BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    25.1 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 2 menit
    Lama Membaca: 2 menit
    Lama Membaca: 2 menit
    Lama Membaca: 2 menit
    Beranda Berita Al-Zaytun Petisi Pada Negeri: Puisi Syaykh Al-Zaytun untuk Pendidikan Bangsa

    Petisi Pada Negeri: Puisi Syaykh Al-Zaytun untuk Pendidikan Bangsa

    0
    Puisi Petisi Pada Negeri
    Syaykh Al-Zaytun, AS Panji Gumilang, membacakan puisi berjudul “Petisi Pada Negeri” dalam rangka ulang tahunnya ke-79 di Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, 30 Juli 2025. Puisi tersebut menjadi refleksi sekaligus seruan moral untuk arah pendidikan nasional. (Foto: TOKOH.ID)
    Lama Membaca: 2 menit

    Syaykh Al-Zaytun, AS Panji Gumilang, memanfaatkan momentum ulang tahunnya yang ke-79 pada 30 Juli 2025 untuk menyampaikan harapan strategis bagi masa depan pendidikan Indonesia. Dalam forum bertajuk “Bincang Bersama Sebagai Manifestasi Doa Usia 79 Tahun …”, ia membacakan sebuah puisi berjudul Petisi Pada Negeri, bukan sekadar karya sastra, tetapi seruan moral dari seorang pendidik yang telah puluhan tahun membangun sistem pendidikan berkarakter.

    Puisi ini lahir dari pengalaman panjang Panji Gumilang sebagai pendiri dan pemimpin Ma’had Al‑Zaytun yang memperkenalkan sistem pendidikan satu pipa, menggabungkan nilai agama, ilmu umum, serta semangat kebangsaan dan toleransi. Disampaikan di hadapan para tokoh lintas agama, akademisi, jurnalis, walisantri, dan civitas akademika, puisinya menggambarkan keprihatinan sekaligus ajakan untuk membenahi arah pendidikan nasional.

    Dalam bait-baitnya, Syaykh Panji Gumilang menekankan pentingnya asrama, bukan sebagai bangunan fisik, melainkan ruang hidup bersama yang menumbuhkan keberanian, empati, dan tanggung jawab. “Kami tidak meminta istana, kami hanya berharap asrama,” ucapnya, mewakili harapan anak-anak di ratusan daerah yang belum tersentuh fasilitas pendidikan bermakna.

    Ia menegaskan bahwa esensi pendidikan bukan diukur dari rapor, melainkan dari nilai hidup yang ditanamkan: keberanian, kebersamaan, dan kecerdasan moral. “500 daerah telah menanti,” ungkapnya, bukan sekadar statistik, melainkan gambaran konkret tantangan pemerataan pendidikan.

    Nada puisi ini bersahaja, tapi tidak pasif. Tanpa retorika keras, ia mengajak negara untuk hadir bukan melalui anggaran semata, melainkan keberpihakan jiwa. “Bukan dengan teriakan, tapi dengan bait yang jujur,” katanya, menyampaikan bahwa suara yang tulus justru mampu mengetuk tanggung jawab.

    Puisi ini menjadi cermin konsistensi visi pendidikan yang selama ini dihidupi Syaykh Panji Gumilang, bahwa pendidikan bukan sekadar proyek anggaran, tapi fondasi peradaban. Tahun 2045 disebut bukan sebagai target pembangunan, tapi sebagai “gemuruh doa bangsa” yang ditanam hari ini melalui pendidikan yang membentuk karakter. (Atur Lorielcide / TokohIndonesia.com)

     

    Berikut puisi lengkap yang dibacakan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang pada perayaan ulang tahun ke‑79 tersebut:

    Petisi
    Pada Negeri

    Oleh: Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang

    Wahai pemimpin negeri
    Dengar
    Suara sunyi
    Dari anak-anak kami

    Advertisement

    Kami tidak meminta istana
    Kami hanya berharap asrama
    500 daerah telah menanti
    Bukan janji
    Tapi jejak pasti

    Di sana anak negeri
    Ingin bertumbuh
    Dengan jiwa
    Bukan hanya angka

    Pendidikan bukan sekadar rapor
    Tapi lantai jiwa
    Tempat karakter
    Ditumbuhkan

    Kami
    Tidak butuh gedung mewah
    Kami butuh rumah
    Jiwa yang bernas
    Dan bersahaja

    Di asrama
    Kami belajar
    Menata rasa
    Bertemu keberanian
    Dalam kebersamaan

    Kami membaca
    Bukan hanya buku
    Tapi sejarah jiwa bangsa
    Dari ruang sederhana

    Wahai pemerintah
    Yang kami cintai
    Temukan arah
    Di antara kabut

    Peta pendidikan
    Bukan janji
    Dan bukan jalan bagi cahaya
    Yang tidak lahir dari anggaran
    Tapi dari
    Keberpihakan jiwa

    Kami mohon
    Bukan dengan teriakan
    Tapi dengan bait yang jujur
    Jadikan 500 asrama jiwa
    Sebagai gerakan
    Bukan sekadar wacana

    Karena Indonesia
    Tidak akan kuat
    Jika anak-anaknya
    Kehilangan arah

    Indonesia tidak akan abadi
    Jika jiwa mudanya
    Tak dibentuk
    Dalam kasih
    Dan keberanian

    2045 bukan sekadar
    Angka emas
    Ia adalah gemuruh
    Doa bangsa

    Dan hari ini
    Kami persembahkan puisi ini
    Sebagai petisi jiwa
    Agar negara
    Ikut menanam
    Harapan kami
    Gugur sebelum bersemi

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini