Sangkakala Perang Suci di Bahalbatu

Perang Suci untuk Kekristenan

 
0
9
Sangkakala Perang Suci di Bahalbatu, monumen kebodohan manusia, dosa terhadap Roh Kudus

Sangkakala Holy War bergema dengan suara hebat menggetarkan di Bahalbatu, Maret 1878. Membuat pasukan Pejuang Rakyat Batak (PRB) terkesiap dan terdiam sejenak lalu lari (Band. 2 Samuel 2: 28).

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

 

Inilah sangkakala perang pertama kali harus dihadapi Dinasti Raja Sisingamangaraja, mulai dari Si Singamangaraja I sampai XII; Terpaksa harus terlibat dan memimpin langsung peperangan. Sebuah peperangan Segitiga yang ditandai tiupan Sangkakala Perang Suci.

Sebelumnya, Si Singamangaraja hanya selalu tampil sebagai raja pembawa damai manakala terjadi pertikaian atau perang antarkampung atau marga di Tanah Batak. Sama sekali tidak ada kisahnya Si Singamanga­raja terlibat perang atau tindak kekerasan, entah itu perang antarkampung atau menyerang tetangga atau melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun; Apalagi memakan manusia. Tetapi ia selalu disebut kolonialis Belanda dan Nommensen serta beberapa misionaris lainnya sebagai sosok manusia primitif biadab dan kanibalis ketika ia berjuang memperta­hankan kedaulatan adat dan tanah airnya.[1]

Tanpa pengalaman perang dan tanpa pasukan terlatih, dan hanya dengan alat ‘persenjataan tauran’, namun dengan semangat penuh gelora, pasukan pejuang rakyat Batak, antara lain rakyat yang dikordinir Ompu Martap, Ompu Mardopan dari Si Raja Daeng, Ompu Salabean dari Sianjur, yang didukung ‘infantri dan kavaleri’ bersenapan kuno dan dibantu para pejuang dari Padang Bolak menyatakan siap bergerak menuju Bahal Batu.

Tantangan Koalisi Kolonial ini memaksa Raja Imam Si Singamangaraja harus tampil sebagai Panglima Perang, pasti suatu pilihan yang sangat sulit bagi nurani kemalimannya. Dukungan Serdadu Pejuang Rakyat Batak[2] membuatnya harus berjuang tanpa kenal menyerah hingga tetes darah yang penghabisan. Prinsip perjuangannya mempertahankan kedaulatan Tanah Batak tersebut telah menempatkannya dalam pandangan Koalisi Kolonial sebagai seorang pemberontak dan penjahat. Sebagaimana tercermin dari pernyataan mantan Dosen Akademi Militer Kerajaan Belanda, R. van Eck (1899) yang mengatakan Si Singa-Mangaradja menempatkan dirinya sebagai pemimpin pemberontakan yang jahat; dan rakyat Batak pendukungnya disebut gerombolan;[3] serta misionaris menyebutnya musuh kita yang jahat, biadab dan kanibal.[4] Orang yang berjuang mempertahankan kedaulatan tanah airnya sendiri disebut sebagai pemberontak jahat, biadab dan kanibalis. Sementara mereka (Koalisi Kolonial) yang justru datang dari Eropa untuk menjajah menganggap dirinya bukan orang jahat tapi orang paling beradab dan orang suci. Ini adalah puncak kebiadaban manusia yang mengatasnamakan peradaban dan tujuan suci atas nama Tuhan. Seperti iblis berjubah malaikat, itu adalah dosa terhadap Roh Kudus.

Tetapi bagi masyarakat Batak, bangsa dan negara, Si Singamangaraja dan pasukan relawan Batak tersebut adalah pahlawan dan pejuang. Dengan semangat berapi-api,  Serdadu Relawan Rakyat Batak maju dengan gagah walau hanya dengan senjata bodil pamurhas, golok, lembing (ketapel), tombak dan panah. Bukan hanya dari Balige, juga dari Butar, Sipahutar, Humbang dan sebagai­nya[5] hingga berjumlah sekitar 6000 orang,[6] namun yang disertakan menyerang benteng pasukan Belanda di Bahal Batu hanya sekitar 600 orang.[7]

Benteng militer Belanda di Bahal Batu diserang. Pengalaman orang Batak pedalaman (pusuk buhit) pertama dalam perang ‘mo­dern’ yang sesungguhnya. Selama ini perang antarkampung adalah perang pertarungan face to face, bukan pengeroyokan apalagi pembantaian, bahkan tak jarang hanya lempar-lempar batu atau ketapel, semacam tauran, lalu perang tanding antarraja. Perang antarkampung jarang memakan korban jiwa, paling-paling menewaskan satu atau dua orang, selebihnya yang kalah melarikan diri dan yang tertangkap ditawan dan dikenakan denda perang untuk ditebus, jika tidak ditebus dijadikan hatoban (pekerja tanpa gaji sampai dendanya dianggap impas).

Kali ini yang mereka hadapi adalah pasukan tempur terlatih, lulusan akademi militer, dengan peralatan persenjataan perang, seperti bedil canggih, granat dan meriam, yang dari jarak jauh bisa ditembakkan dan diledakkan. Ketika menghadapi serang­an meriam tersebut, pasukan rakyat Batak itu terkejut dan sebagian mulai kucar-kacir. Sebagian lagi yang pemberani terus me­rangsek maju, tapi terkejut lagi ketika menghadapi ledakan granat. Melihat kenyataan itu, untuk menghindari korban yang le­bih banyak, Si Singamangaraja memerintahkan pasukannya mundur ke arah Lobu Siregar.[8]

Advertisement

Dalam versi Nommensen, yang dikatakan Hemmers sebagai Sang Apostel orang Batak (1928), yang ikut langsung dalam perang sejak persiapan dan hari pertama di Bahal Batu (Februari 1878) melaporkan:

Sekitar 600 orang Toba datang dan sudah mulai menembak dan berteriak ketika mereka masih jauh dari benteng. Ketika mereka lebih dekat kami dihujani peluru. Ketika berada pada jarak sekitar 200 m mereka menjerit secara mengerikan sambil menembak dan bertari perang; di situlah Kapten memberi aba-aba untuk mulai menembak serta meniupkan trompet yang menghasilkan bunyi yang amat hebat. Orang Batak berdiam sejenak lalu lari. Mereka berkumpul di luar jangkauan peluru di atas bukit-bukit sampai ada meriam yang meledak (yang mendarat jauh di belakang mereka) yang mengakibatkan mereka mundur. Sepertinya pada hari itu tidak ada yang cedera. [BRMG 1878 (12), p. 369][9]

Jika menyimak laporan Nommensen tersebut, peranan Ompu i Nommensen sangat kental dalam merancang Perang Batak sejak perang pertama di Benteng Bahal Batu tersebut. Simak kalimat Nommensen ini: “Kapten memberi aba-aba untuk mulai me­nembak serta meniupkan trompet yang menghasilkan bunyi yang amat hebat.” Bagi mereka yang sudah membaca Alkitab, kalimat ini sangat menggambarkan tradisi perang Israel dalam Perjanjian Lama, yang tampak­nya menginspirasi Nommensen dalam Perang Batak. (2 Samuel 2:28; Bilangan 10:9; Bilangan 31:6; Nehemia 4:20; Ayub 39:25; Yeremia 4:19; Yeremia 51:27;  Yehezkiel 7:14). Tiuplah sangkakala (trompet): Allah akan berperang bagi kita! Bunyi sangkakala itu pekik perang yang mengerikan bagi musuh. (Mendengar tiupan trompet itu: “Orang Batak berdiam sejenak lalu lari;” 2 Samuel 2: 28). Bermakna, perang melawan Kaum Adat Batak adalah Perang Tuhan atau Perang Suci, dalam rancangan Nommensen yang ditandai dengan tiupan trompet (sangkakala). Dalam ‘kamus’ perang yang melibatkan secara langsung Kaum Nasrani (pimpinan sekte Nasrani) berikutnya disebut sebagai Expeditio Sacra (ekspedisi sakral atau jelajah suci, Perang Suci) atau Perang Salib; yang oleh Steven Runciman, sejarawan Perang Salib yang paling terkenal dan berpengaruh di abad ke-20, dengan tegas mengutuk Perang Suci atau Perang Salib sebagai ‘satu tindakan intoleransi panjang dalam nama Tuhan yang merupakan dosa terhadap Roh Kudus’.[10]

Christopher Tyerman (2004) dalam Fighting for Christendom, Holy War and The Crusades (Berjuang untuk Kekristenan, Perang Suci dan Perang Salib), menyebut penilaian yang bertentangan tentang Perang Salib telah menggambarkan mereka sebagai manifestasi dari cinta religius, oleh orang Kristen untuk sesama orang percaya dan oleh Tuhan untuk umat-Nya; penerapan dalam kolonialisme Eropa; sebuah contoh rasisme Barat yang terus berulang; alasan dan insentif untuk penganiayaan agama, pembersihan etnis, dan tindakan barbarisme; atau tujuan mulia.[11] Maka pantaslah filsuf dan sejarawan Skotlandia abad kedelapan belas David Hume menganggap Perang Salib itu sebagai ‘monument of human folly’ (monumen kebodohan manusia.)[12]

 

Selengkapnya baca Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 2. Informasi lebih lanjut, kunjungi: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1] Ironisnya, sadar atau tidak, sikap rasis orang Eropa ini justru masih tercermin dalam sikap sebagian pendeta dan umat Kristen Batak sampai saat ini yang masih belum melepas ‘tali dan dan celana Eropa’.

[2] Dinasti Si Singamangaraja belum pernah memiliki perangkat militer terlatih, bahkan sama sekali tidak punya tradisi punya serdadu reguler.

[3] Eck, R. van, 1899: b.75.

[4] BRMG 1878 (7), p.197.

[5] Raja Sisingamangaraja XII, 1986: Opcit, h. 28.

[6] Sinambela, Poernama Rea, 1986: h. 7.

[7] Laporan Nommensen di BRMG 1878 (12), p.369.

[8] Sinambela, Poernama Rea, 1986: h. 7.

[9] Terjemahan Kozok, Uli, 2010: h. 75.

[10] Tyerman, Christopher, 2004: p.15.

[11] Tyerman, Christopher, 2004: p.14-15.

[12] Tyerman, Christopher, 2004: p.vii.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here