Data Singkat
Prof. Dr. Midian Sirait, Dirjen POM (1978-1988) dan Guru Besar ITB / Cendekia Multi Juang | 12 Nov 1928 – 9 Jan 2011 | Ensiklopedi | M | Laki-laki, Kristen Protestan, Sumatera Utara, Sumatera Utara, Guru Besar, ITB, Dirjen POM, TP Arjuna, Porsea, Cendekia, Tetara Pelajar
Agustus 1953 (Lulus SMA) : Dipindahkan menjadi Pengatur Obat (Asisten Apoteker) pada Fakultas Ilmu Pasti Alam di Bandung sebagai bagian dari Universitas Indonesia, sekaligus mengikuti kuliah Farmasi
Februari 1956: Setelah lulus Sarjana Muda Apoteker diangkat menjadi Asisten Dosen pada jurusan Farmasi Fakultas Ilmu Pasti Alam di UI Bandung
Sept 1956-Okt 1964: Melanjutkan studi Sarjana Farmasi di Jerman Barat.
Oktober 1964: Kembali ke Indonesia dan menjadi dosen di ITB
Tahun 1965-1969: Pembantu Rektor Urusan Kemahasiswaan di ITB
Tahun 1968-1978: Anggota DPRGR
DPR RI dan MPR (Pada April 1977, Memimpin Delegasi Parlemen RI dalam pertemuan Parlemen sedunia IPU (Internasional Parliamentary Union) di Canberra, Australia; Bulan September 1977 memimpin delegasi Parlemen RI sedunia IU di Sofia, Bulgaria)
Tahun 1978: Manggala BP 7 untuk P4
Tahun 1978-1988: Direktur Jendral Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Departemen Kesehatan RI, merangkap anggota MPR sampai tahun 1983.
Tahun 1988: Kembali menjadi Dosen ITB
Tahun 1990: Diangkat menjadi Guru Besar ITB dalam bidang Ilmu Kimia Bahan Alam
Tahun 1993: Pensiun dari Guru Besar ITB
Tahun 1996: Guru Besar ISTN, Jakarta
Organisasi:
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)
Ketua Dewan Pembina Komite Nasional Pemuda Indonesia (Ikut mendirikan KNPI, 23 Juli 1973)
Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman
2008: Indonesia menghapus subsidi BBM untuk kapal ikan dan nelayan besar.
1990: Nelson Mandela dibebaskan dari penjara setelah 27 tahun.
1979: Revolusi Iran mencapai puncaknya dengan jatuhnya kekuasaan Shah secara penuh.
11 Februari
Suku Karo di Sumatera Utara menamai anak-anak mereka berdasarkan benda apa yang pertama dilihat saat anaknya lahir. Ada yang diberi nama "Kursi" karena benda itu yang ada di depannya. Diberi nama "Surat" karena sang ayah bekerja sebagai tenaga administrasi di Kecamatan, yang setiap hari surat-menyurat. Diberi nama "Timbul" karena lahir bertepatan dengan matahari timbul (baca: terbit). Meskipun sekilas terdengar lucu, semua nama itu mengandung harapan orangtua pada anaknya.