02 | Mengabdi untuk Kalteng

Teras Narang
Teras Narang | Tokoh.ID

KPU Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) setelah melakukan rapat pleno penghitungan rekapitulasi hasil penghitungan Pilkada Provinsi Kalteng 2005, Jumat 1 Juli 2005, memastikan pasangan Agustin Teras Narang-Achmad Diran memimpin Kalteng sebagai gubenur dan wakil gubernur periode 2005-2010.

Pasangan yang diusulkan PDI Perjuangan ini mendapat 349.329 suara jauh mengungguli pesaing kuatnya, pasangan dari Partai Golkar, Asmawi Agani-Kahayani Andelen yang meraih 163.322 suara.

Sementara pasangan HA DJ Nihin-Nusa J Toendin mendapat 160.872 suara. Sementara Habib Said Akhmad Fawzy Zain Bachsin-Heriyanto M Garang mendapat 85.190 suara, dan pasangan H KMA M Usop-Rinco Norkim mendapat 35.659 suara. Dengan hasil rapat pleno ini, maka KPU Kalteng akan menetapkan hasilnya pada 3 Juli, katanya.

Agustin Teras Narang oleh partainya, PDI Perjuangan sudah diplot menjadi kandidat Gubernur Kalimantan Tengah periode 2005-2010. Ia adalah seorang aktivis, manajer dan organisatoris yang baik. Ia aktif di organisasi profesi hukum, organisasi massa seperti Pemuda Panca Marga (PPM), termasuk sebagai Ketua Forum Komunikasi Warga Kalimantan Tengah (sejak 1992) di DKI Jakarta. Sebelumnya, ketika masih kuliah pun ia sudah terlibat di sejumlah organisasi intrakampus. Ia berprinsip, berorganisasi berarti melatih pola berpikir, cara bertindak, dan kemampuan memimpin.

Kendati sehari-hari disibukkan masalah-masalah hukum dan politik saat bergelut entah saat ini sebagai politisi maupun dahulu advokat yang terkemuka, sebagai putra daerah Kalimantan Tengah Teras Narang selalu menyediakan waktu, tenaga dan pikiran termasuk dukungan moril dan materil untuk bumi Kalimantan Tengah. Ia turut aktif membagi pokok-pokok pikirannya demi kemajuan daerah leluhur.

Seperti tentang keterlibatannya sejak lama di Forum Komunikasi Warga Kalimantan Tengah di Jakarta, itu adalah salah satu wujud tanggung jawab moral Teras Narang kepada daerah nenek moyangnya yang hingga kini tetap masih agak tertinggal. Kalau orang seperti dirinya tidak ikut serta maka siapa lagi yang mau bertanggung jawab dan memikirkan ketertinggalan daerah Kalimantan Tengah. Ia pun amat begitu prihatin dengan pengelolaan hutan berbentuk Hak Pengelolaan Hutan (HPH) di Kalteng, yang selama puluhan tahun berjalan namun terbukti tidak pernah mampu mensejahterakan rakyat Kalimantan.

Ia juga prihatin melihat rakyat Kalteng yang tidak bisa memanfaatkan HPH, padahal di sana tidak ada industri lain yang bisa diandalkan sebagai sumber mata pencaharian hidup sehari-hari. Satu-satunya andalan rakyat Kalteng adalah kekayaan hutannya. Kalteng adalah penyuplai kayu terbesar, setelah Irian dan Kalimantan Timur. Karena itu Teras Narang selalu berpegang teguh kepada sikap lamanya, bahwa untuk memaksimalkan pendapatan daerah supaya kehidupan rakyat meningkat hanya aparat Pemdalah yang dapat diharapkan menarik investor besar menanamkan uangnya di bumi Kalimantan Tengah.

Teras Narang tidak habis pikir mengapa masyarakat Kalteng masih saja tetap miskin kendati daerah ini termasuk kaya akan sumberdaya alam. Ia pun sesungguhnya dapat melihat ada jalan keluar lain. Bahwa, permasalahan ini hanya bisa diatasi bila Pemda dan DPRD mengambil inisiatif bersama-sama untuk maju. Karena itu Teras Narang tidak ingin bila kejadian seperti sekarang masih saja berlangsung, dimana pengusaha-pengusaha pemegang HPH nyatanya tidak berkantor di Kalteng. Para pengusaha HPH dipandang Teras hanya bisa menyedot kekayaan alam Kalteng tanpa pernah mengembalikan sedikitpun kekayaannya untuk kesejahteraan masyarakat.

Realitas-realitas demikian pernah memunculkan tuntutan baru, yang sudah mulai naik ke permukaan sejak tahun 1994, yakni agar masyarakat Kalteng diberikan kesempatan mengatur dirinya sendiri melalui pimpinan atau Gubernur yang berasal dari daerah Kalteng. Tuntutan itu muncul diperjuangkan oleh sejumlah tokoh masyarakat Kalimantan Tengah, termasuk oleh kepala-kepala suku Dayak.

Sebab masyarakat menyadari kekayaan alam Kalteng bukan hanya kayu, tersedia pula tambang emas dan tambang-tambang lainnya. Bila putra daerah yang terpilih menjadi Gubernur maka potensi kekayaan alam akan mudah terealisir untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Kalteng. Keinginan lama itu dahulu memang susah terpenuhi, sebab siapa yang akan menjadi Gubernur Kalteng saat itu sangat ditentukan oleh keinginan pemerintah pusat. Padahal pemerintah pusat masih saja tetap kurang yakin akan potensi dan kemampuan sumberdaya manusia lokal, selain karena pusat memang masih punya kepentingan khusus lain di Kalimantan Tengah.

Advertisement

Memperoleh Dukungan Kuat
Beruntunglah saat ini muncul era reformasi dengan sistem pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung. Sehingga setiap putra daerah, seperti halnya Agustin Teras Narang yang berasal dari suku Dayak Ngaju dari Mandomai, persis dari pingiran aliran sungai Kapuas, Kalimantan Tengah, diharapkan bisa terpilih dan mempunyai kesempatan untuk mensejahterakan masyarakat Kalteng.

Sebagai putra daerah yang sudah siap bertarung memperebutkan posisi Gubernur Kalimantan Tengah periode 2005-2010, Agustin Teras Narang bersama pasangannya Ir. H. Ahmad Diran, sehari-hari sebagai Pejabat Bupati Kotawaringin Barat, telah ‘menjalani’ latihan-latihan yang lebih beragam secara politis dan organisatoris.

Jika kelak dirinya terpilih menjadi Gubernur, Teras Narang berprinsip akan lebih memikirkan dan mengutamakan kepentingan masyarakat Kalimantan Tengah. Prinsip-prinsip itu muncul berdasarkan inspirasi dari sejumlah mantan Gubernur Kalimantan Tengah yang diidolakan Teras Narang, seperti Tjilik Riwut (1957-1966), Rynout Silvanus (1967-1978), dan Willy A. Gara (1978-1983).

Ketiganya adalah asli putra daerah Kalimantan Tengah, berasal dari suku Dayak pula, yang selama kepemimpinannya terbukti sangat peduli pada kemajuan daerah Kalteng. Seperti, mereka pernah membangun asrama mahasiswa asal Kalimantan Tengah di Jakarta, agar banyak mahasiswa yang mampu sekolah dengan biaya Pemda dan kelak mereka dapat kembali lagi ke daerah untuk menjadi kader pembangunan di Kalimantan Tengah. Setiap calon mahasiswa menjadi tak perlu berpikir dimana menginap kalau sekolah di Jakarta.

