Dialog Raja Adat Bahalbatu dengan Misionaris

Menguak Tabir Intelijen Belanda

 
0
76
Rumah darurat di Toba setelah Ruma Batak dibakar Belanda. Foto Modigliani 1894

Sebagai pencerahan, buku Hita Batak A Cultural Strategy mengungkapkan kisah dialog para Raja-raja Adat di Bahalbatu dengan tuan-tuan misionaris (1875-1876) sebelum pernyataan perang (Pulas) Batak (1878). Dari hasil dialog tersebut, akhirnya para raja sepakat menerima Roh Baru yang dibawa para misionaris. Tetapi tuan-tuan misionaris malah memutar-balik, untuk menyesuaikan dengan scenario intelijen strategis kolonial. Sebuah proses kristenisasi berkekuatan dunia kegelapan.

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

Berikut ini, petikan Bab 8.2.2 buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 2 bertajuk “Menguak Tabir Intelijen Belanda.’ Hal mana Departemen Perang Kolonial Belanda sangat matang mempersiapkan aneksasi Tanah Batak Merdeka. Target pertama dan utama adalah menaklukkan De jeugdige Priester-koning (Raja Imam Muda) Si Singamangaraja XII. Berselancar dalam Gerbong Suci di atas rel yang dikondisikan dan dikendalikan intelijen tempur strategis Kolonial.

Ketika Pos Misi Bahalbatu dirintis sejak awal tahun 1875 dan ‘resmi’ didirikan 10 Oktober 1876, tidak pernah ada gangguan kekerasan terhadap pos pekabaran Injil tersebut, yang ada adalah dialog (pertanyaan) dari raja-raja setempat tentang ajaran agama Kristen dibandingkan dengan nilai-nilai dan kepercayaan leluhur Batak.

Sebagai pencerahan, untuk Hita Batak dan dunia intelektual yang beradab, berikut ini sepenggal narasi dalam biografi Nommensen tentang suasana pembukaan Pos Misi Bahal Batu:

“Penduduk sangat bergembira karena kedatangan pendeta-pendeta itu. Tetapi lawan-lawan dari para raja yang menerima pendeta itu sangat benci dan berusaha mencelakakan mereka. Mereka bertanya kepada datu manakah yang disukai oleh roh nenek moyang, para pendeta diusir dari negeri mereka, atau seekor kerbau sebagai gantinya. Datu ini memiliki seekor ayam putih dan berkata: ‘Kerbau itulah diusir ganti mereka.’ Maka mereka mengusir seekor kerbau dari daerah itu.”[1]

Narasi pendek yang sangat inspiratif! Kita ulangi membacanya dalam hati yang jernih (berdoa sebelum merenungkan ulang dalam hati, kontemplasi): “Penduduk sangat bergembira karena kedatangan pendeta-pendeta itu.”  Ya, seperti umumnya di semua huta para misionaris itu disambut dengan pesta jamuan makan meriah sekampung dan/atau beberapa kampung dan sangat dihormati sebagai tamu asing yang bermaksuid baik. Kalimat berikutnya: “Tetapi lawan-lawan dari para raja yang menerima pendeta itu sangat benci dan berusaha mencelakakan mereka.” Sangat baper dan mendramatisasi seolah-olah para misionaris itu sangat dibenci dan terancam dibunuh, bahkan mereka sering menyebut hendak dimakan orang Batak kanibalis yang biadab. Bagaimana mereka bisa berkesimpulan bahwa mereka sangat dibenci raja-raja yang lain. Bukankah ini tergolong insan negative thinking; Atau berbohong? Atau bagian dari politik devide et impera?

Tapi, amsal leluhur Batak mengatakan: “Jempek do pat ni gabus” (Kaki kebohongan itu pendek – Het lege been is kort). Kita renungkan lagi dalam hati Hita Batak, lanjutan kata berikut­nya: “Mereka bertanya.” Berhenti dulu! Para raja itu bertanya. Mereka pasti ingin berdialog dengan para misionaris tentang prinsip-prinsip dogma Kristen dan untuk dikomparasi dengan prinsip-prinsip nilai-nilai kepercayaan adat Batak, sebagaimana umumnya dilakukan para raja, mulai ketika menerima kunjung­an Burton dan Ward di Silindung (1824), Gerrit van Asselt di Sipirok dan Silindung (1857-1862), Nommensen di Silindung (1862), Warneck di Samosir (1894), dan lain sebagainya, mereka selalu disambut jamuan pesta besar-besaran dan dilanjutkan dengan dialog (perdebatan religius).[2]

Lanjutan kalimat berikutnya, kendati tidak langsung menyebut hal tersebut, tapi pasti berkaitan dengan bertanya sebagai kelanjutan dari dialog perdebatan religius. Mari kita pikirkan lagi dalam hati: “Mereka bertanya kepada datu manakah yang disukai oleh roh nenek moyang, para pendeta diusir dari negeri mereka, atau seekor kerbau sebagai gantinya?” Setelah berdialog, mereka (raja-raja) itu mencari jalan keluar, sesuai dengan kepercayaan mereka, bertanya (religius) kepada datu dengan memberi alternatif: Mengusir pendeta (roh yang dibawa pendeta) atau mengorbankan kerbau (dan rohnya) sebagai gantinya? Sebuah kecerdasan hati yang sangat bisuk (berhikmat). Sebab kesempurnaan kalimat ini, dalam renungan hati Hita Batak, pasti bermakna demikian: “Bisakah kita mengorban­kan mengusir kerbau sebagai ganti (daripada) pendeta ini?” Inilah salah satu inti hati (religius) yang tidak dipahami oleh orang asing, terutama para misionaris, tentang orang Batak; Bahwa totalitas hidup orang Batak adalah hidup dalam persekutuan dengan roh (tondi), detik demi detik, mesti hidup dalam (bersama) roh secara total.

Dalam kepercayaan leluhur Batak (Mitologi Batak), harus dijaga keseimbangan makrokosmos dan mikrokos. Jika para pendeta itu diterima akan ada ‘roh baru’ yang akan masuk dalam komunitas mikrokosmos Batak yang bisa menyebabkan dishamoni dengan makrokosmos yang dikuasai oleh Debata Mulajadi Nabolon, baik secara imanen maupun transenden. Maka untuk menjaga keseimbangan ‘roh’ komunitas mikrokosmos Batak dengan masuknya ‘roh baru’ yang dibawa pendeta, harus ada roh yang harus dikorbankan (diusir atau dikeluarkan), dalam konteks ini, para raja itu memberi alternatif, yang diusir adalah roh kerbau bukan ‘roh baru’ para misionaris.

Advertisement

Hal ini bermakna, sesungguhnya para raja itu sudah memikirkan, merenungkan dan merasakan dalam hatinya, bahwa ajaran Trinitas Kristen itu kompatibel dengan nilai-nilai kepercayaan adat Batak, paling tidak, tidak bertentangan. Mereka mau membuka pintu kepada Roh Baru. Lalu, mereka bertanya kepada ‘pendeta datu’ (Sibaso), tetapi dengan memberi alternatif: Korbankan roh kerbau!

Mari simak dalam hati Hita Batak, berikutnya, hal yang sangat surprise: “Datu ini memiliki seekor ayam putih dan berkata: ‘Kerbau itulah diusir ganti mereka.’ Maka mereka mengusir seekor kerbau dari daerah itu.” Bukankah hal ini suatu hal yang sangat surprise. Menakjubkan! Datu sebagai peramal Parhalaan (Astronomi Batak) biasanya menggunakan medium seekor ayam putih. Dan, hasil ramalan astronomi Pahrhalaan-nya, sangat surprise: Kurbankan roh kerbau untuk menerima ‘Roh Baru’ yang diusung para pendeta ini! Itulah sesungguhnya makna hakikinya: Terima Injil, Roh Kudus, masuk dalam roh komunitas makro-mikrokosmos Batak!

