Sutiyoso Intelijen Otentik
Sutiyoso
[ENSIKLOPEDI] Presiden RI Jokowi sangat jeli ketika memilih Letnan Jenderal TNI (Purn) Sutiyoso menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Karena Sutiyoso adalah intelijen yang sesungguhnya, otentik. Sutiyoso, selain sangat berpengalaman, terlatih dan teruji dalam berbagai tugas operasi intelijen strategis sebagai perwira Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat (Sandi Yudha), mantan Pangdam Jaya itu memang memiliki habitat intelijen.
Otentisitas dan habitat intelijen Sutiyoso termeteraikan dalam hidup kesehariannya. Kendati (karena hakikat intelijen) hal itu mungkin hanya bisa dicermati oleh orang yang jeli dan sangat mengenalnya. Bagi orang yang jeli dan mengenalnya, meyakini bahwa dunia intelijen adalah habitat Sutiyoso.
Kalimat singkat berikut ini kiranya bisa menggambarkan bagaimana otentisitas dan habitat intelijen Sutiyoso: Sekalipun saat tidur nyenyak, Sutiyoso bisa berenang mengarungi dan menaklukkan misteri gulungan ombak samudera intelijen; Apalagi saat melek!
Otentisitasnya bisa dilihat ketika (bagaimana) Sutiyoso, dalam posisinya sebagai Kepala BIN, saat menjemput kelompok bersenjata (GAM) Din Minimi di pedalaman hutan Aceh Timur, tanpa pengawalan (28-29 Desember 2015). Dia memeluk Din Minimi ketika dengan sukarela menyerahkan senjata yang selalu digenggamnya siang dan malam. Terlihat amat santai (dan tidur pulas) padahal di situ tengah terjadi klimaks yang sesungguhnya mencekam. Tapi di permukaan, Sutiyoso terlihat santai, ibarat dia main game saja, enjoy. Padahal dia tengah menyelesaikan sebuah misi besar: Mengakhiri perang!
Dalam otentisitas dan habitat intelijennya, Sutiyoso juga selalu mampu menjaga integritas dan taat asas dalam setiap menjalankan tugas, siapa pun yang menjadi pemimpinnya. Hal ini sudah dibuktikannya selama bertugas di militer (sampai menjadi Panglima Kodam V Jaya), bahkan saat bertugas sebagai Gubernur DKI Jakarta pada era lima presiden (1997-2007).
Tidak mudah memperoleh informasi penting dari Sutiyoso. Adalah kesehariannya (habitat) memiliki kepiwaian untuk mendapatkan informasi penting dari lawan bicaranya, namun sebaliknya sangat piawai pula mengakhiri atau mengalihkan pembicaraan jika sudah menyangkut hal yang dia sendiri tidak ingin membicarakannya. Karakter ini sangat menyatu dalam dirinya. Kebiasaan ini bukan hanya pada saat dia bertugas sebagai perwira intelijen (militer), bahkan sesudah menjabat gubernur (public services).
Kalimat singkat berikut ini kiranya bisa menggambarkan bagaimana otentisitas dan habitat intelijen Sutiyoso: Sekalipun saat tidur nyenyak, Sutiyoso bisa berenang mengarungi dan menaklukkan misteri gulungan ombak samudera intelijen; Apalagi saat melek!
Selain itu, dalam catatan TokohIndonesia.com, Sutiyoso juga tidak asal mau (apa pun) menerima sesuatu jabatan. Ketika dia ditugaskan oleh Presiden Soeharto dan Panglima TNI Feisal Tanjung, menjadi Gubernur DKI, dia tidak serta-merta menerimanya, antara lain karena merasa dunia militer (intelijen)-lah habitatnya, sehingga dia meminta waktu untuk berpikir. Padahal banyak jenderal yang ‘berebut’ menjadi Gubernur DKI.
Sutiyoso merasa dialihkan dari habitat militernya. Dia lebih menginginkan meniti karier hingga jabatan puncak militer. Dia mengaku sempat merasa kecewa, namun akhirnya menerima penugasan sebagai Gubernur DKI, sebagai pilihan realistis, dan ketaatan kepada pimpinan yang diyakininya mempunyai alasan lebih kuat demi kepentingan bangsa dan negara.
Hari pertama masuk kantor sebagai gubernur, dia berdiri di depan kaca. Dia melihat dirinya sangat jelek, rambut cepak tetapi memakai safari abu-abu. Dia amat berat melepas baju lorengnya. Di depan kaca itu, dia belajar cengengesan. Tapi, di sini pulalah kehebatan Sutiyoso, dengan cepat dia mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri dan habitatnya. Dia pun berhasil memimpin Jakarta di era paling sulit (1997-2007) sebagaimana diuraikan daalam buku Sutiyoso Sang Pemimpin.
Kendati ada pendapat yang berbeda, kejelian Presiden Jokowi memilih Sutiyoso sebagai Kepala BIN tentu sangat didasari alasan profesionalisme dan ideologis. Bukan hanya semata-mata karena Sutiyoso selaku Ketua UmumPartai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) membawa gerbong partainya mendukung pencalonan Jokowi-JK dalm Pilpres 2014.
Jika disimak apa yang dituturkan dalam Buku Biografi Militer Sutiyoso ‘The Field General’, sungguh Sutiyoso adalah seorang perwira yang amat handal dalam setiap kali penugasan intelijen tempur (strategis). Dia terdidik dan terlatih serta teruji dalam beberapa penugasan operasi intelijen strategis. Dia bukan ‘Intelijen Melayu’ yang sengaja menyembulkan gagang pistolnya di pinggang di balik kemejanya. Di negeri orang, luar negeri (antara lain Timor Portugis), secara klandestin dia bisa menyaru jadi kuli, tukang pikul, mahasiswa dan sebagai pedagang, dengan segala kemungkinan risikonya.
Itulah habitnya yang selama hampir dua dasawarsa secara resmi (poresional) telah ditinggalkannya. Inilah pula alasan formalnya menolak ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memintanya untuk menjabat Kepala BIN menggantikan Syamsir Siregar. (Sutiyoso Sang Pemimpin, halaman 196-198).
Tapi menjadi surprise, ketika Presiden Jokowi memilih dan melantiknya jadi Kepala BIN setelah lebih dulu menjalani uji kelayakan di DPR. Kenapa kali ini Sutiyoso, dalam usia 70 tahun mau kembali ke habitatnya pada era Jokowi sebagai presiden?
Alasan klasiknya, sebagai seorang prajurit pejuang tidak mengenal batas usia dalam pengabdian untuk masyarakat, bangsa dan negara. Dia meyakini, Presiden Jokowi secara tulus dan bijak melihat kemampuan (habitat) intelijen yang dimilikinya untuk ikut bersama-sama memperkuat negara dan pemerintahan Kabinet Kerja.
Guru besar Universitas Pertahanan Jakarta Dr. Salim Said menilai pemilihan Sutiyoso sebagai Kepala BIN menggantikan Marciano Norman bukan berdasarkan latar belakang ketua umum partai politik. Sutiyoso itu dulu bertugas di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat. Dia tentu memiliki pengalaman intelijen saat bertugas di Sandi Yudha,” kata Salim Said kepada pers di Jakarta, Rabu (10/6/2015). Menurutnya, hal itu juga merupakan hak prerogatif presiden, siapa pun figur yang menjadi Kepala BIN sangat bergantung kepada Presiden.
Salim juga menilai Sutiyoso merupakan seorang pekerja keras. Saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, dia terbiasa bekerja keras. Maka, Salim berharap, Sutiyoso akan berhasil memimpin lembaga intelijen tersebut.
BIN sebagai sebuah lembaga negara non-kementerian yang bertanggung jawab langsung kepada presiden, memiliki fungsi yang amat strategis bagi presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Berbeda dengan bandan atau lembaga negara lainnya yang berorientasi public service (pelayanan publik), BIN justru hanya melayani Presiden sebagai single client. Penulis: Ch. Robin Simanullang | Bio TokohIndonesia.com