Pengabdi Kesehatan Masyarakat

[ Nafsiah Mboi ]
 
0
566
Nafsiah Mboi
Nafsiah Mboi | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH seorang pengabdi kesehatan masyarakat. Peraih Ramon Magsaysay bersama suaminya Benedictus Mboi (Gubernur NTT periode 1978-1988), ini setelah beberapa kali dinominasi akhirnya menjabat Menteri Kesehatan 2012-2014 menggantikan Endang Sedyaningsih yang meninggal akibat kanker paru.

Sungguh suatu anugerah bagi Nafsiah Mboi yang di usianya yang tidak muda lagi, 72 tahun mendapatkan kepercayaan menjadi orang nomor satu di Kementerian Kesehatan. Sebuah pengabdian yang memerlukan komitmen besar untuk memajukan kesehatan masyarakat. Sebagai seorang aktivis dan pengabdi kesehatan masyarakat, namanya sejak masa Orde Baru memang sudah santer terdengar untuk menduduki posisi tersebut.

Berkat perhatian dan kepeduliannya terhadap permasalahan kesehatan masyarakat dan anak-anak yang tiada henti, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempercayainya sebagai Menteri Kesehatan menggantikan Endang Sedyaningsih yang meninggal akibat kanker paru pada 2 Mei 2012.

“Posisi menteri kesehatan saya percayakan kepada dr. Nafsiah Mboi, DSpA, MPH. Saya melihat kemampuan, pengalaman dan pengabdian beliau di waktu lalu yang berkomitmen kerja nyata untuk memajukan kesehatan masyarakat,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menyebutkan nama Nafsiah di Istana Bogor, Rabu (13/6/2012).

Kepeduliannya terhadap kesehatan masyarakat sudah dimilikinya sejak lama saat berstatus sebagai mahasiswa. Ia pernah menjadi sukarelawan dan pekerja masyarakat. Nama lulusan sarjana yang memiliki spesialisasi dokter anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1971, ini pun menjadi tidak asing lagi.

Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ia menjadi salah satu dokter sukarelawan Dwikora. Hingga terpilih menjadi menteri kesehatan pun ia masih aktif sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional dan aktivis keluarga berencana. Ia juga salah satu pendiri Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, anggota Komnas HAM, dan Wakil Ketua Komnas Perempuan.

Kegigihannya dalam memperhatikan kesehatan masyarakat dan anak kemudian diapresiasi lewat penghargaan Ramon Magsaysay Foundation Award for Government Service dari Ramon Magsaysay Foundation, sebuah penghargaan bergengsi dari pemerintah Filipina pada tahun 1986.

Kegigihannya dalam memperhatikan kesehatan masyarakat dan anak kemudian diapresiasi lewat penghargaan Ramon Magsaysay Foundation Award for Government Service dari Ramon Magsaysay Foundation, sebuah penghargaan bergengsi dari pemerintah Filipina pada tahun 1986.

Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH lahir di Sengkang, Sulawesi Selatan, 14 Juli 1940. Ia merupakan anak pertama dari enam bersaudara yang lahir dari pasangan Andi Walinono seorang hakim dan Rahmatiah Sonda Daeng Badji. Nafsiah menikah dengan Benedictus Mboi, kakak kelas Nafsiah saat masih kuliah di Kedokteran UI. Setelah menikah pada tahun 1964, mereka bersama-sama bergabung sebagai dokter sukarelawan Dwikora. Ben pernah menjabat sebagai gubernur Provinsi NTT periode 1978-1988 dan menjadi anggota DPA. Ben juga pernah bertugas bersama LB Moerdani dalam operasi Trikora di Papua Barat tahun 1962.

Saudara dari Dr Erna Witoelar (Menteri Pemukiman dan Pengembangan Wilayah Indonesia), ini mengawali karirnya sebagai PNS di departemen kesehatan sejak tahun 1964-1999. Selama 35 tahun berkiprah di departemen kesehatan, berbagai jabatan pernah ia emban diantaranya menjadi Kepala Rumah Sakit Umum, Ende, Flores tahun 1964-1968, Kepala Seksi Perijinan pada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Provinsi NTT, Kupang tahun 1979-1980, Kepala Bidang Bimbingan dan Pengendalian Pelayanan Kesehatan Masyarakat (BPPKM) pada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Provinsi NTT, Kupang tahun 1980-1985.

Untuk mendukung kiprahnya dalam dunia kesehatan, Nafsiah memperdalam ilmu kesehatan di berbagai negara. Untuk kesehatan anak, Nafsiah menempuhnya di Amsterdam, Belanda. Sedangkan ilmu kesehatan masyarakat, ia mengambilnya di Royal Tropical Institute, Antwerpen, Belgia. Di Royal Tropical Institute inilah, ia berhasil meraih gelar master of public health (MPH) pada tahun 1990-1991. Nafsiah juga mengambil pendidikan untuk mendalami HIV/AIDS di Harvard University, Amerika Serikat.

Tidak hanya menjadi praktisi kesehatan, Nafsiah juga pernah duduk di Senayan sebagai anggota MPR/DPR 1992-1997. Sedangkan pengalamannya dalam organisasi internasional adalah menjabat sebagai Ketua Komite PBB untuk Hak-hak Anak, satu-satunya orang Asia yang pernah mendapat posisi tersebut pada tahun 1997-1999. Kemudian sebagai Direktur Department of Gender and Women’s Health pada World Health Organization Pusat di Geneva, Swiss yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa antara tahun 1999-2002.

Ia juga pernah duduk sebagai Wakil Ketua Komnas Perempuan, Konsultan Family Health International/Aksi Stop AIDS 2005-2006 dan menjabat sebagai Sekretaris KPA Nasional sejak tahun 2006. Sebagai Sekretaris KPA, ia telah berkeliling Indonesia mensosialiasikan bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat.

Nafsiah, ibu dari tiga anak ini telah mempublikasikan puluhan karya yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Ia juga telah mendapatkan berbagai penghargaan diantaranya Satya Lencana Bhakti Sosial dari Presiden Republik Indonesia tahun 1989, Fellow of the Australia-Indonesia Institute tahun 1993, penghargaan dari Asia HRD Congress tahun 2008 dan penghargaan Soetomo Tjokronogoro yang diberikan oleh PB-IDI pada tahun 2009. Bio TokohIndonesia.com | san, red

Data Singkat
Nafsiah Mboi, Menteri Kesehatan (2012-2014) / Pengabdi Kesehatan Masyarakat | Ensiklopedi | Menteri, dokter, UI, kesehatan, aktivis, HIV/AIDS

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here