Sejarah Kristenisasi Tanah Batak

Jalan Salib Batak: Dinista Sebelum Dibabtis

 
0
113
Jalan Salib Batak
Kristenisasi Tanah Batak

Agama Kristen membawa terang dan pengaruh terbesar bagi pera­daban dan paradatan suku bangsa Batak di seluruh kawasan Tanah Batak,[1] terutama di pusat (jantung) adat-budaya (paradatan) Batak di wilayah seputar Danau Toba (splendid isolation ribuan tahun), sebagai wilayah yang dihuni oleh orang Batak tulen (echte Bataks ).[2]

Kabar Baik Injil telah menjadi garam dan terang bagi  sebagian orang Batak dan adat-budayanya (enkulturasi); Sekaligus mengamanatkan supaya orang Batak dan adat budayanya menjadi garam dan terang dunia.

Filosofi, nilai-nilai ideal dan sistem sosial Dalihan Na Tolu (DNT) yang semula bernafas (digerakkan) kepercayaan kepada Debata Mulajadi Nabolon dalam totalitas tritunggal Debata Batara Guru, Soripada Sohaliapan dan Mangala Bulan, bagi orang Batak jemaat Kristen bertransformasi menjadi bernafas kepercayaan kepada YHWH (Yahwe, Adonai, Elohim, Allah yang adalah Bapa, Anak dan Roh Kudus (Trinitas secara teologis).[3] Filosofi, nilai-nilai ideal dan sistem sosial DNT itu layaknya ‘Taurat Batak’ yang kemudian digenapi, dikuduskan dan disempurnakan, bertransformasi dengan hukum (perjanjian) yang baru yakni hukum kasih (Injil). Se­hingga beberapa peneliti (pemerhati) menyenyebut, totalitas Tritunggal Debata Mulajadi Na Bolon (Batara Guru, Soripada dan Ma­ngala Bulan) tersebut sebagai Pra-Trinitas atau Tritunggal primitif (Tobing: 1956), yang memudahkan orang Batak mene­rima, memahami dan mempercayai kebenaran Trinitas Yahwe (YHWH): Bapa, Anak dan Roh Kudus. Para misionaris juga menerjemahkan Yahwe dalam bahasa Batak dengan Jahoba (Jahowa), lengkapnya Debata Jahoba. Juga menerjemahkan Sorga dengan Banua Ginjang; Dunia dengan Banau Tonga; dan Neraka dengan Banua Toru. Perangkatnya tetap (Banua Ginjang, Banua Tonga, dan Banua Toru) tapi makna dan muatan religinya berubah.

Jika diibaratkan dengan sistem perangkat komputer (hardware dan software atau aplikasi), sebagaimana sistem sosial Taurat (Yahudi), demikian pula sistem sosial DNT (Batak), kompatibel dengan perangkat dan aplikasi Injil dengan proses pembaharuan (update) dimana perlu sesuai dengan aplikasi kebenaran terbaru (Injil). Ibaratnya: Komputer, PC,  Laptop, Tablet, Handphone-nya bermerk DNT, prosessor dan aplikasi lainnya bermerk Injil; Kompatibel.[4]

Pada tahap awal masuknya agama Kristen ke wilayah adat Batak (Tanah Batak), para misionaris tampak­nya belum sepenuhnya menyadari hal tersebut. Walaupun Dr. August Schreiber (1876), dalam Die Battas on Sumatra, telah menarasikan bahwa Tanah Batak merupakan ladang yang subur bagi Misi Protestan (RMG).[5] Namun Schreiner sendiri dan para misionaris lainnya pada awalnya sangat bersikap antagonistis[6] atau oposisi (Christ against Culture)[7] mempertentangkan adat-budaya Batak dengan Injil (Agama Kristen) sebagai dua hal yang tak bisa dipertemukan atau diperdamaikan. Maka beberapa misi­onaris, terutama IL. Nommensen, lebih memilih jalan ekspedisi perang Batak yang diyakininya sebagai perang suci (Expeditio Sacra) untuk membebaskan orang Batak dari kegelapan.[8]

Salah satu pertimbangan Nommensen adalah ancaman jangan sampai didahului misi Islam. Saat itu hampir seluruh Sumatera telah lama menjadi Islam. Hanya di tengah-tengah ada suku Batak masih bertahan dengan kepercayaan leluhurnya. Namun, dari sudut pandang yang berbeda, keberadaan orang Batak yang masih bertahan dengan kepercayaan laluhurnya tersebut justru sebuah peluang, bukan ancaman. Sebagaimana digambarkan oleh R. Freudenberg (1904) dalam Onder de Bataks op West-Sumatra, bisa dikatakan, Tanah Batak sebagai oasis di padang pasir Islam yang luas.[9]

Menurut Freudenberg keberhasilan misi Kristen di Tanah Batak juga dipermudah kondisi spiritual dan keagamaan penduduk yang juga banyak berkontribusi pada pencapaian keseluruhan hasil yang indah. Bagaimanapun, orang Batak, sejauh mereka belum bersentuhan dengan Islam, sudah memiliki sistem agama dan memiliki kisah penciptaan oleh Sang Pencipta dunia (Debata). Ini menjadi titik awal dalam hal apa pun. Jadi mereka memiliki agama mereka, meskipun itu terkait erat dengan banyak sihir; mereka memiliki penyembahan dan pengorbanan, singkatnya, mereka adalah umat beragama dengan cara mereka sendiri.[10]

Di samping itu, tulis Freudenberg dalam rangkain ‘reportase’ perjalanan Inspektur RMG Dr. Schreiber ke Tanah Batak (1898-1899), orang Batak juga memiliki lektur mereka sendiri, semacam buku ramalan, yang bahkan bisa dibaca banyak orang. Menurutnya, pengetahuan itu menunjuk pada perkembangan dan merupakan alasan bahwa pengajaran dapat lebih cepat berbuah ketika menggunakan Perjanjian Baru, yang telah sebagian diterjemahkan oleh HN. van der Tuuk. Jadi keuntungan besar. Selain itu, orang Batak adalah orang-orang pertanian dan peternakan, jadi mereka bukan gelandangan.[11]

Tetapi, para misionaris Jerman (RMG) mempunyai pandang­an yang berbeda, terutama IL. Nommensen, yang berpandang­an bahwa orang Batak itu kafir, pagan, Sipelebegu dan kanibalis biadab. Maka, Nommensen memilih strategi perang suci untuk mengkristenkan orang Batak, yang kemudian dibarengi evangelisasi.[12] Tetapi sejarah pengkristenan yang dinarasikan selama ini tidak jujur seperti itu. Selalu dinarasikan bahwa misionaris tidak terlibat dalam perang Batak. Memang, begitulah penulisan sejarah. Sebagaimana disebut Dr. Samuel Gengnagel (1910) pada pidato inagurasi doktoralnya di Fakultas Teologi Universitas Giessen, Berlin, berjudul: Die Begründung der Christlichen Mission unter Berücksichtigung der neuesten Kontroversen (Alasan Misi Kristen dengan mempertimbangkan kontroversi terbaru), bahwa dengan ketidakpastian dari semua penelitian sejarah, yang sangat sering mengubah hasil, tergantung pada suasana hati para peneliti yang berbeda-beda; Pernyataan misi yang lengkap hanya dapat diberikan atas dasar pandangan dunia. Keuntungannya adalah bahwa Kekristenan menampilkan dirinya secara keseluruhan, berlawanan dengan sikap ilmiah yang bebas dari bahan subjektif. Namun, nyatanya, tidak ada yang mencoba mendasarkan kewajiban misionaris selama berabad-abad hanya pada beberapa kata di dalam Injil, yakni kembali ke ide-ide fundamental dari Injil Yesus. Kita harus benar-benar menuntut yang terakhir, jika tidak kita dapat dengan mudah menjadi bergantung pada para pendeta, yang dari keputusannya kita tidak pernah dapat menyimpulkan hak dan kewajiban kita untuk menjalankan misi.[13]

Samuel Gengnagel menyebut tujuan dan motif misi evangelis modern terkait erat pada awalnya dengan penilaian etis-pesimis terhadap kaum pagan yang malang, yang hidupnya adalah hidup dalam kegelapan yang paling menyedihkan dan yang akhirnya adalah kutukan abadi. Selain suasana dasar pietistik-metodis ini, gerakan kemanusiaan yang mencerahkan-optimis juga dirangsang dengan keyakinannya pada kasih tak terbatas Bapa di Surga dan pada kebaikan moral bahkan dari orang yang paling tenggelam; tetapi keyakinan yang optimis ini, sering kali bersifat naif, dan baik hati ini terlalu kabur untuk menjadi motif misionaris yang mandiri dan memadai. Jadi, konsepsi etis-pesimistis tentang paganisme dan gagasan kesedihan abadi kaum pagan tetap menjadi satu-satunya alasan untuk misi tersebut untuk waktu yang lama.[14]

Advertisement

Bahkan, menurut Samuel Gengnagel bahwa prinsip dari dogma kutukan kekal terhadap orang kafir itu belum punah, masih memiliki efek atmosfer dan laten pada kebanyakan dari mereka, bahkan ketika itu (1910) telah diwakili oleh sisi teologis dan diberi klaim sebagai alkitabiah. Padahal, kata Samuel Gengnagel, dalam hal ini senior misiologi, Gustav Warneck, telah memberikan contoh yang baik. Di mana di bagian L dari Evangelical Mission Doctrine: The Justification of the Mission (2nd ed. Vol. 1 1897 hlm. 91-304) Gustav Warneck telah memberikan permintaan maaf misi yang sangat rinci.[15]

Kemudian, Warneck mengaturnya lebih baik demi kelengkapan dan untuk mengamankan ide misi. Perintah Kristus yang telah bangkit sudah cukup baginya, yang secara historis kokoh dan dogmatis. Tetapi Warneck tidak berhenti di situ. “Motif ketaatan diperkuat oleh wawasan ke dalam hubungan yang mengakar antara tugas misionaris dan hakikat Injil Kristus.” Sifat Injil Kristus yang benar-benar ilahi dan karena itu universal, karena pribadinya, Warneck berusaha untuk menunjukkan melalui semua tahap argumentasi, karena di dalamnya terletak landasan paling nyata dari kewajiban misionaris Kristen.[16]

Samuel Gengnagel mengutip Kahler (Dogmatische Zeitfragen II edisi ke-2 1908 Die Mission hlm. 340-486) bahwa esensi misi bukan dalam penyebaran Kekristenan gerejawi, tetapi dalam Injil Kristus. Sementara, Stosch (Paganism as a religious problem, 1903) paling dekat dengan pernyataan misi Gustav Warneck dalam pernyataan misinya: “Rekonsiliasi yang objektif benar-benar dicapai adalah kebenaran dari semua kebenaran di mana tugas misionaris dan kekuatan misionaris berakar.”[17]

