BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    27.9 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Lama Membaca: 4 menit
    Beranda Publikasi Majalah TSJB Railways (Trans Sumatera-Jawa-Bali Railways)

    TSJB Railways (Trans Sumatera-Jawa-Bali Railways)

    0
    Majalah Berita Indonesia Edisi 82
    Majalah Berita Indonesia Edisi 82 – TSJB Railways (Trans Sumatera-Jawa-Bali Railways)
    Lama Membaca: 4 menit

    VISI BERITA (Ayo Membangun, Februari 2011) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (10/1/2011), memaparkan 10 capaian keberhasilan pemerintahannya sepanjang tahun 2010. Presiden juga memaparkan bahwa Indonesia akan menjadi emerging nation pada 2025. Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa telah memaparkan Indonesia saat ini telah masuk negara perekonomian 18 besar dunia dengan nilai produk domestik bruto lebih dari 700 miliar dolar AS.

    Baca Online: Majalah Berita Indonesia Edisi 82 | Basic HTML

    Pada hari yang sama, sejumlah pemuka lintas agama dan aktivis pemuda menyampaikan pernyataan terbuka (publik) perlawanan terhadap kebohongan. Dalam pertemuan di Kantor Pusat Muhammadiyah itu, dipaparkan dua kali sembilan kebohongan pemerintah.

    Pada hari itu juga (10/1/2011), Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri, dalam orasi politik pada peringatan HUT Ke-38 PDI-P, menyatakan klaim pemerintah tentang keberhasilan statistik makroekonomi tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan rakyat. “Oleh karena itu, hentikan pengungkapan keberhasilan statistikal,” harap Mega.

    Kita memandang, pemerintahan Presiden SBY memang sangat piawai mengemas publikasi keberhasilan, baik dengan paparan rangkaian kata-kata maupun angka-angka statistik. Presiden juga selalu tampil menawan dalam pemaparan di hadapan publik. Berbagai pernyataan bernafas retorika sering mengemuka.

    Sangat banyak janji yang belum (tidak) terpenuhi. Sehingga sebagian janji yang belum terpenuhi itu, dinyatakan pada pertemuan para pemuka lintas agama oleh para aktivis muda sebagai kebohongan.

    Memang, banyak pihak menyebut, pemerintah sangat mengutamakan pencitraan. Dengan berat hati, kita juga melihat bahwa pemerintah sebaiknya menghentikan tebar pesona itu. Dalam pencitraan politik, tebar pesona itu mungkin perlu. Tapi bagi para negarawan sejati, tebar pesona tentulah tidak perlu atau bahkan dianggap sebagai jalan menyesatkan.

    Seorang negarawan tidak menempatkan pujian sebagai tujuan. Dia fokus pada pengabdian demi kemajuan rakyat, bangsa, dan negara, dengan ketaatan pada azas dan nilai-nilai dasar negaranya. Contohnya, jika nilai-nilai dasar mengamanatkan kebebasan beragama dan menghargai keberagaman, seorang negarawan pasti membuktikannya dalam karya dan kebijakan nyata. Tidak cukup dengan berwacana. Apalagi menjaga popularitas dengan netralitas walau bertentangan dengan azas dan nilai-nilai dasar bernegara. Seorang negarawan pasti menilai hal seperti itu sebagai jalan sesat. Maka, dalam hal ini kita sepaham dengan Buya Syafii Maarif agar siapapun kita jangan merasa benar di jalan yang sesat!

    Kita pun mengajak semua komponen bangsa untuk kembali ke jalan yang benar dengan ketaatan pada azas dan nilai-nilai dasar bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang telah diwariskan para founding fathers bangsa ini. Marilah kita menghentikan kebohongan demi pencitraan politik. Semua komponen bangsa, marilah bahu-membahu untuk mengisi kemerdekaan yang telah dibayar mahal para pejuang bangsa ini dengan membangun.

    Pemerintah hendaklah memerintah dengan benar. Bekerjalah untuk membangun bangsa ini tanpa sarat muatan kepentingan-kepentingan politik praktis, apalagi dengan memoles-moles kata dan data demi pencitraan.

    Advertisement

    Segenap masyarakat Indonesia juga supaya memiliki karakter menjadi masyarakat Indonesia membangun. Ayolah kita melawan kebohongan dengan kerja nyata: Membangun! Sebagaimana yang mengemuka dalam perenungan Tahun Baru (1 Muharram 1432 H dan 1 Januari 2011) di Al-Zaytun dengan memaknainya sebagai gerakan untuk mewujudkan karakter luhur bangsa sebagai bukti masyarakat Indonesia membangun.

    Hal mana membangun negara dan bangsa adalah menjadi tugas dan tanggung jawab bersama masyarakat Indonesia, kapan pun dan dalam situasi apa pun. Dalam hal ini, kita mengutip pesan Syaykh Panji Gumilang yang mengatakan bahwa membangun adalah manifestasi daripada cita-cita kemerdekaan Indonesia. Merdeka adalah untuk membangun. Yakni (1) Membangun untuk bersatu; (2) Membangun untuk berdaulat; (3) Membangun untuk adil dan makmur; (4) Membangun untuk memajukan kesejahteraan umum; (5) Membangun untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; (6) Membangun untuk mewujudkan ketertiban dunia; (7) Membangun untuk perdamaian abadi; (8) Membangun untuk keadilan sosial; dan (9) Membangun untuk mempertahankan kedaulatan rakyat. (red/BeritaIndonesia)

    Daftar Isi Majalah Berita Indonesia Edisi 82

    Dari Redaksi

    Visi Berita

    Surat Komentar

    Berita Terdepan

    Highlight/Karikatur Berita

    Berita Utama

    Berita Khas

    Berita Nasional

    Berita Politik

    Berita Tokoh

    Lentera

    Berita Daerah

    Berita Ekonomi

    Berita Publik

    Berita Mancanegara

    Berita Iptek

    Berita Hiburan

    Berita Kesehatan

    Berita Buku

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini