Bertarung dalam Revolusi

[ Kemal Idris ]
 
0
175
Kemal Idris
Kemal Idris | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Mantan Pangkostrad Achmad Kemal Idris digambarkan sebagai seorang prajurit (pangkat terakhir Letnan Jenderal TNI AD) yang bertarung dalam revolusi. Mantan Pangkowilhan dan Dubes RI untuk Yugoslavia merangkap Yunani. Ia, itu juga dijuluki ‘Jenderal Sampah’ karena setelah pensiun mengelola usaha penanggulangan sampah.

Judul Bertarung dalam Revolusi merupakan judul buku memoar Kemal Idris yang ditulis H Rosihan Anwar bersama Ramadhan K.H., Ray Rizal, dan Din Madjid dan diterbitkan Pustaka Sinar Harapan, 1996. Buku itu dipersembahkan sebagai syukur atas HUT ke-50 perkawinannya dengan sang istri, Herwinur Bandiani Singgih Kemal, yang jatuh pada 13 Juli 1996.

Buku itu mengurai jalan hidupdan perjuangannya sejak revolusi hingga kini. Kemal dikenal sebagai salah satu di antara tiga serangkai motor Orde Baru bersama H.R. Dharsono dan Sarwo Edhie Wibowo. Keduanya sudah almarhum.

“Sedari kecil, saya dididik oleh ibu saya, Siti Maimunah, dan ayah saya, Muhammad Idris, untuk bersikap jujur dan pantang berputus asa. Dengan prinsip seperti itulah, saya menulis buku ini. Agar segalanya tampil lebih lugas dan transparan,” katanya kepada wartawan di kantornya di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Di waktu Bung Karno sibuk dengan urusan politik dan mengabaikan ekonomi, Kemal mengarahkan meriam ke Istana Negara. Kemal pula bersama Zulkifli Lubis dan Simbolon– yang pernah terang-terangan bersikap anti-Nasution.

Selain itu, Kemal dikenal suka memberikan pernyataan-pernyataan keras, tanpa tedheng aling-aling. Dalam memoar setebal 300 halaman ini, sosok Kemal yang blak-blakan tampak lebih transparan. “Saya ingin bicara jujur, terbuka, dan apa adanya. Itu pun sudah dipotong sana sini oleh sahabat saya Rosihan Anwar,” katanya, tertawa.

Tokoh pers nasional Rosihan Anwar bersama Ramadhan K.H., Ray Rizal, dan Din Madjid dipercaya Kemal menjadi penyusun buku bersampul hijau terbitan Pustaka Sinar Harapan itu. Saat acara diskusi di kantornya, mantan Dubes Australia Sabam Siagian bertindak selaku moderatornya.

Yang paling menarik adalah kesaksian Kemal pada buku tersebut mengenai Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Selama ini tonggak sejarah berdirinya Orde Baru itu selalu saja menjadi isu kontroversial. Kemal adalah salah satu saksi mata sejarah yang menyatakan dengan tegas bahwa surat itu benar-benar ada. Sebab, dia sendiri sempat membaca surat itu.

Dalam memoarnya pada hal 187-188, dia menulis lengkap kejadian bersejarah pada 11 Maret 1966 itu : “…. Pada pukul 23.00 malam ketiga Jenderal (Basuki Rachmat, M. Yusuf, dan Amir Machmud, Red) itu kembali ke Kostrad dengan membawa surat dari Bung Karno, yang isinya melimpahkan kekuasaan kepada Pak Harto. Saya sempat membaca surat itu, yang memberikan kekuasaan kepada Pak Harto untuk bertindak mengamankan situasi. Setelah tugas dilaksanakan, kekuasaan dikembalikan kepada Bung Karno sebagai Presiden RI. Surat itu dikenal dengan nama Supersemar (Surat Perintah 11 Maret)….”.

SILIWANGI
Kemal yang dilahirkan pada 10 Februari 1923 adalah tentara yang dibesarkan oleh satuan militer Jawa Barat, Siliwangi. Dia pulalah yang mengajak mantan opsir Belanda H.J.C. Princen untuk bergabung ke pihak pejuang Indonesia. “Hingga kini, saya dan Princen masih bersahabat, sering saling memberikan kabar berita,” akunya terus terang.

Walaupun Kemal pernah menjadi diplomat dan pengusaha, tak dapat disangkal titik berat perjalanan hidupnya di bidang militer. Kariernya bermula dari pemuda Seinendan pada zaman Jepang dan berakhir sebagai jenderal TNI Angkatan Darat. Rosihan Anwar, salah satu penyusun buku itu, menyatakan bahwa memoar itu diceritakan secara polos, sederhana, tidak ditambah-tambah atau dilebih-lebihkan, segala-galanya menurut apa adanya.

Sepanjang karier militernya, posisinya yang paling penting adalah ketika pada 1967 dipercaya menjadi Pangkostrad. Di situlah dia berperan besar dalam mendukung gerakan mahasiswa yang menentang Orde Lama. Kemal juga sering diminta untuk berbicara di depan pertemuan mahasiswa.

“Barangkali karena sikap saya yang keras dan tak kenal kompromi, akhirnya saya tak disukai oleh sesama pendukung Orde Baru. Ada yang memasukkan laporan yang nggak bener kepada Pak Harto. Dan, akhirnya saya harus rela untuk meninggalkan jabatan militer saya,” ujarnya.

Karier terakhir Kemal di militer adalah panglima Komando Wilayah Pertahanan (Pangkowilhan) dengan pangkat letnan jenderal. Sebelumnya, dia menjabat panglima Komando Antardaerah untuk Kawasan Indonesia Timur. Ia cukup populer di kalangan masyarakat di sana. Dan, tampaknya, kepopuleran Kemal itu mencemaskan beberapa pejabat.

Pada September 1972, dia ditunjuk menjadi duta besar di Yugoslavia merangkap Yunani. Kemal adalah Dubes pertama di negara tersebut pada era Orde Baru. Pulang bertugas, keadaan sudah berubah dan dia tak lagi terpakai di pemerintahan. Tetapi, Kemal bukannya diam. Karena prihatin melihat kota Jakarta dipenuhi sampah, ia mendirikan PT Sarana Organtama Resik (SOR), yang mempekerjakan 700 karyawan dalam bidang kebersihan kota. “Saya berutang budi pada masyarakat Jakarta yang terlibat dalam perang kemerdekaan,” ujar Kemal dengan pandangan menerawang.

Aktivitas Kemal dalam upaya kebersihan kota menimbulkan berbagai interpretasi. “Jenderal kok ngurusi sampah”, begitu celetukan mereka yang keheranan menyaksikan pilihan Kemal. Karena itulah, dia digelari Jenderal Sampah, suatu julukan berkelakar yang diterimanya dengan lapang dada.

Hebatnya, dia mendirikan usahanya dengan melangkah mulai dari bawah. Tanpa fasilitas sama sekali sebagai seorang pensiunan jenderal. Dialah mungkin satu-satunya jenderal yang pernah merasakan pahitnya berurusan dengan belantara birokrasi. Dan, menolak untuk duduk secara cuma-cuma dalam jabatan BUMN maupun ketika dicalonkan sebagai calon anggota MPR/DPR.

Di kalangan perhotelan dan pariwisata, nama Kemal Idris dikenal luas. Ia pernah memimpin PT Griyawisata Hotel Corporation yang bergerak dalam bidang perhotelan. Meski begitu, dia menolak menjadi ketua PHRI meski Munas PHRI menunjuknya secara bulat. “Saya tak berbakat,” katanya singkat. Ucapan yang sama terlontar ketika dia menolak tawaran duduk menjadi komisaris BUMN dan anggota MPR/DPR. (Jawa Pos, 14 Jul 1996)

Data Singkat
Kemal Idris, Mantan Pangkostrad, Dubes Untuk Yugoslavia / Bertarung dalam Revolusi | Ensiklopedi | Pangkostrad, TNI, Duta Besar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here