Saatnya Batak Bersuara

Jangan biarkan narasi luhur Batak beristirahat dalam keheningan

 
1
53
Ruma Batak Toba di Parsingguran, ca 1928. Foto: Koleksi Tropen Museum

Selama ini Hita Batak masih ‘menelan bulat’ atau setidaknya membiarkan narasi asing yang menista dan membunuh karakter Batak. Kini, saatnya Hita Batak bersuara. “Apa yang baik yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah.” (Roma 14:16).

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

Kebanyakan penulis asing tentang Batak, bukan bersumber dari asli Batak (Batak otentik), tetapi dari pinggiran, Batak Dalle (Batak tersesat dan pengkhianat, tidak berintegritas Batak) dan tetangga bukan Batak (Aceh, Minangkabau dan Melayu),  para pembenci Batak dan pelancong asing serta kolonialis dan misionaris yang rasis dan narsis. Tetapi mereka menganggap apa yang mereka tulis dan katakan sebagai kebenaran mutlak; Kebenaran narsis, dimana mereka sesungguhnya sedang menganggap kebenarannya itu dengan sangat berlebihan, yang juga memperlihatkan pemerkosaan kebenaran dalam dirinya sendiri. Sama busuknya dengan jaringan cendekiawan korup rahasia Freemasonry.

Namun, dalam menelaah (kontempelasi) setiap tulisan tentang Batak, kita selalu lebih mengutamakan sisi positif yang diusung setiap tulisan itu, baik yang disengaja maupun tidak disengaja penulisnya. Untuk itu, kita, Hita Batak, harus berterimakasih sebesar-besarnya kepada semua penulis tentang Batak. Sebab seburuk apa pun niat jahat setiap tulisan itu, pasti mempunyai nilai sejarah positif yang tidak ternilai harganya. Seperti, ketika Herodotus sejarawan Yunani (+ 484-425 sM), menyebut penduduk padaioi (pemakan manusia); Dilanjutkan pada tahun 150-160 M oleh Claudio Ptolomaeus, ilmuwan Mesir menyebut Barussie Anthropophagi (Barussie yang Kanibal) di Taprobana, yang keduanya dirujuk menggambarkan Batak; Justru sangat lebih bernilai sejarah positif tentang keberadaan suku bangsa Batak, sebagai penduduk pertama di Sumatera Utara, yang keberadaannya sudah ‘tercatat’ sejak 450 sM.

Namun, penelaahan kristis (kontemplasi) juga harus dilakukan, terutama dalam hal-hal negatif, dengan menggunakan pisau analisis nilai-nilai luhur kebatakan, untuk menempatkannya secara proporsional sesuai tata nilai kebatakan. Penelaahan kritis, bukan berarti berpikir negatif, melainkan berpikir positif, dengan hati sebagai pusat berpikir, untuk melihat dan meluruskan hal-hal negatif, baik secara objektif maupun subjektif, atau kata lain, secara subjektif berkualitas; Sebab, tidak ada penulisan sejarah yang objektif atau nihil subjektivitas. Dalam pandangan kita, objektivitas penulisan sejarah terletak pada kualitas subjektifnya.

Sebagai contoh, ketika sejarawan (penulis) asing menyebut Si Singamangaraja dan Pasukan Rakyat Batak militan sebagai gerombolan biadab ketika menentang penjajahan Belanda; Pastilah penulisan seperti ini sangat picisan, subjektivitas picisan. Alasan historis apa Belanda merasa berhak menyebut Si Singamangaraja dan para pejuang Batak sebagai gerombolan atau pemberontak di negeri leluhurnya sendiri? Hal seperti itu, sudah pasti ahistoris (berlawanan dengan sejarah), dan tidak bermoral cendekia, atau justru paling tidak beradab (subjektivitas picisan). Secara historis yang paling pantas disebut gerombolan biadab justru semestinya pihak penjajah (kolonialis). Dunia binatang yang sama sekali tidak pernah berpikir tentang sejarah pun, (tetapi) tahu batas-batas historis habitatnya. Tentu, mestinya, binatang tidak lebih beradab (tahu batas historis habitatnya) daripada manusia. Di mata manusia (makhluk paling beradab), binatang itu tidak beradab, tidak tahu sejarah. Makanya, kalau ada manusia tidak beradab, diibaratkan binatang: Singa, harimau, buaya, anjing, monyet, babi dan sebagainya. Sehingga manusia perlu melakukan introspeksi dengan, antara lain, belajar dari ‘peradaban’ binatang, di antaranya tentang ‘tahu sejarah’ batas-batas habitatnya. Dalam konteks Batak, apakah Belanda ‘tahu sejarah batas-batas habitatnya?’ Tidak! Sama sekali tidak!

