BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    28.9 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Beranda Publikasi Majalah Intelijen dan Fenomena WikiLeaks

    Intelijen dan Fenomena WikiLeaks

    0
    Majalah Berita Indonesia Edisi 83
    Majalah Berita Indonesia Edisi 83 - Intelijen dan Fenomena WikiLeaks
    Lama Membaca: 4 menit

    VISI BERITA (Diplomasi Bermartabat, Maret – 10 April 2011) – Wikileaks yang dikelola Julian Assange dan kawan-kawan telah membuat para intelijen dan diplomat berbagai negara terperangah dan bahkan terbodoh. Dominasi pengaruh (kekuasaan) intelijen dan para diplomat negara tampaknya menghadapi perlawanan sangat berarti dengan kehadiran Wikileaks. Bahkan para pemimpin negara adidaya AS dibuat terperangah, terkecoh, terbodoh dan marah. Kualitas kerahasiaan dokumen diplomatik AS pun kini diragukan. Tak terkecuali, para intelijen dan diplomat Indonesia pun terperangah dan tampak masih hipokrit dengan melecehkan Wikileaks.

    Baca Online: Majalah Berita Indonesia Edisi 83 | Basic HTML

    Umumnya para diplomat dan intelijen menyalahkan Wikileaks karena membocorkan dokumen yang sesungguhnya bersifat rahasia, milik negara. Wikileaks benar-benar mengejutkan dengan menjadikan sesuatu yang bersifat rahasia menjadi berita terbuka. Sehingga, pada Mei 2010, New York Daily News menempatkan WikiLeaks pada peringkat pertama dalam “situs yang benar-benar bisa mengubah berita”. Amerika Serikat menjadi negara paling sibuk akibat kehadiran Wikileaks. Memang, pada mulanya kuat dugaan tujuan utama WikiLeaks adalah menghancurkan kredibilitas AS di mata dunia. Namun, perlu dicermati, AS yang telah diperdaya Wikileaks, bukan negara bodoh. Para diplomat dan intelijen negara adidaya yang sering memamerkan posisi sebagai polisi dunia, itu sudah terlatih memanfaatkan kelebihan dan kekurangan pihak lain (kawan atau lawan) demi kepentingannya.

    Tak terkecuali kemungkinan AS memanfaatkan Wikileaks, yang sejauh ini secara terbuka melawan AS, justru telah dan akan dimanfaatkan demi kepentingan (diplomasi dan intelijen) AS sendiri. Termasuk, patut dicurigai, pembocoran dokumen-dokumen diplomatik Kedubes AS di Jakarta. Sebab menurut WikiLeaks, kini ada 3.059 kawat dari Kedubes AS di Jakarta di tangan mereka. Kita patut mencermati, kebocoran atau pembocoran dokumen-dokumen diplomatik Kedubes AS di Jakarta ke/oleh Wikileaks yang sebagian telah diberikan secara khusus kepada dua koran Australia The Age dan Sydney Morning Herald, yang menuding Presiden SBY korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan, serta melibatkan beberapa nama tokoh nasional, tak terlepas dari kepentingan diplomasi AS dan mungkin juga Australia.

    Sehingga para pemimpin, diplomat dan intelijen Indonesia tidak sepatutnya meremehkan, bersikap hipokrit, atas kehadiran (fenomena) Wikileaks. Sebab melihat kemampuannya menerobos dokumen-dokumen rahasia AS yang telah didukung SDM dan peralatan canggih, Wikileaks pastilah bukan organisasi (kontra intelijen non-negara atau anjing penggonggong intelijen) yang patut diremehkan. Sebagai contoh kedahsyatan Wikileaks. Pada Juli 2010, situs Wikileaks membuat sensasi yang menghebohkan para diplomat AS karena pembocoran dokumen Perang Afganistan. Kemudian, pada Oktober 2010, membocorkan hampir 400.000 dokumen Perang Irak. Lalu pada November 2010, WikiLeaks mulai merilis pula kabel-kabel diplomatik Amerika Serikat yang bersifat rahasia.

