Gerrit van Asselt Pionir Misi Kristen Batak

Apostel Sisuan Bulu Kristen di Tanah Batak

 
0
66
Gerrit van Asselt dan isterinya Dina Malga, 1906. Koleksi Van Asselt.

Periode Sisuan Bulu atau periode Awal Pembibitan atau Pembibitan Pertama (1857-1878) Misi Kristen di Tanah Batak dimulai (pionir) Gerrit van Asselt sendirian selama dua tahun (1857-1859) dari Zending Ermelo, Zendingscorporatie independen, Belanda, dan disusul tiga zendeling Ermelo lagi (1859) yakni W. F. Betz, J. Dammerboer dan J. Ph. D. Koster, serta disusul dilanjutkan bersama para misionaris lainnya di bawah naungan Reinische MissionsGessellschaft (RMG), Barmen, Jerman, sejak 7 Oktober 1861.

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

 

Gerrit van Asselt adalah zendeling Sisuan Bulu[1] pertama pembibitan Injil di ladang persamaian Tanah Batak. Dia adalah zendeling Belanda pertama (sendirian) yang dikirim ke Sumatra[2] dan Tanah Batak (1857). Juga menjadi pendahulu para misionaris Rheinlsche Missionsgesellschaft (RMG) Barmen, Jerman, yang datang menyusul 1861 ke Tanah Batak. Gerrit van Asselt adalah Misionaris Sisuan Bulu bagi orang Batak, atau kalau boleh patut disebut Apostel Sisuan Bulu di Tanah Batak. JM. Wansink seorang Kepala Sekolah Kristen di Zwolle mengutip Johannes Warneck (Sechzig Jahre Batakmission in Sumatra, 1914), mengatakan selama bertahun-tahun, misionaris van Asselt bekerja dengan berkat di antara orang Batak, untuk memerangi paganisme dan Islam yang mengganggu.[3]

Sejak awal, Van Asselt berkeyakinan bahwa Tuhanlah yang menunjukkan jalan-Nya sendiri: Bukan atas kemauan dan kemampuan Van Asselt sendiri. Tanpa mengetahui dari suku mana ia harus memulai pekerjaannya,[4] Tuhan yang memanggil dan mengutus Van Asselt untuk melanjutkan penanaman bibit (boni) Injil di Tanah Batak yang telah lebih dahulu diusung  oleh Martir Munson dan Lyman (28 Juni 1834).

Bagaimana kisahnya Van Asselt sehingga menjadi missionaris di Tanah Batak? Sebagaimana ditulis R. Freudenberg (1904) dalam Onder de Bataks op West-Sumatra (Bersama orang Batak di Sumatra Bagian Barat), bahwa pada tahun 1850, Ds. H. W. Witteveen di Ermelo dan jemaatnya mengundurkan diri dari Asosiasi Gereja Reformed karena berba­gai alasan dan mendirikan sebuah gereja misionaris (Zending Ermelo) untuk misi internal dan eksternal. Pada waktu itu niat mendirikan gereja misionaris tersebut muncul, ketika seorang anggota muda mengatakan kepada­ Witteveen dan jemaat bahwa dia merasa dipanggil menjadi misionaris (zendeling), yang kemudian diarahkan Tuhan jalan-Nya ke Tanah Batak. Anak muda itu adalah Gerrit van Asselt (berusia 24 tahun ketika baru tiba di Tanah Batak). Pendeta Witteveen dan jemaat memutuskan menerima ‘tantangan’ Van Asselt tersebut.

Persiapan berliku dilakukan di Ermelo dan kemudian di Amsterdam. Lalu pria muda ini, Gerrit van Asselt, ditahbiskan sebagai pendeta missionaris Gereja Ermelo pada 17 Mei 1856, dan diutus untuk bekerja melayani orang Batak, dengan dukungan Pendeta Witteveen dan jemaatnya serta Asosiasi Misi Wanita Amsterdam (Amsterdamsche Vrouwenzendingsvereeniging). Van Asselt juga dibekali dengan hasil perjalanan dan penelitian Dr. Junghuhn (1840), dan  penelitian Bahasa Batak oleh Dr. van der Tuuk.[5]

Sebagaimana juga ditulis dalam ‘Beknopte Mededeelingen Uit Het Leven van den Zendeling G. van Asselt in Sumatra’ (Catatan Singkat dari Kehidupan Misionaris G. van Asselt di Sumatra), diuraikan bahwa tahun 1856, pemuda Gerrit van Asselt, terlebih dulu menjalani masa pembekalan (pelatihan) di Amsterdam dan sudah mulai belajar bahasa Melayu.[6]

Gerrit van Asselt tiba di Tanah Batak pada tahun 1857, yang diutus Zending Ermelo dan Asosiasi Misi Wanita Amsterdam, Belanda secara mandiri tanpa pembiayaan operasional berkala. Tetapi Tuhan menunjukkan jalan-Nya sendiri yang semula tak tak terpikirkan, sehingga dia dapat menjalankan misi rintisan­nya dengan baik. Dia menjadi pionir, sebagai misionaris pertama yang berhasil mengajarkan Injil di Tanah Batak.

Memang, Gerrit van Asselt bukanlah misionaris pertama yang tiba di Tanah Batak, tetapi dialah misionaris pertama (pionir) yang berhasil melakukan perintisan pengajaran Injil dan proses pertobatan (evangelisasi) di Tanah Batak. Setelah mendalami kisah penginjilan zendeling Van Asselt di Tanah Batak, sesungguhnya dia tidak hanya pantas disebut sebagai pionir misionaris di Tanah Batak, tetapi kalau boleh sangat sepatutnya digelari Apostel Batak Pertama (Eerste Batak-apostel).