Sungguh menakjubkan. Para misionaris, secara religius telah dibuka pintu untuk lebih menjelaskan bahwa Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Sang Khalik Mahabesar) yang mereka hendak ‘beritakan’ adalah Debata Trinitas yakni Bapa, Anak dan Roh Kudus; Debata Sang Khalik Mahabesar, Anak (Firman, Jesus Kristus) penebus dosa dan menganugerahkan keselamatan, dalam persekutuan di dalam Roh Kudus. Tondi Porbadia; Tondi ni Debata, yang melampaui semua Tondi, baik Tondi diri sendiri, Sumangot dan Sombaon. Ganti semua Tondi du­nia itu dengan Tondi Porbadia (Roh Kudus). Hiduplah secara total, detik demi detik, dalam persekutuan Roh Kudus. Sangat menakjubkan jika hal ini ditempuh (dipahami) para misionaris; Bukan dengan menista kepercayaan leluhur Batak itu, tetapi akan sangat lebih bernafas Injil dengan menghargainya sebagai kepercayaan yang luhur (bukan kafir) yang belum sempurna, dan akan disempurnakan (dikuduskan) dengan kepercayaan wahyu dengan kitab suci Injil.

Tapi, Nommensen dan para misionaris itu kurang memahaminya. Atau pura-pura kurang memahaminya, seperti intelijen yang sudah punya target. Bukankah mereka merasa jauh lebih cerdas dan lebih beradab dari orang Batak, sehingga di Tanah Batak pun mereka mesti dipanggil tuan-tuan? Mereka malah berpikir dengan akal Eropanya, sebaliknya. Membawa agama Kristen dengan Injil terdistorsi, berkebaktian (serimonial) sekali dalam seminggu dan kehilangan kontemplasi pribadi (pergi ke puncak bukit atau mengunci bilik dalam suasana hening) dan persekutuan dengan Roh Kudus setiap detik. Persis seperti pengalaman umat Kristen Afrika yang memprotes misionaris yang mereka rasakan telah mengambil dari mereka sebuah agama yang meletakkan tangannya, baik atau buruk, atas seluruh kehidupan, dan memberi mereka agama yang hanya dipraktikkan pada hari Minggu![3]

Para misionaris malah menempuh jalan kristenisasi yang diwarnai penistaan dan kebencian. Terlihat dari kalimat lanjutan langsung dalam biografi Nommensen tersebut, sbb:

“Meskipun demikian dendam mereka terhadap tuan-tuan itu masih terpendam dan mereka hanya menunggu ke­sempatan yang baik.”

Sangat sedih rasanya membaca dalam hati, kalimat tuan-tuan misionaris ini. Ini adalah perkataan duniawi kegelapan, kepen­tingan dunia imperialisme kolonial: Bahasa intelijen kolonial! Bagaimana para tuan misionaris itu tega hati menyatakan raja-raja Batak di sekitar Bahalbatu itu yang sudah menerima mereka dengan baik dan diajak berdialog,  dan membuka pintu masuknya ‘Roh Baru’ (Roh Kudus, Injil) tapi malah dituduh ‘masih mendendam dan hanya menunggu kesempatan yang baik untuk membalas dendam?’ Apa hal yang mesti didendamkan para raja itu? Bukahkah keputusan para raja itu justru telah membuka pintu masuknya ‘roh baru’ yakni Injil di te­ngah komunitas religius Batak, yang mereka simbolkan dengan mengusir roh seekor kerbau (roh dunia) dari kampungnya? Tetapi mengapa tuan-tuan misionaris masih menyebutnya mendendam, apa yang didendamkan kepada tuan-tuan misionaris itu, hingga hanya menunggu waktu untuk membalas dendam? Sangat ironis, keputusan para raja itu sangat walcome terhadap Injil malah diskenario masih mendendam dan hanya menunggu waktu untuk membalas dendam. Ada renungan kata bijak tentang hal ini: Jika Anda dibicarakan orang sebagai orang berkarakter jahat, mendendam dan sebagainya yang jelek, jangan sedih dan galau, karena sesungguhnya mereka sedang membicarakan karakternya sendiri. Allah pasti tahu kebenaran tentang hal ini!

