Protes Sosial ‘Pengamen Jalanan’

[ Iwan Fals ]
 
0
92
Iwan Fals
Iwan Fals | Tokoh.ID

[SELEBRITI] Virgiawan Listianto yang populer dengan nama Iwan Fals dikenal sebagai ‘wakil rakyat’ yang lantang menyuarakan seruan hati para wong cilik. Sepanjang karirnya selama kurang lebih 20 tahun di dunia musik ia telah terbukti memiliki kelompok penggemar khusus yang dekat dengan kemiskinan, ketidakadilan dan pengangguran. Lagu-lagunya kerap dihubungkan dengan protes-protes sosial seperti pernah terkenal lewat Oemar Bakrie (1981) dan Bento (1991).

Nama besar yang disandangnya saat ini dicapainya setelah melalui jalan penuh kerikil dan berdebu di bawah hujan dan terik matahari dalam komunitas ‘pengamen jalanan’. Pria yang diberi julukan “Pahlawan Besar Asia” menurut majalah Time Asia edisi 29 April 2002 ini mengalami banyak perubahan dalam hidupnya.

Kepergian anak pertamanya, Galang Rambu Anarki (almarhum), April 1997, seorang gitaris yang baru saja meluncurkan album perdananya di usia 15 tahun, membuatnya semakin menghargai posisinya sebagai seorang ayah yang harus menjaga, mendidik, dan memelihara anak-anaknya. Rasa cintanya kepada dua anaknya, Annisa Cikal Rambu Basae dan Rayya Rambu Robbani, adalah pengobar semangat di usianya yang kini sudah berkepala empat.

Iwan Fals yang pernah memperoleh Juara II Karate Tingkat Nasional, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik) sehari-harinya dipanggil Tanto. Ia lahir pada 3 September 1961 di Jakarta dalam keluarga besar yang taat beragama. Dari sembilan bersaudara, empat meninggal dunia. Semenjak kecil Iwan sering diajak ibunya, Lies Haryoso, mengikuti berbagai kegiatan sosial. Kini, ibunya masih aktif mengurusi sebuah yayasan sosial miliknya yang menampung anak-anak tidak mampu dan menyantuni orang-orang jompo. Yayasan sosial ‘Hairun Nissa’ yang didirikannya tahun 1986, kini menyantuni 213 anak dalam panti, 90 anak non panti, dan 313 orang tua jompo.

Semenjak kecil Iwan sudah berjiwa sosial dan sangat perhatian kepada teman-temannya. Itu semua terbukti ketika Iwan dengan murah hati memberikan pakaian yang dia pakai dan sepatu baru yang harganya mahal kepada temannya yang membutuhkan.

Meskipun cerdas, di sekolah Iwan biasa-biasa saja karena waktunya habis untuk mengembangkan bakat seninya dalam mencipta lagu, memainkan gitar, harmonika dan piano.

Menginjak usia 13 tahun, Iwan mulai mengamen di Bandung. Sama seperti anak SMP lainnya, Iwan suka memperhatikan teman-temannya yang sering memainkan gitar sembari nongkrong menghabiskan waktu. Tidak mau kalah dengan temannya, Iwan mulai belajar gitar sedikit demi sedikit. Suatu kali ia pernah mencoba memainkan gitar temannya, namun bukan pujian yang diterima melainkan omelan karena senar gitar itu dibuatnya putus.

Gitar seakan-akan sudah menjadi sahabat yang tak terpisahkan bagi Iwan. Bahkan ketika ia bersekolah di KBRI, Jedah, Arab Saudi, selama 8 bulan, gitar menjadi teman penghibur di kala sepi datang menghadang. Dalam perjalanan pulang dari Jedah ketika musim haji, Iwan mendapat pengalaman yang unik. Seorang pramugari mengajarinya menyanyikan lagu Blowing in the Wind Bob Dylan dan membantu menyetem gitarnya yang fals.

