Hester Needham Si Boru Malim Batak

Apostel Puteri Batak

 
0
56
Hester Needham, Hira so jolma, adalah Saksi Kasih Kristus di Tanah Batak

Miss Hester Needham, putri kaya berkebangsaan Inggris, yang bermoto God First, secara otentik memilih jalan kematian kekayaan dunianya dengan mengabdikan hidupnya secara total kepada Tuhan melalui misi cinta-kasihnya kepada orang Batak, mencintai Batak sepenuh hati, khususnya Boru Batak.  Di tengah proses paradoks kristenisasi dan evangelisasi di Tanah Batak: Penginjilan (evangelisasi) yang pasifis adalah otentisitas hidupnya, misionaris sejati yang sangat mumpuni diteladani sebagai rasul putri[1]; Hidupnya sendiri bersaksi tentang realitas dan kekuatannya di Jalan, Kebenaran dan Hidup (Kristus). Hester adalah Si Boru Malim Batak: Rasul Putri Batak, otentik.

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

 

Hester Needham adalah antitese kristenisasi (out of the box). Misionaris kehormatan Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), ini dengan biaya sendiri mengabdikan diri di Tanah Batak, khususnya pelayanan kepada kaum ibu, putri dan anak-anak. Dia meninggalkan seluruh kemegahan dan kekayaan dunia dengan penyerahan hidupnya secara total dalam pelayanan cinta-kasih ‘hari kematiannya’. Dalam hidupnya ada dua hal penting bersahaja yang digabungkan secara holistik, yakni doa dan kemampuan (perbuatan) praktis yang otentik. Ini membuatnya menjadi pemimpin yang terlahir, dan seseorang yang dapat dilihat (dibuktikan) semua orang (otentik); Khotbah (ucapan) dan praktiknya sepenuhnya otentik. Dia tidak akan pernah meminta orang lain untuk melakukan sesuatu yang dia sendiri akan hindari. Dia adalah keadilan itu sendiri.[2]

Hester (totalitas hidupnya) adalah khotbah (saksi) penginjilan itu sendiri. Dialah Penginjilan itu! Dialah sosok kualitas saksi Penginjilan itu; Sesuai ‘perintah agung’ Kristus! Penginjilan yang hidup selamanya, kendati raga duniawinya sudah mati! Hidupnya adalah saksi kasih nyata tanpa batas. Kasih yang hidup! Kasih, yang seyogyanya, hidup di hati setiap orang Kristen (Hita Batak) selama-lamanya. Dialah cermin cahaya purnama kasih ‘Si Boru Deak Parujar Batak’ sebagai Puteri Debata (Puteri Allah) yang sejati, sebagai Si Boru Malim Batak (Apostel Puteri Batak). Tentu, tidak hanya dipandang secara (orientasi) kuantitas, melainkan lebih berorientasi kualitas. Secara kuantitas dia sangat kecil dibanding misionaris-misionaris besar lainnya yang mengabdi di Tanah Batak.

Debata Jahoba (Dewata Jahowa) memberinya waktu tujuh tahun (resmi 8 Januari 1890 sampai 12 Mei 1897) untuk mencurahkan secara total kasihnya yang hidup kepada orang Batak, sebagai wujud nyata prinsip hidupnya mengutamakan kehendak Allah: God First. Thy will be done! Waktu yang relatif singkat, hanya tujuh tahun, tapi kasih penginjilannya hidup selama-lamanya. Sebatas kemanusiaannya yang tertinggi, Hester meneladani Yesus yang merendahkan dirinya menjadi manusia rancangan Allah semula (Adam), yang (hanya) dalam waktu tiga tahun, untuk mengasihi dan menyelamatkan dunia, dengan Kabar Baik (Injil), kasih dan salib. Dan, Hester menjadi salah satu saksi hidup-Nya secara otentik.

Nijland tahun 1893 dalam Schetsen uit Insulinde menulis: “Masalah lain juga menuntut minat kita adalah kegiatan seorang sister misionaris, yang misinya adalah mengajar wanita dan gadis khususnya. Dia mengumpulkan mereka di sekitarnya atau mengunjungi mereka di desanya dengan tujuan membangkitkan kembali kehidupan Kristen di dalam dirinya dan membuatnya cocok untuk panggilan di masa depan melalui semua jenis pekerjaan yang berguna. Yang paling luar biasa dari pekerjaan ini, yang sejak lama diinginkan oleh para misionaris, adalah bahwa pekerjaan itu dapat diambil sepenuhnya tanpa dipikirkan (pembiayaannya). Saudari itu, yang sekarang menunjukkan cintanya beraksi di sini, adalah seorang wanita Inggris yang kaya, yang secara sukarela menjadikan dirinya tersedia untuk Masyarakat Rhine (RMG).”[3]

Pada 1888, para misionaris RMG Mision Batak mengadakan rapat di Sigompulan. Saat pertemuan itu juga mulai dipikirkan soal tertinggalnya wanita Batak, baik dalam akhlak, perangai dan pengetahuan. Sulit bagi mereka memecahkan masalah ini.[4] Tetapi tanpa diduga, setelah mereka membahas hal itu, seorang nona Inggris yang ahli dan kaya, pimpinan YWCA yang berkembang di Brompton,[5] bernama Miss Hester Needham, pada suatu acara penutupan pertemuan publik yang besar di Inggris pada tanggal 11 April 1889, ada sebuah liflet kecil berisi bahwa ada suatu tempat di Sumatra, yang empat puluh tahun sebelumnya telah meminta pengajaran Kristen, dan selama ini tidak ada jawaban. Tidak kurang dari 24 jam, Hester  menjawab: “Ya” untuk panggilan itu, meskipun apa atau di mana tempat itu; atau di bawah serikat apa dia bisa pergi, dia tidak tahu.[6] Lalu, setelah diselidiki, Hester mengirim surat kepada Inspektur RMG Dr. Schreiber di Barmen, bahwa dia bersedia menyerahkan dirinya dalam pekerjaan zending untuk mengajar gadis-gadis dan ibu-ibu di Tanah Batak. Setelah bertemu, Inspektur Dr. Schreiber, RMG segera mengirimnya ke Tanah Batak sebagai misionaris kehormatan (honorary missionary,  Ehrenmissionar, ere-missionaris) dan tiba di Sibolga, Minggu 10 Desember 1889. [7]

Ehrenmissionar puteri Hester Needham secara resmi mengawali tugas pelayanannya di Zoar Pansurnapitu, pos misi Zendeling PH. Johannsen, pada 8 Januari 1890, mengajar para ibu dan gadis serta mengunjunginya ke kampung-kampung. Setelah delapan bulan melayani dan membangun sendiri Princess House-nya di Zoar Pansurnapitu, Hester menulis surat kepada ‘My Dear H’ di Inggris, yang menunjukkan cinta sepenuh hatinya kepada orang Batak:

“… dan kemudian Anda akan dapat melihat wanita Batak tercinta yang sepenuhnya memiliki dan menguasai hatiku. Pertemuan dengan mereka adalah kesenangan besar saya setiap hari. Terkadang saya berpikir betapa bagusnya untuk pekerjaan yang saya jalani begitu sendirian, sehingga semua cinta, pikiran dan waktu saya diberikan kepada orang-orang Batak. Seseorang harus mencintai seseorang, dan karenanya saya harus mencintai mereka, yang saya lakukan dengan sepenuh hati; dan saya telah mengenal begitu banyak pribadi sekarang, di antara mereka yang datang secara teratur ke perhimpunan, dan sangat indah melihat cahaya mulai bersinar di wajah mereka.”[8]

Advertisement

Kemudian, dia dipindahkan ke Pos Misi Tuan Culemann di Sipoholon, Januari 1893 hingga Januari 1894, juga mengajar para ibu dan gadis. Di dua pos misi itu, Hester membangun dua rumah yang disebutnya Princess House, sebutan rumah pelayanannya sebelumnya di Inggris. Lalu, Hester menjalankan misi kesendiriannya ke Muara Sipongi, Kota Nopan, 9 Agustus 1895 hingga 23 Januari 1896, ke Malintang, 14 Juli 1896, hingga 7 Januari 1897; Selanjutnya, ke Maga, 7 Januari hingga berpulang ke rumah Bapa, 12 Mei 1897.

Kehadiran Miss Hester di Tanah Batak, telah memotivasi dan memacu ‘keberanian’ para puteri Jerman untuk ikut melayani di Tanah Batak. Freudenberg menyebut para sister yang belum menikah mengabdikan diri mereka sepenuhnya dan secara eksklusif untuk pekerjaan misi, seperti misionaris, pergi dan bekerja terutama, meskipun di bawah bimbingannya, di antara perempuan dan gadis Batak.[9]

RMG Mision Batak, tampaknya mempunyai pertimbangan organisatoris dalam mengakomodir ketulusan dan kemandirian Hester. Mengapa Hester dilepas sendirian tanpa kemitraan dan pendampingan untuk mendukung dan menindaklanjuti apa yang akan dirintisnya? Hester menjalaninya dengan tulus, karena sejak awal dia memang sudah ingin mengenai Mandailing: “Saya menyukainya sebelum meninggalkan Inggris.”[10] Dia selalu fokus melihat hal-hal yang indah dan mulia, termasuk tentang orang Batak. Dia sangat jauh dari ketakutan dan prasangka buruk terhadap orang Batak.

Dalam The Missionary Speaker’s Manual; A Handbook for Deputations and Workers, disebut dari Mandailing beberapa tahun kemudian, dikutip ucapan Hester: “Saya diwajibkan untuk mengaku … bahwa saya telah berjanji untuk pergi ke suatu tempat di Sumatra, nama yang saya tidak tahu, dan tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya.”[11] Sementara, Coolsma (1901) dalam De Zendingseeuw voor Nederlandsch Oost-Indië (Abad Misionaris untuk Hindia Belanda), menarasikan keberadaan Miss Hester Needham tersebut dengan mengatakan: “Saya tidak bisa mengatakan mengapa.” Selengkapnya, Coolsma menulis:

 “Miss Needham datang dari Inggris untuk terlibat penuh dalam pelayanan di sini, mengabdikan diri kepada gadis dan kaum ibu Batak. Miss Needham dengan biaya sendiri, membangun rumah untuknya, dia belajar dengan rajin mengunjungi orang Batak dan pergi setiap hari ke rumah-rumah dan berbicara dengan para wanita. Dia melakukan pekerjaan ini selama beberapa tahun di Pansurnapitu. Pada 1893 dia bergabung dengan keluarga Culemann di Sipoholon, di mana dia tidak tinggal lama. “Sejumlah suster misionaris Jerman mengikuti jejak wanita Inggris ini, yang pekerjaannya sangat dihargai, tetapi tempat Miss Needham di sini belum terpenuhi, saya tidak bisa mengatakan mengapa.”[12]

Ya, mengapa? Itu adalah misteri rahasia (hahomion) Allah, yang siapa pun manusia tidak mudah memahami Jalan-Nya, jika tidak dalam ketundukan total kepada kuasa Roh Kudus. Itulah misteri Jalan-Nya untuk Hester, Si Boru Malim Batak atau Apostel Puteri Batak yang otentik; sesuai kata dengan perbuatan, sebagaimana layaknya para rasul Perjanjian Baru. Di Mandailing, Hester menjalani misi sejatinya sendirian, layaknya ‘anak domba di antara serigala’ (Luk 10:3). Dia pun dibantu dan dituntun orang buta total Bartimeus yang punya ‘penglihatan tajam’ dengan inderanya yang lain, yang sebelumnya selama 20 tahun telah ‘menuntun’ Tuan Johannsen.

Hester, sebagai ‘anak domba’ yang mau membungkuk dan mengasihi semua orang di posisi terendah, termasuk kepada mereka yang sulit melakukannya; Dia diterima masyarakat Mandailing yang sudah beragama Islam dan membuka dialog kasih dengan mereka dengan berbagai dinamikanya. Tentang hal ini, pada 24 Januari 1897, Hester menulis: “Ini semua jelas buah dari tujuh bulan kami di Malintang, dan akan membawa orang Maga untuk menghormati agama Kristen, dan untuk mengakui kekuatannya, untuk menarik dan menaklukkan dengan cinta, yang mengusir rasa takut dan antagonisme.”[13] Dan, 7 Maret 1897: “Orang-orang Kristen menunjukkan kepada mereka kasih yang begitu besar, ketika dia tidak melakukan apa pun yang pantas untuk itu.”[14]

Hester, yang adalah misionaris puteri sejati, tidak dapat memperoleh izin resmi dari pemerintah Hindia Belanda sebagai misionaris di Mandailing. Namun, hal formal itu tidak menghalangi langkahnya, ia berjalan sebagai Saksi Injil secara total, perkataan dan perbuatan otentik. Dalam perjuangan  Saksi Injil sebagai ‘anak domba di antara serigala’ tersebut, Hester mengatakan (5 Februari 1897):

“Jika panggilan saya adalah untuk membuka pintu di Mandailing bagi para misionaris untuk masuk, pekerjaan itu sekarang diselesaikan dalam hitam dan putih, hanya saja kita belum memiliki izin dari Pemerintah untuk menyebut diri kita sendiri misionaris dan untuk ‘memaksa mereka untuk masuk.’ Ini masih merupakan pekerjaan untuk sekadar bersaksi, dan hanya itu yang dapat saya lakukan secara pribadi, tetapi saya dapat meninggalkan bagian kedua dari pekerjaan itu dengan keyakinan yang paling sempurna.”[15]

Hester berharap para misionaris dari serikat misi manapun untuk menindaklanjuti langkah-langkahnya. Hester sama sekali tidak mampu membanggakan apa yang telah dilakukannya, bahkan dia menyatakan tidak layak menjadi seorang misionaris sejati, dia hanya seorang tukang potong kayu dan pembuat saluran yang sangat buruk, tapi dia percaya Tuhan mengampuninya. Dari Maga April, Hester mengatakan:

“Bahkan sekarang saya hampir tidak dapat berpikir tanpa menggigil dari kunjungan Paga dan teman-temannya selama empat hari; kontak dekat dengan kedalaman kejahatan bagi saya begitu mengerikan, untuk menunjukkan kepada saya dengan jelas bahwa bukanlah panggilan saya untuk menjadi seorang misionaris, orang yang suka mencari dan menyelamatkan yang paling kotor, dan karena itu harus selalu mencintai yang busuk dengan cinta seperti Kristus yang terdalam. Karena alasan ini, saya kira saya bukan misionaris sejati, dan tidak pernah ada, tetapi jelas merupakan panggilan saya untuk menjadi tukang potong kayu dan penampung air bagi orang lain yang saya percayai adalah misionaris sejati. Jadi saya membangun rumah kayu, membuat saluran air dan sumur di sekelilingnya; dan karena saya bisa melakukan ini, dan banyak orang lain tidak bisa, oleh karena itu saya diutus, dan Tuhan akan menerima pekerjaan kecil yang buruk yang dilakukan dengan sangat buruk, dan yang seharusnya dan mungkin pada saat yang sama misi yang begitu mulia bekerja, dan Dia akan mengampuni dan mengusir gantang sekam, dan akan menerima satu atau dua butir gandum demi Anak-Nya yang terkasih.” [16]

Para Boru Batak di Sipoholon, dari kesaksian Sister Thora (Pea Raja, 15 September 1892), sangat mengagumi perkataan dan perbuatan Hester. Mereka memandang Hester bukan manusia biasa: Hira so jolma. Sister Thora yang mendampingi Hester di Sipoholon mengatakan: “Batak tentu saja sangat mencintainya, dan begitu seorang wanita berkata tentangnya, Hira so djolma (‘Dia bukan lagi manusia’). Maka Anda harus ingat bahwa tidak ada yang begitu mengerikan untuk hidup hanya dengan Batak (pen: kata orang); banyak di antara mereka adalah orang-orang yang sangat memesona, [17]

Boru Batak (Hita Batak) memandang Hester Needham bukan lagi manusia biasa, Hira so jolma (seperti bukan manusia), karena dirinya adalah Saksi Kasih Kristus. Bukan sekadar misionaris, tapi saksi Kristus yang hidup atau Apostel.

 

Cuplikan buku Hita batak A Cultural Strategy. Selengkapnya baca Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 3. Informasi lebih lanjut, kunjungi: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1] Rasul Puteri: Saksi kabar baik (Injil) perempuan yang secara otentik berkemampuan meninggalkan (mematikan) kemegahan, kekayaan dan keinginan dunia dengan mengutamakan kehendak Tuhan (God First: Thy will be done).

[2] Needham, Hester, 1899: God first: or, Hester Needham’s work in Sumatra: her letters and diaries. Arranged By Mary Enfield; With a Preface By The Late Miss S. G. Stock; London: The Religious Tract Society, p.19.

[3] Nijland, E., 1893: b.203.

[4] Nommensen, J.T., 1921: h.163.

[5] Buckland, Augustus Robert, & Mullins, Joseph D., 19–: The Missionary Speaker’s Manual; A Handbook for Deputations and Workers, New York: American Tract Society, p.161

[6] Needham, Hester, 1899: p.23-24.

[7] Needham, Hester, 1899: p.30-31; dan Nommensen, J.T., 1921: h.163.

[8] Needham, Hester, 1899: p.90.

[9] Freudenberg, R., 1904: b.6.

[10] Needham, Hester, 1899: p.92.

[11] Buckland, Augustus Robert, & Mullins, Joseph D., 19–: p.161

[12] Coolsma, S., 1901: bl.367.

[13] Needham, Hester, 1899: p.299.

[14] Needham, Hester, 1899: p.306.

[15] Needham, Hester, 1899: p.302.

[16] Needham, Hester, 1899: p.309-310.

[17] Needham, Hester, 1899: p.318.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here