Pengusaha Bermusik

[ Setiawan Djodi ]
 
0
312
Setiawan Djodi
Setiawan Djodi | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Selain dikenal sebagai pengusaha minyak dan kapal, ia juga dikenal sebagai musisi yang kerap menyuarakan kritik sosial dan politik. Sejak 2007, cucu pahlawan nasional dr Wahidin Sudirohusodo ini sedang berjuang melawan penyakit sirosis liver yang dideritanya.

Pria Jawa kelahiran Solo, 13 Maret 1949 ini bernama lengkap Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Salahuddin Setiawan Djodi Nur Hadiningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Setiawan Djody. Djody, demikian pria berkacamata itu biasa disapa, lahir di lingkungan keluarga terpandang. Kakeknya, Dr. Wahidin Sudiro Husodo merupakan pahlawan nasional negeri ini.

Djody mulai merintis karirnya sebagai seorang pengusaha saat ia menimba ilmu di Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam itu, ia berkenalan dengan salah seorang anggota keluarga raja minyak Rockefeller. Dari perkenalan itu, ia banyak mempelajari strategi bisnis. Awal tahun 70-an, saat menginjakkan kaki kembali di tanah air, Djody menerapkan ilmu yang telah didapatnya dengan mengembangkan bisnis perminyakan dan properti.

Untuk mengembangkan usahanya, putra pasangan Soeprapti Soedadi dan Soedadi Tedjaningrat ini kemudian membuka akses dengan penguasa. Salah satunya keluarga Presiden Soeharto. Dengan menggandeng Sigit Hardjojudanto, putra Soeharto, Djody mendirikan bisnis kapal tanker. Kemudian berlanjut ke proyek LNG, menjalin kerja sama dengan Tommy Soeharto. Dalam perjalanan proyek tersebut, terjadi perseteruan antara Djody dengan putra bungsu Soeharto itu. Perseteruan itu berbuntut didepaknya Djody dari proyek tersebut.

Karena merasa kecewa, Djody pun berteriak lantang mengecam kebijakan ekonomi Soeharto, yang dinilai menyalahi demokrasi ekonomi Pancasila. Protes kerasnya itu kemudian membuahkan tudingan bahwa dirinya sebagai penyandang dana Gus Dur pada Muktamar Nahdlatul Ulama di Cipasung, Tasikmalaya, tahun 1994.

Meski sempat dijegal, lulusan Universitas Wharton dan Universitas California itu pantang menyerah, perlahan tapi pasti ia membangun kerajaan bisnisnya. Walau tak lagi menggandeng keluarga Cendana, bisnis Djody terus melaju. Bahkan setelah Soeharto tumbang, bos Sedco Group ini masih dapat bertahan. Sedikitnya sepuluh perusahaan yang mencakup bidang perminyakan dan telekomunikasi berada di bawah kendalinya.

Djody mulai merintis karirnya sebagai seorang pengusaha saat ia menimba ilmu di Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam itu, ia berkenalan dengan salah seorang anggota keluarga raja minyak Rockefeller. Dari perkenalan itu, ia banyak mempelajari strategi bisnis. Awal tahun 70-an, saat menginjakkan kaki kembali di tanah air, Djody menerapkan ilmu yang telah didapatnya dengan mengembangkan bisnis perminyakan dan properti.

Selain menjadi pengusaha, Djody juga dikenal sebagai pemusik. Musik ia anggap sebagai suara yang universal untuk menyuarakan kebenaran. “Daripada saya berteriak melalui partai politik, mendingan saya menyalurkannya lewat musik,” kata suami dari Etty Djody ini seperti dikutip dari situs pdat.co.id. Djody menguasai beberapa alat musik salah satunya gitar. Alat musik petik itu memang instrumen yang paling dikuasainya ditandai dengan penghargaan Gitaris Terbaik di Asia versi majalah The Rolling Stone yang diterimanya pada tahun 1990.

Dalam bermusik, pria yang pernah maju sebagai calon presiden dalam Konvensi Partai Golongan Karya 2003 ini tampil secara solo maupun grup. Dua album solonya Dialog dan Revolusi Biru merupakan wujud kreativitas bermusik seorang Setiawan Djody. Sementara dalam grup, ia berkolaborasi dengan sejumlah musisi lainnya dan tergabung dalam sejumlah grup musik seperti Swami, Kantata Takwa, dan Kantata Revolvere.

Awalnya Djodi membentuk grup Swami di tahun1989, dan beranggotakan musisi ternama seperti Iwan Fals, Sawung Jabo, Inisisri, Jockie Suryoprayogo, dan Totok Tewel. Setahun kemudian dengan dukungan para personil Swami, ditambah penyair kawakan WS Rendra dan Kelompok Bengkel Teater, Djody membentuk band baru bernama Kantata Takwa. Iwan Fals masih mendapat kepercayaan sebagai vokalis utama.

Tema lagu yang diusungnya tak jauh-jauh dari kritik sosial dan politik. Hal itu sesuai dengan niat awalnya dalam bermusik yakni menyuarakan kebenaran. Terakhir, album yang dirilisnya bersama Kantata Taqwa berjudul Opera Raksasa Biru. Album yang diluncurkan tahun 2007 dan digarap selama hampir tiga tahun itu mengangkat isu pemanasan global. Selain lewat musik, ia juga berniat melanjutkan kampanyenya lewat sebuah buku yang akan menjelaskan dampak pemanasan global.

Dalam berkarya, ia tak melulu menomorsatukan keuntungan materi. Sukses tidaknya sebuah karya tidak dilihat dari banyaknya keping album yang laku terjual. Yang jauh lebih penting bagi Djody adalah bagaimana menyampaikan pesan ke masyarakat seluas-luasnya bahkan hingga ke telinga pemerintah.

Sementara menyangkut kehidupan pribadi, seperti manusia pada umumnya, ia pun sempat mengalami pasang surut. Pernikahan pertamanya dengan mantan model Sandy Harun berakhir dengan perceraian. Dari pernikahannya dengan Sandy, ia dianugerahi seorang putri bernama Marimbi. Setelah itu, Djody menikah untuk kali kedua dengan seorang wanita bernama Etty. Pernikahannya dengan Etty dikaruniai lima orang anak.

Dalam mendidik istri dan buah hatinya, pengagum Churcil dan Adam Smith ini menerapkan budaya Jawa dan Barat. Salah satu anaknya disekolahkan di sekolah militer di AS. Selain karena sekolah legendaris, Djody ingin putranya menjadi anak muda yang disiplin dan bersemangat. “Saya ingin mereka meneruskan apa yang saya perjuangkan sekarang, membangun ekonomi dan (mengembangkan) pemikiran-pemikiran saya,” ujarnya.

Tahun 2007, ayah enam anak ini mendapat cobaan dalam hidupnya, ia divonis menderita penyakit liver. Namun setelah keluar-masuk rumah sakit, baik di dalam maupun luar negeri dan menjalani serangkaian operasi transplantasi hati, kondisi Djody berangsur membaik. Meski pasca operasi, ia sempat mengalami masa kritis selama tiga hari. Djody mendapatkan donor hati dari putri keempatnya yang bernama Jenan. “Sekarang saya sehat, namun saya siap jika sewaktu-waktu saya dipanggil Tuhan,” ujar kolektor gitar ini dikutip dari situs liputan6.com.

Setelah lolos dari maut, Djody mulai menerapkan gaya hidup sehat. Ia pun tak lupa berolahraga secara rutin setiap hari. Jika di masa mudanya dulu ia kerap menekuni olahraga ekstrim seperti bela diri dan panjat tebing, kini dengan pertimbangan faktor usia yang sudah kian senja, Djody memilih renang sebagai olahraga alternatif. Di sela-sela kesibukannya, ia memanfaatkan waktu luangnya membaca buku terutama otobiografi, filsafat, dan politik yang menjadi kegemarannya. eti | muli, red

Data Singkat
Setiawan Djodi, Pengusaha, Musisi / Pengusaha Bermusik | Direktori | musisi, Pengusaha, gitaris

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here