Tetapi, pada saat itu, di Tanah Batak, prinsip dogma kutukan kekal terhadap orang kafir yang dianggap Alkitabiah tersebut,  sudah terlanjur dilakukan bahkan masih gencar dilakoni para misionaris RMG; Selain memilih perang suci, bahkan juga berusaha menjauhkan Raja Imam Batak, Si Singamangaraja dari Injil, dengan berulangkali menolak bertemu dan memilih mendesak pemerintah kolonial untuk segera mengerahkan pasukan perangnya untuk menganeksasi Tanah Batak Medeka.[18]

Suatu catatan penting bahwa kedatangan para misionaris ke wilayah adat Batak (Tanah Batak) pada awalnya sama sekali bukan atas permintaan (keinginan) orang Batak, melainkan atas kehendak (pilihan) Debata Jahoba dengan (melalui) panggilan dan penugasan misi zen­ding dari Ameri­ka dan Eropa, yakni Baptis Inggris (1824), Kongsi Sending Boston (1834), terutama Nederlandsch Zen­deling Genootschap disingkat NZG (Belanda, 1849),[19] Zending Ermelo (1856), dan Rheinische Missionsgesellschaft disingkat RMG (Jerman, 1861).[20] Debata Jahowa yang berkehendak (memilih dan memanggil) sebagian orang Batak (berbudaya DNT) menjadi Kristen sebagai anugerah (Galatia 1:15; Roma 3:24; Titus 3:7, Efesus 2:8; dll).[21]

Jadi dalam hal ini metode atau proses penyebaran agama Kristen di Tanah Batak adalah hal menarik untuk didalami dan dipahami tetapi hal terpenting adalah hasil akhirnya. Sebab terkadang atau sering kali suatu proses sangat ber­lawanan atau menyakitkan tapi berdampak akhir kebaikan.

Dalam kondisi mengalami kekejaman brutal dan biadab oleh Padri yang kemudian menimbulkan situasi waswas dan penuh kecurigaan itulah para missionaris masuk ke Tanah Batak. Menurut TB Simatupang, keadaan Hatiha Pidari itu telah meratakan jalan bagi Injil di Tapanuli Utara. Situasi yang menjadikan Tanah Batak Utara, Centrum der Battalander (Junghunn, 1841), Het kerngebied der Bataklanden (WKH Ypes, 1917), atau Het Centrale Bataklanden (AJ. Zanen, 1932), untuk menerima hal baru yang dibawa oleh para penginjil dalam waktu yang relatif singkat.[22]

Kedatangan para misionaris itu telah mendahului dan didahului (dan di beberapa wilayah bersamaan dengan) aneksasi penjajah Belanda pula. Namun dalam banyak hal kedatangan kolonialis Belanda itu berkolaborasi dengan missi para penginjil. Belanda ingin menjajah dan menancapkan kekuasaannya untuk menaklukkan dan ‘memperbudak’ orang Batak serta menguras kekayan alamnya dan secara paradoks sengaja atau tidak, juga membawa kemajuan dan peradaban baru. Sementara misi zending untuk memberitakan Injil, berita keselamatan dari kegelapan. Schreiber menyimpulkan dalam uraian perjalanannya yang ditulis Freudenberg bahwa betapa pentingnya Kristenisasi orang Batak bagi Pemerintah Hindia Belanda, tepatnya karena lokasinya berada antara orang Melayu dan orang Aceh. Dan sebaliknya, Freudenberg mengemukakan, tidak boleh dilupakan bahwa kebijakan pemerintah yang masuk akal telah memberikan kontribusi besar bagi keberhasilan misi ini.[23]

Selain itu, salah satu persamaan kolonialis Belanda dengan para zendeling Jerman adalah sikap rasis, menganggap diri lebih superior dan lebih manusia dari orang Batak. Mereka menganggap suku bangsa Batak sebagai ras manusia yang lebih rendah dari mere­ka. Maka tak heran jika tak seorang pun para misionaris muda yang datang dari Eropa mau menikah dengan orang Batak.

Ketika itu bertarung tiga kepentingan besar di tengah masyarakat Batak yakni: 1) Kepentingan kedaulatan Batak; 2) Kepentingan Penyebaran Agama Islam dan Kristen; 3) Kepen­tingan kekuasaan penjajah.

Kepentingan Kedaulatan Batak meliputi: a) Kepentingan kedaulatan nilai-nilai adat dan teritorialnya yang diwakili oleh raja-raja huta, bius dan luat (wilayah); b) Kepentingan kedaulatan kepercayaan leluhur, yang diwakili oleh Parbaringin; Kedua kepentingan tersebut diperjuangkan oleh Raja Sisingamangaraja XII dan Raja-Raja lainnya di seluruh Tanah Batak (Sumatra Utara: Toba, Angkola, Mandailing, Simalungun, Pakpak-Dairi, Karo, Singkil dan Pesisir).

Kepentingan Penyebaran Agama meliputi: a) Kepenting­an penyebaran agama Kristen, khususnya di wilayah (luat) Toba, Angkola-Mandailing, Simalungun dan Pakpak-Dairi oleh missionaris Jerman (Reinische Missions Gessellschaft – RMG, 7 Oktober 1861)[24] dan di Karo oleh missionaris Belanda (Nederlandsch Zendeling Genootschap-NZG, sejak 18 April 1890)[25], serta utusan dari Roma Katolik dan Methodis di beberapa wilayah; b) Kepentingan penyebaran agama Islam, yang diperjuangkan oleh para musafir, pedagang Arab terutama oleh para raja dan sultan di wilayah Angkola-Mandailing (terutama Tuanku Rao atau Padri, 1810-1838), Simalungun, Pakpak-Dairi, Karo dan Pesisir Timur dan Barat. Sebelum agama Kristen, sudah lebih dulu penyebaran agama Islam di beberapa wilayah Tanah Batak, antara lain di Barus pada abad 7[26], Kerajaan Aru, Daru (Batak Kingdom) yang berpusat di hulu Sungai Wampu atau Barumun pada tahun 1300 – 1600-an yang rajanya (Aru) diperkirakan sudah beragama Islam, dan Kerajaan Bata(k) yang berpusat di hulu Sungai Tamiang pada tahun 1500-an.