Apa yang membutakan hati dan iman mereka?

Sebuah catatan militer (intelijen) Archief van het Departement van Oorlog (Arsip Departemen Perang) Kolonial Belanda tentang operasi militer di Toba, di Tanah Batak merdeka (de onafhankelijke Bataklanden), berbunyi demikian:

“… de daar gevestige zendelingen van het Rijnsche genootschap, die nog eenigszins als vertegenwoordigers van het Gouvernement werden aangemerkt. Hun voortdringen tot in Bahal Batoe, in de onmiddellijke nabijheid van het hart der Batak-landen om het Toba-meer, kan als een der aanleidingen beschouwd worden der daarop gevolgde beroeringen.” (…. para misionaris dari Masyarakat Rhine, yang didirikan di sana, yang masih dianggap sebagai perwakilan Pemerintah. Kemajuan mereka hingga ke Bahal Batu, tepat di sekitar jantung tanah Batak di sekitar Danau Toba, dapat dianggap sebagai salah satu alasan gangguan yang terjadi kemudian).[4]

Ternyata, intelijen strategis Kolonial Belanda sudah mempersiapkan Pos Misi Suci Bahal Batu sebagai salah satu alasan gangguan yang akan terjadi kemudian. Titik gangguan Pos Misi Suci Bahal Batu akan dijadikan alasan dan menjadi pos militer terdepan untuk memulai perang menganeksasi Tanah Batak merdeka. Maka kondisi gangguan itu harus diskenario, didramatisasi dan digembar-gemborkan, antara lain dengan menyebut bahwa keselamatan jiwa tuan-tuan misionaris Rhine yang dianggap sebagai perwakilan Pemerintah Hindia Belanda, sangat terancam, tidak hanya dibunuh tapi akan dilahap habis seperti misionaris Munson dan Lyman. Karena para raja di tempat itu, yang kemudian dipimpin Si Singamangaraja, yang disebut tuan-tuan misionaris membenci dan mendendam, hanya menunggu waktu untuk membalas dendam mengusir bahkan akan membunuh dan memakan tuan-tuan misionaris. Ungkapan intelijen yang sangat indah dan strategis bagi dunia kolonial, dunia kegelapan; Yang dikritisi oleh Munson dan Lyman ketika mereka naik kapal dari Batavia ke Padang, melihat tentara Belanda menggiring 25 tahanan yang dirantai bersama ke dalam kapal. Ke-25 tahanan itu kemudian mati dan dibuang ke laut. Lyman berkata kepada teman bicaranya yang diduga intelijen: “Ini adalah gambar dunia! Sudah waktunya bagi mereka untuk mendengar dari Sang Pembebas, yang ingin memutuskan semua rantai dosa!”[5] Akibatnya, Munson dan Lyman pun harus mati, menjadi martyr dan menjadi Jalan Salib di Tanah Batak.

Di samping itu, jauh hari-hari sebelumnya, dalam catatan arsip Departemen Perang Kolonial telah disebut bahwa Komandan Koloni di Sibolga dibebani target utama menangkap Singa Maharadja, dengan bantuan orang-orang Kristen dan beberapa pemimpin Pagan di Silindung (tanpa menyebut nama secara eksplisit, contohnya, tidak disebut secara langsung Raja Pontas Lumban Tobing) untuk membela para misionaris dan orang-orang Kristen, tetapi tidak (belum) untuk melintasi batas-batas lanskap itu.[6] Belanda, jauh hari sebelum adanya deklarasi perang (Pulas, 1878) telah merencanakan dan menargetkan menangkap atau menaklukkan Si Singamangaraja, walaupun sampai saat itu, Si Singamangaraja belum pernah melakukan gangguan kepada Belanda, apalagi kepada misionaris. Tetapi otoritas Belanda tampaknya sudah mengetahui prinsip Si Singamangaraja tentang kedaulatan Tanah Batak Merdeka, mungkin dari dari Van der Tuuk maupun Nommensen dan/atau mungkin dari Raja Pontas Lumban Tobing dkk Dalle, sahabat Belanda dan Nommensen.

Intelijen Koalisi Kolonial pun menyebar isu rekayasa bohong, bahwa akibat pengaruhnya sudah terancam, Raja Imam Muda Si Singamangaraja XII telah mendatangkan 40 pasukan Islam dari Aceh untuk menangkap misionaris dan orang Kristen untuk dijadikan budak. Disebut pula bahwa Si Singamangaraja itu diyakini sebagai keturunan Sultan Aceh terbesar. Kalimat lengkapnya, begini:

Het hoofd dier landen, de jeugdige priester-koning Singa Maharadja (nakomeling is van Atjeh’s grootsten Sultan), zijn invloed bedreigd ziende, en wellicht opgestookt door dweepzieke hoofden en onder Atjehschen invloed handelende, besloot, door 40 Atjehsche voorvechters ondersteund, een inval in Silindoeng te doen en de zendelingen en de Christenbevolking als slaven weg te voeren. [Tanah hewan utama, raja imam muda Singa Maharadja (keturunan Sultan Aceh terbesar), melihat pengaruhnya terancam, dan mungkin dipecat (dipicu) oleh kepala fanatik dan bertindak di bawah pengaruh Aceh, memutuskan, dengan dukungan 40 jagoan Aceh, untuk menyerang Silindoeng dan para misionaris dan untuk mengambil penduduk Kristen sebagai budak].[7]

Kata pembuka: Het hoofd dier landen (Tanah hewan utama – The main animal lands), mungkin kata sandi intelijen. Informasi rekayasa intelijen inilah dijadikan dasar oleh Nommensen meminta perlindungan militer dari pemerintah Hindia Belanda, sekaligus sebagai dasar memberangkatkan pasukan militer Belanda ke Pos Misi Pearaja, Pos Misi Sipoholon dan Pos Misi Suci Bahal Batu.

Maka, kondisi di Bahal Batu tersebut benar-benar dengan cermat dipersiapkan dan ditindaklanjuti dengan matang oleh Koalisi Kolonial sebagai ‘alasan gangguan yang terjadi kemudian’. Koalisi Belanda, membenahi persiapan pasukan yang didatangkan dari Sibolga, Padang dan Singkel serta perlengkapan persenjataan yang jauh lebih unggul, seperti meriam, mortir dan granat, tampaknya sudah kukuh memilih perang, bukan hanya untuk mempertahankan Silindung yang ‘diserahkan secara sukarela’ oleh raja-raja boneka Koalisi Kolonial, melainkan memperluas jajahan ke seluruh Tanah Batak Merdeka, berdalih memenuhi permintaan Nommensen dan ‘sahabat pribumi berpikiran maju’ alias Dalle, yang disebut oleh MC. Ricklefs (2001) dalam A History of Modern Indonesia since c.1200, sebagai sekutu lokal Belanda.[8] Sehingga membuat Raja-raja Maropat (Raja-raja Berempat) yang setia kepada Si Singamangaraja dan kemerdekaan Pusat Tanah Batak, menjadi sangat tersudut.

 

Selengkapnya baca Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 2. Informasi lebih lanjut, kunjungi: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1] Nommensen, J.T., 1921: h.125.

[2] Beberapa peristiwa bersejarah ini diuraikan dalam Bab XI Akulturasi: Kristenisasi, Garam dan Terang Dunia.

[3] Lamott, Willis C., 1944: Do You Want A Christian World? A Study Guide For Young People; New York: Friendship Press, p.30.

[4] Hooyer, G.B., 1896: b.158-159.

[5] Rijkhoek, D., 1934: p.28.

[6] Hooyer, G.B., 1896: b.159.

[7] Hooyer, G.B., 1896: b.159.

[8] Ricklefs, M. C., 2001: A History of Modern Indonesia since c.1200, Third Edition, Houndmills, Palgrave Macmillan, p.183.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here