Pelopor Pantun Melayu-Makassar

[ Ang Ban Tjiong ]
 
0
659
Ang Ban Tjiong

Ang Ban Tjiong dikenang sebagai penulis buku Pantoen Melajoe Makassar yang di dalamnya berisi 200 syair pantun bilingual Makassar dan Melayu. Selain menulis, pria peranakan Tionghoa kelahiran Makassar ini juga pandai menggambar, melukis dan bermain musik.

Tidak banyak orang yang terlahir dengan kemampuan lebih dari satu bidang. Salah satu dari segelintir orang dengan segudang bakat itu adalah Ang Ban Tjiong (ABT). Putra kedua Ang Tjong Sioe kelahiran Makassar tahun 1910 ini bersekolah di Hollands Chineese School (HCS). Sesuai dengan namanya, sekolah Belanda itu memang khusus ditujukan untuk murid-murid berdarah Tionghoa. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia langsung bekerja pada sebuah majalah bernama Favoriet. Majalah yang dipimpin oleh pamannya, Ang Tjong Giao itu sayangnya tidak dapat bertahan lama. Padahal ada bantuan dari penulis-penulis ternama di Jawa, seperti Ong Ping Lok dan Kho Ban Siok.

Setelah Favorite gulung tikar, ABT bekerja di harian Pembrita Makassar sebagai penulis harian. Sebagian besar tulisannya berbau mistik, kehidupan spiritual, serta masalah sosial.  Pria yang sangat tertarik pada Gerakan Theosofi Annie Bessant dan Khrisnamurti itu juga dikenal sebagai cerpenis. Beberapa cerpen pernah ditulisnya dengan nama samaran Mendoesin.

Lewat buku karangannya yang berjudul Pantoen Melajoe Makassar, ABT menunjukkan kepiawaiannya dalam merangkai kata menjadi tulisan yang indah dan bernilai seni tinggi. Buku yang terbit sebelum ajal menjemputnya itu berisi 200 syair yang semua ditulis dalam bahasa Melayu dan bahasa Makassar.

ABT menggambarkan syair-syairnya sebagai berikut:

Karyanya dinilai lekat dengan kehidupan sehari-hari.

Teman sedjati ri taoe towaija
(Teman sejati untuk orangtua)

Djimat moestadjab roenkaija
(Jimat mustajab untuk anak muda)

Sobat manis ri bainea
(Sobat manis untuk perempuan)

Tambah sedap ri taoe tenea
(Tambah sedap untuk yang manis)

Karyanya dinilai lekat dengan kehidupan sehari-hari. Tak heran jika sampai awal 1980-an banyak orang Makassar keturunan Tionghoa yang masih dapat membawakan syair-syairnya luar kepala (Harmonic and Salmon, 1983:154-5).

Lewat karya-karyanya, pembaca dapat mengetahui ciri khas seorang ABT. Ia selalu memulai dengan kalimat-kalimat sederhana, penuh kegembiraan, dan kemungkinan yang membahagiakan, tapi mengakhirinya dengan serius, dengan menampilkan realitas zamannya yang sulit dan menyedihkan bahkan terkesan frustasi. Semua kegundahannya disimpulkan dalam pantun 198, yang berbunyi:

Doenia ini pang mantanganta
(Dunia ini tempat pemukiman kita)

Ibarat Noraka Pakkasiatta
(Ibarat Neraka rasanya)

Hidoep tersiksa ri tomo boetta
(Hidup tersiksa di dunia ini)

Teroembang-ambing ri djene matta
(Terombang-ambing dalam airmata)

Bakat seninya bukan hanya di bidang sastra, tapi juga seni rupa. Pria peranakan Tionghoa kelahiran Makassar ini juga pandai menggambar, melukis dan bermain musik. Berbagai alat musik seperti piano, mandolin, gitar, biola, maupun kecapi Bugis, alat musik dengan dua senar dimainkannya dengan apik. Semua itu semakin lengkap dengan kemampuannya di bidang tarik suara. Sambil bermain alat musik, ABT biasa menyanyikan lagu-lagu Bugis-Makassar.

Di luar bidang seni, ABT juga menguasai bermacam-macam cabang olahraga. Mulai dari tenis hingga akrobatik. Ia dapat melintasi lingkaran berapi, berdiri dengan posisi kepala di bawah, bahkan di atas tumpukan empat kursi. Sungguh sebuah kemampuan yang tak biasa.

Namun, layaknya seorang manusia biasa, di balik kelebihan pasti ada kekurangannya. ABT adalah seorang pecandu minuman keras. Tapi ABT mengaku, ia kerap mendapatkan inspirasi untuk menulis dan berbicara dari kebiasaan buruknya itu. Dalam keadaan mabuk, ia dapat bernyanyi hingga larut malam. Minuman keras tampaknya ia pilih sebagai pelarian kala hatinya tengah dilanda duka yang mendalam. Seperti saat ia harus menerima kenyataan bahwa wanita yang sangat dicintainya telah pergi untuk selamanya. Entah apakah karena kecanduannya pada minuman keras atau karena sebab lain, Ang Ban Tjiong menghembuskan nafas terakhirnya di usia yang masih relatif muda, 28 tahun. Bio TokohIndonesia.com | cid, red

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here