Kepentingan kekuasaan penjajah, didominasi kolonialis Belanda di seluruh luat Tanah Batak, diawali dari pesisir Timur dan Barat. Di pesisir Timur, termasuk kesultanan Deli secara sepenuhnya dengan mudah dikuasai Belanda dan pada 1869 ditandai dengan dimulainya perkebunan tembakau di bawah kendali Deli Maatschappij.[27] Lalu pada 26 Agustus 1888, ke­sultanan Deli pun dipindahkan ke kota Medan ditandai dengan pembangunan Istana Maimun pada masa Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Di Pesisir Barat, Belanda masuk dari Padang ke Mandailing, Angkola dan Tapanuli Tengah (Sibolga, Barus dan Singkil). Kemudian dari Sipi­rok naik ke Silindung, sebelum menguasai seluruh Tanah Batak Utara (Toba dan Pakpak Dairi).

Belanda menerapkan politik devide et impera (pecah belah dulu baru kuasai) dengan berbagai cara yang licik. Ketika kolonialis Belanda ingin menguasai Tanah Batak, lebih dulu mengutus para ahli sejarah dan antropologi, di antaranya, Dr. Snouck Hurgronje, memelajari dan memetakan adat-budaya masyarakat Batak, Aceh dan beberapa daerah. Setelah mengetahui adat-istiadat Batak yakni Dalihan Na Tolu dimana pera­nan organ marga sangat penting, maka Belanda lebih dulu melakukan politik devide et impera, dengan mengintervensi silsilah marga-marga di beberapa wilayah dan kampung. Kemudian, memerintahkan WKH Iypes, seorang pejabat Asisten Residen (1917) untuk mengadakan penelitian dalam rangka kampong vorming (penataan kampung), dalam rangka menunjuk siapa pemimpin sebagai perpanjang­an ta­ngan penjajah di setiap distrik hingga di tingkat paling bawah di kampung-kampung (huta), dengan menginventarisir, mencatat dan mengutak-atik tarombo (silsilah) marga-marga Batak, untuk kepentingan kekuasaan Belanda.

Kekuasaan Belanda tersebut dimanfaatkan oleh para zen­deling untuk melempangkan jalan misinya terutama di Tanah Batak Utara. Bahkan IL. Nommensen, sebagaimana laporannya sendiri yang diterbitkan di Berichte der Rheinischen Missionsgesellschaft (BRMG), dia secara aktif meminta dan menyertai pasukan Belanda[28] untuk segera menguasai De Onafhankelijke Batak-landen (Tanah Batak yang merdeka) yakni Tanah Batak Tengah/Utara (Silindung, Humbang, Toba Holbung, Samosir, Pakpak dan Dairi). Nommensen pun dengan tegas mengambil sikap bermusuhan dan tidak ada jalan kompromi dengan Si Si­ngamangaraja XII dan pengikutnya karena dianggap akan mengislamkan Tanah Batak bekerjasama dengan pasukan Aceh.[29] Bahkan dalam biografi Ompu i Nommensen diisukan bahwa Raja Stambul akan datang dan akan bergabung dengan orang Aceh dan Sisingamangaraja sehingga akan terjadi ‘perang sabil’ terhadap orang-orang Belanda dan Kristen.[30]

Sementara, Si Singamangaraja XII beberapa kali berusaha untuk menyertakan Nommensen dalam perundingan dengan Belanda, tetapi selalu ditolak.[31] Hal ini tampaknya mendapat kesan bagi Het Bataksch Instituut (Leiden), perihal sikap Si Singamangaraja dan pengikutnya yang sebagian kecil kemudian membentuk aliran kepercayaan Parmalim, terhadap misi zending; Het Bataksch Instituut (The Batak Institute) berpandangan bahwa sikap Si Singamangaraja dan pengikutnya terhadap misi, terutama bagi beberapa orang di antara para misionaris, tidak sepenuhnya bermusuhan.[32]

Het Bataksch Instituut mendapat kesan bahwa hubungan orang Batak dengan agama Kristen adalah ramah. Walaupun masih ada penilaian berbeda. Menurut pendapat sebagian besar misionaris Rijnsche Zendelingen (Reinische Missions Gessellschaft – RMG), menunjukkan sikap yang jelas bermusuh­an. Namun, ada sesuatu yang bertentangan dalam pernyataan tersebut. Rupanya banyak tergantung pada orang tersebut dan juga pada suasana hati yang kadang-kadang berlaku untuk sementara.[33]

Lothar Schreiner membagi sejarah pengkristenan orang Batak dalam lima tahap yakni: 1) Periode 1861-1881, merupakan dasar pertama di Silindung oleh Nommensen dan Johannsen; [34]2) Periode 1881-1901, sejak Nommensen memindahkan kediamannya ke pantai Danau Toba (Sigumpar); 3) Periode 1901-1918, dicirikan oleh prakarsa Nommensen memperluas pelayanan; 4) Periode 1818-1940, ditandai pelayanan J. Warneck sebagai Ephorus dengan tata gereja yang baru, dan membuat Gereja Batak berdikari secara yuridis; 5) Periode 1940-1954, ditandai terpilihnya seorang pendeta Batak yakni Pdt. K. Sirait menjadi ephorus; 6) Periode 1954-sekarang, ditandai berdirinya Universitas Nommensen.[35]

Periodisasi pengkristenan orang Batak oleh Lothar Schreiner, orang Jerman, tersebut sangat terpusat kepada para misionaris Reinische Missions Gessellschaft (RMG) Barmen, Jerman, karena memang memiliki peran yang paling berarti. Namun tidak (nyaris) melupakan peran zendeling non Jerman atau non-RMG, seperti Gerrit van Asselt (Zending Ermelo, sebelum bergabung dengan RMG) sebagai pionir sejak 1857 dan misionaris Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG), Belanda di Tanah Karo sejak 1890, serta misi Katolik (sejak 1929).

Penulis sendiri membatasi pembagian periode atau metode penye­baran aga­ma Kristen di wilayah adat Batak (Tanah Batak Raya) hanya pada peran (periode) para misionaris. Penulis memandang bahwa para misionaris (zendeling) menempuh empat metode dan/atau periode penyebaran aga­ma Kristen di Tanah Batak atau pengkristenan orang Batak[36], yakni:

Pertama: Periode Sitastas Nambur atau periode Perintis Embun (1824-1857), diawali oleh Richard Burton dan Nathanael Ward dari Misi Babtis Inggris (1826), terutama tertumpahnya darah Samuel Munson dan Henry Lyman, misionaris Gereja Zending Boston, Amerika Serikat (28 Juni 1834) sebagai martir Kristus di Tanah Batak; dan pengutusan Hermanus Neubronner van der Tuuk oleh Masyarakat Alkitab Belanda (Nederlandsch Bijbelgenootschap) tahun 1850-an, untuk medalami bahasa Batak dan menerjemahkan Alkitab ke bahasa Batak.

Kedua, Periode Sisuan Bulu atau periode Awal Pembibitan (1857-1878) yang dimulai (pionir) Gerrit van Asselt sendirian selama dua tahun (1857-1859) dari Zending Ermelo, Belanda, dan disusul tiga zendeling lagi yakni W. F. Betz, J. Dammerboer dan J. Ph. D. Koster, serta dilanjutkan bersama para misionaris lainnya di bawah naungan Reinische MissionsGessellschaft (RMG), Barmen, Jerman, sejak 7 Oktober 1861;

Ketiga, Periode Sipangarimba atau periode Kristenisasi Batak (1878-1918), de kerstening van het Batakvolk.[37] Periode ini lebih bersifat kuantitatif, ditandai misi ekspedisi sakral (expeditio sacra) dalam Perang Batak (1878-1907) dan kemudian pemberlakuan tatatertib jemaat dan adat atau penyebaran Injil berpradigma Taurat (syariat) atau bisa disebut penerapan ‘Taurat Batak’, diprakarsai dan dipimpin IL Nommensen yang aksentusinya pada tahun 1878-1918;

Keempat, Periode (Hatiha) Sipatotahon Huria Batak atau Periode Penataan Gereja Batak (1818-1940); Periode Usaha Pembumian Gereja atau Perjumpaan Alkitab dan Adat Batak, yakni proses inkulturasi atau Pe­ngudusan Kebudayaan Batak (meminjam istilah J. Verkuyl), di­prakarsai dan dipim­pin Ephorus Dr. Johannes Warneck, lebih bersifat kualitatif, sekaligus sebagai koreksi atas pemberlakuan Ordonansi Gereja Mision Barmen di Tanah Batak (Patik Batak atau Taurat Batak) pada periode ketiga; Sampai kemandirian Gereja Batak yang ditandai terpilihnya Pdt. K. Sirait menjadi ephorus (11 Juli 1940), yang merupakan jalan dan keadilan-Nya yang tidak terduga akibat Perang Dunia II (1939-1945), dimana semua misionaris Jerman diinternir dan diusir oleh Belanda dari Tanah Batak (berakhir­nya kolaborasi kompeni dengan misionaris Jerman); Terjadi perubahan besar yang tidak direncanakan dimana Gereja Mision Barmen menjadi merdeka (mandiri) dan kemudian arus besar­nya menjelma menjadi Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), sebagai Gereja Suku terbesar di Indonesia, yang lazim juga disebut Huria (HKBP) na Bolon i.

Namun keempat periode atau metode (teori) tersebut tidak bersifat mutlak, atau hitam-putih. Proses perintisan dan awal pembibitan berlangsung juga secara berlanjut (linear) dalam setiap periode, namun aksentuasinya terlebih menonjol pada periode pertama dan kedua. Demikian pula periode ketiga, tidak mutlak kristenisasi yang bersifat kuantitatif, diwarnai intimidasi dan kekerasan ekspedisi perang (ekspeditio sacra) serta pengajaran Injil berpradigma Taurat (syariat), walaupun hal tersebut lebih menonjol dibanding pada periode pertama, kedua dan keempat. Selanjutnya dalam periode keempat, meru­pakan proses kualitatif dan koreksi atas sikap antagonistis dan dualistis para misionaris pada periode kedua dan ketiga atas adat dan kebudayaan Batak, antara lain dengan pemberlakuan ‘Tatatertib Jemaat’ (Taurat Batak) walaupun hal ini juga tidak bersifat mutlak; Sikap antagonistis dan Injil berpradigma Taurat juga ada dalam periode keempat dan periode kedua. Namun periode keempat ini ditandai aksentuasi proses penataan dan pengudusan kebudayaan Batak atau proses pembumian Injil atau proses perjumpaan adat dengan Injil, yang juga ditan­dai diskursus dan pembelajaran bagaimana agar orang Batak memuji Allah dengan lidahnya sendiri; bagaimana orang Batak memuji dan memuliakan Allah de­ngan adat-budayanya sendiri, tanpa pelembagaan dalam bentuk syariat Gereja (Taurat Batak).

