Witoelar tak Menyesal

 
0
53
Witoelar tak Menyesal
e-ti | ms

[BUKU] – Isi buku ini adalah artikel dan kolom saya era lengser.” Kalimat guyonan ini meluncur dari Abdurrahman Wahid di depan hadirin yang menyesaki ruangan sebuah hotel mewah di Jakarta Pusat, akhir Februari 2002. Hadirin menyambutnya dengan gemuruh suara gerrr. Hari itu, di sana diluncurkan buku karya Greg Barton, penulis asal Australia, berjudul Gus Dur the authorized biography of Abdurrahman Wahid dan No Regrets karya Wimar Witoelar, juru bicara presiden Indonesia di era Wahid.

Sekitar 250 pasang mata menghadiri acara tersebut. Mereka dari berbagai kalangan, etnis, bangsa, dan profesi. Mulai dari Pramoedya Ananta Toer, Hasnan Habib, Rachmawati Soekarnoputri, Theo Sambuaga, Jakob Oetama, Dewi Fortuna Anwar, Benyamin Mangkudilaga, hingga perwakilan beberapa negara-negara sahabat, semua tumpah di situ.

Di depan pintu ruangan berjejer tiga krans kembang berukuran besar. Suasana ruangan dibiarkan lengang tanpa musik, yang terdengar obrolan ringan di antara yang hadir yang berdengung laksana lebah, ditingkahi cekikikan mereka. Mereka datang satu per satu sejak pukul tujuh malam. Gus Dur, panggilan akrab Wahid, datang tepat pukul delapan malam bersama istri, dan anaknya. Kehadirannya yang ditunggu-tunggu, menjadikan dirinya pusat perhatian.

Malam itu Gus Dur berbaju batik lengan pendek dengan celana warna gelap. Kopiah warna krem bertengger di kepalanya. Badannya masih tampak subur. Untuk menopang berat badannya, tangan kanannya menggenggam tongkat setinggi pinggang. Sinta Nuriah, seperti biasa, duduk di atas kursi roda dengan senyum mengembang. Witoelar tampil dengan stelan jas warna gelap. Ia tampak melayani tamu-tamunya dengan ramah. Senyum khasnya bertaburan.

Bukan Gus Dur kalau tanpa guyonan. Dalam bahasa Inggris yang fasih ia mengatakan, “Wimar Anda beruntung bekerja sama dengan saya. Jadi pantas kalau Anda tidak menyesal.”

Maksudnya No Regrets. Itu joke pertama yang dilemparnya tatkala ia dipersilakan memberikan sambutan. Tentu saja ruangan penuh dengan tawa segar. Sebelumnya, ketika mengakhiri pidato singkatnya, Witoelar mengatakan “To me Gus Dur is the great man I ever known.”

Ketika acara penandatanganan buku berlangsung Gus Dur bahkan sempat menyambar mikrofon untuk mengeluarkan guyonan politik yang terbaru. Katanya ia baru satu jam yang lalu bertemu Amien Rais di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta. Yang dimaksud siapa lagi kalau bukan ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat. Amien mengatakan marah karena pemerintah ternyata menjual aset negara. Merasa bukan orang nomor satu lagi, Gus Dur menanggapinya dengan enteng saja, “Kalau begitu pemerintah ini kita sebut saja P-PAN, kependekan pemerintah penjual aset negara.” Lagi-lagi gerrr.

Acara penandatanganan buku berlangsung sekitar satu jam. Mereka antre satu per satu untuk mendapatkan tanda tangan dari penulis. Malam itu terjual sekitar 600 buku Gus Dur dan 800 buku Witoelar.

Sehari sebelumnya di tempat yang sama diselenggarakan acara jumpa pers. Tak kurang 90 wartawan terdaftar. Acara ini digelar Equinox Publishing and InterMatrix Communications. Di pentas Wimar Witoelar duduk menghadapi hadirin. Ia ditemani Greg Barton, Mark Hanusz, dan Hanny Hasyim, si pembawa acara. Pentas dihiasi dengan gambar Gus Dur dan Witoelar sebesar papan tulis ukuran sedang. Gambar itulah yang dipakai sebagai kulit buku yang diperkenalkan saat itu, yaitu No Regrets tulisan Witoelar dan Gus Dur karya Greg Barton. Hanusz adalah penerbitnya.

Sekitar jam dua siang ruangan itu terasa hangat kendati suhu diatur dingin. Di floor sepuluh meja bulat ditata. Setiap meja dikelilingi enam kursi. Acara yang diagendakan berlangsung dua jam itu hanya makan waktu kurang dari satu jam. Ketiga pembicara memberikan sambutan singkat. Acara tanya jawab hanya dimanfaatkan lima penanya. Yang justru makan waktu agak lama adalah acara pemotretan.

Dengan penampilan seadanya Witoelar meladeni pertanyaan seperti biasanya. Enak didengar, dan bernas. Mengenakan baju kotak-kotak lengan pendek, tanpa dasi, rambut kriting, Witoelar tampak kontras dengan tampilan Barton dan Hanusz yang lengkap berjas-dasi. Tapi itu tidak mengurangi wibawanya di mata hadirin. Witoelar memang tetap menarik, atraktif, dan good citizen.

Menurut Witoelar orang luar mengira bangsa Indonesia tak bermutu. Mereka tak mampu mencerna kejatuhan Gus Dur yang terpilih secara demokratis. “Dengan buku ini saya ingin menjelaskan kepada dunia, rakyat Indonesia are beautiful,” ujarnya.

Lebih dari itu Witoelar ingin menjelaskan kepada publik dunia tentang kebesaran Gus Dur sebagai seorang pribadi, dan sebagai presiden yang mencoba menegakkan demokrasi yang masih rawan di tengah persoalan-persoalan besar warisan pemerintah Soeharto, serta berbagai kejadian di balik peristiwa memalukan digulingkannya presiden yang terpilih secara demokratis itu.

Ia juga mengatakan sering mendapat pertanyaan, apa tidak menyesal ikut dalam pemerintahan Gus Dur. “Saya merasa sebagai orang biasa yang terbawa ke arus sejarah. Saya tak menyesal ikut dalam the big experience in democracy.” Bahkan saking seringnya ia mengucapkan kalimat tak menyesal, maka dua kata itulah yang dipilih penerbit untuk judul bukunya.

Buku Witoelar diterbitkan dalam bahasa Inggris, kebanyakan berisi kritikannya terhadap media. Toh orang Indonesia juga perlu tahu isi buku itu. Hanny Hasyim mengatakan akan menerbitkannya dalam bahasa Indonesia, tiga bulan lagi. Bill Aribowo *** PANTAU, Tahun III Nomor 024 – April 2002

***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Tokoh Terkait: Wimar Witoelar, | Kategori: Buku | Tags: Presiden, juru bicara

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here