleburkan jatidiri kebatakannya. Sebab kebatakan itu religius: Hidup dalam Roh (Tondi). Itu yang harus didalami secara telogis: Seni Teologi. Dimana hidup (empiris) Hita Batak (semestinya) tidak terpisah (jangan dipisahkan) dengan kepercayaannya, sebagaimana leluhur Batak tempo dulu.”

Advertisement

“Bukan berarti mesti kembali ke masa lalu (atavis), melainkan menoleh masa lalu untuk menjemput masa depan dalam perspektif Tungkot Sialagundi: Bukankah leluhur kita mewariskan amsal futuristik dalam perspektif Tungkot Sialagundi? Ompunta raja ijolo martungkot sialagundi, pinungka ni ompunta parjolo si ihuthonon ni hita parpudi. Amsal yang perlu kita interpretasi secara linear, kontemplatif, transformatif dan futuristik. Bahwa masa depan ada di belakang (parpudi) dan masa lalu ada di depan (parjolo). Perspektif Tungkot Sialagundi, karena kita selalu bisa melihat masa lalu, tetapi tidak bisa melihat masa depan; kita hanya bisa melihat masa depan dari perspektif masa lalu kita. Ketika kita melangkah dan memandang ke depan, tidak seorang pun yang bisa melihat masa depan, tetapi bisa melihat nilai kebenaran masa lalu sebagai Tungkot Sialagundi masa depan. Jadi, makna hakiki perspektif Tungkot Sialagundi tidak bermaksud mengajak kita melangkah ke belakang (atavis), melainkan melangkah ke depan secara linear, adaptasi transformatif dan futuristik martungkothon sialagundi si ihuthonon ni parpudi (Parpudi adalah generasi yang ada di depan, melangkah ke depan). Menatap ke belakang (Raja Ijolo) sebagai pelita menjemput masa depan,” jelas Ch. Robin Simanullang.

Menurutnya, perspektif Tungkot Sialagundi membimbing kita dengan pandangan kontemplatif yang mendalam tentang alam, sejarah kehidupan manisia (Batak) dan perkembangan keyakinan religiusnya. Kita mempelajari masa lalu untuk mengetahui masa kini. Kita menemukan diri dengan pandangan luas tentang dunia dan sejarah, bersama dengan wawasan mendalam tentang keberadaan kita sendiri saat ini, yang bisa lebih dipahami jika dilihat secara historis; dalam terang sejarah, peluang dan kewajiban pengudusan kebudayaan (keberagamaan) kita saat ini menjadi lebih penting menapaki langkah linear di Jalan, Kebenaran dan Hidup.

“Inilah yang luput dari perhatian serius (evangelisasi etnologi) para misionaris di Tanah Batak. Mereka (para misionaris) tidak melihat (mendalami) kepercayaan leluhur Batak kepada Debata Mulajadi Nabolon na so marmula so marujung, Na Sada Sitolu Suhu (Debata Sang Khalik Mahabesar, yang tidak bermula dan tidak berujung, yang Esa dalam Tiga Unsur) adalah suatu ‘agama kuno’ yang sudah ‘tinggi’ sebagai ‘persiapan dan kecenderungan’ (preparations and predispositions), agama wahyu monoteisme, alfa-omega, lebih khusus Tritunggal, atau Trinitas. Tetapi mereka lebih mengambil sikap antagonistis, yang menyebabkan pergulatan konstan Gereja-Gereja Batak sampai saat ini. Proses inkulturasi, evangelisasi pengudusan kebudayaan (kepercayaan) Batak kurang mendapat prioritas,” ungkapnya.

