Tenar dari Deraan Kemiskinan

[ Ida Bagus Tilem ]
 
0
61
Ida Bagus Tilem
Ida Bagus Tilem | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Masa kanak-kanak dan remaja Ida Bagus Tilem terbelenggu di antara dinding-dinding kemelaratan. Lahir di desa Mas, Bali, 13 Desember 1939, Tilem berada di lingkungan keluarga pematung yang hidup serba kekurangan. Di masa kecilnya ia sudah berminat pada seni patung, yang akhirnya mendominasi seluruh kehidupannya.

Tidak seperti anak-anak sedesa yang menikmati kesenangan masa kecil, Tilem hampir setiap waktu duduk di atas tikar rotan di sisi ayahnya di rumah keluarga yang sempit, menyaksikan ayahnya mengolah batang kayu menjadi patung-patung yang indah.

Hidup di desa memang menyenangkan. Dan malam-malam yang menyenangkan bagi Tilem adalah mengikuti pamannya yang jadi dalang wayang kulit. Malam-malam lain, Tilem kecil mengikuti ayahnya yang mengadakan pertunjukan wayang orang dan tari topeng dari satu desa ke desa lainnya, serta mendengarkan kisah dari daun lontar yang dituturkan kakeknya.

Pengaruh sangat kuat dari dasar pemikiran dan filosofi hidupnya sejak usia remaja sampai saat ini yang masih ia hormati, telah menumbuhkan keinginan berkreasi yang menggebu-gebu di dalam dirinya. Ia berjam-jam berjuang bersama pahat dan potongan-potongan kayu sisa pahatan ayahnya.

Ayahnya, Ida Bagus Nyana, lahir tahun 1912, ketika mudanya diakui sebagai pemahat patung kayu yang sangat berbakat di Bali. Sebagai pria yang tenang dan penyabar, Ida Bagus Nyana, membiarkan putranya mengembangkan bakatnya yang tersembunyi, mengajarkan kepada anaknya tentang perlunya kesabaran, keuletan dan berkreasi secara total.

Perlahan-lahan Tilem kecil mengembangkan bakatnya, menggunakan alat-alat pahat ayahnya, mengukir binatang-binatang kecil, burung-burung dan tokoh-tokoh tradisional dalam kisah wayang dari bahan kayu yang ada.

Hasil karyanya ia jual kepada para turis dan satu-satunya toko barang-barang seni di Sanur. Ia pergi ke sekolah naik sepeda, dan pada usia sekolah lanjutan, ia biasa bersepeda ke Denpasar sejauh 20 kilometer setiap minggu siang. Ia menetap di kota, kembali Sabtu berikutnya untuk menekuni ukiran patung di kampungnya. Orang tuanya sangat miskin, karena itu ia harus menjual patung-patung hasil ukirannya untuk membiayai sekolahnya.

Tahun 1958, karena ayahnya tak mampu membiayai pendidikannya, Tilem memutuskan keluar dari sekolah, membuat sebuah studio seni ukir patung di rumahnya di desa Mas. Di situ ia menjual sendiri karya-karyanya untuk membantu kehidupan keluarganya.

Para pemuda sedesanya acapkali datang menemaninya. Ia sekarang mempekerjakan 100 pematung magang dan 100 pematung yang bekerja penuh waktu. Tilem mengolah habis-habisan lekak-lekuk yang serba feminin. Karya-karyanya memiliki gagasan besar dan daya dobrak visual yang memikat dunia. Ia melahirkan berbagai karya patung yang bernilai seni tinggi.

Mengenang pengalamannya ketika masih muda yang frustrasi di dalam berusaha mengembangkan pengetahuan dan kemampuan memahat dari bahan kayu yang sangat terbatas, ia menyediakan kayu dan alat pemahat buat mereka yang belum mampu membeli, membantu mereka memanfaatkan sedapat mungkin bahan yang ada, dan memberi kesempatan untuk menjual karya-karya mereka di studionya.

Sekarang, sebagai ayah dari empat orang anak, Tilem selalu menyadari pentingnya tradisi keluarga dan warisan budaya. Setelah perjalanan pertamanya ke luar negeri, ketika terpilih untuk mewakili Indonesia pada New York World Fair tahun 1964, ia melakukan berbagai pameran di luar negeri, seperti Thailand, Hong Kong, Australia, Jerman, Austria, dan Meksiko.

Ia memanfaatkan setiap perjalanannya untuk mengembangkan pengetahuan dan apresiasi seni, tetapi menemukan dirinya ingin segera kembali ke desanya untuk bertemu keluarga dan meneruskan karya-karyanya.

Kerja pematung menyatu dengan alam. Ukiran yang indah dan obyek manusia yang terukir di kayu, melukiskan perpaduan antara manusia dan alam. Tilem tak pernah kehabisan inspirasi. Pengalamannya di masa kanak-kanak, koleksi berbagai barang antik dan temuan-temuan selama perjalanannya ke luar negeri, merupakan sumber ide kreasinya yang baru. Setiap lekuk pahatan menjadi cap kemahirannya memahat.

Unsur penting dari karya Tilem adalah kecintaan yang dalam pada pekerjaannya. Ia merasa sangat bahagia tatkala duduk bersilang kaki dan bertelanjang dada di atas tikar rotan di rumahnya yang asri, secara total menekuni ukiran patungnya. e-ti | sh

Data Singkat
Ida Bagus Tilem, Pematung / Tenar dari Deraan Kemiskinan | Direktori | Katolik, rohaniawan, romo, pematung

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here