Misionaris Kesatria Sejati

Genggam erat yang baik dan lepaskan yang kurang baik

 
0
39
Orang Eropa bepergian di Tanah Batak, ditandu oleh penduduk setempat, ca-1916. Mereka tidak memandang hal ini sebagai Perbudakan Rasis. Foto: Koleksi NMVW

Secara umum, para misionaris yang mengabdi di Tanah Batak adalah para kesatria misi sejati. Mereka berhasrat menjadi kesatria utusan Kristus yang menyerahkan hidupnya sepenuhnya, tanpa kepentingan pribadi atau kepentingan duniawi, hanya menjalankan misi Kristus yang agung dan mulia. Walaupun ada di antaranya yang ternoda.

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

Sierk Coolsma (1901) menyebut para Misionaris tampil dengan iman yang kuat dan cinta yang menyala-nyala; dengan dedikasi dan ketekunan mereka melanjutkan pekerjaan; dengan berani, mereka berkelana ke dalam kekacauan pagan dan dengan berani mereka menentang bahaya.[1]

Kesatria misi itu, sebagaimana dikemukakan Caroline Atwater Mason (1916) ditemukan di antara para utusan Kristus kepada orang-orang yang terbelakang dan tertindas, ke daerah-daerah yang tidak beradab, ke wilayah-wilayah yang diatur oleh praktik-praktik gelap kafir. Para misionaris (pria dan wanita) ini membuktikan diri mereka sebagai Ksatria Kristus yang sejati, karena mereka dengan mantap menyingkirkan semua pikiran tentang keuntungan yang egois, dalam hal mereka meninggalkan keluarga dan tanah air untuk hidup dalam Nama-Nya, dan karena mereka dengan senang hati me­nawarkan seluruh pelayanan seumur hidup untuk menyembuhkan, untuk mengangkat dan menyelamatkan sesama mereka dalam tubuh dan jiwa.[2]

Caroline mengingatkan bahwa, tidak seperti prajurit, misionaris bertempur tanpa insentif promosi, preferensi, gaji lebih tinggi, pemberian terhormat di depan. Tidak ada pahala yang terlihat bagi mereka kecuali pemandangan manfaat yang diberikan kepada orang lain dengan kerja keras mereka, dan harapan kerja bagus dari Guru yang tak terlihat. Sekali dan untuk selamanya kita mungkin menolak dan dengan cemoohan yang benar, dalam menghadapi kisah upaya misionaris, ajaran palsu bahwa ras membutuhkan tingkat keparahan perang untuk mempertahankan kebajikan manusia.[3] Ya, tidak ada toleransi perang bagi kesatria misi penginjilan.

Misionaris kesatria sejati, salah satu di antaranya, sebagai ikon, Miss Hester Needham, putri kaya berkebangsaan Inggris, yang bermoto God First, Thy will be done, secara otentik memilih jalan meninggalkan kekayaan dan kemegahan duniawinya dengan mengabdikan hidupnya secara total kepada Tuhan, mengutamakan kehendak Tuhan, melalui misi cinta-kasihnya kepada orang Batak, mencintai Batak sepenuh hati, khususnya Boru Batak sampai akhir hayatnya. Penginjilan (evangelisasi) adalah otentisitas hidupnya, misionaris sejati yang sangat mumpuni diteladani sebagai rasul putri; Hidupnya sendiri bersaksi tentang realitas dan kekuatannya di Jalan Kristus (Jalan, Kebenaran dan Hidup) tanpa pamrih. Hester adalah Si Boru Malim Batak: Rasul Putri Batak otentik.

Tentu masih banyak misionaris di Tanah Batak yang lebih memilih jalan pasifis, evangelisasi murni, daripada Kristenisasi yang dipilih sebagian misionaris. Keduanya, evangelisasi dan Kristenisasi, berjalan secara beriringan (paradoksal). Bahkan misionaris Nommensen yang tampil sebagai pemimpin misi Kristenisasi dengan pilihan perang, juga pada masanya melakukan penginjilan pasifis dengan penuh pengabdian sampai akhir hayatnya.

