Si Burung Phoenix Pencinta Lingkungan

[ Nabiel Makarim ]
 
0
173
Nabiel Makarim
Nabiel Makarim | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Ia pantas digelari Si Burung Phoenix. Burung dalam mitologi Yunani yang bertampang jelek tapi setiap kali mati, dari abunya hidup lagi Phoenix yang baru. Ia punya prinsip, tak mau kemewahan, tapi tak mau juga kesengsaraan, asal cukup saja. Ia juga tipe manusia yang tak mau kalah (menyerah). Seperti burung Phoenix, ia orang yang tak mau mundur atau kalah, selalu hidup kembali. Kariernya berliku timbul tenggelam sampai akhirnya ia menjabat Menteri Lingkungan Hidup.

Kalau ia mau sesuatu, ia terus maju, berjuang. Kalau gagal, ia coba lagi dengan terus konsisten, tidak ngoyo. Maka ia pun lebih menyukai disebut sebagai Burung Phoenix (burung berwarna abu-abu dan rupanya jelek), ketimbang sebagai burung Merak yang anggun berwarna-warni. Jika diperhatikan, mantan Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen (1979-1982), ini memang tak pernah memakai pakaian yang harganya mahal. Sepatu yang ia pakai ke Istana, itu juga yang ia pakai ketika berkunjung ke tempat pembuangan sampah Bantar Gebang, Bekasi. Tetapi juga bukan berarti kurang ajar. Sepatunya sampai hancur baru diganti. Sabuk sampai putus baru diganti. Jadi memang ia bukan Merak tapi Phoenix.

Kisah hidupnya laksana burung Phoenix. Setidaknya itulah yang tersimpul dari pengamatan dan percakapan Wartawan Tokoh Indonesia dengan Nabiel Makarim di ruang kerjanya, selepas jam kerja Rabu 23/10/02. Pria bergelar Diploma Engineering Chemical dari Swinburne College of Technology, Victoria, Australia dengan tesis bidang teknologi lingkungan hidup, ini tiga puluh tahun harus menunggu impiannya menjadi Menteri Lingkungan Hidup. Sejak di meja kuliah – atas desakan guru besarnya ia harus memilih bidang lingkungan hidup — ia telah menoreh goresan pena di buku harian bahwa 20 tahun sejak 1971 harus menjadi Menteri Lingkungan Hidup. Padahal ketika itu, jangankan di negeri ini bahkan di seluruh dunia, belum ada Kementerian Lingkungan Hidup.

Impian itu terwujud setelah 30 tahun, melalui perjalanan panjang. Selepas menyelesaikan studi di Australia, sebelas tahun ia harus sabar menjadi volunteer atau sukarelawan sambil menunggu diangkat menjadi pegawai negeri sipil di kementerian lingkungan hidup. Tetapi itulah yang membuat hidupnya lebih terpacu mewujudkan obsesi mengatur dan memperbaiki lingkungan di Indonesia, menjadi menteri lingkungan hidup.

Ketika ia mengikuti proses penerimaan menjadi pegawai negeri, selama 11 tahun itu, ia tak mau menyerah. Tetapi terus maju. Sampai-sampai waktu itu, Emil Salim sudah tak tahan lagi dan langsung mengurus ke Presiden. Hingga akhirnya ia diangkat menjadi pegawai negeri, langsung eselon satu. Ini suatu hari kebangkitannya.

Selama 2 tahun ia menjadi asisten Menteri KLH Emil Salim. Pada waktu itu, ia ditugaskan untuk membuat suatu badan baru yang akhirnya menjadi BAPEDAL. Ia pun ditempatkan di badan itu sampai tahun 1998. Tapi tahun 1998 ia diberhentikan, pada era Panangian Siregar. Ia ‘terkubur’ di luar lingkungan hidup sampai 2001. Tapi, bagai burung Phoenix, tahun 2001 ia bangkit lagi, bahkan menjadi Menteri Lingkungan Hidup.

Ia menjadi menteri bukan melalui jalur partai. Ia bukan berasal dari partai politik. Bukan pula atas ‘pendekatan’ sana-sini. Ketika itu ia dihubungi oleh Ibu Mega melalui telepon, “Apakah kamu siap untuk mendampingi Ibu?” Nabiel jawab, “Ya, saya siap Bu.” Karena memang itulah obsesi sucinya sejak di bangku kuliah.

