“Munaslub” Akbar di UGM

 
0
103

[BERITA TOKOH] – – Yogya: Mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung sejak Jumat (31/8) siang berada di Yogya. Tapi itu bukan berita sebenarnya, kalau hanya Akbar Tandjung dan keluarganya yang ke Yogya. Menjadi berita karena kehadiran Akbar Tandjung juga diikuti banyak tokoh dan fungsionaris Partai Golkar, di samping tokoh partai lain dan pejabat negara.

Termasuk beberapa menteri di Kabinet Indonesia Bersatu. Lho ada apa, nih? Ya Akbar Tandjung, Sabtu (1/9) siang tadi mempertahankan disertasinya; “Partai Golkar dalam Pergolakan Politik Era Reformasi: Tantangan dan Respons” untuk memperoleh gelar doktor dalam ilmu politik di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Disertasi Akbar Tandjung setebal 360 halaman itu dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Sekolah Pascasarjana UGM yang terdiri dari sembilan penguji, yakni Prof Dr Irwan Abdullah MA, Prof Dr Ichlasul Amal (promotor), Prof Dr Mohtar Mas’oed MA (ko-promotor), Dr Burhan Magenda MA (ko-promotor), Prof Dr Bachtiar Effendy MA, Dr Purwo Santoso MA, Dr Nanang Pamudji MA dan Dr Pratikno MSoc Sc. Dalam ujian terbuka itu Akbar lulus Cumlaude.

Kehadiran banyak tokoh politik di luar Golkar dan para petinggi negara menyaksikan Akbar mempertahankan disertasinya, diakui atau tidak menunjukkan “kebesaran” tokoh yang satu ini. Dalam daftar hadir terlihat ada Menko Perekonomian Boediono, Menteri Negara Perumahan Rakyat Yusuf Asyari, Menteri Sosial yang juga Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) PPP Bachtiar Chamsyah, Menteri Hukum dan HAM yang juga Ketua bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Andi Mattalatta.

Selain itu hadir pula Ketua BPK Anwar Nasution, Wakil Ketua DPR dari FPDI-P Soetardjo Soerjogoeritno, Wakil Ketua DPR dari FKB Muhaimin Iskandar, Sekjen PDI-P Pramono Anung Wibowo, mantan Ketua Umum Muhammadiyah Syafii Maarif, dan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Mantan rivalnya di Konvensi Partai Golkar, Wiranto juga hadir. Pendeknya banyak dan dari “berbagai penjuru”. Secara bercanda Wakil Ketua Panitia Anggaran Hafiz Zawawi menyebutkan, “Yang datang ke acaranya Bang Akbar ini ada pendukung, bekas pendukung, kroni, sahabat, simpatisan, ada juga pengkhianat dan bekas pengkhianat.”

Kursi sejumlah sekitar 300 pun di ruang sidang tidak cukup menampung “pendukung” Akbar. Karena itu panitia menyediakan kursi di luar dan layar monitor.

Akbar yang semalam menjamu sebagian mereka yang menghadiri ujian terbukanya pun sempat diledeki beberapa wartawan, “Wah kayak mau munaslub (musyawarah nasional luar biasa) nih Pak.” Akbar pun terkekeh.

Istimewa
Tentang disertasinya, Akbar menulis berdasarkan pengalamannya ketika memimpin Partai Golkar di periode kritis dan transisi, 1999-2004. Partai Golkar ketika baru saja tumbang sebagai pendukung dan pilar utama Orde Baru dan Akbar harus menjadikannya Golkar baru dan membuatnya bisa ikut gerbong reformasi.

Segala kecaman dan sikap sinis pun tak terhindarkan dan memang sulit mengingkari tudingan sebagai penumpang gelap reformasi. Namun di situ juga kepemimpinan Akbar ditunjukkan dan akhirnya dibuktikan dengan kemenangan Partai Golkar di Pemilu 2004 dengan raihan suara sekitar 21 persen.

Semua pergulatan Partai Golkar selama kepemimpinan Akbar Tandjung itulah yang dijadikannya disertasi dan sudah dinyatakan lulus dalam ujian tertutup beberapa hari lalu. Dan Sabtu ini diujikan lagi melalui ujian terbuka.

Menurut Ichlasul Amal, disertasi Akbar yang meneliti soal Partai Golkar, cukup menarik. Karena selama ini penelitian tentang Golkar hanya dilakukan orang dari luar Partai Golkar, namun kali ini dilakukan sosok yang pernah menjadi pucuk pimpinan Golkar itu sendiri.

Amal menjelaskan, dalam penyusunan disertasi itu, Akbar terkadang menulis tentang dirinya sendiri, terutama saat yang bersangkutan masih aktif di Partai Golkar. Selain itu, Akbar juga harus mengadakan wawancara dengan para tokoh Golkar yang dahulu menjadi anak buahnya. “Ini menjadi unik. Poin menarik lainnya yang terungkap dalam disertasi itu antara lain, tetap eksisnya Partai Golkar, bahkan berkembang, meski dikecam banyak pihak saat awal era reformasi. Hal itu disebabkan karena Partai Golkar tidak punya afiliasi dengan kelompok primordial, seperti partai politik lain,” kata Amal.

Untuk meraih gelar doktor, Akbar Tandjung selama dua tahun terakhir ini mondar-mandir Jakarta-Yogya-Solo. Dengan metode riset, Akbar sedikitnya sekali sebulan harus ke Yogyakarta menemui para pembimbing dan promotornya. Akbar mengakui, ia tidak mau menempuh “jalan mudah” untuk meraih gelar doktor. Konsekuensinya, Akbar harus tidur dini hari dan bangun lagi hanya dua tiga jam memejamkan mata untuk melanjutkan penyusunan disertasinya. [Y-3/152] Sumber: Suara Pembaruan 1/9/2007

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

Tokoh Terkait: Akbar Tandjung, | Kategori: Berita Tokoh – | Tags: Politisi, tokoh

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here