Di samping itu, periode atau metode/teori ini tidak sama persis di suluruh wilayah Tanah Batak. Terutama di Tanah Karo, penyebaran agama Kristen yang dilakukan oleh misionaris Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG), Rotterdam, Belanda. Lembaga Penelitian dan Studi DGI membagi pekabaran Injil di Tanah Karo dalam dua kurun waktu yakni: Pertama, Masa Permulaan (1890-1906); Kedua, Penanaman dan Penggarapan, (1906-1940).[38] Sementara Kantor Ensiklopedia Pantai Timur Sumatra (1920) membagi sejarah pendidikan misionaris[39] di Batak Karo menjadi tiga periode, yakni: Periode pertama (1890-1899) bisa disebut periode persiapan (voorbereiding noemen); Periode kedua (1899-1912) adalah periode berbu­nga mantap (gestadigen bloei); dan Periode ketiga (1912-1918) adalah periode penurunan konstan (voortdurende daling atau continuous decline).[40]

Ketika periode ketiga itu, Ketua Konferensi Misionaris NZG di Tanah Karo JW. Neumann memaparkan periode pasang surut kondisi sekolah-sekolah misi di Tanah Karo yang sangat memprihatinkan, bahkan sampai ada beberapa sekolah harus membuat tumpukan tanah untuk tatakan papan tulis, juga meja dan bangku dengan cara yang sama. Untuk menghadapi masalah ini, para misionaris meng­hadapi tugas yang sulit. Akibatnya, Sekolah Misi secara bertahap dikosongkan dan harus ditutup.[41]

Sementara pengkristenan Simalungun (Tanah Batak Timur), adalah bagian dari pelayanan RMG di Tanah Batak dan awalnya menjadi bagian (Distrik) dari HKBP; Yakni HKBP Simalungun, kemudian menjadi GKPS (Gereja Kristen Potestan Simalungun) pada 1 September 1963;[42] Namun, Dr. Jan. J. Damanik membagi empat periode penginjilan di Simalungun, dimulai Periode Perintisan (1903-1927), Perjumpaan Intensif (1928-1952); Kemandirian Gereja Simalungun (1953-1963); dan Perjumpaan Injil dengan Kebudayaan setelah Kemandirian GKPS (1964-1990).[43]

Demikian pula di Angkola yang dirintis misionaris Zending Ermelo Van Asselt (1857) dan W. F. Betz, J. Dammerboer dan J. Ph. D. Koster (1859) kemudian menjadi bagian layanan misi RMG (sejak 1861) dan menjadi HKBP Angkola (HKBPA) otonom pada 26 Oktober 1975, lalu mandiri sepenuhnya dan bergabung dengan “Gereja Protestan Angkola (GPA)” yang kemudian menjadi Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) pada 1988.[44] Demikian pula HKI (Huria Kristen Indonesia) dan gereja-gereja Potestan Batak lainnya adalah bagian dari layanan RMG.

Kelima, tentang Periode Misi Katolik dan Methodis di Tanah Batak (1929-1945. Fase karya misi Katolik di tanah Batak yang sudah ‘dirintis’ oleh E. Modigliani (1892) dan baru dimulai sejak tahun 1929 di Sibolga; oleh Dr. Tagor Nainggolan membaginya dua fase yakni: Fase Pertama, Kuantitatif, 1930-1970; Fase Kedua, Kuali­tatif, (1970-sekarang).[45] Keenam, Misi Nias dan Mentawai dimulai 1865 dan 1916. Ketujuh, Mauliate kepada Misionaris dan Kolonial

Uraian tersebut di atas adalah gambaran variatif antarwilayah dan denominasi pengkristenan orang Batak. Namun secara umum (cakupan wilayah dan populasi terbesar) keenam periodisasi dimaksud di atas dapat menggambarkan cakupan keseluruhan periode atau teori penyebaran agama Kristen di seluruh Tanah Batak.

Selengkapnya baca dalam Buku HITA BATAK A CULTURAL STRATEGY JILID 3. Informasi lebih lanjut: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1] Tanah Batak mencakup seluruh wilayah teritorial adat (DNT) dan bahasa Batak dengan berbagai corak dan dialeknya yakni wilayah adat Batak di Toba, Angkola, Mandailing, Simalungun, Pakpak (Dairi), dan Karo.

[2] Hollander, Johannes Jacobus de, Dr., 1874: Handleiding bij de beoefening der land- en volkenkunde van Nederlandsch Oost-Indië, voor de cadetten, bestemd voor den dienst in die gewesten, Eerste Deel, Derde, Omgewerkte Uitgave, de Koninklijke Militaire Academie, Breda: Ter Drukkerij van Broese & Comp, p.779.

[3] Bagi orang Batak (orang berbudaya Batak) yang beragama Islam dan agama lainnya, nilai-nilai DNT bertransformasi sesuai dengan aqidah dan dogma agamanya; Juga kompatibel dengan penyesuaian bervariasi.

