Jenderal Pendamba Keberhasilan Pancasila

[ Sayidiman Suryohadiprojo ]
 
0
184
Sayidiman Suryohadiprojo
Sayidiman Suryohadiprojo | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Sayidiman Suryohadiprojo, pria kelahiran di Bojonegoro, Jawa Timur, 21 September 1927, seorang jenderal (Letnan Jenderal TNI Purn) yang amat mendambakan keberhasilan Pancasila. Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (1973-1974), Gubernur Lemhannas (1974-1978) dan Duta Besar RI di Jepang (1979-1983), ini seorang prajurit pejuang yang memiliki pengalaman, perhatian dan wawasan luas atas berbagai bidang, khususnya dalam bidang militer, politik dan diplomasi. 

PPutera bangsa penerima penghargaan Bintang Maha Putera Utama, ini mengatakan keberhasilan Pancasila hanya akan tercapai kalau Pancasila menjadi kenyataan dalam kehidupan bangsa. Dia menegaskan pandangannya bahwa selama Pancasila hanya wacana, teori atau omongan belaka, ia tidak akan mungkin menjadi keberhasilan. Baik keberhasilan yang diakui masyarakat umat manusia maupun masyarakat Indonesia sendiri.

Penegasan itu dikemukakannya dalam paparan pandangannya (opini) bertajuk ‘Kepemimpinan dan Manajemen Kunci Keberhasilan Pancasila’ yang dirilis 8 Maret 2011 di situs pribadinya (http://sayidiman.suryohadiprojo.com/?p=1539). Dia menegaskan, menjadikan Pancasila satu kenyataan perlu untuk membuktikan kegunaannya bagi Rakyat Indonesia. Dengan begitu, katanya, rakyat tidak hanya yakin kepada kebenaran Pancasila karena diwariskan oleh para Pendiri Bangsa, tetapi juga karena hidup dengan dasar Pancasila memberikan kebahagiaan kepada Rakyat.

Sekaligus, katanya, dengan kuatnya keyakinan Rakyat Indonesia akan kebenaran Pancasila, akan merupakan rintangan amat berat bagi pihak-pihak yang mau menggantikan Pancasila dengan ideologi mereka, baik itu individualisme-liberalisme, radikal Islam atau pandangan hidup mana pun.

Untuk mewujudkan keberhasilan Pancasila itu, menurutnya, diperlukan kepemimpinan, yang yakin kepada kebenaran Pancasila dan berniat kuat menjadikannya kenyataan. Pemimpin yang menunjukkan arah dan jalan serta memotivasi masyarakat mewujudkan tujuan bangsa. Orang yang kuat karakternya dan percaya diri sehingga menimbulkan kepercayaan masyarakat serta membangkitkan optimisme tentang masa depan bangsa dengan Pancasila sebagai Dasar Negara.Menurut lulusan terbaik Akademi Militer Yogyakarta tahun 1948 ini, untuk menjadikan Pancasila kenyataan dalam kehidupan bangsa Indonesia, Konstitusi sebagai satu tonggak kehidupan bangsa harus sepenuhnya mengekspresikan nilai-nilai Pancasila. “Berarti UUD 1945 hasil amandemen harus kembali ke UUD 1945 yang asli. Kalau UUD 1945 memerlukan penyesuaian dengan perkembangan zaman, maka diberikan addendum kepada konstitusi itu, tetapi tidak dengan melakukan amandemen,” katanya.

Untuk mewujudkan keberhasilan Pancasila itu, menurutnya, diperlukan kepemimpinan, yang yakin kepada kebenaran Pancasila dan berniat kuat menjadikannya kenyataan. Pemimpin yang menunjukkan arah dan jalan serta memotivasi masyarakat mewujudkan tujuan bangsa. Orang yang kuat karakternya dan percaya diri sehingga menimbulkan kepercayaan masyarakat serta membangkitkan optimisme tentang masa depan bangsa dengan Pancasila sebagai Dasar Negara.

Dia berkeyakinan, kepemimpinan dan manajemen yang bermutu akan dapat membawa Negara dan Bangsa Indonesia langkah demi selangkah berkembang maju dan akan makin terwujud Masyarakat berdasar Pancasila. Masyarakat yang memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin bagi seluruh bangsa Indonesia. Semakin kokoh pula NKRI dari Sabang sampai Merauke.

Jenderal pejuang dan pemikir ini, selain mengecap pendidikan militer di Akademi Militer Yogyakarta, juga mengasah diri pada aneka pendidikan militer, baik di dalam maupun luar negeri. Antara lain, Kursus Persiapan Hogere Krijgsschool, Company Officers Course, Infantry School di AS, Kursus Pendidikan Guru Militer, Bandung, Kursus Perwira Lanjutan Dua Infanteri , Bandung, Sprachenschule der Bundeswehr, Jerman, Fuehrungs Akademie der Bundeswehr, Jerman, dan International Defense Management, Naval Postgraduate School, AS.

Sejak berusia muda, dia telah ikut berjuang. Mulai dari Perang Kemerdekaan, hingga mengikuti berbagai operasi mengatasi masalah-masalah keamanan dalam negeri, seperti Darul Islam, PRRI/Permesta, dan G30S/PKI. Karir kemiliterannya diawali dengan bertugas di Divisi Siliwangi di Jawa Barat, mulai dari sebagai Komandan Peleton hingga menjadi Komandan Batalyon Infantri. Kemudian ditempatkan di lingkungan pendidikan sebagai Komandan Resimen Taruna Akademi Militer Nasional (AMN) (1960). Lalu menjadi Perwira Staf Umum di Markas Besar Angkatan Darat (1963), Panglima Kodam XIV/Hasanuddin di Sulawesi Selatan (1968), Ketua Gabungan III/Personel Hankam (1970), dan akhirnya Wakil KSAD (1973), hanya setahun.[1]

Kemudian dia mengemban tugas sebagai Gubernur Lemhannas (1974-1979). Sebuah lembaga yang mempunyai visi ‘terwujudnya pimpinan tingkat Nasional yang mendukung terciptanya Ketahanan Nasional yang tangguh, komprehensif, integral dan holistik berlandaskan Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Sesanti Bhinneka Tunggal Ika’. Serta mengemban misi: 1) Menyelenggarakan pendidikan penyiapan kader dan pemantapan pimpinan tingkat nasional yang berfikir integratif, mempunyai cakrawala pandang universal dan menjunjung tinggi nilai-nilai wawasan kebangsaan; 2) Menyelenggarakan pengkajian yang bersifat konsepsional dan strategis mengenai berbagai permasalahan nasional, regional dan internasional yang diperlukan oleh Presiden, dalam menjamin wibawa dan keutuhan serta tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia; 3) Menyelenggarakan pemantapan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung di dalam 4 (empat) prinsip dasar, yakni Pancasila, UUD Republik Indonesia Tahun 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Sesanti Bhinneka Tunggal Ika; 4) Menyelenggarakan pengembangan Ketahanan Nasional meliputi: Astagatra, Konsepsi nasional dan Nilai-nilai Universal melalui berbagai pendekatan termasuk pendayagunaan teknologi; dan 5) Membina dan mengembangkan hubungan kerjasama dengan pelbagai institusi yang relevan di dalam dan luar negeri meliputi semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam mewujudkan harmoni nilai-nilai universal. [2]

Pada saat memimpin Lemhannas, sebagai Gubernur Lemhannas ke-3, dia juga memberi waktu dan perhatian terhadap perkembangan dunia olahraga nasional. Dia terpilih sebagai Ketua Umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) (1976). Dia juga merangkap sebagai Ketua KONI Pusat Bidang Daerah (1977).

