Ke Jakarta untuk Menaklukan Kemiskinan

Komaruddin Hidayat
Komaruddin Hidayat

Puncak karir dunia akademik tergapai. Meraih gelar doktor hingga profesor. Yang terbaru, Komaruddin Hidayat dipercaya menjadi rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Apa filosofi hingga dia mencapai mahkota karirnya itu?

Suatu saat Komar, demikian sapaan akrabnya, didaulat menjadi pembicara di hadapan rektor dan guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Kampus UGM itu memang tidak jauh dari kampung Komar, Magelang. Kira-kira satu jam perjalanan. Saat itu, Komar merenung, kok bisa dirinya berbicara di hadapan para profesor di kampus bergengsi itu. Dia tertawa merefleksi perjalanan hidupnya tersebut.

Sebagai seorang santri tulen, dulu Komar berpikir bahwa UGM itu menjadi almamater yang tidak terjangkau. “Dulu saya mimpi untuk masuk saja tidak berani, apalagi jadi dosen di sana karena memang tidak ada jalurnya bagi orang miskin yang besar di pesantren,” katanya. Jadi, kata Komar, dia sering tertawa sendiri.

Kini, hal yang untuk dimpikan saja tak berani itu menjadi kenyatan. Komar dipercaya menjadi dosen di program Pascasarjana UGM. Anehnya, untuk menjadi pengajar di kampus yang terletak di sebelah tanah kelahirannya tersebut, dia harus berputar-putar terlebih dahulu. “Hidup ini memang sandiwara. Untuk bisa melakukan itu, saya harus bertahun-tahun berputar melalui Jakarta, Amerika, Kanada, Turki, dan lainnya,” kata mantan ketua Panwaslu 2004 tersebut.

Untuk bisa seperti sekarang, Komar mengaku memiliki motivasi besar yang dilatarbelakangi empat hal penting yang menjadi titik balik bagi hidupnya. Pertama, kondisi kampung halaman yang menyedihkan. Kedua, wafatnya ibu tercinta sejak kecil. Ketiga, sosok neneknya, Qomariyah, yang arif dan menanamkan spirit kehidupan yang besar. Keempat, hadirnya sosok Kiai Hamam Ja’far dan kondisi pesantren yang menjadi setting sosial tempat dirinya tumbuh menjadi sosok yang dewasa.

Komar mengaku sangat trenyuh melihat realitas sosial yang timpang di kampung halamannya. “Saya melihat toko-toko besar di sekitar kampung saya itu menindas masyarakat saya. Ketika saya pulang dari studi, kondisi tersebut tidak berubah. Banyak teman-teman masa kecil saya yang nasibnya mengenaskan sebagai petani,” ujarnya.

Pemerintah, jelas Komar, sama sekali tidak berhasil mengangkat harkat dan martabat masyarakat petani. Di sisi lain, harta kekayaaan negara dihabiskan untuk foya-foya oleh para pejabat korup. “Ini menjadi spirit saya untuk gesit dalam bergerak. Saat itu saya bertekad untuk meninggalkan kampung yang tidak memberikan harapan itu, no hope no future,” tegasnya. Komar berharap, suatu saat dirinya akan kembali untuk memberikan sesuatu yang berarti kepada masyarakat di kampungnya.

Spirit itu dikuatkan kerinduannya akan sosok seorang ibu yang telah lama meninggalkannya. Dengan semangat yang menggebu, Komar muda nekat bertarung di ibu kota Jakarta. Dia ingin membuktikan keberhasilannya kepada sang orang tua.

Akar motivasi perubahan tersebut diperkuat hadirnya seorang nenek dari garis ibu, yang sejak kecil mengasuhnya. Sejak kecil, tanpa disadari, sang nenek yang bernama Qomariyah itu memberikan hipnoterapi kepada Komar. Dalam ilmu psikologi, 88 persen perilaku seseorang itu digerakkan alam bawah sadarnya (Hipnoteraphy for Education: 2006).

Alam bawah sadar tersebut tersusun dari rekaman masa lalu berupa keinginan yang terpendam. “Sejak kecil, saya akrab dengan nenek karena sejak usia 9 tahun, ibu sudah meninggal. Setiap malam, antara tidur dan tidak, saya melihat nenek salat tahajud. Beliau juga membaca Alquran. Seusai melakukan itu, kepala saya diusap-usap, lalu ditiupkan petuah-petuah orang tua,” katanya.