[4] Ibarat HP merk Samsung, kompatibel dengan prosesor android dan aplikasi Google lainnya.

[5] Schreiber, August, 1876: Die Battas auf Sumatra, Barmen, Abdruck aus AMZ 2, bl.157; dan, Coolsma, S., 1901: De Zendingseeuw voor Nederlandsch Oost-Indië. Utrecht: C.H.E. Breijer bl.301.

[6] Bandingkan: Verkuyl, J, Dr, 1966: Etika Kristen dan Kebudayaan, Jilid II/4, Jakarta: Badan Penerbit Kristen;  Dr. J. Verkuyl menyebut lima sikap umat Kristen terhadap kebudayaan, yakni: 1) Antagonistis yakni sikap menentang; 2) Akomodasi yakni sikap mengakomodasi atau menyesuaikan diri; 3) Dominasi yaitu sikap mendominasi; 4) Dualisme yaitu sikap mendua memisahkan iman dengan kebudayaan; dan 5) Pengudusan yakni sikap pengudusan kebudayaan atau motif pertobatan dalam kebudayan,  penyucian kebudayan oleh rahmat Allah.

[7] Bandingkan: Niebuhr, H. Richard, 1951: Christ and Culture, New York: Harper and Brothers, p.45-60; Helmut Richard Niebuhr menyebut lima pandangan tentang Kristus dan Kebudayaan yakni: 1) Christ against culture (Kristus menentang kebudayaan), bagi orang Kristen eksklusif, sejarah adalah kisah gereja atau budaya Kristen yang sedang bangkit dan peradaban kafir yang sekarat; 2) Christ of culture (Kristus dari kebudayaan). Bagi orang Kristen kultural, sejarah adalah kisah perjumpaan Roh dengan alam; 3) Christ above culture (Kristus di atas kebudayaan).Bagi kaum sintesis, sejarah adalah suatu periode persiapan di bawah hukum, nalar, Injil, dan gereja untuk persekutuan akhir antara jiwa dengan Allah; 4) Christ and culture in paradox (Kristus dan kebudayaan dalam Paradox). Bagi dualis, sejarah adalah masa pergulatan antara iman dan ketidakpercayaan, suatu periode antara pemberian janji kehidupan dan pemenuhannya; 5) Christ transforming culture (Kristus mentransformasikan kebudayaan). Bagi kaum konversionis, sejarah adalah kisah tentang perbuatan-perbuatan besar Allah dan tanggapan manusia terhadapnya. Kekekalan, bagi kaum konversionis, tidak terutama dipusatkan pada tindakan Allah sebelum waktu atau kehidupan bersama Allah setelah waktu, melainkan lebih pada kehadiran Allah di dalam waktu. Karena itu, kaum konversionis lebih prihatin dengan kemungkinan Ilahi dalam pembaruan masa kini daripada dengan pelestarian dari apa yang telah diberikan dalam ciptaan atau mempersiapkan untuk apa yang akan diberikan dalam penebusan akhir.

[8] Berichte der Rheinischen Missions­gesellschaft (BRMG) 1878 (7 dan 12).

[9] Freudenberg, R., 1904: Onder de Bataks op West-Sumatra, Lichtstralen op den Akker der Wereld, II-III, Rotterdam: M. Bredée, bl.77.

[10] Freudenberg, R., 1904: bl.106.

[11] Freudenberg, R., 1904: bl.106.

[12] Scharten, C. Th., 1919: Ludwig I. Nommensen, Pionier En Ephorus Der Battakzending, Lichtstralen op den Akker dér Wereld, VI, Rotterdam: J. M. Bredée’s Boekh. en Uitg.-Maatsch. p.30.

[13]  Gengnagel, Samuel, 1910: Die Begründung der Christlichen Mission unter Berücksichtigung der neuesten Kontroversen; Inaugural-Dissertation zur Erwerbung des Licentiatengrades der Hohen Theologischen Fakultät der Universität Giessen; Berlin: Emil Ebering, s.6-7.

[14]  Gengnagel, Samuel, 1910: s.7-8.

[15]  Gengnagel, Samuel, 1910: s.8.

[16]  Gengnagel, Samuel, 1910: s.11.

[17]  Gengnagel, Samuel, 1910: s.11-12.

[18] BRMG 1878, p.153-154..

[19] Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) atau Serikat Misonaris Negeri Belanda, suatu organisasi pekabaran Injil (agama Kristen) yang berpusat di Rotterdam, Belanda. Zending ini didirikan oleh sejumlah tokoh Pietis dari Nederlandsche Hervormd Kerk (NHK), di antaranya J.Th. van der Kemp (1747-1811), J.L. Verster (1745-1814), dan H.J. Krom (1738-1804). Pietisme yang menekankan pada kesalehan pribadi, kerendahan hati dan kerja keras, dan semangat “pencerahan” yang saat itu berkembang di Eropa, menginspirasi para pendiri zending ini, untuk menggerakkan penginjilan sebagai amanat Kristus untuk menyelamatkan peradaban bangsa-bangsa (yang belum mengenal kekristenan) dari kegelapan. Hal itu tercermin di dalam tujuan NZG, yaitu: “melalui pengabaran Injil memperkenalkan Kristus bagi orang-orang awam yang berasal dari peradaban yang belum dicerahkan.” Penginjilan adalah sebagai cara membawa manusia dari kegelapan ke kehidupan yang lebih terang.