Bahkan sangat biadab apabila penyesatan informasi itu dilakukan secara sengaja dan terencana, seperti yang dilakukan oleh komunis Soviet untuk membunuh karakter Paus Pius XII dan gereja Katolik, yang berada di titik nadir kampanye kotor Soviet, dimulai di bawah Stalin dan Khrushchev. Sebagaimana diungkapkan Letnan Jenderal Ion Mihai Pacepa, mantan Kepala Intelijen Rumania dan Profesor Rychlak dalam Disinformation, menunjukkan bahwa serangan terhadap Pius diluncurkan dengan siaran Radio Moskow 1945 yang pertama kali menggemakan label yang sangat tidak adil “Paus Hitler”. Soviet memahami bahwa Paus Pius XII adalah ancaman mematikan bagi ideologi mereka, membenci komunisme seperti halnya dia terhadap Nazisme. Dengan demikian mereka me­mulai perang salib yang tidak suci untuk menghancurkan paus dan reputasinya, untuk membuat skandal umatnya, dan untuk menimbulkan perpecahan di antara agama-agama.[1]

Narasi disinformasi, narasi penyesatan dan kebohongan tanpa beban moral. Disinformasi adalah informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk menipu. Kata bahasa Inggris disinformation dari kata bahasa Rusia dezinformatsiya, berasal dari nama sebuah departemen propaganda hitam KGB. Joseph Stalin menciptakan istilah itu, memberinya nama yang terdengar seperti bahasa Prancis untuk mengklaim itu berasal dari Barat. Penggunaan istilah ini oleh Rusia dimulai dengan “kantor disinformasi khusus” pada tahun 1923. Disinformasi didefinisikan dalam Great Soviet Encyclopedia – Ensiklopedia Soviet Besar (1952) sebagai “informasi palsu dengan maksud untuk menipu opini publik.”[2]

Narasi disinformasi juga dialami oleh Raja Imam Si Singamangaraja sebagai personifikasi nilai-nilai luhur Batak, sebagai personifikasi orang Batak, seperti dialami Paus Pius XII tersebut sebagai personifikasi gereja dan jemaat Katolik. Si Singamangaraja disebut keturunan Minangkabau yang dinobatkan Sultan Aceh menjadi Raja Batak, seorang Muslim yang menjadi kafir Sipelebegu, pemakan daging manusia, melarikan istri orang, yang memusuhi misi Kristen dan ingin mengislamkan orang Batak.[3] Narasi sangat brutal dari mutual-simbiosis “Kolonisieren ist Missionieren” umkehren in “Missionieren ist Kolonisieren” (Kolonisasi adalah Misi” sebaliknya “Misi adalah Kolonisasi”.[4]

Kitab Suci mengamanatkan: “Apa yang baik yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah.” (Roma 14:16). Maka, kita harus memulai, laksana apologetika (Apolos) Batak; Jangan dihantui kata terlambat, untuk tidak lagi membiarkan narasi nilai-nilai luhur Batak beristirahat dalam keheningan splendid isolation yang membuatnya selama ini terdistorsi (didistorsi dan didisinformasi) dalam narasi asing yang aneh bahkan jahat. Narasi asing (distorsi, misinformasi dan disinformasi) yang selama ini telah membunuh karakter Batak, dan telah menjadi onggokan limbah kehinaan, kesedihan dan tangisan hati setiap insan Hita Batak, terbungkus dalam kabung unggun asap perapian yang belum kunjung menyala. Saatnya kita menyalakannya, menyalakan api narasi strategi kebudayaan Batak (Apologetika Batak), api narasi yang bersumber dari nilai-nilai luhur Batak, api narasi kontemplasi, yang transfomatif dan kita gelorakan masif kolaboratif. Menyalakan selaksa api obor narasi nilai budaya strategis nan tak kunjung padam (sustainable), sebagai tugas panggilan, tugas suci, untuk menerbitkan sinar mentari filosofi mulia hidup kita, sebagai kekuatan dan obat khasiat terbaik, bukan saja sebagai balsem penyembuhan pendarahan hati yang terluka, tetapi lebih lagi, terutama, untuk merevitalisasi dan memaknai hidup dan kehidupan kita dalam kemuliaannya yang berkodrati Illahi.

Advertisement

Narasi kehidupan baru yang mengubah air mata kesedihan menjadi pancuran air mancur kegembiraan, suka-cita dan kebanggan yang tersepuh dalam kemilau emas platinum dan mutiara gemerlap, yang turun merasuk dalam jiwa (tondi) kita masing-masing; Tidak saja kehidupan jasmani, terlebih lagi kehidupan rohani. Hidup dalam roh (tondi): Horas tondi madingin, pir tondi matogu! Hidup dalam Roh itu adalah doktrin klasik leluhur Batak, jauh sebelum islamisasi dan kristenisasi. Yang, ironisnya, sejak islamisasi dan kristenisasi, justru terdegradasi dan terdistorsi; Yang seyogyanya, hakikat fundamental religiusnya mesti lebih teraplikasi empiris dalam inkulturasi adat dan agama (Kristen maupun Islam dan agama lainnya) yang saat ini dianut masing-masing Hita Batak.

Hakikatnya, narasi itu adalah hal sangat penting dari strategi kebudayaan. Selain mempunyai karsa yang berkekuatan raksasa secara internal, juga berkekuatan dahsyat secara eksternal; Untuk memulihkan, merevitalisasi dan mengembangkan karakter Batak yang sudah sejak ribuan tahun lalu dibunuh oleh narasi-narasi pihak asing. Antara lain, dengan mengubah dan memalsukan cerita, turiturian, dongeng, sejarah Batak; Menyebut Batak tidak bermoral, tidak beradab, kanibal, bahkan memakan daging orangtua dan saudaranya sendiri, pendendam, tidak punya tatakarama dan sopan-santun (adat), tidak menghargai wanita, dan tidak mampu berpikir hal yang abstrak seperti adanya Tuhan, dan lain sebagainya. Padahal, sejak leluhur hingga hari ini, orang Batak hidup dalam sistem nilai peradabannya, Trisila (tiga habisuhon) ideologis Batak. Tetapi, sangat sedikit cerita dan narasi tertulis tentang nilai-nilai luhur peradaban ini; Lebih dominan sebagai cerita dan narasi lisan (oral story) yang secara empiris faktual hingga hari ini.

Kekuatan strategi kebudayaan itu adalah cerita dan narasi yang terdistribusikan luas, masif.

 

Cuplikan Pendahuluan Buku Hita Batak A Cultural Strategy. Informasi lebih lengkap: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1]   Pacepa, Ion Mihai, Lt. Gen. & Rychlak, Ronald J. Prof., 2013: Disinformation: Former Spy Chief Reveals Secret Strategies for Undermining Freedom, Attacking Religion, and Promoting Terrorism; Washington: WND Books, p. Foreword.

[2]   Disinformation, 12/9/2020: https://en.wikipedia.org/wiki/Disinformation.

[3] Freudenberg, R., 1904: Onder de Bataks op West-Sumatra, Lichtstralen op den Akker der Wereld, II-III, Rotterdam: M. Bredée, b.48; Tobing, Tiurma L. Dra, 2008: Si Singamangaraja XII, Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Direktorat Nilai Sejarah, Jakarta: Razika Almira, h. 61.

[4] Paczensky, Gert von, 1991 (2000): Verbrechen im Namen Christi Mission und Kolonialismus, München: Orbis Verlag. s.224.

 

1 KOMENTAR

  1. Terobsesi untuk munculnya apologet-apologet habatahon seperti para apologet Kristen yang saat ini banyak bermunculan di YouTube yaitu apologet Batak yang mampu berdialog dengan pemirsanya dengan kemampuan literasi yang memadai.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here