Berjuang Lewat Muhammadiyah

 
0
139
Fakhruddin, KH
Fakhruddin, KH | Tokoh.ID

[PAHLAWAN] Ia merupakan ulama yang aktif dalam pergerakan nasional melalui keikutsertaannya di Budi Utomo, Sarekat Islam dan Muhammadiyah. Dalam posisinya sebagai pembina generasi muda Muhammadiyah, ia berjasa melakukan pembinaan para calon pemimpin.

Ilmu agama tidak menjauhkan seseorang dari masyarakat, tapi sebaliknya malah mendorong lebih giat dalam pengabdian. Hal itulah yang ditunjukkan Muhammad Jazuli atau yang lebih dikenal dengan nama Kiai Haji Fakhruddin. Sosok ulama yang disegani ini sejak lahir sudah dalam lingkungan agamis yang membuatnya akrab dengan segala hal yang bermuatan Islami. Ayahnya Haji Hasyim merupakan orang pertama yang mengajarkannya pendidikan agama. Selain berguru pada sang ayah, ia juga menimba ilmu agama dari para ulama terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan, selama delapan tahun, ia memperdalam pengetahuan agama ke Mekkah.

Bukan hanya aktif dalam bidang keagamaan, ia juga dikenal sebagai seorang ulama yang aktif dalam pergerakan nasional. Hal itu ditunjukkan melalui keikutsertaannya dalam beberapa organisasi, seperti Budi Utomo, Sarekat Islam (SI) dan Muhammadiyah. Ia mempunyai alasan tersendiri ketika memutuskan untuk bergabung dalam suatu perkumpulan. Ia masuk Sarekat Islam dan gerakan Muhammadiyah karena gerakan politik yang diusung dua organisasi itu bergerak dalam bidang keagamaan dan sosial. Gerakan politik SI misalnya, bertujuan meningkatkan kesadaran seseorang pada tingkat nation (bangsa). Sedangkan Muhammadiyah dianggapnya sebagai pemurnian agama Islam dan kiprah Muhammadiyah sendiri adalah bidang pendidikan.

Di Muhammadiyah, ia banyak berperan dalam pembinaan generasi muda sebagai calon pemimpin di masa depan. Berbagai bidang kegiatan organisasi pernah ditanganinya di samping kehebatannya sebagai juru dakwah yang selalu menekankan persatuan umat, seperti kepanduan Hizbul Wathan dan pemimpin organisasi Penolong Kesengsaraan Umat (PKU).

Ia mendirikan Percetakan Muhammadiyah sebagai salah satu sarana komunikasi dan pendidikan umat. Ia menyadari bahwa peningkatan pendidikan tidak mungkin dapat dilepaskan dari penyediaan sekolah yang memerlukan dana yang cukup. Maka dengan rela ia berkeliling ke berbagai kota seperti Jakarta, Pekalongan, dan Surabaya untuk menggerakkan umat bagi pendidikan generasi muda.

Menurut Fakhruddin, umat Islam harus berani menentang pikiran kolot untuk mencapai kemajuan. Untuk mendidik generasi muda yang kelak akan meneruskan sinar Islam, menurutnya sekolah-sekolah agama perlu diperbanyak. Tak hanya itu, metode dalam penyampaian dakwah pun harus terus menerus diperbarui. Dengan berlandaskan pemikiran-pemikiran tersebut, di bawah bendera Muhammadiyah, Fakhruddin giat melakukan pembinaan para calon pemimpin dan dikenal sebagai pembina generasi muda Muhammadiyah.

Kecerdasan Fakhruddin membuatnya dipercaya untuk mengemban berbagai tugas penting. Contohnya, ia pernah dipercaya menjadi pengurus bagian dakwah, bagian utama pustaka, dan bagian pengajaran. Tahun 1921, Fakhruddin juga pernah diutus ke Mekkah untuk meneliti nasib para jemaah haji asal Indonesia. Pada saat itu, jemaah haji dari Indonesia sering mendapat perlakuan yang kurang baik dari pejabat-pejabat Mekkah. Tapi dengan usahanya, berbagai hal yang kurang baik itu dapat diatasi. Sekembalinya dari Mekkah, ia pun langsung memprakarsai pembentukan Badan Penolong Haji.

Selain ke Mekkah, ia juga pernah diutus ke Kairo sebagai wakil umat Islam Indonesia untuk menghadiri Konferensi Islam.

Untuk menopang hidupnya, ia mencari nafkah dengan menjadi seorang pedagang. Pendapatannya dari hasil berdagang terbilang cukup besar, tetapi sebagian pendapatan tersebut disumbangkan untuk kepentingan organisasi. Rumahnya pun seringkali dipakai sebagai tempat kursus anggota Muhammadiyah.

Haji Fakhruddin juga giat menulis, hasil tulisannya selain dimuat dalam majalah, dan surat kabar juga dalam bentuk buku, antara lain Pan Islamisme dan Kepentingan Pengajaran Agama.

Kesibukannya mengurus Muhammadiyah dan usahanya, membuatnya kurang memperhatikan kesehatannya. Menjelang kongres Muhammadiyah di Yogyakarta pada tahun 1929, ia jatuh sakit. Pada tanggal 28 Februari 1929, ia akhirnya meninggal dunia di Yogyakarta dan dikebumikan di Pakuncen, Yogyakarta.

Atas jasa-jasanya kepada negara, Kiai Haji Fakhruddin dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 162/TK/Tahun 1964, tanggal 26 Juni 1964. e-ti

Data Singkat
Fakhruddin, KH, Pembina Generasi Muda Muhammadiyah / Berjuang Lewat Muhammadiyah | Pahlawan | muhammadiyah, Pahlawan, Pahlawan Kemerdekaan Nasional, SI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here