Pianis Seluruh Jiwa

[ Bubi Chen ]
 
0
149
Bubi Chen
Bubi Chen | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Pria keturunan Tionghoa ini mengharumkan nama Indonesia saat ia terpilih sebagai salah satu dari sepuluh pianis jazz terbaik dunia pada 1997 dan mendapat julukan Pearl from the East atau Mutiara dari Timur. Ia dikenal sebagai pianis yang seluruh jiwanya dicurahkan kepada musiknya terutama musik jazz.

Meski usianya terbilang tidak muda lagi, penampilan pianis yang kini menjadi salah satu maestro negeri ini, masih dapat dinikmati di beberapa panggung jazz sebut saja Smooth Jazz di UGM, Jazz Goes to Campus Universitas Indonesia dan beberapa pentas jazz di Jakarta, Surabaya, Bandung dan kota-kota lain. Ia juga ambil bagian dalam Bali International Jazz Festival 2004 yang berlangsung pada tanggal 13 dan 14 Februari 2004 lalu.

Karyanya juga kerap menghiasi stasiun radio dalam dan luar negeri. Misalnya, radio KFAI 90.3 FM di Minneapolis, KUSP 88.9 FM di Santa Cruz, California Amerika Serikat yang menyiarkan nomor dari Bubi Chen dalam acara Global Beat.

Bubi Chen lahir 9 Februari 1938 sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara. Ia mulai mengenal musik justru bukan dari musik jazz melainkan musik klasik. Semasa kecil telinganya sudah akrab dengan alunan biola ayahnya, Tan King Hoo. Sedangkan pilihannya pada piano, hanya karena instrumen itulah yang paling mudah ia gapai saat itu.

Pada umur empat tahun, ia sudah dikursuskan pada seorang pianis berkebangsaan Italia bernama Di Lucia, untuk belajar dasar-dasar musik selama dua tahun. Setelah itu, ia kemudian belajar piano klasik pada Jozef Bodmer, seorang Swiss, selama delapan tahun.

Saat itulah, kecintaannya terhadap musik jazz semakin mendalam. Ketertarikannya mempelajari jazz lantaran sering melihat latihan dan pertunjukan kakak-kakaknya, Jopie dan Teddy Chen. Saat belajar bersama Bodmer ini, suatu ketika Bubi tertangkap basah oleh sang guru sedang memainkan sebuah aransemen jazz. Bodmer tidak marah, justru malah berpesan, “Saya tahu jazz adalah duniamu yang sebenarnya. Oleh karena itu, perdalamlah musik itu”.

Hidup dalam lingkungan keluarga yang menyenangi jazz, ditambah dengan jiwanya yang ingin bebas berekspresi, membuat Bubi yang saat itu berumur 12 tahun mulai mengaransemen karya-karya klasik milik Beethoven, Chopin, dan Mozart ke dalam irama jazz. Baginya, musik jazz memiliki lebih banyak kebebasan dalam menuangkan kreatifitas, kaya improvisasi dibandingkan musik klasik yang sangat terikat dengan kaidah musik yang berlaku.

Dalam usia 17, Bubi sudah mulai mengajar, sembari mengikuti kursus tertulis di Wesco School of Music di New York, selama dua tahun. Salah satu gurunya adalah Teddy Wilson, murid dedengkot jazz, Benny Goodma. Masuk tahun 50-an, Bubi membentuk Chen Trio bersama saudaranya Jopie dan Teddy Chen.

Di tahun yang sama ia juga bergabung dengan Jack Lesmana Quartet yang kemudian berganti menjadi Jack Lesmana Quintet. Tahun 1959, bersama Jack Lesmana, ia membuat rekaman di Lokananta. Rekamannya yang bertitel Bubi Chen with Strings pernah disiarkan oleh Voice of Amerika dan dikupas oleh Willis Conover, seorang kritikus jazz ternama dari AS.

Di tahun 1960-an, namanya sudah dikenal hingga Australia, Eropa, dan Amerika Serikat. Tergabung dalam Indonesian All Stars, bersama Jack Lesmana (alm), Maryono (alm), Benny Mustafa, Kiboud Maulana, dan kakaknya kakaknya Jopie Chen, rombongan puncak pemain jazz pribumi ini tampil sukses meramaikan New York Fair. Mereka lalu tampil di Berlin Jazz Festival pada tahun 1967. Setelah itu mereka rekaman dan menelorkan album yang kini menjadi barang langka, “Djanger Bali”. Album ini digarap bersama seorang klarinetis ternama asal Amerika Serikat, Tony Scott.

Selanjutnya di tahun 1964, Bubi dan Jack Lesmana kembali membuat album di Lokananta, Solo, Jawa Tengah. Album itu memuat delapan lagu “lokal” yang disuguhkan dengan rasa jazz mainstream, diantaranya berjudul Sri Ajunda, Lajang-Lajang, Merindu, Hampa, Kenangan Mesra, dan lain-lain. Pada tahun 2007, album bernilai historis bagi perkembangan musik jazz itu bahkan di-master ulang, kemudian diedarkan oleh Demajors. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, album tersebut masih dapat ditemukan di Lokananta dalam bentuk CD.

Bubi tercatat menghasilkan banyak album. Rekamannya dengan judul Kau dan Aku, bersama Jack Lesmana, Benny Likumahua, Hasan, dan Embong adalah sumbangan manisnya di pertengahan 1976. Selain itu, ada dua buah rekaman lain yang eksotik, berupa eksperimen jazz dengan beat reog yang dibuatnya pula. Sedangkan pada 1984, bersama jagoan-jagoan jazz seperti John Heard, Albert Heath, dan Paul Langosh, ia membuat rekaman di Amerika dan diedarkan di Indonesia. Rekaman itu diberi judul Bubi di Amerika. Album lainnya antara lain Bubi Chen And His Fabulous 5, Mengapa Kau Menagis, Mr.Jazz, Pop Jazz, Bubi Chen Plays Soft and Easy, Kedamaian (1989), Bubby Chen and his friends (1990), Bubi Chen – Virtuoso(1995), Jazz The Two Of Us (1996), All I Am (1997) dan sebagainya.

Dalam Festival Jazz Berlin tahun 1997, Bubi sempat membawa alat musik siter atau kecapi di atas pianonya, mendengungkan musik-musik Indonesia di tanah Eropa. Di situ pulalah ia membuat harum nama Indonesia, karena terpilih sebagai salah satu dari sepuluh pianis jazz terbaik dunia saat itu, dan mendapat julukan Pearl from the East atau Mutiara dari Timur. Bahkan oleh majalah jazz Down Beat, ia dianggap sebagai Art Tatum dari Asia. Art Tatum sendiri dalam musik jazz dianggap sebagai bapaknya piano. Nama Bubi bersama Indonesian All Stars, juga tercatat di buku besutan Joachim-Emst Berendt, Jazz A Photo History.

Sebagai pianis, Bubi dikenal sebagai seorang pemain bebob, yaitu jenis aliran musik dalam jazz yang terdengar lebih keras, progresif, dan ekspresif, dibandingkan Swing. Dan, karena bebop membutuhkan teknik permainan yang tinggi, di Indonesia tercatat hanya Bubi, musisi yang piawai memainkan aliran ini. Meskipun demikian, keahliannya memainkan jemari pada piano mengalir ke semua gaya, entah itu bebob, swing, maupun cool jazz.

Sebagai pianis, Bubi dikenal sebagai seorang pemain bebob, yaitu jenis aliran musik dalam jazz yang terdengar lebih keras, progresif, dan ekspresif, dibandingkan Swing. Dan, karena bebop membutuhkan teknik permainan yang tinggi, di Indonesia tercatat hanya Bubi, musisi yang piawai memainkan aliran ini. Meskipun demikian, keahliannya memainkan jemari pada piano mengalir ke semua gaya, entah itu bebob, swing, maupun cool jazz.

Bakatnya sebagai musisi jazz tak ia nikmati sendiri, Bubi akan sangat bersemangat untuk berbagi ilmu dengan para generasi muda, terlebih mereka yang tertarik pada musik jazz. Bubi pernah menjadi pengajar musik di Virtuoso Semarang. Muridnya datang dari berbagai daerah antara lain Yogyakarta, Slawi, Kudus, sampai Purwokerto.

Dedikasi Bubi sebagai pendidik pun tak main-main, ia bahkan tak sedikitpun tergoda saat sekitar awal tahun 2000-an mendapat tawaran bermain tetap di Singapura. Bubi rela menolak tawaran itu karena khawatir dengan murid-muridnya di Indonesia. Bubi menganggap bakatnya sebagai anugerah dan berkah dari Sang Pencipta, oleh karena itu ia tak terlalu peduli dengan urusan materi. Meski tak bergelimang harta, ia tetap bersyukur bisa menjadi manusia yang berguna bagi orang lain.

Selain bersahaja, musisi yang telah malang melintang di blantika musik jazz ini juga dikenal sebagai sosok yang rendah hati. “Musisi kalau sudah sombong habislah dia. Musik itu, kan, ada kaitannya dengan jiwa. Kalau kita sombong, orang akan mendengarkan musik yang angkuh…,” kata sahabat Jack Lesmana ini seperti dikutip dari harian Kompas. Di mata para fans dan orang-orang terdekatnya, sosok Bubi memang jauh dari kata sombong. Misalnya saja saat pria yang akrab disapa dengan panggilan Om ini hadir di ajang Java Jazz. Dengan menggunakan kursi roda, Bubi dengan keramahan serta senyum khasnya melayani permintaan berfoto dari para penggemarnya.

Meski dikenal sebagai sosok yang hangat, Bubi sebenarnya tak terlalu banyak bicara. Akan tetapi, sekalinya ia berceloteh, ada saja sentuhan humor tak terduga yang mengundang senyum bahkan tawa lawan bicaranya. Seperti ketika ia bercerita tentang persahabatannya dengan Jack Lemmers di Surabaya sebelum akhirnya Jack pindah ke Jakarta dan dikenal sebagai Jack Lesmana. Bubi bercerita bagaimana kegigihan Jack mengasah kemampuannya sebagai musisi jazz. Bahkan ia sampai rela mengayuh sepeda ontel sambil menenteng bas betot ke rumah bibi Bubi untuk berlatih. “Itu lebih baik daripada saya ke rumah Jack naik sepeda pancal sambil menenteng piano. He-he…,” canda Bubi.

Selain musik, bapak empat anak ini juga memiliki kecintaan pada fotografi, yang ia geluti sejak umur 18 tahun, serta menggemari hobi elektronika dan merakit pesawat perang. Di rumah yang asri di Surabaya, ia memiliki koleksi ribuan piringan hitam dan CD musik jazz, dan koleksi buku-buku perang dan pesawat rakitannya.

Sepanjang hidupnya, Bubi Chen sangat konsisten mengabdikan dirinya bagi musik jazz. Bubi Chen juga menularkan ilmu yang dimilikinya. Beberapa di antaranya cukup dikenal antara lain Abadi Soesman, Hendra Wijaya, Vera Soeng dan Widya Christanti.

Usia yang kian senja membuat tubuh rentanya rentan digerogoti penyakit, terutama Diabetes mellitus yang memang telah lama dideritanya. Akibat penyakit itu Bubi bahkan harus merelakan dua kakinya untuk diamputasi yakni pada Maret 2010 dan April 2011. Lody Surya, manajer Bubi Chen, mengatakan setelah menjalani operasi amputasi pertama kondisi Bubi sempat menurun. Namun pasca operasi kedua, Bubi seolah mendapat suntikan penyemangat hidup yang baru. Ia bahkan sempat mengutarakan keinginannya untuk kembali masuk dapur rekaman.

Enam bulan setelah operasi amputasinya yang kedua, atau tepatnya pada 27 November 2011 Bubi memang sempat tampil dalam sebuah konser di Grand City Surabaya. Konser tersebut menandai 25 tahun kiprahnya dalam acara Jazz Traffic di radio Suara Surabaya. Beberapa pihak menilai penampilan Bubi saat itu sangat total, konser tersebut seakan menandai come backnya di dunia yang membesarkan namanya itu.

Direktur Suara Surabaya Media, Errol Jonathans menceritakan sepak terjang seorang Bubi Chen di masa mudanya yang sarat pemberontakan. “Tidak banyak musisi jazz mememiliki konfigurasi karakter seunik Bubi Chen. Karakter temperamental tercermin dalam musiknya yang progresif,” tutur Errol. Dalam konser yang menjadi penampilan pamungkas Bubi Chen itu, direkam secara live dan rencananya akan diedarkan dalam bentuk album. Ketika itu, ia membawakan tembang jazz standar seperti Autumn Leaves, My One and Only Love, serta Body and Soul yang merupakan lagu favoritnya.

Bubi Chen, musisi jazz legendaris itu meninggal dunia Kamis 16 Februari 2012 sekitar pukul 19.05 WIB di Rumah Sakit Telogorejo, Semarang. Jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka Tiong Hoa Ie Wan Semarang, Jalan Arteri Yos Sudarso Semarang dan selanjutnya dibawa ke kampung halamannya di Surabaya pada Sabtu (18/2/2012) serta dikremasi pada hari Kamis (23/2/2012) di Surabaya. Almarhum memiliki tiga putera dan satu puteri yang masing-masing tinggal di Surabaya, China dan Belanda. Sebelum wafat, Bubi sebenarnya telah membuat album yang belum sempat dirilisnya. Album jazz yang lebih ngepop itu antara lain menyuguhkan lagu hits karya band legendaris asal Inggris, Bee Gees, yakni Staying Alive dan Emotions. atur

Data Singkat
Bubi Chen, Musisi Jazz / Pianis Seluruh Jiwa | Ensiklopedi | musisi, jazz, global, beat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here