Pengantar Buku Life Begins at Seventy

76 Kata Bijak Syaykh Al-Zaytun

[ AS Panji Gumilang ]
 
0
507
Buku Life Begins at Seventy; 76 Kata Bijak Syaykh Al-Zaytun Prof. Dr. Abdussalam R. Panji Gumilang, MP.

Apa kearifan-kearifan yang mencerahkan dari Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang? Menurut pengalaman empiris penulis buku ini, selama hampir 20 tahun sering berdialog dengannya, sangat banyak. Bagi penulis, dia semacam ensiklopedi kearifan (hikma) yang hidup; kearifan yang memoles dan mencerahkan hati, pola pikir dan peri­laku bahkan langit spiritualitas setiap orang (lintas kelompok) yang mau belajar bijaksana merevitalisasi diri.

Buku sederhana ini hanya menulis 76 di antaranya, yang juga dimaksudkan sebagai penghormatan, ucapan syukur dan ucapan Selamat Hari Ulang Tahun Kelahiran Syaykh Panji Gumilang yang ke-76 (Gresik, 30 Juli 1946 – 2022). Milad yang bersamaan dengan Tahun Baru Islam, 1 Syuro 1444 H. Milad yang istimewa saat Syaykh Panji Gumilang menapaki anak tangga emas puncak kreativitas dan kearifan hidupnya yang dimulai pada usia 70-an tahun: Life Begins at Seventy, yang menjadi judul utama buku sederhana ini.

Tiga pokok kearifannya yang selalu hidup (bukan sekadar diajarkan atau diwacanakan) adalah kemanusiaan, toleransi dan perdamain. Di Ponpes Modern ini kita menikmati kemanusiaan, toleransi dan perdamaian (manusiawi, toleran dan damai) merupakan bagian integral dari etika perilaku sosial di Ponpes ini, yang berkontribusi pada perkembangan kecerdasan (intelektual, emosional, spiritual dan iman)  seseorang (komunitas, santri, guru, wali santri dan para sahabatnya) serta mengubah mereka (seseorang) menjadi orang-orang yang terus bergerak dan belajar lebih bijaksana. Darinya kita banyak belajar untuk memastikan setiap melangkah supaya dengan hati-hati dan bijaksana serta memahami bahwa hidup adalah tindakan penyeimbang yang hebat dalam interaksi sosial interdependensi. dan koeksistensi.

Juga tempat belajar bagaimana menghadapi kesulitan dan tantang­an yang justru menjadi solusi mencapai prestasi terbaik. Darinya kita belajar mengukur pencapaian dengan kesulitan dan tantangan yang harus kita atasi untuk mencapai prestasi terbaik. Dan prestasi itu bukan tujuan akhir, melainkan suatu proses perjalanan baru, yang mesti ditapaki dengan kedalaman keyakinan atas kemampuan diri sendiri: Mandiri dan merdeka berpikir, merdeka belajar. Assalamualaikum, Merdeka!

Darinya kita memahami bahwa takdir bukan kesempatan tapi pilihan. Takdir bukan yang harus ditunggu, melainkan hal yang harus dicapai. Dan, untuk mencapainya harus bergerak dan pasti ada tantangan. Ibarat sebuah kapal yang bersandar di pelabuhan adalah aman, tetapi bukan untuk bersandar kapal itu dibangun, melainkan untuk berlayar mengarungi samudera dengan segala tantangan gelombang dan badai. Menurut pengenalan penulis buku ini, itulah salah satu analogi sosok Syaykh Panji Gumilang selaku personifikasi Al-Zaytun.

Dalam pengejaran dan pilihan takdir itu, dia selalu melakoni bahwa besok adalah hari baru, besok bukanlah sebuah janji, tapi sebuah kesempatan; dengan terus belajar, bermimpi, berkreasi dan menghadapi tantangan dan menemukan solusinya untuk memetik pencapaian gemilang. Dia berkeyakinan, jika sese­orang maju dengan percaya diri ke arah impiannya, dan dia berusaha keras untuk menjalani kehidupan yang diimpikannya, ia akan menemui pencapaian gemilang pada situasi biasa. Rahasia pertamanya adalah berani memulai dengan percaya diri setiap hari. Jangan khawatir menghadapi kegagalan, tetapi berusaha keras-kreatiflah untuk berhasil.

Dari Syaykh Panji Gumilang, kita belajar bahwa kecerdasan tanpa mimpi (imajinasi dan ambisi) adalah ibarat burung tanpa sa­yap. Mimpi (ambisi) adalah sayap (jalan udara) menuju kesuksesan; dan kegigihan (komitmen, kerja keras kreatif) adalah kendaraan (pesawat) yang dikendalikan secara terampil menuju kesuksesan. Menurut pengamatan penulis, metafora ini empiris dilakoni Al-Zaytun.

Dalam ratusan kali kesempatan percakapan dengan Syaykh Panji Gumilang, kita menyadari bahwa manakala kita sudah kebanyakan waktu luang (santai, istirahat), hal itu adalah gejala bahwa kita tidak hidup secara kreatif. Bahkan mungkin juga tidak memiliki mimpi, imajinasi, ambisi dan tujuan yang cu­kup penting, atau tidak menggunakan talenta, bakat dan upaya yang kita bisa (miliki) untuk mencapai tujuan penting.

Hal mana tujuan penting itu akan memberi kita lebih dari sekadar alasan untuk bangun di pagi hari, di mana tujuan (pencapaian, prestasi) adalah insentif untuk membuat kita terus berjalan sepanjang hari. Tujuan yang membawa kesadaran untuk mengeksplorer sumber daya yang kita miliki yang akan membawa kita ke kehidupan terbaik. Dari Syaykh Panji Gumilang, kita belajar bahwa sukses adalah memfokuskan seluruh kekuatan diri (optimis) pada apa yang ingin kita capai dengan membara. Optimisme adalah keyakinan yang menuntun pada pencapaian. Pesimisme tidak akan pernah menemukan rahasia surgawi, atau terbang ke cakrawala di balik awan. Itu hanya bisa dicapai de­ngan mimpi, imajinasi, keyakinan, kreasi, optimisme dan kerja gigih.

Kita juga belajar supaya kita tidak terpaku pada usia yang sudah 60-70-an tahun. Karena hal itu mungkin akan membatasi apa yang bisa kita lakukan. Selama kita memiliki pikiran dan kesehatan, bilangan usia kronologis itu hanya angka.

Advertisement

Sejak pertemuan pertama, dari semua rangkaian kata-kata dan bahasa tubuhnya, serta situasi lingkungan kampusnya, terutama sikap para santri, guru dan para eksponennya, kita melihat peta karakter, kehormatan, kebajikan, peta kebenaran, peta kemanusiaan, peta toleransi dan perdamain. Ketika awal itu kita berpikir, mereka ini (Ponpes ini) adalah komunitas (lembaga) pembawa damai. Karakter seperti itu pastilah terpetakan melalui pengasuhan mumpuni yang hanya mungkin diperoleh dengan pikiran merdeka, pilihan berani dan tekad kuat. Itu pasti tidak datang secara tiba-tiba sebagai hadiah, apalagi hanya sebagai kamuflase menyamarkan visi dan tujuan intoleran atau radikalisme yang diisukan. Sebab, karakter jauh lebih tinggi dari akal dan bakat. Dalam pandangan kita, Al-Zaytun adalah sosok keanggunan yang terekspresi secara lahiriah dari keharmonisan batin jiwanya, yakni: Kemanusiaan, Toleransi dan Perdamaian. Yang dari sudut pandang ideologi (nilai dasar) bernegara, itu adalah hakikat Pancasila.

Dia seorang pemimpin yang mentransformasi perilaku manusiawi, tole­ran dan damai (Pancasilais) dengan visi, inisiatif, kesabaran, ketekunan, keberanian, keyakinan dan kebijaksanaannya. Selamat Ulang Tahun Ke-76 Syaykh Panji Gumilang, Selamat Sehat dan Berkarya Seribu Tahun Lagi!

Jakarta, 30 Juli 2022

Pustaka Tokoh Indonesia. Penulis: Ch. Robin Simanullang

Dapatkan di: di Tuhor.id dan Tokopedia.https://www.tokopedia.com/tuhorid/buku-life-begins-at-seventy-76-kata-bijak-syaykh-al-zaytun

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here