Advertisement

Bagaimana Van Asselt melayani perintisan dan pembibitan pengajaran Injil di Tanah Batak? Selanjutnya, penulis mengelaborasi dari buku ‘Beknopte Mededeelingen Uit Het Leven van den Zendeling G. van Asselt in Sumatra’ (penulis anonim, ca 1895); dan buku yang ditulis Gerrit van Asselt sendiri: Vader en Zoon. Twee Batta-Christenen (Ayah dan Anak. Dua Kristen Batak), 1900; dan, Achttien Jaren Onder de Bataks (Delapan Belas Tahun Bersama Batak), 1906; dan buku yang ditulis oleh S. Coolsma, 1901: De Zendingseeuw voor Nederlandsch Oost-Indië (Abad Misionaris untuk Hindia Belanda); dan yang ditulis Guru Zending JK Meerwaldt (1903): “Pidari” of De strijd van bet licbt tegen de duisternis in de Bataklanden (“Pidari” atau Pertempuran antara kegelapan di Tanah Batak); serta yang ditulis R. Freudenberg (1904) dalam Onder de Bataks op West-Sumatra (Bersama orang Batak di Sumatra Bagian Barat); dan sumber-sumber lainnya.

Sebagaimana diuraikan pada periode Perintis Embun (Sitastas Nambur) sebelum kedatangan Van Asselt, telah lebih dahulu datang: 1) Richard Burton dan Natanael Ward sebagai Sitastas Nambur Pangalaosi (pelintas perintis embun) tahun 1824; 2) Samuel Munson dan Henry Lyman sebagai Sitastas Nambur Siboan Boni (perintis embun pembawa benih Injil) pada Juni 1834; 3) Dr. Hermanus Neubronner van der Tuuk sebagai Sitastas Nambur Sibungka Pintu (perintis embun pembuka pintu) pada 1849-1856.

Berliku jalan-Nya menganugerahkan keselamatan bagi orang Batak. Siapa pun tidak bisa menduga dan menghalangi pilih­an dan kehendak Tuhan. Tuhan sendirilah yang memilih jalan-Nya di Tanah Batak, bukan atas kehendak siapa pun, bukan atas permintaan orang Batak sendiri atau keinginan para misionaris, Burton dan Ward, Munson dan Lyman, Van Asselt, Nommensen, Warneck dan lain sebagainya.

Atas kehendak dan penuntunan jalan-Nya, Van Asselt kemudian datang (1857) dan disusul para misionaris lainnya. Van Asselt pun mengajar dan membabtis dua orang Batak pertama menjadi Kristen yakni Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon (31 Maret 1861), sebelum RMG resmi menjalankan misinya di Tanah Batak. Kemudian, pada tahun 1868, cucu lelaki tua yang menolak misionaris Ward dan Burton itu, telah diubah menjadi beragama Kristen melalui penginjilan Nommensen. Dia adalah Raja Pontas Lumbantobing yang terkenal dan pe­ngaruhnya tidak kurang dari kakeknya, yang kemudian bernama Obadja. Asselt mengutip Nommensen yang menyatakan: Dia (Raja Pontas) adalah Batak paling bijaksana yang saya kenal;”[7] Walaupun dalam perspektif lain ada perbedaan pandangan tentang hal ini.

Penulis memandang, era Van Asselt dkk (1857 sampai 1878) adalah merupakan era perintisan pengajaran Injil dengan proses pertobatan (evangelisasi) yang dilakukan para misionaris secara persuasif (kasih) di Tanah Batak, tanpa secara berlebihan menggunakan (memperalat) kekerasan, intimidasi dan penindasan, mendompleng kekuasaan feodal-kapitalis Belanda (kristenisasi). Kendati Van Asselt pada awal kedatangannya adalah merangkap bertugas sebagai pejabat pemerintah (pengawas budaya) yang ditugaskan Gubernur Jenderal Swieten,[8] dia selalu melakukan pendekatan dialog, kasih, dan kemanusiaan, tanpa intimidasi dan kekerasan sekalipun untuk tujuan baik dan suci.

 

Cuplikan buku Hita batak A Cultural Strategy. Siapa Gerrit van Asselt dan bagaimana dia menjadi misionaris pionir di Tanah Batak? Selengkapnya baca Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 3. Informasi lebih lanjut, kunjungi: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1] Sisuan Bulu: Bahasa Batak, arti harfiah katanya sisuan, penanam; bulu, bambu; penanam bambu. Sisuan Bulu istilah sebutan bagi seseorang atau sekelompok orang satu marga, yang pertama sekali membuka perkampungan di suatu tempat, hal mana di setiap kampung tradisional Batak selalu ditanami bambu sebagai tembok benteng. Sisuan Bulu itulah atau/dan keturunannya yang berhak menjadi raja di wilayah huta (kampung) itu, dia juga berkuasa memberikan izin atau tidak orang lain tinggal di wilayah itu.

[2] Coolsma, S., 1901: bl.307.

[3] Wansink, J.M., 1930: bl.53.

[4] Hemmers, JH., 1928: bl.8.

[5] Freudenberg, R., 1904: Onder de Bataks op West-Sumatra, Lichtstralen op den Akker der Wereld, II-III, Rotterdam: M. Bredée, p.10-11.

[6] Asselt, G. van, ca.1895: Beknopte Mededeelingen Uit Het Leven van den Zendeling G. van Asselt in Sumatra, Amsterdam: Halfstuivers Vereeniging der Rijnsche Zending – Höveker & Zoon, p.6.

[7] Asselt, G. van, ca.1895: p.5.

[8] Asselt, G. van, 1906: Achttien Jaren Onder de Bataks, Rotterdam: D.A. Daamen, p.21.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here