Karena ingin tampil beda dan menarik perhatian teman-temannya yang suka memainkan lagu-lagu Rolling Stones, Iwan yang juga menjadi pemain gitar di vokal grup sekolahnya SMP 5 Bandung mencoba mengarang lagu sendiri. Ia membuat lagu yang liriknya lucu, bercanda, bahkan mengutak-ngatik lagu orang. Ulahnya ini tentu membuat teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal.

Bersama Engkos, manajernya yang berprofesi sebagai tukang bengkel sepeda motor, Iwan mulai menyanyi di berbagai acara hajatan, kawinan atau sunatan. Kesibukan barunya dengan gitar sembari mencari teman dan memperluas pergaulan membuat ia sering membolos lalu pindah sekolah. Lagu Iwan sempat direkam dan diputar di Radio 8 EH namun radio ini akhirnya dibredel.

Waktu terus berjalan sementara lagu-lagu Iwan mulai terkenal, tidak hanya di Bandung tetapi juga di Jakarta. Karena tertarik dengan ajakan seorang produser, Iwan yang masih bersekolah di SMAK BPK Bandung, pergi ke Jakarta bersama teman-temannya dari Bandung, yakni Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam kelompok Ambradul untuk masuk dapur rekaman dengan bekal uang hasil penjualan sepeda motor Iwan. Namun, penjualan album tersebut kurang sukses di pasaran.

Setelah rekaman ini, Iwan kembali mengamen dan ikut berbagai festival. Ia sempat menjuarai festival musik country lalu mengikuti festival lagu humor. Oleh Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor Iwan direkam dan diproduseri oleh Handoko di bawah bendera perusahaan ABC Records. Dalam rekaman ini Iwan ditemani oleh Pepeng (pembaca acara kuis Jari-jari), Krisna, dan Nana Krip. Album ini pun bernasib sama dengan album rekaman sebelumnya yang hanya dikonsumsi kalangan tertentu saja, seperti anak muda.

Rupanya pintu kesempatan belum tertutup bagi Iwan. Setelah sempat rekaman sekitar 4-5 album, nama Iwan akhirnya melejit di tangan Musica Studio yang kemudian menghasilkan album-album karyanya, seperti Sarjana Muda, album solo perdananya, yang aransemen musiknya dimotori oleh Willy Soemantri, album 1910, album Mata Dewa, yang meledak di pasaran. Walaupun nama Iwan Fals sebagai penyanyi dan musisi semakin populer, banyak orang hanya tahu nama namun tidak kenal wajah karena Iwan baru masuk televisi setelah tahun 1987 padahal rekaman pertamanya dilakukan tahun 1979, waktu itu usianya masih 18 tahun.

Meskipun sudah masuk dapur rekaman dan albumnya diterima oleh pasar, Iwan diam-diam masih mengamen dari rumah ke rumah, acara hajatan dan sunatan, sembari sekali-sekali di Pasar Kaget, Blok M karena ia harus menghidupi keluarganya. Ia juga sekali-sekali memanfaatkan mobil colt abu-abu miliknya untuk menarik penumpang sepulang dari studio.

Pada awal 1982, isteri Iwan, Rosana, melahirkan anak pertama, Galang Rambu Anarki di tengah keadaan ekonomi yang sedang sulit. Meskipun demikian, Iwan tetap bersyukur dengan membuat lagu khusus berjudul Galang Rambu Anarki sama dengan nama anaknya. Selama 3 tahun selanjutnya Iwan masih mengamen. Baru tahun 1985, setelah anak keduanya lahir, Anissa Cikal Rambu Basae, Iwan memutuskan berhenti total dari mengamen.

Di masa Orde Baru, lagu-lagu Iwan sempat dicekal dan ia dilarang melakukan pertunjukan di beberapa daerah. Pada 1984 ia mendapat masalah karena lagunya yang berjudul Mbak Tini. Lagu ini berkisah tentang Mbak Tini, seorang pelacur yang membuka warung kopi di pinggir jalan dan mempunyai suami bernama Soeharto, seorang supir truk. Oleh pihak yang berwenang waktu itu, lagu tersebut dianggap menghina presiden RI, Soeharto. Akibatnya, Iwan terancam bakal masuk penjara. Padahal, menurut Iwan, lagu tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan Soeharto dan istrinya, (mendiang) Tien Soeharto.

