Obsesi Melestarikan Budaya

[ Subrata ]
 
0
155
Subrata
Subrata | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Dia bukan hanya seorang eksekutif dan birokrat, tetapi juga seniman. Maka di dalam setiap langkahnya, dia tidak melupakan pendekatan budaya. Selama ini, orang barangkali melihatnya hanya dari jabatan formalnya. Padahal di balik itu, alumni Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Sosial Politik, UGM, Yogyakarta, ini adalah seorang seniman dan penimba ilmu yang tidak kenal lelah yang selalu berusaha memperjuangkan kelestarian seni budaya bangsa.

Ketika masih kelas 3 SD, ia sudah masuk dalam satu perkumpulan sandiwara yang namanya ‘Purwowidodo’. Dia menjadi seorang penari dan pemain yang terkecil di sana. Sandiwara itu sendiri merupakan sandiwara keliling dari desa ke desa sampai ke kecamatan lain. Hingga duduk di bangku SMP, ia masih tetap aktif di sana. Bahkan ketika masih SMP kelas 3, ia sudah mendirikan satu kelompok sandiwara yang diberi nama ‘Putra Harapan’.

Si penari kecil itu tidak pernah belajar pada seseorang yang profesional. Tapi mutlak hanya karena pengaruh kesultanan sebagai pusat kreatifitas seni tari dan gamelan yang banyak terdapat di Cirebon seperti Kesultanan Kesepuhan, Kesultanan Kanoman maupun Sultan Kacirebonan. Dan berhubung di daerah-daerah juga keluarga kesultanan-kesultanan tersebut ada maka sebagai anak desa dia biasa menonton walaupun hanya dari luar pagar saja. Justru dari sanalah awal ketertarikan dan pengetahuan pria yang punya bakat alam ini menari.

Dari kehidupan di Yogya ketika kuliah di UGM, ia punya kesan-kesan yang cukup berharga dikenang dengan almarhum Affandy. Pada jaman itu, pelukis kondang ini sudah hebat, sudah mempunyai mobil Impala yang kala itu masih sangat jarang dimiliki orang. Walau kos-kosannya di Bintaran Wetan tapi dia sering ke padepokan pelukis maestro tersebut. Di sana dia banyak belajar mengenai alur kehidupan seorang seniman. Apabila Sang Maestro ceramah ke sanggar-sanggar, dia ikut bantu-bantu jaga petromak.

“Saya masih ingat kalau beliau ada tamu, tidak seperti orang-orang biasanya menyediakan kue dan segala macam di meja. Tapi saya disuruh menyiapkan tali, kemudian menggantungkan pisang yang sudah matang yang masih tandanan persis di tengah meja setinggi kepala. Jadi tamu dipersilahkannya makan pisang tersebut dengan mengambil sendiri seperti memetik dari pohonnya sambil ngobrol-ngobrol,” katanya mengenang kebersamaannya dengan Sang Maestro.

Kadang dalam kegiatannya sebagai penari, ia harus manggung di kecamatan lain, sehingga harus diantar oleh ayahnya dengan naik sepeda. Dengan berboncengan, ibunya di belakang, dia di depan dan ayahnya sendiri yang nguntel, mereka berangkat. Walaupun biasanya dia harus menari sampai jam 3 pagi namun besok paginya dia tetap sekolah.

Sejak terlibat sebagai penari, menjadi pengamen, bertemu dengan tokoh seniman sekelas Affandy membuat keinginan dan cita-citanya melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari budaya nasional, tumbuh dan terus berkembang sampai sekarang.

Untuk mewujudkan keinginannya, bersama teman-temannya antara lain: Pak Ismael Saleh mantan Menteri Kehakiman RI, Pak Suparno mantan Dirut Garuda, Iman Taufik dari Kadin, Subadja Prawata pengusaha serta beberapa orang yang lainnya, dibentuklah satu yayasan yang bernama ‘Yayasan Budaya Sunyaragi’. Di yayasan itulah ia bersama teman-temannya membina seniman/seniwati yang jumlahnya 1133 orang terdiri dari seniman tari, seniman kerajinan tangan (handicraft), maupun seniman lukis.

Sunyaragi itu sendiri merupakan nama dari Goa Sunyaragi yang berluas kurang lebih 17,8 ha peninggalan sejarah Walisongo yaitu Sunan Gunung Jati. Sunyaragi ini terletak di salah satu sudut kota Cirebon. Desa Mayung, desa tempat kelahiran Subrata sendiri kurang lebih 14 km dari goa Sunyaragi ini.

Telah banyak yang dihasilkan seniman-seniwati yang tergabung dalam yayasan itu, satu dari hasil seni para seniman itu terpampang indah di ruang kerja Subrata di Perum Percetakan Negara Jalan Percetakan Negara No. 21, sebuah lukisan kaca yang menggambarkan kapal-kapal di suatu pelabuhan.

Untuk melestarikan budaya itu, seperti seni tari dan lainnya maka ketika ia melihat di Yogya terdapat ‘Open Stage’ – Panggung tebuka Prambanan dengan latar belakang keindahan candi Prambanan, hal itu memotivasinya membuat panggung terbuka dengan Goa Sunyaragi sebagai latar belakang yang merupakan petilasan bersejarah di Cirebon. Panggung terbuka yang akhirnya menjadi kolosal tersebut merekrut anak-anak desa sekitar Cirebon yaitu para pelajar, mahasiswa dan pemuda di sana. Sehingga begitu ada pertunjukan, 350 orang seniman langsung dilibatkannya.

Seperti Pagelaran Budaya yang diselenggarakan di samping Goa Sunyaragi pada tahun 2001 lalu. Pagelaran yang sangat memukau ini mengundang tokoh-tokoh seperti Bagong Kusudiardjo, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan tokoh budaya dan seniman lainnya yang didokumentasikan dalam bentuk video berdurasi 90 menit.

Banyak orang akan menyangka bahwa pagelaran itu merupakan karya orang-orang profesional. Formasi-formasi barisan para penari ketika memasuki dan meninggalkan panggung sangat serasi ditambah dengan gerakan formasi itu sendiri ketika membawakan tarian dengan melibatkan puluhan penari sekali manggung, begitu juga dengan pemilihan warna-warni dan gerakannya yang padu, menakjubkan.

Ketika membawakan tari topeng, maka tari topeng yang sudah biasa kita lihat, menjadi tampil berbeda dengan lenggak-lenggok 50 penari topeng sekaligus dengan tetap pada formasi yang tertata apik. Keindahan dan keserasian tarian-tariannya membuat orang tidak akan menyangka bahwa sebenarnya para penari-penari muda itu adalah anak-anak remaja dan pemuda dari sekitar Cirebon sendiri dan dengan waktu latihan yang sangat singkat, hanya sekitar tiga setengah bulan. Anak-anak dari desa itu memang bakatnya luar biasa.

Melihat Bali yang seluruh masyarakatnya boleh dikatakan tidak ada yang terlepas dari bakat-bakat seniman, baik sebagai pematung, seniman tari dan sebagainya membuat Subrata juga berpikir untuk menjadikan hal yang sama di Cirebon. Dengan adanya yayasan tersebut, hal itu sudah hampir terlihat sekarang dimana sepanjang daerah Pantura dari Indramayu sampai Cirebon sudah banyak tumbuh sanggar-sanggar seni.

Dengan niat melestarikan seni budaya nasional, dia juga mengajak agar setiap orang melakukan hal yang sama di daerahnya masing-masing. “Satu asumsi, bangsa ini bisa dibangun hanya dengan melalui pendekatan-pendekatan sosial budaya. Kalau hal itu tidak bisa dilakukan maka akan ada ketimpangan,” katanya mendukung anjurannya.

Sebagai orang yang berasal dari desa dan mencintai seni, Subrata ikut membina ratusan seniman pinggiran. Mereka terdiri dari pelukis, pengrajin dan lain sebagainya. Satu di antara karya mereka terpampang di ruang kerja Subrata. Lukisan kaca yang menggambarkan kapal-kapal di sebuah pelabuhan. Atur Lorielcide-Marjuka

Data Singkat
Subrata, Dirjen RTF (1983-1987) dan Dirjen PPG (1990-1997) / Obsesi Melestarikan Budaya | Ensiklopedi | Seniman, Jawa Barat, UGM, Dirut, reporter, dirjen, staf ahli, tvri

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here