Advertisement

Komar menceritakan, sembari mendendangkan salawat nabi, sang nenek sering bertutur, “Komar, nanti kalau kamu besar, kamu akan mencangkul, tapi tidak menggunakan cangkul, tetapi menggunakan pena dan bolpoin. Komar, nanti kalau kamu besar, rumahmu terang benderang, tidak seperti rumah ini yang diterangi lampu teplok. Komar, kelak kamu akan jalan-jalan berkeliling dunia, naik pesawat terbang, nanti kamu banyak temannya,” ujar sang nenek yang hidup dalam kondisi sangat sederhana itu.

Menurut Komar, apa yang dituturkan neneknya itu terekam dalam alam bawah sadar dan menjadi sugesti positif, yang menggerakkan kesadaran dan otak kanannya dalam meniti hidup. “Apa yang dilakukan nenek saya tersebut telah mengondisikan saya untuk mengakrabi dunia filsafat. Waktu itu saya tidak tahu itu filsafat,” ujar mantan wartawan majalah Panji Masyarakat tersebut.

Selain pentingnya sosok sang nenek, karakter personal Komar diperkuat kehadiran Kiai Hamam Ja’far di Pesantren Pabelan, Magelang. Komar menilai, sosok Kiai Hamam yang sudah dianggap sebagai ayahnya itu seperti sosok Nabi Musa. Yakni, figur pemimpin, panutan, dan pemberi petunjuk yang selalu bersikap keras untuk menaklukkan ketimpangan dan kemiskinan.

“Kiai Hamam mengajarkan kepada saya bahwa manusia punya hak untuk merdeka, untuk hidup. ‘Bumi ini untuk manusia, maka kamu berhak menikmati hidup ini’ kata guru saya. Itulah ajaran Alquran untuk menjunjung spirit dan etos hijrah dalam menjalani hidup,” katanya. Sang kiai juga berpesan, “Lihat air itu, kalau mandek, dia akan menjadi penyakit dan kalau bergerak, dia akan bersih,” kenangnya.

Karena desa miskin, ibu meninggal, nenek filosofis, dan sosok kiai serta dunia pesantren yang memiliki kondisi sosial berbeda itu Komar memiliki spirit “liar” untuk memperbaiki hidup dan masyarakat.

“Umur 18 tahun, saya bertekad mendatangi Jakarta. Prinsip saya, kalau di Jakarta itu banyak gula, saya ibarat semut, masak saya tidak tidak akan merasakan manisnya gula itu,” ungkapnya. Saat itu, Komar tidak berpikir kerasnya persaingan di ibu kota. “Saya yakin ibu kota memberi harapan besar pada saya. Di sana ada ilmu, uang, informasi, dan sebagainya. Waktu itu saya nekat bermodal dengkul,” tegas Komar.

Komar memegang prinsip bahwa kalau kita ingin menolong orang lain, tolonglah diri kita sendiri. “Berdiri pada kaki sendiri adalah pangkal kesuksesan (al-I’timad ala an-nafsi asasu an-naja). Jangan pikir orang lain dulu, tapi pikirkan dirimu sendiri lebih dahulu,” tegasnya.

Di balik kesuksesannya itu, Komar melihat bahwa doa orang tua adalah faktor yang sangat mustajab. “Saya kadang malu meminta-minta kepada Allah. Sebab, kalau saya minta, saya merasa selalu dikabulkan. Saya takut pada Allah untuk tidak bisa bersyukur. Maka, saya selalu berdoa allahummaj’alni mina al-syakirin, jadi saya malu kalau tidak bersyukur,” katanya.

Ke depan Komar mengaku ingin menjalani hidup dengan mengalir. “Saya berprinsip yesterday is history, now is gift or present, tomorrow is mystery. Jadi, let us celebrate the life. Hidup itu rekreasi, jadi harus happy dengan cara berbuat baik dan beramal saleh,” ujarnya. Kita sekarang harus menanam benih di kebun, lanjut Komar, siapa tahu kafilah berikutnya bisa memetik buahnya. Siapa tahu juga bisa dibuat berteduh oleh orang yang berlalu. “Dengan cara itu, kelak kalau pulang kampung (meninggalkan dunia yang fana ini, Red) kan bisa tenang,” ujarnya. (Sumber: Indopos, Minggu, 22 Okt 2006) e-ti

Data Singkat
Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta, 2006-2010 / Rektor UIN Jakarta 2006-2010 | Ensiklopedi | Guru Besar, Dosen, Rektor, UIN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here