Kemandirian HKBP dan Gelar Ompu i

Samasa hidup, Nommensen tidak pernah dipanggil Ompu i

 
0
64
Nommensen berpose bersama anak didik dan puterinya di Sigumpar

Kemandirian HKBP ditandai dengan terpilihnya Pdt. K. Sirait menjadi Ephorus pertama Pandita Batak pada Sinode Godang 10-11 Juli 1940, setelah seluruh misionaris Jerman diinternir dan dipulangkan paksa Balanda sebagai konskuensi Perang Dunia Kedua. Lalu, Ephorus HKBP pun diberi panggilan (gelar) kehormatan Ompu i.

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

 

Tidak diketahui secara pasti sejak kapan setiap Ephorus HKBP mulai dipanggil Ompu i, gelar yang sebelumnya diberikan (tradisi) kepada Raja Si Singamangaraja sebagai Raja Malim atau Raja Imam orang Batak.[1] Dan sebagai pengungkapan fakta sejarah, tanpa bermaksud mendegradasi rasa hormat kepada para Ephorus HKBP; Apalagi kepada Ompu i IL. Nommensen, yang menurut kita (penulis), jika Belanda pertama kali menggelarinya Apostel orang Batak (1928), kita memandang Nommensen sangat lebih ‘berkekuatan’ disebut Nabi; Seperti yang disebut oleh Ephorus Warneck ketika menulis kata sambutan pada buku Hemmers yang pertama kali menyebutnya Apostel der Batakkers: “… yang bahkan pada zaman sulit memilih mesin (persenjataan) sebagai pilihan yang berjalan seiring dengan kekuatan seorang nabi.”[2] Nommensen adalah Nabi Eropa untuk Orang Batak, Europäischer Prophet für Bataks (Jerman), Europese profeet voor Bataks (Belanda) atau European Prophet for Bataks (Inggris).

Memang, Nommensen pernah diberi panggilan Ompu tanpa i. Panggilan kehormatan Ompu itu diberikan kepada IL. Nommensen saat menjabat Ephorus Rijnsche Zending di Tanah Batak, bertepatan pesta emas 50 tahun dia ditahbiskan sebagai pendeta di Gereja Barmen, yang diadakan pada tanggal 13 Oktober 1911, di Sigumpar, para Pandita Batak memberinya panggilan Ompu tanpa i; Ompu Nommensen.[3] tanpa terkait secara langsung dengan jabatan Ephorus, melainkan karena dia sudah lanjut usia. Semasa Nommensen masih hidup, tidak ada satu pun dokumen dia digelari Ompu i. Terbukti juga kemudian Ephorus sesudah Ompu Nommensen, yakni Van Kassel (pejabat 1918-1920), Johannes Warneck (1920-1932), P. Landgrebe (1932-1936), dan E. Verwiebe (1936-1940), kita tidak (belum) menemukan dokumen yang menunjukkan keempat Ephorus sesudah Nommensen tersebut dipanggil Ompu atau Ompu i.

Penganugerahan gelar panggilan Ompu atau Ompu i kepada Ephorus HKBP setelah mandiri (1940) pastilah mempunyai maksud dan harapan yang baik dan mulia. Orang Batak, khususnya jemaat HKBP tentu sangat mengharapkan Ephorus HKBP itu menjadi Imam panutan, Raja Imam, sebagai bagian dari pembumian iman Kristiani, dimana Ephorus itu sudah selesai dengan dirinya sendiri dalam urusan duniawi, baik pada saat menjabat maupun setelah selesai menjabat. Sebab akan terasa janggal mereka dipanggil Ompu i ketika masih memiliki kepentingan duniawi, misalnya, menjadi politisi, seusai menjabat Ephorus. Tentu hal seperti ini akan sangat mendegradasi makna pemberian gelar kehormatan Ompu i, yang bertujuan dan bermakna mulia tersebut. Bahkan, semestinya, keinginan ketenaran anumerta pun harus dibuang dari pikiran; Sebab surga telah menghasilkan kebajikan yang ada dalam dirinya.

Kiranya Ompu i Ephorus dan pemimpin Gereja Batak lainnya (Bishop, dll), benar-benar menjadi Raja Imam bagi orang Batak; dalam pengertian sebagai teladan spiritual yang penuh kasih membungkuk kepada orang yang berposisi di tempat yang lebih rendah, yang sering tampil mengunjungi jemaat sebagai Ompung Na Martuatua i dalam sosok papa dan hina (pasifis jalan Kristus). Maka pemilihan pimpinan Gereja (Ephorus, Bishop, dan sebagainya) perlu dipikirkan ulang: 1) Menghindari pemilihan secara politik (demokrasi politik); dan 2) Memfasilitasi  Allah sendiri yang memilihnya (Luk 1:9; Kis 1:26) dengan proses yang lebih sempurna dan Alkitabiah.

Masa lalu, sudah berlalu. Kita sedang berjalan hari ini menjemput hari esok. Gereja-gereja Batak kiranya jangan terjebak dalam pergulatan konstannya, suklus yang melingkar. Bahkan jangan terjebak dalam kelompok komunitasnya yang tertutup, melainkan mesti kelompok yang terbuka (tedek), tanpa kehilangan jatidirinya.

 

Cuplikan Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 3 Bab 11.4.2 Ketika Warneck Menjabat Ephorus, Perikop JalanNya: Mandiri dan Merdeka. Informasi lebih lanjut: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

Advertisement

 

Footnote:

[1] Simatupang, TB, 1991: h.27.

[2] Hemmers, JH., 1928: bl.II.

[3] Nommensen, J.T., 1921: h.192; dan Hemmers, JH., 1928: bl.323.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here