Perwira Penerobos Tabu Militer

[ Agus Wirahadikusumah ]
 
0
1038
Agus Wirahadikusumah
Agus Wirahadikusumah | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Ketika menjabat Pangdam VII/Wirabuana, ia melontarkan pemikirannya mengenai pembinaan teritorial (binter). Dalam rangka paradigma baru TNI ia menggagas pemekaran Kodam dan komando teritorial. Bahkan, menurutnya, di Pulau Jawa tak perlu lagi ada Kodam kecuali di luar Jawa yang jangkauan Pemdanya terbatas. Gagasan kontroversial AWK, begitu ia sering dipanggil, ini menjadi perdebatan dalam tubuh TNI bahkan dalam jagad politik nasional.

Pria kelahiran Bandung, 17 Oktober 1951, ini menerobos tembok tradisi (tabu) TNI, melontarkan pemikiran tentang internal TNI ke area publik. Lagi pula, ia dinilai melampaui hirarki dan kapasitasnya. Beberapa perwira tinggi TNI menyayangkan mengapa pemikiran seperti itu dilontarkan ke publik yang justru kian memperlemah posisi tawar TNI.

Ia juga melontarkan pendapat bahwa loyalitas prajurit TNI bukan kepada jenderalnya melainkan kepada institusi TNI, bangsa dan negara. Suatu pernyataan yang dirasakan seakan ditujukan kepada Pangskotrad Letjen TNI Djdja Suparman yang menyebut prajurit akan marah karena banyak jenderal yang ‘diobok-obok’ KPP HAM Timor Timur.

Namun beberapa politisi sipil malah angkat jempol atas keberanian putra Sunda ini menerobos tabu TNI itu. Gagasan ini disambut. Presiden KH Abdurrahman Wahid pun segera meminta kepada Mabes TNI Cilangkap agar AWK ditarik ke Jakarta. Ia pun diangkat sebagai Pangkostrad menggantikan Djaja Suparman, terhitung sejak 1 April 2000.

Gus Dur menyebutnya sebagai sosok militer berkualitas Jakarta, dan terlalu sayang untuk disia-siakan. Saat menjabat Pangkostrad itu pula, ia melontarkan dugaan kuat adanya korupsi di sebuah yayasan yang didirikan kesatuan yang dipimpinnya itu. Sekali lagi, lontarannya itu itu mengundang reaksi negatif dari kalangan perwira tinggi militer lainnya.

Reaksi negatif dari sobat militer itu tak membuatnya berhenti bersuara. Tampak ia semakin tegar menerobos tradisi TNI yang kaku sebagai tentara tempur, yang dingin, apolitis dan selalu patuh kepada atasan. Tampaknya ia lebih memilih menjadi tentara pemikir. Walau sebagian menyebutnya ingin menempatkan diri sebagai tentara reformis untuk memenuhi ambisinya.

Suatu ketika, ia pun berkomentar soal kemungkinan pencopotan Wiranto selaku Menko Polkam oleh Presiden. Suatu komentar yang membuat beberapa perwira tinggi makin jengkel. Kedekatannya deng Gus Dur telah memunculkan tudingan kepadanya bahwa ia bergelayut di pundak Gus Dur untuk meraih posisi yang lebih tinggi. Ia pun dituding sering berkolaborasi dengan Bondan Gunawan selaku Pjs Sekretaris Negara dalam mengatur mutasi dalam tubuh TNI. Ia pun dituding sebagai motor pertemuan politis yang membuahkan “Dokumen Bulak Rantai”.

‘Dokumen’ itu, yang sebenarnya lebih merupakan notulen diskusi, berisi rencana mutasi di jajaran perwira tinggi TNI yang diduga dilahirkan lima sekawan, yakni: Pjs. Sekretris Negara Bondan Gunawan, KSAD Jenderal Tyasno Sudarto, Pangkostrad Jenderal TNI Agus Wirahadikusumah, Aster KSAD Mayjen TNI Saudi Kadi dan Kasdam Jaya Brigjen Romulo Sihombing.

Bulakrantai adalah kompleks perumahan perwira tinggi TNI AD, yang terletak di Kramatjati, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Di tempat inilah Pangkostrad Letjen Agus Wirahadikusumah dan Aster KSAD Mayjen TNI Saudi Kadi bertempat tinggal.

Konon, sejak AWK diangkat menjadi Pangkosrad, kerap terjadi keramain di kompleks itu, khususnya di sekiatr rumah AWK dan Suadi Kadi. Rupanya, di kediaman AWK dan Saurip Kadi itu, secara bergantian sering digunakan untuk diskusi. Pertemuan pertama tanggal 16 April 2000, antara pukul 19.30 – 23.30 WIB. Diskusi-diskusi di antara lain melahirkan ‘dokumen’ Bulakratai, yang kemudian membuat geger elit AD. Selain itu, mereka juga pernah satu kali melakukan kegiatan yang sama di Hotel Novotel Bogor, yang kemudian melahirkan ‘dokumen’ Novotel.

Namun, AWK dan rekan-rekannya membantah adanya pertemuan dan adanya dokumen Bulak Rantai itu. Dan, entah merasa sedang di atas angin, AWK pun tak sungkan dengan lantang menghadapi lawan-lawannya politiknya. “Rakyat akan tahu siapa yang berjiwa setan dan siapa berjiwa malaikat!” ujar AWK suatu ketika menanggapi orang-orang yang tidak sepaham dengannya.

Sampai akhirnya ia diganti dari jabatan Pangkostrad dengan menariknya ke Mabes TNI tanpa ‘meja’. Kemudian namanya pun sempat disebut-sebut akan menjabat Kasad menggantikan Jenderal Tyasno. Namun dikabarkan 120 perwira tinggi TNI AD menolaknya. Akhirnya, Gus Dur tak mau mengambil risiko terlalu besar, dan mengangkat Letjen Endriartono Sutarto menjabat Kasad.

Dalam posisi sebagai perwira tinggi yang ditarik ke Mabes TNI, beberapa waktu kemudian, jenderal reformis itu pun meninggal dunia, secara mendadak, Kamis pagi 30 Agustus 2001. Pagi itu sekitar pukul 05.30, ia masih membangunkan istrinya untuk salat dan melakukan olah raga. Setelah itu istrinya masuk ke kamar mandi lalu tidak lama kemudian keluar dan menemukan suaminya dalam keadaan tertidur, tapi setelah dicoba dibangunkan Agus tidak memberikan reaksi apa-apa. Kemudian istrinya berinisiatif membawa ke Rumah sakit Pusat Pertamina untuk diberi pertolongan, namun dalam perjalanan sekitar pukul pukul 5:45 dan 6:19 WIB ia meninggal dunia. Sebelumnya, tidak adanya tanda-tanda ia menderita sakit. Ia meninggalkan seorang istri dan dua orang anak masing-masing bernama Fifi dan Yunan.

Sejak kecil, Mantan Danrem 163/Wirasatya, Denpasar Bali, ini diangkat-anak oleh Umar Wirahadikusumah, mantan Wapres RI 1983-1988. Putra Maryun dan Siti Rokaat ini dididik dalam suasana disiplin dan kemauan belajar yang kuat.

Lulusan Akabri tahun 1973 ini meraih pendidikan S2 bidang Magister Manajemen dari Universitas Harvard, AS. Ia tergolong seorang perwira berpikiran maju, sederet Agus Widjojo (mantan Kaster TNI/1970) dan Susilo Bambang Yudhoyono (mantan Kaster TNI) yang juga teman se-lifting-nya di Akabri.

Ia telah menerima beberapa bintang tanda jasa, antara lain Satya Lencana Seroja, Satya Lencana Kesetiaan VIII Tahun, Satya Lencana Dwija Sista, Satya Lencana Kesetiaan XVI Tahun, Satya Lencana Kesetiaan XXIV Tahun, dan Satya Lencana Kebudayaan. TI

Data Singkat
Agus Wirahadikusumah, Panglima Kostrad, 2000 / Perwira Penerobos Tabu Militer | Ensiklopedi | TNI, Panglima, angkatan darat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here