Segitiga Perang Batak

Perang Suci Buatan Padri dan Eropa

 
0
28
Segitiga Perang Batak, Perang Suci

Perang Batak adalah perang segitiga. Sejarah Perang Batak dapat dibagi dua, yakni Perang Batak Pertama yang lazim disebut Perang Padri (1816-1832), dan Perang Batak Kedua yang lazim disebut Perang Si Singamangaraja XII (1878-1907), bagi pihak penyerang, keduanya merupakan Perang Suci (Perang Sabil, Holy War, Expeditio Sacra).

Oleh Ch. Robin Simanullang

 

Perang Batak Pertama (1816-1832) yakni perang segitiga antara Kaum Adat Batak versus Kaum Padri (Perang Sabil) berlanjut versus Kaum Kolonial Belanda, yang berlangsung di wilayah Tanah Batak Selatan (Mandailing dan Angkola) dan sebagian Tanah Batak Tengah yakni Toba Humbang.

Sedangkan Perang Batak Kedua (1878-1907), yakni perang segitiga antara Kaum Adat Batak (Pejuang Rakyat Batak) yang dipimpin Si Singamanga­raja XII versus Koalisi Kolonial Belanda bersama Kaum Nasrani (para misionaris dan orang-orang Batak Dalle) yang berlangsung di Tanah Batak Merdeka (De Onafhankelijke Bataklanden) atau Pusat Tanah Batak (Het Centrale Bataklanden, titik asal legendaris dari seluruh orang Batak.[1] Perang Batak ini sebenarnya tidak persis segitiga melainkan perang satu melawan dua di antara tiga kepenting­an. Yakni perang antara Kaum Adat Batak (Pejuang Rakyat Batak) melawan Koalisi Kaum Kolonial dengan Kaum Nasrani (Zendeling, yang memandang perang Batak ini sebagai Expeditio Sacra, The Holy War Made in Europe); Koalisi ini selanjutnya disebut Koalisi Kolonial atau Koalisi Holy War.

Dalam Perang Batak Kedua atau yang selama ini lazim disebut Perang Si Singamangaraja XII, kita dengan amat berat hati harus memilih satu dari dua diksi sinonim antara Kaum Nasrani atau Kaum Kristiani (Kaum Kristen); Akhirnya memilih diksi Kaum Nasrani. Hal ini berkaitan dengan makna hakiki dari kedua diksi tersebut.

Etimologi kata Nasrani berasal dari kata Nazaret, nama dae­rah asal Yesus Kristus, sehingga pengikut ajarannya disebut Yahudi Sekte Nasrani, sebutan yang pertama kali (satu-satu­nya dalam Alkitab) dikemukakan oleh orang Yahudi ketika mendakwa Rasul Paulus dengan menyebutnya seorang tokoh dari sekte orang Nasrani, yang dipandang (didakwa) menyimpang atau sesat (Kis 24:5); Sementara orang-orang Nazaret sendiri tidak menerima (mengakui atau mempercayai) Yesus sebagai Tuhan tapi hanya seorang manusia biasa yakni putera Yusuf tukang kayu (Mat 13:57); Jadi, harfiah: Nasrani adalah Agama Yahudi Sekte Nasrani (Kis 24:5). Diksi Nasrani untuk sebutan Kristen kemudian populer dalam Al-Quran, berasal dari kata Nashirah (Nazaret) mengacu dae­rah kelahiran Nabi Isa Almasih (Masehi); atau Kristen dalam diksi Islam, yang juga diadopsi KBBI (h.954). Yang dalam konteks buku ini, diksi Nasrani bermakna: Kristen berpradigma Taurat, atau Agama Yahudi Sekte Nasrani, atau Kristen dalam diksi Islam (Al-Quran).

Sementara, kata Kristen (Kristiani) berasal dari kata Kristus (Christos, Yunani), nama Tuhan Yesus Kristus itu sendiri; Sehingga pengikut Kristus disebut Kristen (Kis 11:26); Kristiani, behaviour, karakter dan jalan hidup pengikut Kristus; Makna diksi Kristen lebih mendalam dari­pada Nasrani untuk mendeskripsikan pengikut Kristus atau saksi jalan hidup Kristus: Kristen pemikul salib yang pasifis; Yang sama sekali tidak berkompromi dengan kekerasan dan perang, apalagi mengatasnamakan Tuhan, atau perang suci, apa pun alasan dan tujuan sucinya!

Dalam konteks penulisan perang Batak dalam ‘frame strategi kebudayaan po­puler’ ini, kita memaknai kedua diksi itu sebagai berikut:

1) Diksi Kaum Nasrani adalah penganut ajaran atau pengikut orang dari Nazaret dalam paradigma dan orientasi Hukum Taurat (syariat) paling rendah (Yahudi Nazaret), yang memandang Yesus sebagai manusia, dan dianggap sesat ketika memandang Yesus Kristus sebagai Anak Allah (Anak Manusia) atau Tuhan; atau Kristen berparadigma ajaran syariat Taurat, antara lain me­nganut hukum pembalasan, mata ganti mata; Perang yang adil demi kebaikan; Perang suci yang diyakini mendapat restu Tuhan, bahkan disebut perang Tuhan.

Advertisement

2) Diksi Kaum Kristiani (Kaum Kristen) adalah penganut ajaran, saksi hidup Kristus dalam paradigma dan orientasi Injil. Kaum Kristiani memahami dan menganut Hukum Taurat (dan seluruh isi Alkitab sebagai kehendak Allah yang abadi) dalam para­digma Injil (Kabar Baik, Kasih Anugrah Keselamatan, Kasih Pemikul Salib); Jalan kasih karunia dan damai sejahtera, bahkan harus mengasihi dan mendoakan orang yang memusuhi­nya. Kaum pasifis, yang sama sekali tidak berkompromi dengan kata perang, kekerasan dan pembalasan, apapun alasan baik dan agungnya, sekalipun untuk tujuan mulia; Kaum Kristiani bahkan memandang Expeditio Sacra, Holy War atau Perang Suci adalah dosa terhadap Roh Kudus (Holy War is a sin against the Holy Spirit).[2]  Paradigma Injil sebagai sebuah gerakan revolusi kemanusiaan (kasih otentik, agape) untuk keselamatan (memikul salib). Maka diksi Kaum Kristen (Kristiani) sangat tidak pas digunakan dalam konteks perang apa pun alasannya, dibanding dengan diksi Kaum Nasrani.

Sementara diksi Kaum Adat Batak adalah sebutan yang pa­ling tepat menarasikan komunitas masyarakat adat Batak yang dipimpin oleh para Raja Huta/Marga yang berpegang pada tata nilai kebatakan yang bersifat religius dan percaya kepada Debata Mulajadi Nabolon. Mereka ini mengakui dan sangat menghormati Si Singamangaraja sebagai malim Raja Imam Batak, yang oleh Dr. HN van der Tuuk dan Dr. CM. Pleyte, menyebutnya de heilige koning der Bataks (raja suci orang Batak)[3]; Sehingga digelari Ompu i Si Si­ngamangaraja, sebagai titisan Debata Mulajadi Nabolon. Si Singama­ngaraja memang bukan raja penguasa politik (monarki) yang berkuasa atas suatu wilayah, termasuk di kampung­nya sendiri, Bangkara. Setiap kampung mempunyai Raja Huta sendiri yang bersifat otonom, yang merupakan ‘konfederasi kesatuan persemakmuran adat dan hukum’ dalam tata nilai kebatakan (religius-spiritual, adat dohot uhum, ugari), dimana Si Singamangaraja dipanut sebagai Raja Imam Batak, (priesterlijk opperhoofd van de Batakkers)[4] dan singa ni adat dohot uhum (Customs and law enforcement architects and patrons – Arsitek dan patron penegakan adat dan hukum). Se­hingga tatkala muncul ancaman terhadap kedaulatan adat di Pusat Tanah Batak Merdeka (Het Centrum De Onafhankelijke Bataklanden)[5], Si Si­ngamangaraja tampil dan dielu-elukan sebagai pemim­pin perang (Panglima Tertinggi). Kendati Si Singamangaraja tidak punya perangkat perang dan sama sekali tidak mempunyai pasukan reguler, apalagi pasukan terlatih, bahkan tidak pernah ada kisah terlibat perang, atau tidak mengenal tradisi perang, di tengah maraknya perang (tauran) antarkampung di Tanah Batak; Ia dikisahkan selalu hadir sebagai malim Raja Imam, Ompu i, yang mendamaikan dan membebaskan yang tartaban (tertawan). Dalam struktur sahala harajaon (wibawa kerajaan) spiritualitasnya, Si Singamangaraja hanya punya lembaga Parbaringin. Parbaringin bukan perangkat serdadu, melainkan perangkat pelaksana upacara spiritual-religius, seperti Horja Mangase Taon (Pesta Partangiangan Bona Taon atau Pesta Gotilon, saat ini), Pesta Doa Awal Tahun.

Inilah pertama kali Dinasti Si Singamangaraja (I-XII)[6] meng­ukir sejarah, dimana sejarah dimaknai sebagai sejarah perang, karena dipaksa oleh kekuatan eksternal (Koalisi Kolonial) yang tak dikehendakinya. Ketika jalan damai yang selalu ingin ditempuhnya ditolak dan ditanggapi hina dan diolok-olok oleh Koalisi Kolonial yang rasis dan merasa diri paling beradab. Namun ironisnya, tanpa rasa sungkan bahkan merasa lebih terhormat dan beradab mengambil-alih gelar Ompu i. Gelar Ompu i adalah milik seorang Raja Imam Batak yang sebelumnya mereka hina dan sebut sebagai manusia primitif, kanibal tak beradab.

Representasi Kaum Adat Batak ini adalah Raja-Raja Huta atau Marga bersama warga kampungnya atau komunitas adatnya. Raja-raja Huta ini secara turun-temurun adalah pemegang kekuasaan teritorial atas wilayah kampungnya secara otonom. Raja Huta adalah pemerintah otonom dalam konfederasi persemakmuran adat dan hukum Batak. Mereka inilah kemudian yang tampil sebagai panglima-panglima perang di wilayahnya masing-masing secara mandiri, dalam konfederasi semangat perjuangan yang diekspresikan dan dipusatkan kepada Si Singamangaraja sebagai panutan dan pemimpin spiritual (Raja Imam); yang dalam konteks perang melawan penjajah berperan sebagai Panglima Tertinggi. Sementara, pasukan atau tentaranya nyaris tidak ada; Tidak ada tentara reguler! Tentara perang Batak atau Perang Si Singamangaraja adalah pasukan rakyat Batak di setiap huta (kampung), yang kemudian kita menyebutnya Pejuang Rakyat Batak (PRB). Pejuang Rakyat Batak itu dipimpin para Raja Huta sebagai panglimanya. Raja Huta yang memimpin warganya yakni para Pejuang Rakyat Batak tersebut itulah yang disebut sebagai Panglima-Panglima Si Singamangaraja. Jadi Perang Batak atau Perang Si Singamangaraja adalah Perang Semesta Rakyat Batak yang dipimpin oleh Si Singamangaraja dan Raja-Raja Huta sebagai panglima-panglimanya.

Sedangkan diksi Kaum Kolonial dimaksud adalah kolonialis-kapitalis Belanda (kompeni) dan/atau kolonialis lainnya yang disebut ‘Sibontar Mata’ (Siputih Mata), serta antek-anteknya yakni para serdadu dan tahanan pribumi, termasuk orang-orang Batak dalle yang berpihak kepada kompeni (kolonial). Sementara diksi Kaum Nasrani dimaksud adalah para misionaris yang memelo­pori dan terlibat langsung dalam Perang Batak Kedua, beserta orang-orang Batak Dalle yang baru dibabtis jadi Nasrani: Keduanya (Kaum Kolonial dan Kaum Nasrani) begabung dan selanjutnya disebut Koalisi Kolonial.

Koalisi Kolonial adalah mutual simbiosis antara kolonialis dengan misionaris. Gert von Paczensky, dalam Verbrechen im Namen Christi Mission und Kolonialismus (Kejahatan Atas Nama Misi Kristus dan Kolonialisme), dengan cermat dan cerdas menguraikan adanya harmoni kepentingan antara misi dan kolonialisme. Dia mengutip Dr. Solf dalam Reichstag: “Kolonisieren ist Missionieren” umkehren in “Missionieren ist Kolonisieren” (Kolonisasi adalah Misi” sebaliknya “Misi adalah Kolonisasi”.[7]

Koalisi Kolonial ini disokong oleh Dalle. Dalle adalah 1) orang-orang Batak yang sudah kehilangan jatidiri kebatakannya, atau Batak na lilu (Batak yang tersesat), berasal dari kata Delley merujuk kata Deli, orang Batak yang menjadi orang Deli;[8] 2) Batak pengkhianat, Batak penjilat dan yang integritas kebatakannya sangat rendah. Dalam istilah lain disebut, Dalle adalah Batak simarbatak-batak, artinya orang Batak tapi tidak merasa Batak lagi atau tidak memiliki nilai-nilai luhur kebatakan lagi, sudah tersesat. Beberapa faktor mempengaruhi seseorang menjadi Dalle, antara lain, sifat penjilat, pengkhianat, bodoh dan mementingkan diri sendiri, loba, serakah dan haus kekuasaan.

