Integritas Seorang Banker

[ Cyrillus Harinowo ]
 
0
51
Cyrillus Harinowo
Cyrillus Harinowo | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Mantan nominator calon Gubernur Bank Indonesia 2003 ini dikenal memiliki intregritas dan kredibilitas tinggi dalam dunia perbankan. Berpengalaman selama puluhan tahun di Bank Sentral (Bank Indonesia) dan IMF sebagai Alternate Executive Director, membuktikan kehandalannya dalam dunia perbankan, sekaligus membuat pergaulannya dengan komunitas finansial internasional sangat luas.

Meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai Technical Assistance Advisor, Monetary and Exchange Affairs Departement di Dana Moneter Internasional (IMF), Washington DC, AS, kemudian tidak berhasil menjabat Gubernur BI tidak berarti dunia kiamat bagi karier pria yang sudah puluhan tahun melanglang buana di dunia perbankan ini. Dengan kemampuan, integritas, kredibilitas dan pengalamannya yang sangat handal itu, akhirnya menarik hati kelompok Farindo (Farallon dan Djarum) sebagai pemegang saham mayoritas Bank BCA ‘meminang’-nya jadi komisaris di bank tersebut.

Walupun gagal menduduki jabatan tertinggi di lembaga keuangan negeri ini namun berhasil menjadi salah satu dari tiga besar pilihan utama bersama Miranda S.Goeltom dan Burhanuddin Abdullah, telah menunjukkan integritas dan kredibilitas tersendiri bagi penulis buku Utang Pemerintah: Perkembangan, Prospek dan Pengelolaannya ini.

Karena sebelumnya, sejumlah nama yang juga disebut-sebut bakal menjadi calon Gubernur BI waktu itu, seperti Kwik Kian Gie (Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas), Laksamana Soekardi (Menteri Negara BUMN), Boediono (Menteri Keuangan), ECW Neloe (Presiden Direktur Bank Mandiri), Jusuf Anwar (mantan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal/Bapepam), Edwin Gerungan (mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional), dan Aulia Pohan (Deputi Gubernur BI) masih diunggulinya.

Masih mengenai integritas dan krediblitasnya. Dalam masalah BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) namanya tidak tersangkut dalam daftar 80 orang yang menurut Badan Pengawas Keuangan. Menurutnya, saat krisis terjadi dia memegang tanggung jawab operasi pengendalian moneter. Tugasnya menangani instrumen-instrumen moneter seperti SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan SBPU (Surat Berharga Pasar Uang). Namun di akhir 1997, karena saldo debet yang begitu banyak, penanganannya dialihnamakan menjadi SBPU khusus. Jadi bukan SPBU instrumen yang sehari-hari digeluti operasi pengendalian moneter. Sehingga, dia tidak mungkin dikaitkan dengan saldo debet itu, karena bukan termasuk wewenangnya.

Di bank sentral, ayah empat orang anak, ini memulai karier sejak tahun1978 sebagai staf perencanaan kredit BI. Pernah menjadi andalan bank sentral meraih posisi Direktur Eksekutif IMF untuk kawasan Asia Tenggara. Sayang langkahnya terjegal aturan yang menyebut pejabat BI yang bisa menjadi Direktur Eksekutif IMF harus pernah menjadi anggota dewan gubernur.

Dia memang pernah gagal menjadi Deputi Gubernur. Pada Maret, 2000 lewat proses beauty contest yang berlangsung maraton sejak pukul 20.00 Rabu hingga pukul 05.30 pagi Kamis, di Komisi IX DPR, Aulia Pohan mengungguli dua kandidat pesaingnya, yaitu Burhanuddin Abdullah dan dirinya. Dengan begitu, Aulia Pohan yang waktu itu masih menjabat Deputi Gubernur BI, kembali menduduki posisi tersebut setelah habis masa jabatannya. Setelah itu dia sendiri menempati posisi sebagai pegawai utama setingkat direktur di Direktorat Sumber Daya Manusia.

Pria yang meraih Sarjana Ekonomi Akuntansi tahun 1977 dari Universitas Gajah Mada, Yokyakarta ini akhirnya ditugaskan ke IMF Washington sebagai Alternate Executive Director setelah kurang lebih dua puluh tahun berkarier di Bank Sentral.

Mulai November 2000 hingga mencalonkan diri menjadi Gubernur BI, dia ditunjuk sebagai Technical Assistance Advisor, Monetary and Exchange Affairs Departement di Dana Moneter Internasional (IMF), Washington DC, AS.

Kembali ke sekitar pencalonannya jadi Gubernur Bank Indonesia. Pria kelahiran Yogyakarta 9 Pebruari 1953 ini kala itu baru sepekan lewat dua hari kembali ke tanah air dari Washington DC, AS. Tiba-tiba datang kabar dari istana. Sekretaris Negara, Bambang Kesowo memintanya mengirimkan daftar riwayat hidupnya sekaligus juga diminta menyiapkan diri dalam pencalonan Gubernur Bank Indonesia.

“Saya dapat surat cinta,” katanya menanggapi kabar dari istana, yang pas saat ‘valentine day’ itu. Bahkan dia menyebut tugas berat itu sebagai ‘kejutan yang manis’.

Menantu Palaoensoeka –anggota dewan dari PDI juga PDI Perjuangan selama 40 tahun — ini, sebelumnya yakin akan menggantikan posisi Syahrill Sabirin sebagai Gubernur BI saat itu. Jika tidak yakin, tentu dia akan berpikir dua kali mengambil keputusan untuk melepas pekerjaannya sebagai technical assisttant advisor di lembaga donor dunia (IMF). Apalagi dari pekerjaan itu dia memperoleh hasil sekitar Rp 1 miliar setahun. Bahkan bukan hanya pekerjaan yang ditinggal, keluarganya pun ketika itu masih menetap di Amerika Serikat.

Alumni Doctor in Economic Monetary Vanderbilt, Masschusett Amerika Serikat (1985), ini berencana akan membawa optimisme bagi bangsa ini jika terpilih jadi Gubernur BI. Namun persaingan menuju kursi penguasa bank sentral terbukti tidak mudah. Dewan memilih Burhanuddin Abdullah sebagai Gubernur Bank Indonesia. Mengalahkannya dan Miranda Goeltom sebagai calon yang diusulkan Presiden Megawati Soekarnoputri untuk dipilih DPR.

Namun tidak terpilih menjadi Gubernur BI bukan berarti kariernya tamat. Tidak lama,
oleh penentu kata akhir dari Farallon di Amerika Serikat dan di Djarum (Parindo) sebagai pemegang saham mayoritas Bank Central Asia (BCA) menawarkannya jabatan komisaris.

Dengan Integritas dan kredibilitasnya yang tinggi, dia memang pantas duduk sebagai pengawas BCA. “Saya tidak akan mengkompromikan integritas saya di sini,” kata putra Yogyakarta yang selalu bertutur sapa dengan tingkat kesantunan prima kepada siapa pun.

Menurutnya, faktor atau alasan yang mendorongnya menerima tawaran tersebut karena BCA itu merupakan bank aset bangsa. Disamping itu, dua hal yang menurutnya sejalan dengan misinya, misi pemerintah dan misi Bank Indonesia, yaitu bagaimana mengembangkan bank ini dan bagaimana mempercepat pertumbuhan kreditnya.

Pihak Farallon yang mempercayainya sebagai komisaris berharap, bagaimana agar BCA dijalankan secara profesional, sebagaimana halnya bank-bank di AS. Mengenai komitmennya di Bank BCA ini dia mengatakan bahwa sama seperti harapan masyarakat agar bank ini semakin berguna bagi bangsa.

Setelah dia masuk, memang dia melihat bank ini kuat sekali sebagai bank transaksi dengan luas jaringannya. Kekuatannya mengumpulkan dana luar biasa, ada 6,5 juta nasabah. Itu elemen sangat penting bagi suatu bank. Namun di sisi penyaluran kredit, boleh dikata kurang aktif. Itulah yang akan mereka coba lebih perkuat lagi.

Sebagai indikasinya total kredit BCA yang sudah disepakati untuk dikucurkan mencapai Rp 29 triliun. Tetapi sampai 26/6-2003, baru terserap oleh nasabah sebesar Rp 22 triliun sehingga masih ada Rp 7 triliun yang belum terserap. Dalam hal pertumbuhan kredit ada empat area yang betul-betul dicoba. Keempat area itu adalah sektor ritel, sektor komersial, sektor konsumen, dan sektor korporasi.

Menurutnya, saat ini (Juni 2003) kekuatan BCA itu di level menengah ke bawah, yakni sektor komersial dan ritel dengan kredit Rp 50 miliar ke bawah. Tetapi, infrastrukturnya harus dikembangkan sedemikian rupa dengan cepat sehingga dapat melayani transaksi dengan cepat dan efisien. Mereka akan mengembangkan sentra-sentra kredit di wilayah tertentu. Bagaimana sentra-sentra ini bisa cepat mengambil keputusan dalam hal penyaluran kredit.

Sedangkan sektor korporat juga harus dikembangkan sedemikian rupa karena sektor ini juga menurutnya menghadapi persaingan. Maksudnya bukan persaingan antar bank, tetapi bersaing dengan instrumen obligasi. Nasabah bisa saja menerbitkan obligasi, lalu melunasi utangnya pada bank sehingga bank harus mencari nasabah lainnya.

Mengenai penilaian orang bahwa BCA akan dipakai oleh kelompok Djarum sebagai kendaraan untuk meraup kredit lebih besar, dia kira itu tidak benar. Sebelum Farindo (kelompok Farallon dan Djarum) membeli saham pemerintah, Djarum sudah menjadi nasabah BCA dan kreditnya pun memang sudah besar. Setelah masuk, jumlah kreditnya justru lebih rendah. e-ti

Data Singkat
Cyrillus Harinowo, Alternate Executive Director IMF (1998-2003) / Integritas Seorang Banker | Direktori | UGM, Dosen, Rektor, komisaris, BI, Staf menteri

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here