Dari mana Presiden Megawati mengenalnya? Nabiel banyak menulis tentang lingkungan. Ibu Mega juga pasti mengetahui itu sebelumnya. Sebab, ketika pada awal tahun 2000 Nabiel sakit, Ibu Megawati (Wapres) sudah mengirim karangan bunga. Nabiel dan isteri heran ketika menerima karangan bunga itu. Sebab sama sekali ia belum pernah ketemu dengan Megawati, sampai hari pelantikannya menjadi menteri.

Maka ketika hari pelantikan dan pengambilan sumpah, setelah acara pelantikan itu, selalu diikuti bersalaman satu persatu, saat itu Nabiel berkata (memperkenalkan diri), “Bu, saya Nabiel Makarim.” Lalu Presiden Megawati menjawab, “Tahu saya.”

Suami dari Ainun Djariah ini lahir di Solo 9 November 1945, beberapa bulan setelah Indonesia merdeka. Lahir dan dibesarkan dalam suatu komunitas Islam. Ketika duduk di bangku SD, ia belajar di sebuah yayasan pendidikan Muhammadiyah. Tapi ketika naik kelas 5 ia dipindahkan oleh ayahnya, bukan karena ada masalah, ke sekolah berbasis NU. Setelah tamat SD, ia dimasukan ke SMP Katolik St. Xaverius di Solo dan SMA St. Josef di Solo juga.

Setelah kelas dua SMA, ia baru menerima penjelasan dari ayahnya mengenai perpindahan sekolahnya. Bahwa di rumah ia sudah mendapat pendidikan Islam. Lalu disekolahkan di Muhammadiyah, kemudian di NU dan Katolik. “Nanti kamu akan belajar di universitas di negara Protestan. Supaya kamu tahu semuanya, cara berpikir mereka,” jelas ayahnya. Ia pun menjadi mahful dan maklum.

Ia memang akhirnya dikuliahkan di Australia dan kemudian di Amerika. Jadi dari sejak kecil, di dalam rumahnya telah diajarkan toleransi. Bahkan ketika ia di SMA, kawan-kawan di kelasnya meminta perayaan Natal pada tahun itu diadakan di rumahnya. Padahal rumah mereka berada di lingkungan Islam. Lalu dijelaskan kepada ayahnya tentang hal itu. Ayahnya bilang, “Boleh!”

Peristiwa itu telah menjadi kenangan. Hingga pada Juni 2001 lalu, pada sebuah acara pertemuan alumni, kawan-kawannya masih ingat. “Ingat nggak kita bernatal di rumah kamu? Bisa nggak diadakan lagi.” Dan, ia jawab “baik, boleh.”

Sikap toleransi dan kebersamaan juga terbina dalam kepanduan. Keluarga Nabiel adalah keluarga Pandu (Pramuka). Nabiel sendiri adalah anggota Pramuka dari Solo V. Pada hari Minggu sore, biasanya mereka latihan di sebuah lapangan. Di sekitar lapangan terdapat lembah dan alur sungai. Di sisi lain ada juga pabrik dan hutan kecil. Ia bersama teman-temannya sering bermain di sekitar lembah itu sambil menunggu pelatih. Suatu saat mereka mau bermain di lembah itu. Tetapi tiba-tiba temannya yang berlari paling depan berhenti. Karena limbah yang berasal dari pabrik dialihkan ke lembah itu. Saat itu mereka kecewa. Tetapi mereka tidak bisa marah. Hanya bisa tertegun. Karena mereka sadar bahwa semua orangtua mereka usahanya adalah batik. “Jadi kita tidak bisa marah karena ini kepentingan orangtua. Walaupun akibatnya juga kita tidak bisa bermain,” kenang Nabiel yang juga punya hoby berenang dan menyukai olahraga judo dan jijutsu.

Namun peristiwa ini telah menumbuhkan kecintaan lingkungan hidup dalam benaknya. Belakangan ia melihat kembali dan mencoba mengetahui apakah yang ia pikirkan waktu itu. Mestinya orangtua mereka masih dapat berusaha dan hidup cukup, tetapi anak-anak juga masih bisa bermain di lembah itu. Pemikiran itu terus ia bawa dalam benak, sampai pada waktu tingkat terakhir di perguruan tinggi.

