Awal Silsilah Marga Batak

Kearifan Mitologi Batak

 
0
338
Silsilah Batak dan Awal Kekerabatan Dalihan Na Tolu

Silsilah (Tarombo) Suku Bangsa Batak adalah kearifan Mitologi Batak yang sangat filosofis dan strategis. Mitologi penciptaan manusia (Ihat Manisia dan Itam Manisia) adalah sumber (awal) silsilah marga-marga Batak. Sama seperti (komparasi) Genesis penciptaan Adam dan Hawa yang menjadi sumber silsilah suku bangsa Ibrani.

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

Kesadaran pertama yang mesti didalami bahwa silsilah suku bangsa-bangsa di dunia, di antaranya (komparasi Batak dan Ibarani), adalah bersumber dari mitos yang religius.[1] Mitos Batak dikategorikan sebagai dongeng suci mitologi dan teogoni; Mitos Ibrani dikategorikan sebagai dongeng suci wahyu dan teologi. Namun secara filosofis (logika sebab-akibat, rasionalisme), hakikatnya adalah sama-sama tidak logis; Tetapi merupakan mitos religius, mitos suci, metafisis, yang diyakini kebenarannya (religi) oleh masyarakat penganutnya. Mitos atau mitologi atau wahyu itu mengawali, menginspirasi dan mengilhami pemikiran-pemikiran filsafat, nilai-nilai ideal, sistem sosial, adat dan hukum, serta budidhaya manusia lainnya, dalam hubungannya dengan Tuhan penciptanya, dengan sesama manusia, dan alam semesta, atau dalam konteks mitologi Batak, harmonisasi hubungan makrokosmos dan mikrokosmos. Hal inilah yang mutlak mesti didalami le­bih dahulu untuk memahami silsilah secara arif dan bijaksana, dengan menempatkan hati sebagai pusat berpikir (kecerdasan iman); Tidak cukup dengan menempatkan otak sebagai pusat berpikir (kecerdasan intilektual). Kedalaman hati (iman) jauh melampaui akal.

Dalam kearifan inilah The Hilltop Theory (Hita Batak) mendialogkan Mitologi Batak dengan kajian sejarah leluhur Batak. Mitologi Batak mengisahkan bahwa kelahiran pasangan manusia pertama (Ihat Manisia dan Itam Manisia) adalah di Sianjur Mulamula, kaki Pusuk Buhit, pantai indah Danau Toba. Ihat Manisia dan Itam Manisia adalah cicit Debata Mulajadi Nabolon; Cucu Debata Batara Guru dari putera dan puterinya Si Raja Odapodap dan  Si Boru Deak Parujar, sang Dewi pencipta Bumi suruhan Debata Mulajadi Nabolon.

Sementara, dari sudut pandang kajian sejarah, The Hilltop Theory (Teori Pusuk Buhit) berkeyakinan bahwa suku bangsa Batak berasal dan bermigrasi (estafet nomaden) mulai sejak tahun 4500 sM dari Mongolia, ke Formosa, ke Yunnan di mana Medan bin Abraham berasimilasi (menikahi puteri Ras Malayan Mongoloid, sebagai leluhur Batak), menyusuri perbatasan Burma-Siam, menyeberangi kepulauan Andaman dan Nikobar, hingga ke Lobu Tua, Barus dan ‘menetap’ di Pusuk Buhit, Tanah Batak, tahun 1250 sM. Kemudian, tahun 802, suku bangsa Batak sudah semakin berkembang sehingga memantapkan pengaturan kemasyarakatan untuk menjaga keseimbangan kehidupan yang berkaitan dengan kepecayaannya kepada Debata Mulajadi Nabolon, sebagai pencipta semesta alam, yang dikenal dalam kosmologi (kosmogoni) Batak sebagai makrokosmos dalam tiga atmosfir mikorkosmos dan turunannya yakni Banua Ginjang, Banua Tonga dan Banua Toru; Yang dikuasai tiga Debata yakni Batara Guru menguasai Banua Ginjang; Soripada menguasai Banua Tonga; dan Mangala Bulan menguasai Banua Toru.

Dalam dialog mitologi dan kajian sejarah asal-usul leluhur Batak (The Hilltop Theory) berkesimpul­an, bahwa di kawasan isolasi terindah dan puncak bukit penyembahan terbaik (Pusuk Buhit)-lah[2] para pemimpin (raja-raja), malim dan pujangga hebat leluhur Batak terilhami menuturkan (merekonstruksi dan merevitalisasi) Mitologi Batak untuk tujuan mulia, mewariskan nilai-nilai kearif­an sebagai jatidiri, masterplan dan strategi kehidupan suku Bangso Batak dalam segala aspek, guna menata dan menjamin keutuhan, keteraturan dan kesinambung­an sistem kekerabatan Suku Bangso Batak dari satu generasi ke generasi berikutnya melintasi tantangan segala zaman, dahulu, kini dan masa depan.

Guna menciptakan keteraturan dan keseimbangan hidup masyarakat tersebut, Mitologi Batak pun melahirkan silsilah sebagai komponen utama sistem kekerabatan sebagai representasi Debata dan ketiga atmosfir mikrokosmos tersebut, yang dinamai Dalihan Na Tolu Paopat Sihalsihal, yakni Hulahula (Mora, Kalimbubu) sebagai representasi Batara Guru dan Banua Ginjang; Dongan Sabutuha (Kahanggi) sebagai representasi Soripada dan Banua Tonga; dan, Boru (Beru) sebagai representasi Mangala Bulan dan Banua Toru. Tatanan ini mulai diterapkan pada generasi ketujuh Silsilah Mitologi Batak, yakni Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon, sebagai nama eponim baik pribadi maupun kelompok). Dimana Guru Tatea Bulan diposisikan sebagai Hulahula (pemberi puteri/asal isteri atau parboru) disimbolkan sebagai Bulan; dan Raja Isumbaon sebagai Boru (pengambil puteri atau paranak) disimbolkan sebagai matahari; dan masing-masing bersaudara (parboru dan paranak) sebagai Dongan Sabutuha (Kahanggi, Senina); Serta, para tetangga, sahabat dan raja-raja sebagai Sihalsihal (Batu pengela dalam tungku nan tiga, yang mempunyai peranan penting dan strategis di keluarga masing-masing parboru dan paranak).

Silsilah Mitologi Batak tersebut sebagai berikut: Debata Mulajadi Na Bolon mempunyai tiga putera, yakni 1) Debata Batara Guru/Dewi Si Boru Pareme; 2) Dewata Soripada/Dewi Si Boru Parorot; 3) Debata Mangala Bulan/Dewi Si Boru Panuturi.

Debata Batara Guru memperanakkan Dewa Si Raja Odapodap dan Dewi Si Boru Deak Parujar, yang menjadi pasangan suami-istri yang melahirkan pasangan Ihat Manisia dan Itam Manisia, sebagai pasangan manusia pertama. Ihat Manisia/Itam Manisia mempunyai tiga putera, yakni 1) Si Raja Miokmiok; 2) Si Patundal Nabegu (merantau ke utara); 3) Si Aji Lampaslampas (merantau ke Timur).

Si Raja Miokmiok (Si Medan bin Abraham)/Boru Mansur Purnama mempunyai satu putera yakni Eng Banua/Boru Siuman, yang mempunyai tiga putera, yakni 1) Si Raja Ujung (Gayo-Alas); 2) Eng Banua atau Si Raja Bonangbonang/Boru Lean Balabulan; 3) Si Raja Jau (Si Niha-Si Manteu). Eng Banua atau Si Raja Bonangbonang/Boru Lean Balabulan mempunyai satu putera yakni Si Raja Tantan Debata. Si Raja Tantan Debata/Boru Pagan Siam mempunyai satu putera yakni Si Raja Batak.

Advertisement

Si Raja Batak/Boru Raung Siam memiliki dua putera yakni 1) Guru Tatea Bulan; 2) Raja Isumbaon. Guru Tatea Bulan/Boru Baso Burning memiliki lima putera yakni Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Malau Raja; dan lima puteri,  yakni 1) Si Boru Pareme, 2) Si Boru Anting Malela (Sabungan), 3) Si Boru Biding Laut, 4) Si Boru Paromas (Sanggul Haomasan atau Si Bunga Haomasan) dan 5) Nantinjo; dan tiga di antaranya menjadi isteri Sori Mangaraja.

Si Raja Isumbaon, menikah dengan putri pamannya Si Boru Eng Nauli dari Siam, mempunyai tiga orang anak yaitu 1) Sori Ma­ngaraja; 2) Raja Asiasi dan 3) Sangkar Somalindang. Sama dengan tradisi kakek-neneknya, hanya Sori Mangaraja (Sri Mahraj, Sansekerta) yang tinggal di sekitar Sianjur Mulamula. Sedangkan dua lagi putra Raja Isumbaon pergi merantau. Raja Asiasi (Raja Kacikaci) atau Haro ke Tanah Karo dan Sangkar Somalindang ke Pakpak-Dairi.

Tuan Sorima­nga­raja mempunyai tiga istri yaitu Si Boru Anting Malela, Si Boru Biding Laut dan Si Boru Sanggul Hoamasan (Ketiganya adalah putri Guru Tatea Bulan, abang dari Raja Isumbaon). Sebagai awal dimulainya sistem kekerabatan DNT. Kedua keturunan Si Raja Batak tersebut dilambangkan dengan bulan dan matahari. Guru Tatea Bulan di­lambangkan dengan bulan, yakni golongan pemberi perempuan (Parboru) atau hulahula; Raja Isumbaon di­lambangkan de­ngan matahari, yakni golongan pihak laki-laki (Paranak) atau golongan penerima boru.

Dari ketiga istrinya tersebut, Sori Mangaraja mempunyai tiga putera yaitu 1) Tuan Sorbadijulu atau Raja Nabolon, anak dari istri pertama Si Boru Anting Malela, digelari Naiambaton; 2) Tuan Sorbadijae, atau Raja Mangarerak disebut juga Datu Pejel, anak dari istri kedua Si Boru Biding Laut, digelari Nairasaon); 3) Tuan Sorbadibanua, anak dari istri ketiga Si Boru Sanggul Hoamasan, digelari Naisuanon.

Dari keturunan kedua anak Si Raja Batak inilah (Guru Tatea Bulan dan Si Raja Isumbaon) lahir dan menyebar semua marga-marga keturunan Si Raja Batak, suku dan subsuku Batak, yang kemudian disebut Suku Bangso Batak; Baik secara kelahiran maupun ain (adopsi) patrilineal.

Sumber silsilah itu adalah narasi mitologi yang bermuara pada sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu (DNT). Dapat dimaknai bahwa mitologi itu dinarasikan untuk membentuk sistem kemasyarakatan Dalihan Na Tolu dan semua turunan hukum dan adat Batak. Itu adalah kearifan, tatkala populasi orang Batak, sejak 1250 sM sudah berkembang, maka pada tahun 802 M ‘dideklarasikan’ dua kelompok induk marga-marga Batak yakni kelompok Guru Tatea Bulan sebagai Parboru (Hulahula) dan kelompok Raja Isumbaon sebagai Paranak (Boru) dalam lembaga pernikahan eksogami, yang merupakan awal dimulainya sistem kekerabatan DNT. Pembagian menjadi dua kelompok utama tersebut mulai diberlakukan setelah berabad-abad sebelumnya, sejak perjalanan besar orang Batak ke Pusuk Buhit, Danau Toba.[3] WKH Ypes menyebut titik awal dari bagian nyata dari sejarah Batak mungkin jatuh pada periode ketika gerakan rakyat sampai batas tertentu untuk beristirahat, yaitu setelah enam kelompok populasi yang disebutkan masing-masing telah menempati wilayah mereka sendiri.[4]

Menurut WKH Ypes, hubungan yang sama-sama dinyatakan di antara suku-suku itu mengarah pada fakta bahwa masing-masing dari mereka, apakah dengan batang (marga) tambahan atau tidak, memastikan wilayah pengembaraannya sendiri, lingkup pengaruh, yang selanjutnya berkembang menjadi lingkaran pengambilan keputusan ketika mereka mampu mempertahankan diri di wilayah tersebut. Hubungan kembali antara dua suku tetangga, mungkin diperoleh melalui pernikahan.[5]

Awalnya hanya ada dua kelompok (induk marga), kemudian berkembang menjadi beberapa kelompok marga, kemudian pernikahan antarinduk marga pada tingkat tertentu diperbolehkan melalui kesepakatan musyawarah adat.

 

Cuplikan dari Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 1 Bab 5.2. Selengkapnya baca buku tersebut. Informasi lebih lanjut: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1]   Mitologi Batak: Bab.2.3.4: Lahirkan Kekerabatan Egaliter, h.282-285.

[2]   Pusuk Buhit sebagai simbol, icon, landmark pembumian majemuk dari asal-usul penciptaan alam Banua Tonga (Benua Tengah) dan manusia Adam Batak (Raja Ihat Manisia) sampai manusia pribadi majemuk Si Raja Batak dan keturunan (silsilah)-nya. Bermakna, bisa mungkin kisah itu telah dimulai di pedalaman puncak pegunungan Formosa dan Yunnan serta pegunungan perbatasan Burma dan Siam, namun para leluhur Batak, sebagai salah satu subsuku Proto Melayu ras Malayan Mongoloid, sebagai mainstream migration setelah menemukan Pusuk Buhit sebagai suatu tempat puncak bukit splendid isolation penyembahan terbaik kepada Mulajadi Nabolon, menuturkan (merekonstruksi dan merevitalisasi) mitologi Batak itu bermula di Pusuk Buhit. Sangat mungkin komunitas Batak yang tinggal di Tanah Karo (Batak Karo) menuturkannya bermula di puncak Gunung Sibayak atau Gunung Sinabung; Atau Batak Angkola menuturkannya berawal dari Bakara; Atau Batak Mandailing menuturkannya bermula di puncak Gunung Sorik Marapi (Sibanggor Julu); Atau Batak Pakpak Dairi menuturkan mitologi itu bermula di puncak Gunung Pakpak, Dolok Adiangbatang atau Delleng Simpon.

[3]   Bandingkan: Ypes, W.K.H., 1932: b.7.

[4] W.K.H., 1932: b.7.

[5]  W.K.H., 1932: b.8.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here