Sebagaimana dikemukakan Ephorus Dr. Johannes Warneck, tentang sosok Ompu i IL Nommensen yang bahkan pada zaman sulit memilih persenjataan (perang) sebagai pilihan yang berjalan seiring dengan kekuatan seorang nabi. Warneck mengaitkan keberhasilan Misi Batak dengan misionaris Gerrit Van Asselt, Heine, Nommensen, Johannsen, Pilgram dan lain-lain. Namun, secara khusus, sebagaimana diungkapkan Dr. AM. Brouwer, mengutip Dr. Warneck, menyebut pria hebat, seperti Nommensen, bahwa kepribadiannya yang kuat adalah daya tarik yang kuat. Tangannya yang lembut, ketangkasannya yang jarang gagal dalam penyakit, yang sering membuatnya menggunakan cara yang ajaib dan kuat, membuatnya banyak teman. Akalnya yang tajam, yang biasanya menemukan solusi yang tepat dalam kasus-kasus sulit, mengesankan pikiran yang menarik. Mereka dengan senang hati menyampaikan perselisihan mereka kepadanya dan meminta keputusan pengadilannya. Selama berjam-jam, bahkan berhari-hari, dia duduk di atas tikar dengan para pihak yang berselisih, mendengar mereka dan pidato mereka yang panjang lebar, self-rightous, dan akhirnya mengucapkan pendapatnya dengan hati-hati. Di atas segalanya, yang memberinya keunggulan adalah kesabaran dan kelembutannya yang hampir tak pernah habis.[4]

Nijland tahun 1893 telah menulis tentang peranan penting Nommensen: “Siapa pun yang mengetahui perkembangan misi ini akan tahu bahwa ia adalah seorang pria yang selalu membuka cara baru dan bertindak dengan berani yang membuat semua orang kagum. Tindakannya hanya dijelaskan oleh imannya yang tak tergoyahkan pada bantuan Allah: ia telah mengalaminya berkali-kali dalam pekerjaannya.”[5] Maksudnya, antara lain, Nommensen merasa berhasil luput dari ancaman disembelih dan dimakan orang Batak, yang menjadi salah satu narasi heroismenya sekaligus noda misinya.

Nijland mengatakan masalah lain, yang harus kita pertimbangkan sejenak adalah jawaban untuk pertanyaan, dari mana arah peristiwa yang menguntungkan dalam misi ini dapat dijelaskan? Benar, hasil yang terlihat tidak dihitung sebagai misionaris sejati yang tertinggi. Namun Injil mendatangkan begitu banyak berkat tidak langsung pada kedatangannya sehingga orang tidak harus benar-benar menutup mata terhadapnya:

Advertisement

…… Keenam, kebijakan pemerintah sangat memudahkan keberhasilan misi ini. Keinginan untuk memperluas pengaruh langsung dari pemerintah kita bertepatan dengan keinginan misionaris untuk memproklamirkan agama Kristen kepada bangsa-bangsa lain sebelum Islam masuk. Pemerintah, mengakui bahwa Kekristenan memberikan dukungan yang lebih baik untuk otoritasnya daripada Islam, dapat secara aman secara tidak langsung memberikan dukungan kepada para misionaris; dia melakukannya, dan terus melakukannya. Sebagai tindakan yang masuk akal, harus dipertimbangkan bahwa pada tahun 1888 pemerintah menetapkan bahwa misionaris memberikan nama-nama “penatua” kepada inspektur. Jika setidaknya 10 keluarga Kristen ditempatkan di bawah pengawasan penatua itu dengan cara ini, ia akan menerima bukti tertulis dari inspektur bahwa ia diakui sebagai penatua sidang dan, dengan demikian, ia akan dibebaskan dari dinas pria (kerja paksa). Intinya, pemerintah sangat senang dengan kemajuan misi ini.[6]

Nijland, orang Belanda, menegaskan kolaborasi kolonial Belanda dan Misi Jerman:

“Misi Batak adalah ladang subur yang diberkati dengan berlimpah, bekerja dengan dedikasi oleh saudara-saudara kita dari Jerman. Mereka berusaha keras untuk memperbaikinya; mereka terus menyempurnakannya. Meskipun sebagian besar dari uang yang dibutuhkan untuk misi ini dapat diterima dari Belanda, meskipun beberapa misionaris adalah orang Belanda sejak lahir, ini tidak mengurangi kerja cinta mereka sedikit pun; dia meletakkan tangan di antara mereka dan kita, yang tidak bisa dipatahkan, dan juga membuat setiap orang Belanda mengakui kewajibannya yang besar kepada saudara-saudara Jerman. Dapat dikatakan bahwa sebagai akibat dari kewajiban Belanda kepada Hindia, keterampilan pengorbanan yang lebih sedikit untuk Misi dapat ditunjukkan, tidak hanya untuk semua Asosiasi Belanda, tetapi tentunya juga untuk masyarakat ini. Karena apa yang orang Jerman lakukan untuk penegasan otoritas Belanda bukanlah masalah kecil. Murni karena alasan materi, orang mungkin berharap bahwa Masyarakat Barmen, yang, selain perawatan untuk pelatihan dan juga masih harus mengurus sendiri, menerima lebih banyak dukungan keuangan untuk kegiatannya dari Belanda.”[7]

Maka bagi Hita Batak, kendati Nommensen punya kesalahan besar yang memilih Holy War dan kolaborasi ‘kolonisasi adalah misi dan misi adalah kolonisasi’, dalam proses kristenisasi orang Batak, tapi niat baik dan pengabdiannya sampai akhir hidupnya jauh lebih besar dan agung. Dia telah membayar lunas jauh lebih besar dari kesalahannya. Harapan kita, semoga Steven Runciman, sejarawan Perang Salib paling terkenal pada abad ke-20, salah, benar-benar salah (sala situtu); tentang pernyataannya yang mengutuk seluruh Perang Suci dan Perang Salib, dan menyebutnya sebagai “one long act of intolerance in the name of God which is the sin against the Holy Ghost.”[8] Sekali lagi, mudah-mudahan Steven Runciman salah, benar-benar salah (sala situtu); Sehingga pada akhir zaman, kita akan bertemu dengan Nommensen di kerajaan sorga, karena dia luput, benar-benar luput (malua situtu) dari dosa terhadap Roh Kudus; Karena menurut Tuhan Yesus Kristus (Injil Matius 12:31 dan Markus 3:29) dosa terhadap Roh Kudus itu tidak akan diampuni, suatu dosa kekal. Maka jangan sekali-kali bicara atas nama Tuhan untuk berperang atau berkelahi, apa pun tujuan baiknya. Jika mau berperang atau berkelahi, atau membenci atau menjelek-jelekkan orang lain, jangan sekali-kali membawa-bawa nama Tuhan: Itu dosa terhadap Roh Kudus; Selain menjadi noda kesatriaan misi.

Selain itu, suatu catatan penting bagi orang Kristen Batak, ‘peringatan keras’ Yesus Kristus (Matius 5:20): “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (misionaris kristenisasi dan berorientasi Taurat, atau pendeta berorientasi Taurat), sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Orang-orang Kristen Batak harus ‘melepas tali dan celana misionaris’ (Eropa), dan memfokuskan imannya meneladani Kristus, sebagai Imam Besar, satu-satunya. Selain itu, kepada para cendekiawan, penetua, pendeta atau misionaris, mari kita dengarkan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, hormati mereka selayaknya dan bersahaja; Dari khotbah dan perilaku mereka, genggam erat yang baik dan lepaskan yang kurang baik menurut Injil.

Cuplikan Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 3, Bab 11.7.2: Misionaris Kesatria Sejati. Informasi lebih lanjut: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1]   Coolsma, S., 1901: b.423.

[2] Mason, Caroline Atwater, 1916: p.180.

[3] Mason, Caroline Atwater, 1916: p.182-183.

[4] Brouwer, A.M., Dr., 1916: b.33.

[5] Nijland, E., 1893: b.198.

[6] Nijland, E., 1893: b.207-208.

[7] Nijland, E., 1893: b.209.

[8] Tyerman, Christopher, 2004: p.14.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here