Menurutnya, ini tantangan bagi para teolog dan cendekia Gereja-Gereja Batak masa kini. “Dengan perspektif Tungkot Sialagundi tersebut, saatnya kita lebih mengoptimalkan kontribusi secara kolaboratif untuk menyebarkan sinar mentari filosofi luhur budaya Batak yang murni tak bernoda dan dikuduskan; laksana gulungan ombak air bening Danau Toba nan indah menawan putih membiru, sebagai tambang falsafah dan nilai-nilai hidup bermakna, dengan membuka dan menerbitkan cahaya portal strategi kebudayaan, dengan perubahan narasi yang menarik, kreatif, inovatif dan transformatif, secara kolaboratif masif; Yang memperbaharui hidup baru bagi Hita Batak, terutama bagi putra-putri kita sebagai generasi mulia yang akan mengenakan seragam malaikat kebatakan masa depan dengan kebudayaannya yang dikuduskan (diselamatkan); Di mana kita dan generasi penerus bangkit ke ketinggian karakter dan budi luhur agung di bumi baru kemuliaan sejati sesuai kehendak Debata Jahoba; Yakni, antara lain, dalam perspektif dan paradigma pancaran doktrin (dogma) klasik Batak, bahwa: “Saluhut panggulmit ni ngolu saguru tu lomo ni Debata do.” The whole pulse of life depends on God’s will. Doktrin klasik Batak yang mesti diekspresikan secara empiris dalam gaya hidup, way of life, tradisi budaya yang berserah diri kepada Sang Khalik dalam kebersahajaan dan ketulusan (teologi jalan, kebenaran dan  hidup). Jangan sampai sikap, gaya dan jalan hidup kita kehilangan arah. Jangan sampai makna dan nilai hidup halak hita berada dalam ketidakpastian yang mengerikan: Sekularitas Gereja dan Sekuralisme modern.

Menurutnya, ciri yang paling mencolok dari kehidupan religius modern, termasuk Gereja-gereja Batak, adalah hancur-leburnya pemahaman pemisahan dan keserentakan antara yang sakral dan sekuler, agama dan sekularisme, Gereja dan dunia. Itulah pergumulan stagnan Gereja Batak, dalam gulungan kitab nabi, Taurat, katekismus, yang ‘diwariskan’ para misionaris dalam berbagai kepentingan dan aktualisasi diri yang bahkan seringkali bernuansa sekuralitas atau kekuasaan hukum duniawi dari organisasi keagamaan Gereja Barat (yang diwarisi Gereja Batak).

Dalam konteks ini, maka Ch. Robin Simanullang, sangat bersyukur atas pemberian gelar kehormatan Ompu i kepada Ephorus HKBP. Dengan harapan, mereka tampil sebagai Raja Imam (Raja Malim) Batak. Ompu i, gelar yang sebelumnya diberikan kepada Raja Si Singamangaraja sebagai Raja Malim atau Raja Imam orang Batak. Ompu i Ephorus HKBP sebagai pemimpin religius orang Batak, singa ni adat dohot uhum (ugari, peradaban dalam pengertian religius) Batak, menjadi garam dan terang dunia, dalam pemisahan dan keserentakannya.

Ch. Robin Simanullang berharap, keteladanan spiritual para pendeta, terutama pucuk pimpinan (Ephorus atau Bishop) yang seyogianya sudah berakhir (mati) dengan keinginan dagingnya sendiri, dan yang hidup dalam dirinya hanyalah (hal utama) kehendak Allah (dalam pemahaman keserantakan garam dan terang dunia); Sekali lagi, terutama pucuk pimpinan (Ompu i Ephorus) sudah selesai dengan dirinya sendiri. Keteladanan iman seperti itulah hakikat Masa Depan Gereja Batak dan hakikat Gereja Batak Masa Depan, yang menghadirkan Kerajaan Allah dalam diri setiap jiwa jemaatnya, yang nyata (empiris, rasional dan pragmatis) menjadi garam dan terang dunia, bukan hanya terukir bagai goresan tinta emas mewah berkilauan dalam doktrin dan teologi di menara gading atau hanya nyaring merdu dalam simponi liturgi ibadah yang hampa atau suam-suam kuku (golom riaria) tanpa persekutuan dengan Allah. Keteladanan spiritual, sehingga gelar terhormat Ompu i benar-benar menyebarkan garam dan memancarkan cahaya terang kekudusan. Ompu i sebagai Imam Kudus Gereja Batak! Raja Imam Batak! (Bersambung).

Tim Reporter Tokoh Indonesia dan The Batak Institute. Editor: Mangatur L Paniroy Simanullang

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here