Jadi ada tiga kepentingan besar dalam Segitiga Perang Batak, yakni: Pertama, kepentingan Kaum Adat yang memperjuangkan dan mempertahankan kedaulatan nilai-nilai kebatakan dan tanah airnya. Kedua, kepentingan Kaum Agama (Islam dan Nasrani) yang berjuang (perang suci) yang mereka sebut mengusung misi besar penyebaran agama untuk membebaskan orang Batak dari kegelapan kekafiran (hasipelebeguon). Ketiga, kepentingan Kaum Kolonial untuk memperluas otoritas penjajahannya (kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme).

Dalam tiga kepentingan itu, Koalisi Kolonial menganggap Kaum Adat sebagai gerombolan primitif yang tidak beradab, kafir, pagan atau Sipelebegu, kanibalis, sebagai musuh bersama yang harus ditak­lukkan demi kepentingan Kaum Kolonial dan niat suci Kaum Agama (Islam dan Nasrani). Bagi Kaum Kolonial, perang ini bertujuan penguasaan seluruh Sumatra (kolonialisme kapitalis). Bagi Kaum Nasrani (Zending), perang ini bertujuan suci, Expeditio Sacra, Perang Salib, ‘perang atas nama Tuhan’ untuk menasranikan (mengkrsitenkan) orang Batak dengan cara mudah dan cepat (kristenisasi berpradigma Taurat).

Sementara, Kaum Adat sangat menentang dan menolak dengan keras (hingga menitiskan darah penghabisan) penjajahan (kepentingan kolonial), dan menoleransi bahkan merindukan misi suci para Kaum Agama (Islam di Angkola-Mandailing dan Nasrani di pusat Tanah Batak). Menoleransi dan bahkan merindukan misi suci zendeling di pusat Tanah Batak tersebut dimanifestasikan kemauan sendiri dari Si Singamangaraja XI-XII yang sangat berusaha menemui para misionaris, tapi tanpa respon pantas bahkan ditolak.[9]

Kehadiran Koalisi Kolonial dan Zending (Nasrani) di Pusat Tanah Batak; serta Kolonial dan Padri (Islam) di Tanah Batak Selatan, yang merupakan Expeditio Sacra (Ekspedisi Sakral atau Jelajah Suci, Perang Suci), atau Perang Sabil di Tanah Batak Selatan dan Perang Salib di pusat Tanah Batak; telah menjebol ribuan tahun keterisolasian indah orang Batak, dengan todongan pedang dan senjata; Ibarat pil pahit yang menyembuhkan dari ketertutupan ke keterbukaan, dari kegelapan ke hatiuron (terang), dari keterbelakang­an ke hamajuon (kamajuan), dengan berbagai implikasinya.

Kita sangat menyadari bahwa ‘pendefenisian’ perang Batak  II sebagai Perang Segitiga antara Kaum Adat versus Koalisi Kolonial dan Kaum Nasrani (kolonial dan misi) adalah memerlukan sebuah keterusterangan dan keberanian. Namun, kita merasa terhibur dan terdorong dengan pernyataan Thomas C. Chamberlin (1888) dalam The Ethical Functions of Scientific Study (Fungsi Etis Studi Ilmiah) bahwa keterusterangan itu sering kali merupakan ekspresi keberanian moral tertinggi; keberanian yang lebih tinggi dan lebih benar daripada yang muncul dari keberanian pribadi, atau kebanggaan pendapat, atau kepahlawanan yang dianggap sendiri. Itu adalah keberanian dari keyakinan sederhana.[10]

Keterusterangan dan keberanian bersahaja, cermat, jujur dan rendah hati. Juga terpanggil atas pernyataan Rasul Paulus kepada Timotius bahwa segala tulisan yang yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (2 Tim 3:16).

Selama beberapa dekade kita bersolek dalam kebohongan, kemunafikan dan kepengecutan. Sebagaimana bunyi syair Khalil Gibran: ”di mana kebohongan dan kemunafikan berlaku; dan di gubuk-gubuk orang miskin, di mana ketakutan, ketidaktahuan, dan kepengecutan tinggal.”[11] Perlu kita sadari bahwa sejauh manusia menjadi pecinta kebenaran dan kebenaran penuh dalam semua sisi yang banyak, sejauh ini mereka akan memiliki keterusterangan dan keberanian bersahaja, serta berhenti menjadi partisan sempit. Adalah sangat penting bagi kita untuk menjunjung tinggi integritas yang adil, dan bahwa kita melindungi kesetiaan dari fitnah. Sebagaimana dikemukakan Thomas C. Chamberlin: “Bukan keberanian pejuang intelektual yang bertikai dengan antagonis atas beberapa pertanyaan yang diperebutkan di mana antagonisme yang disusun masuk untuk merangsang individualitas, melainkan keberanian pasifik yang bertumpu pada keyakinannya pada kemenangan akhir dari kejujurannya sendiri, yang mengedepankan kesimpulan, bukan dalam susunan pertempuran. Itu adalah keberanian halus dari perdamaian intelektual, bukan keberanian perang intelektual. Ketenangan yang dengannya penulis hipotesis modern yang paling luas jangkauannya mengemukakan berbagai fakta dan kesimpulannya, dan semangat yang tenang, berani dan noncombatif yang dengannya dia menerima serangan yang dilakukan terhadapnya dari semua penjuru surga, merupakan satu kesatuan dari contoh luhur dari keberanian pribadi yang tenang yang telah disaksikan oleh sejarah manusia.”[12]

Petikan dari Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 2. Selengkapnya baca dalam buku tersebut. Informasi lebih lanjut: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1]   Zanen, Abraham Johannes van, 1934: Voorwaarden voor Maatschappelijke Ontwikkeling In Het Centrale Batakland, Leiden: Drukkerij Luctor et Emergo, p.11-13.

[2]   Tyerman, Christopher, 2004: Fighting For Christendom, Holy War And The Crusades, New York: Oxford University Press Inc, p.14.

[3]   Pleyte, C.M., 1903: Singa Mangaradja De Heilige Koning der Bataks; handschrift uit Bakkara behoorende tot het legaat Dr. H. N. van der Tuuk,  in Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, b.1-48.

[4] Hemmers, JH., 1928: Schetsen uit Het Leven van Ludwig Ingwer Nommensen, den Apostel der Batakkers, Amsterdam: Bosch R Keuning, Baarn, bl.61.

[5]   Tanah Batak, tidak pernah memiliki sistem pemerintahan (kerajaan) yang dipimpin seorang raja, melainkan setiap huta/marga atau wilayah mempunyai raja huta sendiri secara otonom, tapi merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dalam hal tata-nilai adat dan uhum (ugari) yang berkepercayaan (kepada Ompung Mulajadi Nabolon) dan menghormati Si Singamangaraja I-XII sebagai Raja Imam, eponim Si Raja Batak yang disematkan sebutan kehormatan (kewibawaan) Ompu i. Sepanjang sejarah, pada setiap zamannya hanya ada satu bergelar Ompu i dalam tradisi kesatuan kekerabatan adat Batak yang bersifat religius-spiritual. Memang hal ini sangat sulit dipahami orang asing, sebab tidak ada dokumen tertulis (pustaha laklak) sebagai rujukan perihal kesatuan nilai-nilai kebatakan ini; Tetapi terwariskan secara empiris dalam kehidupan nyata secara turun-temurun, juga dalam turiturian (folklor), umpama-umpasa (ungkapan, perumpamaan, amsal), ende (kidung), tonggo (doa) dan andung (ratapan) ugari (adat dan hukum) yang juga tidak ditemukan dalam pustaha laklak, tapi termanifestasikan dalam sistem sosial kekerabatan Dalihan Na Tolu yang nyata hidup dalam keseharian suku bangsa Batak (semua puak, kekerabatan teritorial, dengan variasi implementasi di setiap wilayah teritorial domisilinya (Toba, Angkola, Mandailing, Simalungun, Pakpak-Dairi, Karo, Pesisir dan wilayah diaspora lainnya, seperti Jabodetabek yang sudah mulai memiliki variasdi atau ciri adat-istiadatnya sendiri).

[6]   Si Singamangaraja X yang tidak punya perangkat perang, hanyalah menjadi korban Perang Padri (1816-1821) tanpa perlawanan; Raja-raja Huta-lah yang melakukan perlawanan.

[7] Paczensky, Gert von, 1991 (2000): Verbrechen im Namen Christi Mission und Kolonialismus, München: Orbis Verlag, s.224.

[8]   Bandingkan: Barbosa, Duarte, 1518, Dames, Mansel Longworth (edited and annotated), 1918: p.188..

[9] Hemmers, JH., 1928: bl. 133.; dan BRMG 1878 (7), p. 117.

[10]  Chamberlin,Thomas C. LL. D., 1888: The Ethical Functions of Scientific Study; an address delivered at the annual commencement of the University of Michigan, June 28, 1888;  Ann Arbor, Michigan: The University, p.21.

[11]  Gibran, Kahlil,  1947: The Secrets of The Heart, Selected Works; Translated From The Arabic By Anthony Rizcallah Ferris and Edited By Martin L. Wolf; New York & Bombay: Jaico Publishing House, p.308.

[12]  Chamberlin,Thomas C. LL. D., 1888: p.21.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here