[20] Rheinische Missionsgesellschaft (RMG); bahasa Inggris: Rhenish Missionary Society (Masyarakat Misionaris Rhenish) suatu organisasi misionaris terbesar di Jerman berpusat di Barmen, sehingga disebut juga Zending Barmen. Nama Rheinische mengacu kepada sungai Rhein. Zwnding ini pada awalnya terbentuk dari misi-misi yang lebih kecil, yang didirikan sejak tahun 1799, lalu secara resmi merupakan penyatuan tiga zending di Elberfeld, Barmen dan Köln pada 23 September 1828. Pertama kali zending ini mengirimkan misionaris ke Afrika Selatan pada akhir tahun 1828. Kemudian ke berbagai wilayah, termasuk Tanah Batak (1861) dan Kalimantan dikenal sebagai “Zending Barmen”. Pada tahun 1971 zending ini berubah menjadi Vereinte Evangelische Mission (Serikat Misi Injili) beralamat di Rudolfstraße 137, 42285 Wuppertal, Tel.: 0202 89004-0, Fax: 0202 89004-179, E-mail: info@vemission.org, Website: www.vemission.org.

[21] Anugerah atau kasih karunia: Ethimologi berasal (terjemahan) dari bahasa Ibrani khen dan/atau bahasa Yunani kharis (kata kerja kharizesthai) berarti perbuatan atau pemberian atasan (Allah) kepada bawahan (manusia) padahal sesungguhnya bawahan (manusia) itu tidak layak menerimanya. Anugerah diberikan kepada manusia berdosa yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Karena tidak layak maka diberi anugerah. Jadi anugerah bukan award atau penghargaan (upah atau imbal jasa). Marthin Luther menyebutnya Sola Gratia, hanya karena anugerah, gratis.

[22] Simatupang, TB, 1991: Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, h.38-39; Saragi, Daulat, Dr. M.Sn., Pengaruh Islamisasi Terhadap Bentuk Visual Seni Ornamen Bagas Godang Mandailing, Medan: Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan, h.13.

[23] Freudenberg, R., 1904: bl.107.

[24] Almanak HKBP 2019: h. 559.

[25] Ditandai kedatangan Pendeta H.C. Kruyt, misionaris NZG di Tanah Karo dan ditetapkan sebagai hari lahirnya GBKP (Gereja Batak Karo Protestan); Sinuraya, P, Diakonia GBKP Jilid 6, Medan: Merga Silima, h. 26-27.

[26] Diperkirakan penyebaran agama Islam dari Barus masuk melalui Singkil ke daratan Aceh dan Pakpak-Dairi.

[27] Deli Maatschappij mengeksploitasi lahan seluas 120.000 hektar (konsesi dari Sultan Deli. Hindia Belanda dan Nederlandsche Handel-Maatschappij menguasai sahamnya. Perusahaan ini menandai perkembangan kota Medan. Kantor Gubernur Sumatera Utara sekarang adalah bekas kantor pusat Deli Maatschappij.

[28] BRMG 1878 (12), p. 367.

[29] BRMG 1878 (12), p. 363-367.

[30] Nommensen, J.T., 1921: Ompu i Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, (Terjemahan: Ny, EID Nababan-Tobing), Jakarta: BPK Gunung Mulia 1974, h.130.

[31] BRMG 1878 (12), p. 368.

[32] Joustra, M., 1926: Batakspiegel, Tweede. Vermeerderde Druk. (Met Kaart), Het Bataksch Instituut – No. 21. Leiden: S. C. Van Doesburgh, p.293.

[33] Het Batakseh Instituut 2/1909: De Islam In de Bataklanden. Vragenlijst Met Gedeeltelijke Beantwoording; Leiden: S. C. van Doesburgh, p.42.

[34] Lothar Schreiner tampak lupa menyebut Gerrit van Asselt, Zendeling Ermelo, Belanda (bukan Jerman).

[35] Schreiner, Lothar, 1978: Telah kudengar dari ayahku – Perjumpaan Adat dengan Iman Kristen di Tanah Batak, Jakarta: BPK Gunung Mulia, h. 8-9.

[36] Pengkristenan, diksi yang digunakan oleh Lothar Schreiner.

[37] Zanen, Abraham Johannes van, 1934: Voorwaarden voor Maatschappelijke Ontwikkeling In Het Centrale Batakland, Leiden: Drukkerij Luctor et Emergo, p.12.

[38] Sejarah Berdirinya Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), https://gbkp.or.id/sejarah-gbkp/

[39] Khusus periodisasi pendidikan misi, namun bisa juga mencerminkan periodisasi penginjilan.secara keseluruhan

[40] De Buitengewesten: 1904 tot 1914, 1920: Mededeelingen van Het Bureau Voor De Bestuurszaken der Buitengewesten, Deel II, Aflevering 3. Aanhangsel; Weltevreden: Bewerkt Door Het Encyclopedisch Bureau De Buitengewesten Oostkust Van Sumatra, p.3.

[41] Ibid. p.22-23.

[42] Kolportase GKPS, 2007.

[43] Damanik, Jan. J, Dr., 2012: Dari Ilah Menuju Allah. Yogyakarta: ANDI, Bab IV-VIII.

[44] GKPA: Gereja Kristen Protestan Angkola berdiri sendiri dan diakui Pemerintah sesuai dengan Surat Pengakuan Departemen Agama Republik Indonesia No. 75 tertanggal 10 Maret 1988; No. 21 tahun 1995; No. 1 Ket/413/159277 tertanggal 19 Oktober 1997.

[45] Nainggolan, Tagor, Dr, 2007: Adat Dan Iman Kristen di Tanah Batak, LOGOS, Jurnal Filsafat-Teologi, Vol. 5, No. 1, h.78-80.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here