Pada saat itu ia ditawarkan untuk masuk di bidang lingkungan. Ketika berada di tingkat akhir, biasa kepada setiap mahasiswa ditanya tentang bidang apa yang akan mereka ambil. Ada yang mengambil industri, perminyakan dan lain sebagainya. Tetapi ketika masuk gilirannya, ia tidak diberikan waktu untuk memberikan jawaban. Ia heran. Hingga waktu kelas habis, ia akhirnya bertanya kepada guru besarnya. Kenapa ia tidak diberi waktu. Padahal ia telah beberapa kali meminta kesempatan. Tetapi guru besarnya menjawab, “Saya menginginkan kamu untuk datang langsung ke saya.” Nabiel balik bertanya, “Ada apa, Prof?” Profesor menjawab, “Saya mau kalau kamu masuk bidang lingkungan.”

Tapi Nabiel mengatakan bahwa ia punya rencana sendiri. Ia ingin masuk bidang kosmetik. Alasannya, karena pada waktu itu (1970) Indonesia sedang dalam keadaan perkembangan ekonomi yang baik dan terbuka, yang akan menciptakan pendapatan semakin naik, sehingga orang mulai banyak memakai make-up. Dan ia tambahkan bahwa orang Indonesia itu lebih suka dandan dibandingkan dengan orang Australia.

Tetapi profesor itu bilang, “Tidak! Ada yang lebih perlu dari itu. Saya sudah datang ke Indonesia, dan kamu harus masuk di bidang lingkungan. Sebab ekonomi Indonesia baru sedang dibuka dan dalam beberapa tahun ke depan akan ada masalah bidang lingkungan dan tidak ada orang yang tahu. Maka kamu harus siap buat mereka. Terlebih karena kamu dibiayai oleh pemerintahmu.”

Dukungan sangat besar. Sampai-sampai untuk mendorongnya menjadi tertarik, ia diberikan tugas tesis. Selain itu, ia pun dicarikan pekerjaan di bidang lingkungan. Lalu tiba-tiba pengalaman ketika masa kecil itu langsung teringat. Nilainya yang pada awal-awal kuliah tingkat satu hingga tingkat tiga pas-pasan, tiba-tiba di tingkat empat naik. Karena ia sudah mempunyai tujuan. Kemudian ia bekerja dan menyelesaikan tesis pada tahun 1971. Pada tahun itu ia menulis dalam diary-nya, “20 tahun dari sekarang (1971), saya harus menjadi menteri lingkungan hidup.” Padahal waktu itu kementerian bidang lingkungan hidup di seluruh dunia belum ada. Baru ada sekitar tahun 1973-1974, itupun hanya di negara-negara barat. Di Indonesia sendiri belum ada, baru dibentuk kementerian lingkungan hidup pada tahun 1978. Kenyataannya pada tahun 1991 impian itu belum terwujud. Baru bisa terwujud tahun 2001, telambat 10 tahun.

Presiden Megawati mengangkatnya menjadi Menteri Lingkungan Hidup, tanpa pernah ketemu sebelumnya. Ia dikenal dari berbagai tulisannya di media massa. Ia memang hoby menulis. Waktu di Australia ia pegang majalah mahasiswa, yang terbitnya sering tapi sayang tidak banyak orang yang mau menulis. Ketika sudah waktunya terbit ia ditagih. Karena lama-lama seperti itu terus, akhirnya ia tulis sendiri semuanya dari depan sampai belakang dengan nama penulis berbeda-beda. Dari editorial, cerita pendek, interview, ia juga bikin sajak dan segala macamnya. Seluruh isi majalah itu tulisannya. Akhirnya, pemilik gelar Master of Science in Management (MSM), dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Massachusetts, Amerika Serikat dengan konsentrasi bidang studi International Business, 1985, ini makin terlatih menulis.

Dari sejak remaja ia memang sangat senang menulis. Bahkan ketika di SMA ia punya cita-cita menjadi wartawan. Sewaktu lulus SMA, ia ingin masuk sekolah jurnalistik. Tapi orangtuanya menolak. Ia hanya diberi dua pilihan, yakni jadi dokter atau insinyur. Kalau tidak mau sekolah dokter atau insiyur, sekolah sendiri saja. Maka ia pilih masuk ITB, karena ia tak tahan melihat darah. Tapi keinginan untuk menjadi wartawan masih tetap ada. Sampai menjabat menteri ia tetap hoby menulis.

Pernah ia menulis cerita pendek di Kompas 1991. Waktu itu ia memberi persyaratan, cerita pendeknya jangan ditempatkan di kolom cerita pendek. Harus ditempatkan di halaman empat. Padahal halaman empat biasanya halaman untuk tajuk dan opini. Akhirnya Kompas memuat di halaman empat terbitan 28 Juli 1991.

Cerita pendek itu berkisah tentang keadaan Jakarta. Ketika seluruh penduduknya bangun, di Jakarta tidak ada air. Semua air hilang tanpa disebutkan karena apa. Lalu semua menjadi kacau. Orang yang mau naik mobil menjadi panas mobilnya karena tak ada air. Untuk mandi tidak ada air dan segala macam. Suasana sangat kacau dari pagi sampai jam 14.00. Gubernur sudah kewalahan. Kemudian masyarakat dianjurkan untuk keluar kota karena di luar kota masih ada air.

Pada saat mereka jalan rombongan lewat jalan tol ke arah Bogor, hujan tiba-tiba turun. Kemudian mereka kembali lagi. Sampai pada bagian terakhir adegan itu menceritakan berita banjir di sana-sini. Semua orang senang. Kemudian tampil gubernur pada acara televisi bersama para ulama. Gubernur mengatakan bahwa “kini mulai ada kecenderungan baru, orang-orang mulai menyembah air. Kita harus menghormati air, tapi bukan berarti menyembahnya.” Jadi ide ceritanya ingin menyampaikan pesan bahwa kadang-kadang air itu sering tidak dihargai, sampai ada kekeringan sehingga orang kebablasan malah menyembah air.

Sejak saat itu ia banyak menulis cerpen di Matra. Di majalah itu ia hanya menulis cerita, tidak ada pesannya. Selain menulis cerita pendek, ia juga hoby menulis sajak. Sudah banyak sajak yang ia tulis. Tetapi tidak dipublikasikan. Ia menjadi suka menulis sajak karena sering merasa terganggu dengan sajak Indonesia yang kecenderungan hanya tentang cinta. Lalu ia berpikir apakah tidak bisa membuat sajak yang bukan tentang cinta. Kemudian ia mulai menulis sajak tentang hidup. Tetapi kelamaan terjadi keseimbangan yang akhirnya ia menulis juga tentang cinta. Tak apa-apa, yang jelas harus ada keseimbangannya, tak selalu tentang cinta.

Salah satu sajaknya tentang “Tak Ada.” Apakah itu “tidak ada.” Bisakah kita membayangkan “tidak ada” seperti apa? Sebab sering kali kita membayangkannya seperti sebuah ruangan gelap. Padahal ruangan gelap masih memiliki ruangan dan waktu. Kemudian dalam sajak itu, ia juga mencoba menceritakan bagaimana yang ‘tidak ada’ itu terjadi.

Ketika ia menulis sebuah cerita pendek tujuannya hanya ingin bercerita. Ketika menjalani hari-hari kerja yang penuh dengan kendala, ia perlu kreatifitas. Ia menulis sebagai latihan kreatifitas untuk menghadapi kendala. Jadi ia mendorong sampai ke batas (I’m push to the limit). Sehingga kemampuan kreatifitasnya terjaga. Dan ketika ia berhadapan dengan masalah di kantor tingkat kreatifitasnya masih tajam.

Jadi tidak heran jika tulisannya terdengar aneh-aneh. Ada sajak tentang perjalanan menuju batas antara tak terhingga dan tidak ada. Di ujung yang ada itulah tak terhingga. Suatu saat di tak terhingga ada batas ke yang tidak ada. Selain itu, ia juga orang yang sering bertanya kepada diri sendiri, “Saya ini apa?” Dan semuanya ia goreskan dalam bentuk tulisan.

Bahkan ketika ia bermimpi, mimpinya diusahakan untuk ditulis. Kebiasaan ini dimulai sejak ia harus menulis satu majalah penuh. Kebiasaan ini menular kepada anaknya. Anaknya sejak SMP sudah punya cita-cita ingin menjadi seorang penulis. Ketika anaknya lulus dan mendapat beasiswa dari pemerintah, syaratnya harus pindah jurusan, kalau jurusan tehnik dibayar. Anaknya diharuskan memilih teknik. Jadi ceritanya dengan ayahnya terulang. Tapi anaknya bisa mengatakan tidak mau. “Anak saya lebih berani dari saya, kalau saya menurut,” katanya. Sekarang Si Anak sudah lulus dari jurusan seni dan film.

Setiap menulis sajak, ia tak pernah bermaksud mengkritik siapa-siapa. Ia tak mau merubah, melainkan hanya mengungkapkan dari apa yang ada. Sejak di college ia banyak menulis tentang tema-tema hidup. Jadi kalau WS Rendra disebut dengan sebutan Burung Merak, ia kebalikannya. Ia lebih menyukai disebut sebagai Burung Phoenix (burung dalam mitologi Yunani).

Kalau bicara tentang seni, ia melihat seni itu ada di mana-mana. Ia memang orang yang bisa menghargai yang sederhana. Tidak seperti kebanyakan orang hanya bisa menghargai yang luar biasa. Contohnya, menghargai air putih saja, itu lebih luar biasa dibandingkan dengan minuman apapun. Kalau mau melihat keindahan, kadang-kadang tulisan di koran itu kalau bisa diharagai ada seninya. Atau sebuah cerita tentang fakta yang jelas.

Ia memberi contoh ketika berada di Bali. Ia menulis laporan cuma satu halaman dalam bentuk sajak. Isinya tentang seorang peremuan yang sedang dibalut dengan kain, yang tampangnya bukan berasal dari Legian atau orang disko. Ternyata ia berasal dari Kebumen. Datang ke Legian mencari kerja, karena suaminya telah meninggal dan anaknya butuh biaya untuk sekolah. Karena pekerjaan tidak dapat, akhirnya malam itu ia tidur di pinggir jalan. Di situlah perempuan itu kena bom. Itu fakta yang bisa di terjemahkan menjadi sebuah keindahan. “Jadi dari fakta yang sederhana, bisa dinikmati suatu yang indah,” ujar penerima Academy Award, dari the United States Association of Environmental Engineers untuk design dan pelaksanaan program (PROKASIH-atau Program Kali Bersih) terbaik, 1993 ini. Menurutnya, keindahan itu ada di mana-mana. Masalahnya, apakah kita cukup sensitif atau peka untuk dapat melihatnya.

Ia pun orang yang mau belajar kompromi. Ada salah satu cerita yang menarik perihal masalah kompromi ini sebelum ia diangkat menjadi meteri. Ketika itu, pada tahun 2001, ada pertemuan alumni SMA St Josef Solo. Pada acara seminar, salah satu pembicaranya, seorang sosiolog yang juga alumni, mengatakan bahwa lulusan SMA St, Josef, memiliki kesamaan ciri-ciri yaitu mereka adalah orang-orang pintar tapi tak mau kompromi. Seperti layaknya sifat kepala sekolah SMA St. Josef yang selama 20 tahun memimpin sekolah itu.

Sosiolog itu mengemukakan hal itu karena belum ada satu pun alumni sekolah itu yang menjadi menteri. Karena menjadi menteri adalah menjadi orang yang berkompromi. Maka pembicara itu membuat teori bahwa di masa depan pun tidak akan ada menteri yang keluar dari lulusan SMA St Josef. Tapi ternyata teorinya salah, karena sebulan kemudian Nabiel diangkat menjadi menteri.

Nabiel sendiri mengaku belajar untuk bisa kompromi. “Berkompromi dalam pengertian, bahwa memang prinsip kita tidak dapat diganggu, namun kita dapat memberi sesuatu supaya orang dapat menerima prinsip kita, yaitu sebuah kemampuan untuk dapat berkomunikasi,” jelas Nabiel yang juga punya keahlian khusus bidang komunikasi dan mediasi.

Ketika sempat ‘terbuang’ dari kementerian lingkungan hidup, ia diangkat sebagai anggota KPPU. Pada saat ia datang kembali, situasi sudah berubah. Keadaan lingkungan selama 5 tahun terakhir sangat merosot. Menurut mantan Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) 1990-1999, yang juga punya keahlian khusus bidang manajemen, organisasi kepemerintahan dan khususnya dalam “strategic planning and management” ini, hal itu dapat terjadi karena kesalahan dalam mengambil keputusan. Pada saat alokasi sumber daya untuk lingkungan bertentangan dengan kepentingan lain. Lingkungan cenderung selalu kalah. Karena di dalam politik pengambilan keputusan kelompok, lingkungan selalu lemah dalam kekuatan politiknya.

Kenapa lemah, karena yang membela lingkungan hanya sebagian dari kalangan menengah dan sebagian tidak punya kekuatan politik. Maka kelas menengahnya harus diperkuat dan sering-sering turun ke masyarakat. Seperti yang dilakukan Emil Salim tentang kesadaran lingkungan selama 10 tahun. Tetapi semua berhenti karena ada pengaruh penguasa. Sampai-sampai pencinta lingkungan sering disebut PKI atau komunis. Sehingga muncul ketakutan. Sadar lingkungan, namun bersikap pasif. Lingkungan selalu kalah karena kekuatan politiknya lemah.

Sehingga, menurut Nabiel, hal yang perlu dikembangkan adalah sebuah sistem demokrasi yang lebih mementingkan lingkungan. Masyarakat harus menuntut hak dalam lingkungan dan pemerintah daerah harus sensitif dan mampu memenuhi aspirasi dari rakyat. Itu yang diusahakan sekarang ini.

Langkah pertama yang ia lakukan mengadakan reformasi ke dalam, salah satunya disatukannya Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan BAPEDAL sebagai lembaga pemerintah yang membuat kebijaksanaan dan koordinasi. Sekaligus juga diberi wewenang sebagai pelaksana dan operasional. Ia meminta kementeriannya harus bisa bertindak operasional.

Sebagai pembantu Presiden bidang lingkungan hidup, ia menolak anggapan bahwa Presiden Megawati tidak punya agenda reformasi yang jelas. Ia menjelaskan bahwa bangsa ini memilih reformasi sebagai jalan meningkatkan kesejahteraannya. Bukan memilih revolusi atau sekadar pengambilalihan kekuasaan. Menurutnya Presiden Megawati mempunyai tahapan-tahapan yang jelas dalam melaksanakan gerakan reformasi, dengan mempertimbangkan segala aspek dan dampak positif-negatifnya. Ia yakin masyarakat yang jeli akan melihat keunggulan Megawati dalam mengatur agenda tahapan kebijakan reformasi, termasuk pemberantasan KKN pada tahun-tahun mendatang.

Ia memang orang yang mau menghargai kelebihan orang lain. Termasuk sangat menghargai para pendahulunya di Kementerian Lingkungan Hidup. Khususnya Prof. Dr. Emil Salim dan Ir. Sarwono Kusumaatmadja. Kedua nama ini, bahkan selalu dicantumkan dalam kolom refrensi daftar riwayat hidupnya. Ia memang orang yang mau menghargai kelebihan orang lain. Termasuk sangat menghargai para pendahulunya di Kementerian Lingkungan Hidup. Khususnya Prof. Dr. Emil Salim dan Ir. Sarwono Kusumaatmadja. Kedua nama ini, bahkan selalu dicantumkan dalam kolom refrensi daftar riwayat hidupnya. Di ruang kerjanya juga terpampang foto John F Kennedy. Ia mengagumi pemikiran mantan Presiden AS itu, yang terkenal: “Jangan tanya apa yang diberikan oleh negara kepadammu, tetapi tanyalah apa yang telah kamu berikan kepada negara.” Sama kagumnya dia kepada Bung Karno yang juga kaya gagasan dan pemikiran. Tabik, Si Burung Phoenix! TI

Data Singkat
Nabiel Makarim, Menteri Negara Lingkungan Hidup RI ( 2001-2004) / Si Burung Phoenix Pencinta Lingkungan | Ensiklopedi | ITB, Menteri, Lemhannas, Lingkungan hidup, St. Xaverius, Harvard

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here