Kemudian, dia mengemban tugas diplomasi sebagai Besar RI di Jepang (1979). Setelah mengemban tugas diplomatik di Negeri Matahari Terbit tersebut hingga tahun 1983, dia kemudian diangkat menjadi Penasihat Menteri Negara Riset dan Teknologi (Prof. Dr. BJ Habibie) dalam bidang Hankam (1983). Dia juga dipercaya menjabat Komisaris Utama PT Perkebunan (PTP) XXIV/XXV di Jawa Timur (1984-1994). Ketika Indonesia menjadi Ketua Gerakan Non Blok (GNB) (1992-1995), dia juga ditunjuk sebagai Dutabesar Keliling RI untuk Wilayah Afrika. Selain itu, dia juga menjadi Penasihat Presiden RI Urusan Ketahanan Nasional. Juga diangkat menjadi Anggota MPR-RI (1993-1998), Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, dan Anggota Dewan Pendidikan Tinggi (1993).

Ketika Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) didirikan pada tahun 1990, dia dipercaya menjadi Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat (1990-1995). Kemudian menjabat Wakil Ketua Dewan Penasihat ICMI Pusat (1995-2000). Kecendekiaannya, juga diabdikannya dengan mengemban tugas menjadi dosen di berbagai lembaga pendidikan seperti SESKO AD, SESKO AL, SESKO ABRI, Lemhanas, Institut Bankir Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang, Akademi Militer Nasional Jurusan Teknik, Kursus Perwira Lanjutan AD, Sekolah Deplu (Sesparlu, Sesdilu), serta Fakultas Pascasarjana UI untuk Program Ketahanan Nasional dan Program Studi Jepang.

Selain mengajar, dia pun aktif mengikuti aneka seminar di dalam maupun di luar negeri, khususnya yang terkait dengan masalah-masalah hubungan internasional, manajemen, dan keamanan. Juga produktif menulis buku dan artikel yang dimuat di beberapa surat kabar dan majalah. Karya bukunya yang telah diterbitkan, antara lain: Taktik dan Tehnik Infantri (karya terjemahan), Pembimbing, 1954; Masalah-Masalah Pertahanan Negara, Intermasa, 1964; Langkah-Langkah Perjuangan Kita, Balai Pustaka, 1970; Manusia dan Masyarakat Jepang dalam Perjuangan Hidup, Universitas Indonesia, 1982; Menghadapi Tantangan Masa Depan, Gramedia, 1987; Pancasila, Islam, dan ABRI, Pustaka Sinar Harapan, 1992; Membangun Peradaban Indonesia, Pustaka Sinar Harapan, 1995; Kepemimpinan ABRI, Intermasa, 1996; Mengabdi Negara Sebagai Prajurit (otobiografi, Pustaka Sinar Harapan, 1997; Si vis pacem, para bellum, Membangun Pertahanan Negara Yang Modern dan Efektif, Gramedia, 2005; Rakyat Sejahtera Negara Kuat – Mewujudkan Cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Intermasa, 2007; dan, Pengantar Ilmu Perang, Intermasa, 2009.

Atas berbagai pengabdian dan kesetiaannya kepada bangsa dan Negara, dia telah menerima beberapa penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia, yaitu: Bintang Maha Putera Utama, Bintang Dharma, Bintang Gerilya, Bintang Yudha Darma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Kl. II dan Kl. III, Bintang Jalasena Kl. III, Bintang Swa Buana Pakca Kl. III, Bintang Bhayangkara Pratama, Bintang Sewindu, Setia Lencana Kesetiaan (SL) 24 tahun, SL. Perang Kemerdekaan I, SL. Perang Kemerdekaan II, SL. GOM I, SL. GOM V, SL. GOM VI, SL. Sapta Marga, SL. Dwidya Sistha, dan SL. Penegak. Bio TokohIndonesia.com | crs

FootNote:
[1] Sayidiman Suryohadiprojo, ‘Perjuangan, Pengabdian dan Kesetiaan Seorang Prajurit,’ http://sayidiman.suryohadiprojo.com/?page_id=2
[2] Visi dan Misi Lemhannas, http://www.lemhannas.go.id/id/content/view/21/45/

Data Singkat
Sayidiman Suryohadiprojo, Wakasad (1973-1974 & Gubernur Lemhannas (1974-1978) / Jenderal Pendamba Keberhasilan Pancasila | Ensiklopedi | Jenderal, ICMI, TNI, Lemhannas, Wakasad

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here