Esai Reflektif-Analitis
E

Republik Delapan Puluh Tahun

Umur tidak selalu mencerminkan kedewasaan. Delapan puluh tahun Indonesia merdeka, tapi dalam banyak hal, kita masih...

Ketika Guru Mulai Dianggap Beban Angka

Guru dan dosen bukan sekadar pekerja pendidikan. Mereka adalah penopang masa depan bangsa. Namun di tengah...

Bendera yang Hilang, Mutu yang Tertinggal

Di tengah riuh sambutan dan kritik, Merah Putih: One for All menjadi cermin bagaimana penonton kini...

Lorong Kata: Di Antara Riuh dan Jernih

Di tengah banjir opini dan berita yang saling berebut perhatian, sulit menemukan ruang untuk berhenti sejenak...

Bendera Bajak Laut di Negeri Merdeka

Ketika bendera bajak laut berkibar di bulan kemerdekaan, persoalannya jarang sesederhana kain dan gambar. Yang lebih...

Abolisi dan Amnesti: Ketika Aturan Dijalankan, Tapi Rasa Percaya Hilang

Abolisi untuk Tom Lembong. Amnesti untuk Hasto Kristiyanto. Dua keputusan yang sah secara hukum, tapi diambil...

Katanya, Para Pengkritik itu Dibiayai Koruptor

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyebut gerakan kritik terhadap pemerintah sebagai bentuk pesimisme yang dibiayai koruptor. Pernyataan...

Leo Tolstoy dan Sunyi yang Menggugat

"Semua keluarga bahagia serupa; setiap keluarga yang tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya sendiri." — Leo Tolstoy Ada...

Demokrasi Bukan Klub Anggota

Batas demokrasi mestinya ditentukan oleh akal sehat dan kepedulian, bukan oleh aturan administratif yang menyaring siapa...

Dua Ruang, Satu Sunyi: Jejak Atur Lorielcide alias Rielniro

Ia menulis tanpa pernah memperkenalkan diri. Tak mengejar nama, tak pula membentuk persona. Namun dari satu...

Sejarah yang Dipilih, Ingatan yang Dihapus

Tak semua yang tak terdengar berarti tak pernah terjadi. Dan tak semua yang tak tercatat berarti...

Raja Ampat: Mewarnai Surga dengan Debu Nikel

Raja Ampat bukan hanya soal keindahan alam, tapi tentang nilai yang dipertaruhkan saat ambisi melampaui batas....

Advertisement

spot_img