Namun persoalan menjadi berbalik tatkala Gubernur Kalimantan Tengah dijabat bukan oleh putra daerah, seperti Gatot A. Sapari Amrih dan Soeparwanto, dimana asrama mahasiswa bukannya diperluas malah dihilangkan. Padahal, masyarakat Kalteng yang relatif homogen sebagai keturunan Suku Dayak, kata Teras Narang kalau tidak dibantu melalui pendidikan besar kemungkinan akan sulit maju. Kunci kemajuan masyarakat Kalteng adalah pada pendidikan dan pemberian kesempatan. Hal ini berlaku baik bagi masyarakat Kalteng Suku Dayak yang sudah tinggal di kota ataupun desa yang sudah tahu baca tulis, apalagi bagi Orang Dayak yang masih bermukim di tengah hutan.

Agustin Teras Narang maju memperebutkan kursi Gubernur Kalimantan Tengah periode 2005-2010, itu berpasangan dengan Ir. H. Ahmad Diran diusung oleh PDI Perjuangan. Pasangan ini mempunyai peluang terbesar untuk menang, sebab keduanya telah memiliki segudang pengalaman yang lengkap di birokrasi dan politik, baik itu di lembaga eksekutif maupun legislatif. Pasangan Agustin Teras Narang yang beragama Kristen Protestan, dan Ahmad Diran yang Muslim, melengkapi pula realitas gamparan geopolitik yang ada di Kalteng.

Bahkan, Teras Narang memperoleh dukungan kuat pula dari kelompok suku Dayak beragama Hindu. Ia memang memegang teguh nasehat Ayahnya, bahwa pemimpin hanya bisa besar apabila mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan. Sejak Maret 2003 Teras Narang sudah resmi dinobatkan sebagai “Sang Pangeran Dayak”, sebuah gelar kehormatan suku Dayak yang untuk pertamakali kembali diberikan sejak Indonesia merdeka 1945, oleh Pengurus Besar Lembaga Majelis Agama Hindu Kaharingan. Dengan berpakaian lengkap adat Dayak berupa setelan merah darah serta “lawung”, Teras Narang yang tampak gagah dianggap sebagai putra daerah yang berhasil mengangkat harkat Kalteng hingga bergaung di “telinga” warga bangsa di seluruh negeri, dan mampu tampil di pentas nasional. Teras juga dinilai turut ambil bagian memperjuangkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di daerahnya, terlebih atas pembentukan delapan daerah kabupaten yang otonom di Kalteng.

Gelar “Sang Pangeran Dayak” memiliki komitmen tinggi bagi penyandangnya. Gelar ini mempunyai makna spiritual lain, Teras Narang dipandang memiliki banyak kesamaan ciri dengan Pangeran Ariari Buncari, tokoh Dayak yang sangat populer dalam ceritera “Sansana Bandar”, sebuah legenda yang cukup dikenal luas warga Dayak. Menerima gelar sebagai pangeran membuat Teras Narang semakin tetap berusaha mewujudkan harapan masyarakat Kalteng, demikian pula harapan masyarakat lainnya, supaya bangsa dan negara ini bisa semakin maju.

Teras Narang memang sangat mengenal warga Kalteng, sama persis dengan bagaimana masyarakat Kalteng mengenalnya. Sebab, sejak memutuskan berkarir di dunia politik praktis pada 1999 silam, meninggalkan dunia kepengacaraan yang penuh glamour, hampir setiap akhir pekan Teras Narang menghabiskan waktu untuk mengunjungi pelosok-pelosok desa di kawasan Kalteng. Kunjungan-kunjungan ke daerah itu semakin mempertajam kepekaannya terhadap berbagai masalah yang dihadapi rakyat. Biasanya, agenda utama Teras ketika turun ke desa adalah mendengarkan keluhan masyarakat. “Karena saya ingin menjadi hidung, mata, dan juga hati mereka,” cetus Teras Narang. “Saya benar-benar ingin total mengabdi kepada rakyat,” tambahnya.ti/ht-hp

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here