Legislator dan Pendidik yang Agamais

[ Deding Ishak ]
 
0
161
Deding Ishak
Deding Ishak | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Dia adalah seorang wakil rakyat, penyandang gelar doktor bidang kebijakan publik, pucuk pimpinan Ormas besar, dan pemangku sebuah lembaga pendidikan tinggi agama Islam. Dengan kapasitas intelektual dan politis yang dimiliki, dia bertekad menjadikan pembangunan bidang pendidikan sebagai panglima di negeri ini demi terciptanya Indonesia yang maju.

Kepribadiannya pun tak diragukan. gaya bicaranya yang lemah lembut memang agak bertolak belakang dengan perawakannya yang tinggi besar, dengan kumis tebal menghiasi bibir. Namun, pribadinya yang sangat ramah mengikis habis kesan angker dari penampilan fisiknya tersebut.

DR. Deding Ishak Ibnu Sudja adalah anggota DPR-RI periode 2004-2009 dari Partai Golkar. Di Senayan, saat ini pria kelahiran Bandung, 4 Juni 1962, ini sehari-hari bertugas di Komisi VIII (bidang Sosial, Agama, dan Pemberdayaan Perempuan).

Bidang-bidang itu relatif sangat pas dengan latar belakang profesional yang selama ini digelutinya. Di tengah-tengah kesibukan sebagai anggota DPR-RI dan berkantor di Senayan, Jakarta, Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Barat ini juga disibukkan oleh aktivitas sebagai Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yapata Al-Jawami, Bandung.

Karenanya, Doktor Ilmu Administrasi spesialis Kebijakan Publik dari Universitas Padjadjaran ini begitu antusias bila diajak berbincang-bincang ihwal pendidikan, baik pendidikan informal, nonformal, maupun formal.

Fakta lain, riwayat hidup keluarganya yang banyak bergelut di dunia keagamaan dan pendidikan. K.H. Muhammad Sudja’i, kakek dari alumnus (S-1) IAIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung ini, adalah pendiri Pondok Pesantren Sindangsari (Al-Jawami), Cileunyi, Bandung. Sementara sang ayahanda, K.H. R. Totoh Abdul Fatah, adalah ulama kesohor di Jawa Barat dan mantan Ketua MUI Jawa Barat.

Ketua Umum PP Ikatan Keluarga Alumni (IKA) SGD (2004-2009) ini memandang pendidikan sebagai segalanya. Menurut hematnya, maju tidaknya sebuah masyarakat sangat bergantung pada sejauh mana kepedulian masyarakat tersebut terhadap dunia pendidikan.

Dengan kapabilitas intelektualnya sebagai pendidik dan pemangku pendidikan yang dipadu-selaraskan dengan kapasitas politiknya sebagai anggota DPR, ayah empat anak ini bertekad untuk menjadikan pembangunan bidang pendidikan sebagai panglima menuju Indonesia yang maju.

Keberhasilan pembangunan pendidikan dengan sendirinya akan diikuti keberhasilan pembangunan di bidang-bidang lainnya. Keberhasilan satu bangsa di sejumlah bidang seperti ekonomi, politik, atau budaya –namun tidak diikuti oleh keberhasilan di bidang pendidikan– justru akan menjadi bumerang bagi bangsa itu sendiri.

Katakanlah suatu negara mencapai tingkat kemakmuran tinggi namun karena tidak disertai kemajuan intelektual dan afektual, kemakmuran yang ada justru potensial disalahgunakan untuk menghancurkan dirinya sendiri.

“Itulah sebabnya, pendidikan harus dijadikan panglima pembangunan, bersamaan dengan bidang-bidang lainnya!” tandas Deding Ishak seperti dituturkan kepada Tokoh Indonesia, di ruang kerjanya Gedung DPR/MPR, Jakarta, belum lama ini.

Penulis produktif di media massa ini kemudian menunjuk pengalaman Bangsa Jepang yang mengistimewakan pendidikan di atas segala-galanya. Tak lama mengikrarkan negaranya bertekuk lutut tanpa syarat kepada Sekutu, Kaisar Jepang, mendiang Hirohito, tidak menanyakan berapa tentara Jepang yang tersisa, melainkan berapa guru yang masih dimiliki negeri Matahari Terbit itu.
Dengan membangun pendidikan, Jepang yang diperkirakan baru bisa bangkit 60 tahun pascapemboman Nagasaki dan Hiroshima, ternyata bisa bangkit dalam waktu 20 tahun saja.

Jepang bisa bangkit, karena pemimpinnya peduli dan memberikan komitmen tinggi pada kemajuan pendidikan dan menghargai kerja keras.
Atas dasar itu, “Amanat Undang-undang Dasar 1945 agar pemerintah, baik pusat maupun daerah, melalui APBN/APBD mengalokasikan anggaran sebesar 20 persen untuk sektor pendidikan adalah sesuatu yang niscaya dan sepatutnya direalisasikan,” ungkap mantan anggota DPRD Jawa Barat dua periode ini penuh optimisme.

Seperti disebutkan di atas, di samping pendidikan, dunia keagamaan (baca: dakwah) juga menjadi kehirauan Deding Ishak. Belum lama ini, dia terpilih sebagai Ketua Umum DPP Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) periode 2004-2009, menggantikan Chalid Mawardi.

Di balik tanggung jawab besar yang diamanahkan kepada dirinya untuk memimpin MDI, ada kebanggaan tersendiri bagi Deding. Sebab, dia yang selama ini lebih banyak berkecimpung di daerah (Jawa Barat) justru mendapat kepercayaan sebagai orang nomor satu di sebuah organisasi kemasyarakatan (Ormas) besar yang berafiliasi dengan Partai Golkar.

Belajar dari pengalaman terdahulu, Deding sangat terobsesi untuk membawa MDI sebagai sebuah Ormas Islam lintasektarian yang mampu menampilkan citra Islam yang modern.

Konkretnya, dalam memecahkan setiap masalah keumatan, MDI akan mengedepankan langkah-langkah yang cerdas, beradab, dan dilandasi kepentingan bangsa.

Tanggung jawab sebuah Ormas Islam, lanjut Ketua DPP Pemuda Tarbiyah ini, bukan hanya memenuhi kebutuhan ruhani umat tapi juga berpartisipasi dalam langkah pemberdayaan umat (kesejahteraan). “Dua hal itu senantiasa menjadi perhatian MDI,” ucap pengurus KAHMI Pusat ini. e-ti | anis fuadi

Data Singkat
Deding Ishak, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat (1999-2004) / Legislator dan Pendidik yang Agamais | Direktori | Unpad, Doktor, DPRD

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here