Konsisten Menekuni Dunia Seni Peran

Lukman Sardi
 
0
172
Lukman Sardi (IG @lukmansrd)

Meski banyak orang yang meragukan masa depan seorang aktor, Lukman Sardi tetap konsisten menekuni dunia seni peran. Selain menjadi aktor, putra komponis legendaris Indonesia, Idris Sardi ini juga menjadi produser dan sutradara. Dia sudah terlibat dalam banyak film termasuk film-film bertema sejarah seperti Gie (2005), Sang Pencerah (2010) memerankan KH Ahmad Dahlan, Soekarno: Indonesia Merdeka (2013) memerankan Muhammad Hatta, Jenderal Soedirman (2015), dan Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018).

Awalnya Lukman Sardi bercita-cita ingin menjadi tentara. Namun Tuhan menentukan lain dan dia melabuhkan pilihan hidupnya menjadi seorang aktor. Meskipun namanya sebagai aktor baru mulai diperhitungkan bertahun-tahun kemudian, namun pada kenyataannya pria kelahiran Jakarta 14 Juli 1971 ini telah berakting di depan kamera sejak usia 7 tahun.

Film yang pertama kali dibintangi putra pasangan Zerlita dan violis Idris Sardi ini adalah Kembang-Kembang Plastik yang diproduksi tahun 1978. Setahun kemudian ia kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam berakting dalam film arahan sutradara Wim Umboh berjudul Pengemis dan Tukang Becak. Dalam film itu selain dengan sang kakak, Ajeng Triani Sardi, Lukman juga beradu akting dengan para aktris dan aktor kawakan seperti Christine Hakim dan almarhum Dicky Zulkarnaen.

Selain dua film di atas, di masa kecilnya Lukman juga membintangi enam judul film lain yakni Anak-anak Tak Beribu, Gema Hati Bernyanyi, Laki-Laki Dalam Pelukan, Bermain Drama, Beningnya Hati Seorang Gadis, serta Cubit-Cubitan.

Rutinitas syuting yang menyita waktu membuat Lukman kesulitan untuk membagi waktu dengan kegiatan di sekolahnya. Maka ketika memasuki jenjang pendidikan SMA, ia memutuskan untuk berhenti berakting agar dapat lebih berkonsentrasi dengan pendidikannya. Setamat SMA, kakak tiri penyanyi Shelomita itu meneruskan studinya di Fakultas Hukum Universitas Trisakti. Meski gelar S.H. telah bertengger di belakang namanya, rupanya untuk mencari nafkah, Lukman lebih memilih untuk menjadi seorang sales asuransi serta mendirikan sebuah playgroup.

Setelah sekian lama namanya tenggelam, Lukman kemudian muncul membintangi sinetron Enam Langkah di tahun 1994, produksi Miles. Namun setelah itu sosoknya kembali menghilang.

Nama Lukman Sardi kembali mencuat di tahun 2005 saat bermain dalam film Gie. Film yang bercerita tentang kehidupan aktivis mahasiswa berdarah Tionghoa bernama Soe Hok Gie itu rupanya menandai kembalinya suami Pricillia Pullunggono ini ke dunia perfilman.

Setelah Gie, nama Lukman semakin dikenal para penggemar film Tanah Air. Karena kualitas aktingnya yang semakin terasah, Lukman kerap dipercaya untuk memainkan peran yang ‘berbobot’. Sejak kemunculan perdananya di tahun 2005 setelah sekian lama menghilang hingga tahun 2010, ayah Akiva Dishan Ranu Sardi ini tercatat telah membintangi belasan judul film. Bahkan beberapa di antaranya mendapat sambutan hangat dari masyarakat, seperti film Berbagi Suami, Naga Bonar (Jadi) 2, dan Laskar Pelangi.

“Film sudah menjadi cinta dan hidup saya,” katanya untuk menggambarkan kecintaannya pada dunia yang telah membesarkan namanya itu.

Meski tidak pernah membedakan peran besar atau kecil, pria yang mengakhiri masa lajangnya pada 28 Maret 2009 ini terbilang selektif dalam memilih peran. Peran yang dimainkannya pun dalam setiap filmnya terkesan sulit untuk dilakonkan. Mulai dari gangster, pria gay, hingga gigolo. Menurut Lukman, pada hakikatnya, semua peran yang ia bawakan mempunyai tingkat kesulitan tersendiri. Oleh karena itu diperlukan suatu pemahaman agar peran tersebut bisa tampak “hidup”.

Bagi Lukman, tantangan seorang aktor adalah pada saat mendapat peran-peran yang berbeda jauh dengan citra atau karakter yang sesungguhnya. “Oleh karena di situlah saya bisa belajar dan mengeksplorasi berbagai macam karakter,” katanya.

Advertisement

“Film sudah menjadi cinta dan hidup saya,” katanya untuk menggambarkan kecintaannya pada dunia yang telah membesarkan namanya itu. Meski tak sedikit orang yang meragukan masa depan seorang aktor, Lukman tetap konsisten di jalur yang telah dipilihnya. Karena menurutnya, pekerjaan apa pun kalau dilakukan dengan komitmen tinggi akan memberikan hasil yang baik baik secara materi maupun batin. Ia juga berusaha merubah paradigma yang berkembang di Indonesia khususnya, bahwa seorang aktor semakin bertambah usia maka ia akan semakin sepi tawaran berakting karena dianggap sudah tak komersial lagi. Menurut Lukman, seorang aktor semakin bertambah usia malah ia akan semakin matang.

Pada Mei 2009, Lukman Sardi kembali memperoleh peran penting yang menguji bakat beraktingnya. Dalam film besutan Hanung Bramantyo itu, Lukman didaulat untuk memerankan tokoh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Tawaran itu membuat Lukman merasa tersanjung sekaligus terbebani. Tersanjung karena dari sekian banyak aktor-aktor hebat yang dimiliki negeri ini justru ia yang terpilih. Terbebani karena KH Ahmad Dahlan adalah tokoh besar yang tak hanya dimiliki umat Islam tetapi juga milik bangsa Indonesia. “Tapi intinya, dua perasaan tersebut saya jadikan motivasi untuk berusaha keras memberikan yang terbaik,” kata pria yang kerap disapa Memet ini.

Lukman mengaku tidak menemui kesulitan yang berarti dalam memerankan sosok kyai kharismatik itu. Hanya saja ia mengalami sedikit kendala dengan referensi fisik tokoh yang diperankannya, karena foto KH Ahmad Dahlan yang ia dapatkan saat berusia 50 tahunan, sementara dalam film itu ia berperan sebagai KH Ahmad Dahlan saat berusia 21 hingga 44 tahun. Selebihnya, Lukman Sardi menyatakan tidak ada masalah main di film yang dibuat di Yogyakarta, Ambarawa, dan Bogor ini. Misalnya saja, soal melatih kekentalan berbahasa Jawa. “Kebetulan saya ada darah Jawa dari ayah. Meskipun saya besar di Jakarta, tampaknya tidak akan sulit,” beber Lukman Sardi.

Namun, Lukman Sardi tidak hilang akal mengatasi kendala historis itu. Ia melahap sejumlah literatur seperti buku karangan Kiai Muhammad Sudja, berselancar di dunia maya, dan banyak berdiskusi dengan cucu-cucu Ahmad Dahlan langsung. “Agar saya tahu kiprah beliau dan bisa menghadirkannya dalam akting,” ungkap Lukman.

Meski namanya telah masuk dalam jajaran aktor berbakat Indonesia, rupanya menjadi seorang aktor bukanlah cita-cita Lukman yang sebenarnya. Semasa SMA, Lukman justru bercita-cita menjadi seorang tentara. Untungnya cita-cita itu sekarang bisa ia nikmati lewat dunia seni peran kecintaannya. Lukman berperan sebagai pejuang dalam film trilogi perang pertama di Indonesia, Merah Putih. “Enaknya jadi aktor, kita bisa merasakan menjadi siapapun, seperti menjadi tentara yang merupakan cita-citaku, bisa aku rasakan di peranku dalam Film Merah Putih,” papar penggemar film The Godfather ini.

Sebagai orang yang telah puluhan tahun berkecimpung dalam industri perfilman, Lukman juga sudah berhasil memasuki dunia sutradara. Pria yang hobi berburu ini mengatakan dengan menjadi sutradara ia bisa menuangkan ide-idenya sendiri dan membuatnya dari nol sampai menjadi sesuatu. “Saya selalu berharap bisa berjuang untuk Indonesia melalui karya-karya saya nantinya,” kata Lukman.

Selain total berperan, ayah tiga anak ini selalu bertanggung jawab melakukan pekerjaannya. Buat saya, pekerjaan adalah tanggung jawab, jadi saya melakukannya tidak setengah hati,” ujar pria yang memutuskan pindah agama dari Islam ke Kristen ini. (cid, red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini