Empat Sindrom Politik

 
0
251
Empat Sindrom Politik
Mudji Sutrisno | TokohIndonesia.com | DokPri

[OPINI] – Oleh FX Mudji Sutrisno SJ | Makna sindrom dimengerti dalam deskripsi kecenderungan bawah sadar yang muncul ke atas dalam pengulangan pemenuhan obsesi yang berkait dengan kehendak berkuasa (the will to power) yang tak terwujudkan karena hambatan-hambatan dalam struktur kepribadian orang, tetapi terus saja menghantuinya dan memberinya obsesi buat mencapainya meskipun realitas tak menolongnya untuk perwujudannya.

Ada empat sindrom yang kerap diteliti dan dipaparkan dalam psikologi perilaku. Yakni Sindrom Napoleon, Sindrom Pendiri, Sindrom Post Pawer dan Sindrom Anak Mama.

Sindrom Napoleon

Sindrom pertama, terutama bertaut dengan kehendak untuk tampil,menunjukkan dirinya eksis dan seolah ingin bilang “inilah aku”, ini disebut sindrom “Napoleon”. Sengaja diberi nama Napoleon bukan untuk merendahkannya dalam peran sejarah di Prancis pasca- Revolusi Prancis, melainkan untuk nama tampilan Napoleon yang “pendek fisik”tetapi berambisi besar untuk menaklukkan Eropa di bawah kekuasaannya sebagai raja justru karena dia tidak percaya lagi pada revolusi rakyat.

Sindrom Napoleon ini dalam deskripsi psikologis mau menunjuk gejala perilaku “si pungguk merindukan bulan”. Intinya si “cebol” ini ingin dilegitimasi dan diberi pengakuan sebagai penguasa. Ciri-cirinya: otoriter, merasa dirinya paling benar, selalu mengejar tampilan “raihan tinggi” begitu wewenang ada di tangannya entah itu sebagai profesor, jenderal, ketua, atau yang nomor satu di organisasi politik, kemasyarakatan, atau keagamaan.

Di dasar pemahaman apa itu kekuasaan termuat kemampuan dan kegiatan apa saja dalam mengontrol orang lain demi kepentingan si empunya kuasa. Dari sini saja nyata mudahnya politik tergelincir menjadikan hidup bersama sebagai lapangan perang rebutan saling mengerkah untuk tetap hidup seperti serigala-serigala (baca Homo Homini Lupus-nya Thomas Hobbes).

Dia senang pula dengan model membuat kelompok kerja secara “antek” alias menjadikan kelompoknya sebagai antek dan kacung-kacungnya. Sindrom itu berdampak pahit lantaran seketika yang bersindrom Napoleon berkuasa entah di bidang politik, akademik, yang nyata terjadi adalah pilihan like-dislike.

Artinya,dia akan memilih yang cocok dan yang disenangi serta yang mengiyakan karena mau di posisinya. Kepahitan lanjutnya adalah dia akan mengangkat gengnya, orang-orang pilihan yang dia sukai dan menyingkirkan yang tak disukai. Apakah kita sedang kena sindrom Napoleon ini? Hanya Anda sendiri yang bisa menjawab dengan tulus di saat politik kita di semua lini sedang tanpa etika ini.

Sindrom Pendiri

Sindrom nomor dua adalah sindrom merasa diri sebagai pendiri.Mengapa menjadi sindrom dengan nama merasa diri sebagai pendiri? Sebab, setelah institusi mengalami regenerasi kepemimpinan di tangan yang lebih muda, pendiri tetap saja “berhasrat” untuk terus intervensi. Mereka khawatir bila institusi yang didirikan melenceng dari visi awal yang sebenarnya visinya sebagai pendiri.

Sindrom sebagai pendiri yang harus dijadikan acuan terus ini berakibat pada memanjangnya dan “berlangsungnya” terus-menerus bayangbayang senioritas abadi.Padahal bila disadari dengan tulus setiap generasi selalu bertahap dari muda, lalu memegang tanggung jawab melanjutkan estafet pendiri dengan gaya kontekstual menurut zaman, lalu menjadi generasi fading.

Maukah kita rendah hati menerima diri sebagai generasi fading away alias menua dan berumur pasca-50 tahun? Sindrom ini hanya akan patah bila diadakan temu terbuka untuk membuka komunikasi jujur sejarah awal pendirian. Lalu dilakukan demitologisasi sindrom pendiri dan memberi porsi wajar proporsional pada jasa tiap generasi dan tokohtokohnya, lalu dirajut mana fakta nilai dan visi serta mana persepsi sejarah yang de facto dihidupi dan harus dicari relevansinya ke langkah ke depan.

Sindrom merasa pendiri ini juga bisa diselesaikan sesederhana hormat kita pada “yang kitatuakan” ,yaitu kakek nenek, lalu orang tua kita: bapak dan ibu kita, kemudian dengan pepatah menghormati mereka karena jasanya bisa dihayati seturut pepatah Jawa: mikul dhuwur mendhem jero (maksudnya, memberi hormat tinggi kepada mereka sekaligus mengendapkan nasihat-nasihat hidup mereka untuk dihayati mendalam).

Sindrom Post Power

Sindrom yang ketiga adalah post power. Sindrom ini amat lazim terjadi setelah orang tidak memegang kuasa lagi atau tidak menjabat wewenang lagi, tetapi masih mau berperilaku seperti masih di kursi jabatannya. Cirinya, dia tidak rela untuk menyadari diri dan menerima dirinya sudah tidak pegang kekuasaan lagi. Maka yang terucap di mana-mana adalah kisah suksesnya dalam ekspresi “his story” dan bukan sejarah atau history. Masa lalu dan masa yang baru saja dia tinggalkan kursinya masih menjadi acuan sadar dan bawah sadar terus-menerus.

Kadang-kadang kita lihat tampilan seseorang yang bersindrom ini dalam pakaian kebesaran lengkap penuh tanda jasa, tetapi dipakai di jalanan dan atau di pasar. Ini contoh paling ekstrem gejala tersebut. Cara mencari jalan keluarnya sederhana, yaitu mempersiapkan diri untuk fase pensiun. Ada cara terbagus,yaitu menaruh diri dan menyiapkan diri dalam tahap-tahap fase perjalananhidup.

Misalnya,fasetahapan politis saat berkiprah di ranah politik. Fase berseni-seni setelah fase politis.Lalu fase mencintai Indonesia sebagai guru. Fase pensiun sambil menyiapkan autobiografi demi sumbangan pikiran untuk bangsa. Menarik menyimak orangorang yang siap sekali untuk tidak terkenai sindrom ini melihat senyum bahagianya saat berkebun dan jadi penggerak ekologi dan gerakan hijau setelah pensiun dan menjadi sepuh. Ada lagi yang mendirikan pesantren atau sekolahan pencerahan lingkup kecil setelah tua.Namun yang lebih menyentuh lagi adalah ungkapan lucu menjadi generasi MC (bukan master of ceremony, tetapi dimaknai momong cucu).

Sindrom Anak Mama

Sindrom terakhir ini disepakati disebut sindrom “anak mama” atau “anak papa”. Sindrom ini berasal dari terlalu digendongnya si anak oleh mamanya atau papanya untuk melambangkan terus diproteksinya si anak sehingga si anak mengalami ketergantungan baik psikologis maupun dalam berkeputusan lantaran orang tua tidak cukup memberi ruang perkembangan kemandirian anak menuju pribadi dewasa yang otonom.

Sindrom ini menghasilkan orangorang dengan pribadi heteronom, tidak mandiri dan tidak tahan tanpa kepastian ekspresi cinta dan perhatian orang tuanya, sekalipun setelah ia berkeluargasendiri. Yang berat adalah suami atau istri bersamanya di kemudian hari, apalagi bila sang mertua satu rumah dengan pasangan ini. Dalam politik, sindrom ini selalu mendamba peneguhan, pengakuan dalam bayang-bayang mama biologis yang sudah ditransfer ke peneguhan dan perhatian kolektif atau bawahannya atau rekan-rekan kerjanya.

Cirinya secara mudah bercurah-hati atau mengeluh serta mengungkap apa saja yang menjadi ketidakenakan. Padahal sebenarnya masalahmasalah tersebut untuk orang dewasa merupakan tantangan pergulatan biasa dalam hidup, tetapi untuknya menjadi medium untuk meminta perhatian. Dengan kata lain, seakan seluruh dunia harus tahu dan mengerti bahwa dia sudah bekerja keras demi orang lain. Padahal, bertanggung jawab atas tugas yang dipikul adalah menanggungjawabi secara kesatria wajar-wajar dan biasa saja untuk kerja dan menyelesaikan tugas sebaik-baiknya.

Menghindari Sindrom

Refleksi empat sindrom di atas ketika berada dalam konstruksi kaburnya penilaian mengenai apa yang benar, apa yang baik, dan yang indah dalam nilai-nilai yang kita hidupi saat ini untuk digugatkan pada budi cerdas dan nurani jernih kita mengenai bagaimana mengatasinya baik sebagai individu ataupun bersama. Apalagi bila politik dimaknai segala permainan kuasa dan wewenang yang menyangkut kesejahteraan bersama mengandaikan etika praksisnya.

Di dasar pemahaman apa itu kekuasaan termuat kemampuan dan kegiatan apa saja dalam mengontrol orang lain demi kepentingan si empunya kuasa. Dari sini saja nyata mudahnya politik tergelincir menjadikan hidup bersama sebagai lapangan perang rebutan saling mengerkah untuk tetap hidup seperti serigala-serigala (baca Homo Homini Lupus-nya Thomas Hobbes).

Agar tak tergelincir ke sana, menyadari sindrom-sindrom Napoleon, post power, pendiri, dan anak mama, paling tidak bila diproses dalam kesadaran mendewasa akan membawa kita pada apa yang ditawarkan Driyarkara untuk hidup berpolitik di Indonesia, yaitu “manusia semogalah menjadi sahabat atau rekan bagi sesamanya”( homo homini socius). Opini TokohIndonesia.com | rbh

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Penulis: FX Mudji Sutrisno, SJ, Rohaniawan, Budayawan. Guru Besar STF Driyakara. Pernah juga diterbitkan di Harian Seputar Indonesia, 13 Oktober 2011, di bawah judul: Sindrom Politik.

Tokoh Terkait: Mudji Sutrisno, | Kategori: Opini | Tags: Katolik, Budaya, Moral, politik

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here