Dalam mencipta lagu, Iwan mendapat inspirasi dari koran, televisi, keadaan sekitar dan alam. Saat rezim Orde Baru menghadapi detik-detik ketumbangannya, misalnya, ia membuat lagu berjudul Kamu Sudah Gila, Apa Kamu Sudah Jadi Tuhan? Sedangkan lagunya Belalang Tua diilhami oleh seekor belalang yang bergayut di selembar daun selama berhari-hari di kebun miliknya.

Setelah album Orang Gila (1993), Iwan, yang sempat kuliah di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (sekarang Institut Kesenian Jakarta) menghilang selama kurang lebih 10 tahun dari hingar bingar industri rekaman. Dalam kurun waktu itu, Iwan bergabung dengan berbagai kelompok, yakni Swami, Dalbo, Kantata Takwa, dan Kantata Samsara. Kolaborasinya itu melibatkan beberapa musisi dan budayawan ternama, seperti Setiawan Djody, Sawung Jabo, WS Rendra, dan Jocky Suryoprayogo.

Iwan juga melakukan beberapa kerjasama di luar kelompok tersebut, di antaranya melahirkan album Anak Wayang (bersama Sawung Jabo), Terminal dan Orang Pinggiran (bersama Franky Sahilatua), serta Mata Hati (bersama Bobby Erres). Baru pada tahun 2002, Iwan mengeluarkan album berjudul Suara Hati, sebuah album comeback yang betul-betul merupakan hasil karyanya bersama grupnya.

Pada 18 Juni 2003 yang lalu, Iwan bersama isterinya, Mbak Yos, yang juga merangkap sebagai manajernya baru saja melempar album baru di bawah bendera Musica Studio berjudul Iwan Fals: In Collaboration With, yang kebanyakan berisi lagu-lagu cinta. Dari 10 lagu, kecuali Rinduku karya Harry Roesli, lima lagu lainnya dibuat oleh pencipta-pencipta lagu muda, yaitu Pongky “Jikustik” (Aku Bukan Pilihan), Eross “Sheila on 7” (Senandung Lirih), Piyu “Padi” (Sesuatu yang Tertunda), Azis MS “Jamrud” (Ancur) dan Kikan “Cokelat” (Sudah Berlalu) sedangkan empat lagu lainnya, diambil dari album Suara Hati, yaitu Kupu-kupu Hitam Putih, Belalang Tua, Suara Hati dan Hadapi Saja yang semuanya diaransemen ulang. e-ti | Atur LPS dari berbagai sumber

Inspirasi Kritik Sosial

Bekerjasama dengan para pemusik muda memberi kesegaran baru bagi Iwan Fals. Karena itu, dalam album Iwan Fals, in Colaboration with ia mengajak pencipta lagu muda, antara lain Pongky Jikustik dan Eross Sheila on 7, untuk menciptakan lagu untuknya. “Melihat karya-karya mereka yang segar, memberi kegairahan baru bagi saya,” ujar Iwan.

Dengan kolaborasi itu, bukan berarti ia mengikuti jejak penyanyi lain yang kini juga banyak berkolaborasi dengan pemusik muda. “Kolaborasi sebenarnya saya sudah lakukan sejak 1979. Saya pernah berkolaborasi di grup Amburadul, KPJ sama Anto Baret, Swami, Kantata, Dalbo, dan lainnya. Tetapi, memang waktu itu tidak memakai istilah kolaborasi,” ungkap Iwan ketika dijumpai di sela persiapan acara 1 Jam Bersama Iwan Fals di Studio 1 Indosiar, Rabu (25/6/03).

Dalam acara yang disiarkan secara langsung itu Iwan tampil membawakan berbagai lagu, bukan hanya dari album barunya. Bahkan, ia membawakan lagu Bento yang selama ini tidak pernah dibawakan dalam konsernya dengan alasan lagu itu adalah karya dari Swami.

“Sebenarnya, saya tidak mau karena sudah banyak yang membawakan. Kalau saya bawakan, nanti orang malah bosan,” ujar Iwan yang sibuk mengurusi anak bungsunya, Rayya Rambu Robbani yang kini berusia lima bulan.
Iwan benar-benar serius mempersiapkan diri untuk acara 1 Jam Bersama Iwan Fals itu. “Kalau bagus, nantinya bisa ditayangkan di negara lain, seperti Malaysia atua Singapura. Mudah-mudahan bisa dapat Asian Television Award seperti yang pernah diraih 1 Jam Bersama artis lain,” ungkapnya. (Media Indonesia 27/6/03)

Ternyata, ada utang Iwan Fals –kepada PT Musica Studio’s– yang masih tertinggal setelah albumnya yang berjudul Suara Hati dirilis pada 2002. Tahun ini, utang seniman musik kawakan itu terbayar sudah lewat album Iwan Fals In Collaboration With yang diedarkan mulai 18 Juni ini.

Kepada KCM pada Selasa (17/6), Iwan bercerita: ketika album Suara Hati digarap, sebetulnya Indrawati Widjaja, Direktur Utama sekaligus Artist & Repertoir Director PT Musica Studio’s, meminta kepada Iwan untuk menjadikan aransemen beberapa lagu dalam album tersebut terdengar lebih mutakhir, dengan melibatkan aranjer-aranjer musik lain di luar Iwan dan grupnya.

Tapi, Iwan yang pada waktu itu baru kembali mengerjakan album sesudah sekitar 10 tahun tak aktif di industri musik rekaman, ingin album comeback-nya itu betul-betul merupakan hasil karyanya bersama grupnya.

“Saya bilang ke Bu Acin (Indrawati Widjaja), saya ingin Suara Hati betul-betul ditangani sendiri oleh saya dan grup saya, dan baru untuk album berikutnya saya akan mengikuti keinginan Bu Acin,” kenangnya.

Jadilah album Iwan Fals In Collaboration With dibikin sesuai konsep bos Musica Studio’s itu. Acin menempatkan Iwan sebagai vokalis yang bekerja sama dengan sejumlah pencipta lagu, aranjer musik dan pemusik yang rata-rata sedang populer saat ini.

***

Album baru Iwan berisi 10 lagu. Kebanyakan mengenai cinta. Empat di antaranya adalah lagu-lagu dari album Suara Hati, yaitu Kupu-kupu Hitam Putih, Belalang Tua, Suara Hati dan Hadapi Saja. Semuanya diaransemen ulang.

Selebihnya adalah lagu-lagu baru. Kecuali Rinduku karya Harry Roesli, lima lagu lainnya dibuat oleh pencipta-pencipta lagu muda, yaitu Pongky “Jikustik” (Aku Bukan Pilihan), Eross “Sheila on 7” (Senandung Lirih), Piyu “Padi” (Sesuatu yang Tertunda), Azis MS “Jamrud” (Ancur) dan Kikan “Cokelat” (Sudah Berlalu).

Khusus untuk Sesuatu yang Tertunda, Iwan “berduet” dengan grup Padi. Atas kerja sama Musica dan perusahaan rekaman Sony Music Entertainment Indonesia yang mengontrak Padi, lagu tersebut dirilis dalam album baru Padi, Save Our Souls, selain dalam album Iwan Fals In Collaboration With.

Sementara itu, para aranjer musik dan pemain musik yang dilibatkan, antara lain adalah Ahmad Dhani “Dewa” (aranjer), Herry Buchery (aranjer), Bagoes AA (aranjer), Andy “Bayou” (aranjer), gitaris Tohpati dan pemain bas Yuke yang suami Kikan. Dhani, contohnya, menangani lagu Hadapi Saja, sementara Herry kebagian lagu Aku Bukan Pilihan.

Terang Iwan, pemilihan lagu, aranjer musik dan pemain musik dilakukan oleh Acin. Tapi, lanjut Iwan, ia tetap punya suara. “Sebetulnya, lagu Ancur ciptaan Azis hampir ditolak oleh Bu Acin karena liriknya yang nakal. Tapi, saya bilang ke Bu Acin, masukkan saja. Lirik yang seperti itu kan ciri lagu ciptaan Azis. Akhirnya, lagu itu jadi dipakai,” ungkap Iwan yang mengaku oke-oke saja terhadap pilihan Acin.

Lantaran lirik Azis, dalam rekaman Iwan tertawa begitu menyelesaikan Ancur. Tawa tersebut terekam dan akhirnya dijadikan bagian penutup lagu itu.

Bagi Iwan bekerja sama dengan para pencipta lagu, aranjer musik dan pemusik tersebut amatlah menarik. “Sebelum bikin Suara Hati, saya kan sekitar 10 tahun terputus dari industri musik rekaman. Paling-paling saya cuma mendengarkan sepintas lagu-lagu mereka kalau menonton televisi.

Sekarang, dengan bekerja bareng mereka, saya jadi tahu keistimewaan karya mereka. Ternyata, melodi mereka kuat, syair mereka mengenai hal-hal yang mendasar,” paparnya.

Kata Iwan lagi, para artis musik itu dilibatkan demi mendapatkan lagu-lagu yang lebih dekat dengan masa kini. “Saya kan agak kuno,” ujarnya sembari tertawa.

“Album ini menunjukkan, Iwan juga mampu bekerja sama dengan orang-orang muda, seperti gitaris legendaris Santana. Selain itu, album ini juga bertujuan meluaskan pasar Iwan ke anak-anak muda,” kata Acin kepada KCM, beberapa waktu lalu. “Lagu-lagu mereka cocok untuk Iwan. Tapi, bukan berarti mereka kehilangan ciri,” imbuhnya.

***

Diterangkan oleh Acin, produksi Iwan Fals In Collaboration With dimulai pada empat lima bulan lalu di Jakarta. Iwan mengaku tidak mengalami masalah dalam bekerja sama dengan orang-orang muda dan menjiwai lagu-lagu karya pencipta-pencipta lain.

“Buat saya, enggak ada senior dan yunior,” ucapnya. “Sejak dulu, di grup-grup Kantata dan Swami misalnya, saya sudah menyanyikan lagu-lagu ciptaan orang-orang lain,” lanjutnya.

Selama rekaman berjalan, aku Iwan, ia diberi kebebasan oleh para pencipta tersebut untuk mengekspresikan lagu-lagu mereka, meski mereka hadir di studio. Namun, Iwan tetap memerlukan aranjer vokal. Herry Buchery-lah yang memenuhi kebutuhannya itu.

Setelah dijual mulai 18 Juni, Iwan Fals In Collaboration With akan dipromosikan. Lagu andalannya yang dipilih oleh Acin, Aku Bukan Pilihan, bakal bisa dinikmati di media-media elektronik.

Pada 22 Juni, dalam acara Pesta (Indosiar) edisi khusus HUT ke-476 Jakarta yang ditayangkan langsung dari Panggung Festival Taman Impian Jaya Ancol, Jakut, Iwan dengan gitar akustiknya akan menyuguhkan Aku Bukan Pilihan. Sesudah itu, pada 25 Juni (mulai pukul 21.30 WIB), bakal ada acara Satu Jam Bersama Iwan Fals (Indosiar).

Klip video Aku Bukan Pilihan juga sudah dibikin. Dengan sutradara Dimas Djayadiningrat dari rumah produksi Rexinema, syutingnya telah digelar di sebuah rumah tua di Depok (Jabar), pada 9 Mei lalu. e-ti | Ati, KCM dari berbagai sumber

Data Singkat
Iwan Fals, Penyanyi dan Pencipta Lagu / Protes Sosial ‘Pengamen Jalanan’ | Selebriti | musisi, Pencipta Lagu, Penyanyi, Selebriti, kritik sosial, balada

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here