
Negara memperingati Hari Menanam Sejuta Pohon setiap 10 Januari dengan seremoni tanam bibit dan slogan keberlanjutan. Di lapangan, pohon sering berhenti sebagai simbol. Namun di Al-Zaytun, pohon sejak awal diperlakukan sebagai sistem: ia menumbuhkan pangan, menghidupi manusia, dan menopang kemandirian. Bukan peringatan tahunan, melainkan kerja harian.
Hari Menanam Sejuta Pohon lahir dari kesadaran bahwa krisis ekologis tidak bisa diselesaikan dengan retorika pembangunan lama. Deforestasi, krisis iklim, dan ketergantungan pangan memaksa negara mengakui satu hal mendasar: pohon adalah infrastruktur kehidupan. Tanpa pohon, tidak ada air. Tanpa air, tidak ada pangan. Tanpa pangan, runtuhlah ketahanan sosial.
Kesadaran itulah yang telah lebih dulu dijalankan di Ma’had Al-Zaytun. Ketika kawasan ini dibangun di atas tanah gersang, keputusan pertamanya bukan sekadar mendirikan bangunan, melainkan menanam. Dari sanalah hijau perlahan tumbuh, bukan sebagai estetika, tetapi sebagai strategi hidup. Di bawah kepemimpinan AS Panji Gumilang, menanam pohon diletakkan dalam kerangka yang lebih luas: Trilogi Kesadaran,yaitu kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial.
Dalam kesadaran ekologis itu, pohon tidak berdiri sendiri. Ia ditautkan langsung dengan ekonomi. Al-Zaytun membangun apa yang hari ini populer disebut sebagai ekonomi hijau: sistem produksi yang menjaga keberlanjutan alam sekaligus memenuhi kebutuhan manusia. Prinsipnya sederhana namun radikal, lingkungan dirawat agar ekonomi bertahan, bukan sebaliknya.
Skalanya bukan kecil. Setiap hari, Al-Zaytun membutuhkan sekitar 1,8 ton beras untuk memenuhi konsumsi seluruh sivitasnya. Kebutuhan sebesar itu tidak diserahkan kepada pasar. Sawah, kebun, dan sistem pertanian internal menjadi tulang punggung. Menanam padi, merawat lahan, dan mengelola air bukan pekerjaan tambahan, melainkan jantung institusi.
Di titik ini, Hari Menanam Sejuta Pohon menemukan makna ekonominya. Pohon bukan hanya penyerap karbon, tetapi penyangga kemandirian pangan. Ia menekan ketergantungan, menstabilkan pasokan, dan menjaga harga hidup tetap rasional. Di Al-Zaytun, ekologi dan ekonomi tidak dipertentangkan. Keduanya dirajut dalam satu napas.
Kini, langkah itu bergerak lebih jauh melalui ekonomi perkebunan. Ribuan pohon durian jenis duri hitam ditanam sebagai investasi jangka panjang. Bukan sekadar komoditas bernilai tinggi, durian diposisikan sebagai sumber pendapatan berkelanjutan bagi Ma’had. Pohon-pohon itu tidak diperlakukan sebagai proyek cepat panen, tetapi sebagai warisan ekonomi yang hasilnya akan dinikmati bertahun-tahun kemudian.
Di sinilah peringatan 10 Januari seharusnya berhenti menjadi ritual simbolik. Menanam sejuta pohon bukan soal berapa bibit masuk tanah hari ini, melainkan apakah pohon-pohon itu dirawat hingga berbuah secara ekologis dan ekonomis. Al-Zaytun memberi contoh yang jarang dibicarakan: bahwa kemandirian pangan dan kesejahteraan tidak lahir dari eksploitasi alam, tetapi dari kesabaran menanam.
Ketika hari ini Kementerian Agama mendorong narasi ekoteologi, yaitu agama yang berpihak pada kelestarian alam, praktiknya di Al-Zaytun telah berjalan puluhan tahun. Ekoteologi tidak berhenti pada khutbah tentang menjaga bumi, tetapi menjelma sawah, kebun, dan pohon-pohon yang terus tumbuh.
Maka 10 Januari seharusnya dibaca ulang. Ia bukan sekadar hari lingkungan, melainkan pengingat ekonomi. Pohon adalah tabungan masa depan. Ia menunda keuntungan hari ini demi keberlanjutan esok. Di tengah krisis iklim dan ketergantungan pangan, pesan itu terasa mendesak.
Satu juta pohon, pada akhirnya, adalah soal pilihan peradaban: apakah kita ingin terus memperingati, atau mulai menjalani. Di Al-Zaytun, jawabannya sudah lama ditanam, dan hari ini, ia mulai berbuah. (Ali Aminulloh)





















Mantap, menanam kesadaran, menumbuhkan kemanusiaan