    Apalagi, secara kasat mata kita menyaksikan betapa kuatnya dukungan publik dunia kepada Wikileaks. Bahkan secara formal, dukungan itu dapat kita lihat dari beberapa penghargaan yang telah dianugerahkan pada Wikileaks. WikiLeaks telah menerima penghargaan New Media Award dari majalah Economist tahun 2008. Pada Juni 2009, WikiLeaks dan Julian Assange memenangkan UK Media Award dari Amnesty International (kategori New Media) untuk publikasi tahun 2008 berjudul Kenya: The Cry of Blood – Extra Judicial Killings and Disappearances, sebuah laporan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Kenya tentang pembunuhan oleh polisi di Kenya. Lalu, pada Mei 2010, New York Daily News menempatkan WikiLeaks pada peringkat pertama dalam “situs yang benar-benar bisa mengubah berita”.

    Sungguh, dunia intelijen dan diplomasi antarnegara mengalami tantangan dan perkembangan baru dengan kehadiran situs Wikileaks. Tak tanggung-tanggung, para diplomat dan intelijen AS pun dibuat kalang-kabut. Wikileaks telah menjadi sebuah fenomena. Telah membuat dokumen intelijen dan diplomatik yang bersifat rahasia menjadi berita umum terbuka. Namun perlu dicatat, selain berdimensi negatif atas terbukanya suatu rahasia milik negara (sesuatu yang pantasnya dirahasiakan), juga berdimensi positif untuk mendorong perkembangan dunia intelijen dan diplomasi lebih bermartabat, beretiket dan menjunjung tinggi keadilan, kesetaraan, kebenaran dan kemanusiaan.

    Dimensi positif ini perlu dimaknai dengan lebih mendorong setiap negara, terutama negara-negara maju, khususnya negara adidaya AS, yang selama ini terkesan arogan dalam berbagai langkah diplomatiknya, untuk lebih saling menghargai, lebih bermartabat, beretiket dan menjunjung tinggi keadilan, kesetaraan, kebenaran dan kemanusiaan. Dalam dimensi ini, Wikileaks berdayaguna mendorong terciptanya diplomasi lebih bermartabat dan saling menghargai.

    Maka, kita memandang, dalam mencermati fenomena Wikileaks ini, pemerintah RI perlu lebih meningkatkan kemampuan para diplomat dan pejabatnya dalam berdiplomasi, termasuk menyaring informasi yang diberikan kepada para diplomat asing. Kebiasaan buruk, mental pejabat mengumbar informasi kepada diplomat asing harus diakhiri. Kita melihat, kasus terbaru bocoran kabel diplomatik Kedubes AS, banyak bersumber dari kebiasaan buruk para pejabat (lingkaran Istana Presiden) mengumbar informasi kepada diplomat asing. Ingat pepatah: Mulutmu adalah harimaumu.

    Begitu pula para intelijen negara, seharusnya mengambil makna pembelajaran dari fenomena Wikileaks ini. Lebih meningkatkan kualitas kemampuan, terutama terkait ketaatan dan loyalitasnya kepada kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tak terkecuali, para elit politik yang bersaing merebut kekuasaan, tidak melanjutkan kebiasaan meminjam tangan negara asing untuk melawan rival politiknya. (red/BeritaIndonesia)

    Advertisement

    Daftar Isi Majalah Berita Indonesia Edisi 83

    Dari Redaksi

    Visi Berita

    Surat Komentar

    Berita Terdepan

    Highlight/Karikatur Berita

    Berita Utama

    Berita Nasional

    Berita Politik

    Berita Khas

    Lentera

    Berita Tokoh

    Berita Hukum

    Berita Wawancara

    Berita Daerah

    Berita Publik

    Berita Mancanegara

    Berita Iptek

    Berita Kesehatan

    Berita Budaya

    Berita Olahraga

    Berita Buku

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini