Saya Sudah Milik Nasional

 
0
39
Saya Sudah Milik Nasional
Syamsul Mu’arif | TokohIndonesia.com – wes

[WAWANCARA] – WAWANCARA SYAMSUL MU’ARIF: Dia seorang politisi yang tidak pernah mengejar jabatan. “Berkeinginan itu tidak boleh. Itu prinsip hidup saya. Tetapi kalau saya diberi tugas, saya harus laksanakan dengan baik. Semampu saya,” kata Syamsul Mu’arif, Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Kabinet Gotong-Royong, ini dalam wawancara dengan Wartawan TokohIndonesia.Com, di ruang tamu kantornya Jalan Medan Merdeka Barat (8/9/2004).

Dia juga menegaskan prinsip yang tidak bisa berpikir hanya untuk Kalimantan lagi. “Saya harus berpikir untuk Indonesia. Mohon maaf, saya tidak boleh memprioritaskan kampung saya karena saya sudah milik nasional,” katanya. Berikut petikan wawancara tersebut:

TI: Anda mengatakan tidak akan pergi ke Cikeas, apa itu terkait dengan posisi Anda sebagai kader Golkar, atau bagaimana?

Maksud saya, saya berprinsip dalam hidup itu adalah tidak mengejar jabatan. Saya tidak tahu mengapa saya dibentuk seperti itu. Berkeinginan itu tidak boleh. Itu prinsip hidup saya. Tetapi kalau saya diberi tugas, saya harus laksanakan dengan baik. Semampu saya.

Waktu jadi menteri, saya bersedih di depan anak dan isteri. Saya katakan, saya jadi anggota DPR saja sudah jarang makan bersama di rumah. Apalagi jadi menteri! Itu kesedihan saya yang pertama.

Kesedihan yang kedua, di tengah keluarga itu, hadir kawan-kawan masyarakat Kalimatan Selatan, karena saya orang Kalimantan Selatan. Saya katakan mulai saat ini, saya tidak bisa berpikir untuk Kalimantan lagi, saya harus berpikir untuk Indonesia. Mohon maaf, saya bilang, saya tidak boleh memprioritaskan kampung saya karena saya sudah milik nasional.

Filosofi-filosofi seperti itu memang agak sulit kita kembangkan dalam dunia yang katakanlah zaman edan kalau kita pakai Ronggowarsito.

TI: Sekarang ini, saya ingin sampaikan, saya diminta oleh partai saya di Kalimantan Selatan untuk pulang dan menjadi calon gubernur. Apa jawaban saya kepada masyarakat? Saya bilang, saya tidak memiliki ambisi apa pun. Tapi kalau tulus masyarakat itu menghendaki saya untuk pulang walaupun saya ini adalah menteri, saya siap untuk melaksanakan tugas itu. Tapi missionnya apa kalau saya harus pulang?

Saya kebetulan mengikuti jam 11 malam di SCTV, ada satu kabupaten baru namanya Tanah Bumbu. Di Tanah Bumbu itu, ilegal minning-nya luar biasa di Kalimantan Selatan. Jadi, kalau keluar malam, kota Banjarmasin penuh dengan arus masuk dan keluar kota angkutan batu bara. Jadi, setengah badan jalan rusak sebelahnya nggak. Karena yang lewat situ bawa batu bara kalau pulang kan sudah kosong.

Pak Nabiel Makarim memperhitungkan dibutuhkan 3-4 trilyun untuk mereklamasi, untuk mengembalikan alam. Betapa rusaknya, karena penambangan liar. Makanya, sekarang di Kalimantan Selatan ada ratusan sungai yang sudah tidak ada lagi airnya. Bayangkan kalau Kalimantan sudah kayak begitu, dia paru-paru dunia, apa yang akan terjadi? Kira-kira itu alasannya, pulang dong Pak, untuk memperbaiki keadaan ini. Kita perlu menyadarkan masyarakat bagaimana memperbaiki sungai itu tanpa merusak perekonomian rakyat.

Jadi, saya bilang, kalau itu tujuannya, saya siap kalau memang masyarakat menghendaki. Lalu apa yang saya katakan, tapi minta ijin dulu dong melalui mekanisme partai. Saya secara pribadi, tidak menjadi soal apakah menjadi menteri, menjadi gubernur, atau tidak jadi apa-apa.

Saat ini, saya mempunyai tiga pilihan. Pertama, menteri, tapi partai saya kan mengatakan kalau saya jadi menteri, saya dipecat. Pak Akbar mengatakan itu. Saya tunduk kepada partai. Saya tidak tahu kalau umpamanya betul-betul diminta, saya harus bersedia dipecat atau saya harus menolak. Ini masalah yang pertama. Ini terjadi bulan Oktober.

Kedua, bulan Desember, Munas partai saya. Terus terang saja, saya agak kurang sependapat dengan Pak Akbar untuk menempatkan diri sebagai oposisi permanen. Kalau oposisi loyal barangkali boleh. Tapi kalau oposisi dalam arti permanen rasanya tidak cocok. Permanen itu ditunjukkan dengan tidak mau satu orang pun dari kadernya untuk duduk di kabinet.

Nah, berarti saya juga harus memikirkan bagaimana partai saya lima tahun ke depan. Bukan menjadi ketua umum partai. Bukan. Tapi kalau umpamanya partai saya membutuhkan, saya kan nggak bisa pulang untuk yang ketiga yaitu kira-kira awal tahun 2005, pemilihannya sendiri terjadi pada bulan Juni yaitu pemilihan gubernur.

Dari ketiga pilihan ini harus dilakukan manajemennya dari sekarang, melakukan pilihan-pilihan, dan satu antara lain tidak bisa saling berhubungan. Umpamanya, kalau saya masuk ke kabinet, saya harus berhenti dari partai, berarti nggak bisa ikut di partai. Kalau saya jadi gubernur, saya nggak bisa ikut DPP, nggak bisa jadi menteri. Jadi, ini harus alternatif, ini yang harus saya pikirkan. Tidak berarti saya harus menteri tidak berarti saya harus jadi gubernur. Saya bisa saja ada ambil di partai, tidak menjadi ketua umum partai tapi untuk menjaga supaya partai saya ini lima tahun ke depan dihormati oleh rakyat karena menyelamatkan perjalanan republik. Saya ingin seperti itu.

Kalau saya berada di kabinet, saya ingin juga, walaupun presidennya Ibu Mega PDI-P, wakil presidennya PPP, saya Golkar, saya dan kawan-kawan di lintas fraksi itu bertekad ini harus selesai sampai 2004. Makanya saya tidak berpikir untuk keluar dari kabinet walaupun kawan-kawan saya banyak yang marah. Tapi akhirnya apa, eh, ternyata partai saya mendukung Ibu Mega.

Padahal waktu pertama-pertama, saya termasuk yang agak dimusuhi. Loh kok kita berkelahi di bawah, Pak Syamsul ikut ditempatkan di atas. Kan begitu waktu Pemilu 99.
Tapi baiknya ada kesadaran. Platform bersama itu yang penting bagi kepentingan nasional. Nah, kalau sudah ada hitam putih seperti yang dikembangkan Pak Akbar sekarang, wah bisa membahayakan juga. Nggak tahulah itu yang kemaren. Saya tidak melakukan pilihan.

Saya ikut filosofi air mengalir saja. Saya ada di dalamnya, yang penting saya tidak tenggelam dalam air itu. Tapi mengikuti arus, bersahaja apa adanya.

TI: Anda punya filosofi demikian, padahal waktu menggagas Lintas Fraksi dahulu menjatuhkan Gus Dur, Anda termasuk motor yang sangat aktif?

Dulu itu lintas fraksi, saya ketua fraksi. Pada waktu itu, presidennya Gus Dur. Saya tidak ingin menjatuhkan Gus Dur, saya ingin memperingati Gus Dur agar memperbaiki manajemen pemerintahan. Saya tiga kali pada waktu itu, kalau tidak salah, melalui orang-orang tertentu diminta untuk bertemu dengan Gus Dur. Saya menolak. Barangkali saya lebih cepat jadi menteri kalau seandainya saya mau datang pada waktu itu. Karena apa. Saya ingin memberi peringatan pada Gus Dur untuk memperbaiki manajemen pemerintahannya. Tapi nggak jalan-jalan.

Sekarang setelah saya tidak di pimpinan fraksi lagi, terkonsentrasi di sini, kegiatan untuk partai pun saya kurang. Tidak lagi aktif dalam lintas partai. Makanya dalam konteks membangun lintas partai yang sekarang, membangun koalisi itu, saya tidak mengambil peran. Kampanye pun saya tidak banyak mengambil peran karena kebanyakan harus melaksanakan tugas di sini. Saya beranggapan ini tugas negara, tugas partai masih ada yang lain, kecuali memang sangat dibutuhkan.

TI: Ini kan waktunya sudah sangat pendek untuk menjatuhkan pilihan-pilihan, menjadi menteri atau apa?

Saya katakan, saya tidak melakukan pilihan itu. Saya mengikuti seperti air mengalir. Saya dibawa ke mana, di mana nyangkutnya, saya akan terima semua kenyataan itu. Termasuk pulang kampung tidak jadi apa-apa pun, itu sudah saya siapkan.

Itu artinya, kita harus siap yang namanya kita merangkak dari bawah pelan-pelan ke atas, yah, kita harus siap ke bawah lagi. Makanya belajarlah. Kemarin, saya ke Semarang, nggak pakai ajudan. Kita belajar lagi untuk duduk bukan di ruang VIP tapi biasa. Tadi pagi pulang juga begitu. Jadi di airport, orang Garuda heran. Kok Bapak nggak ada ajudan, nggak ada yang melayani lagi. Saya paling dua tiga kali pakai VIP di Bandara Soekarno Hatta. Saya memang terbiasa hidup yang biasa saja. Duduk pun bersama kawan-kawan yang umum saja. Sering orang tanya, “Kok bapak tidak di VIP?” Yah, tidak harus di VIP dong. Jadi saya punya keyakinan, selama prinsip hidup itu saya pegang tidak dimusuhi orang, paling tidak. (Bersambung) ?(ht-mlp-sam-tsl (Juga diterbitkan di Majalah Tokoh Indonesia Edisi 16)

*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

 

 

 

02 | Kebersahajaan Keluarga

TI: Kebersahajaan Anda sudah banyak diketahui orang. Selama menjadi menteri, tiga tahun terakhir ini, bagaimana kehidupan keluarga apakah berubah?

Saya paling sulit dimintai oleh kawan bantuan untuk mencari pekerjaan bagi anaknya. Itu paling sulit buat saya, karena saya tidak mencarikan pekerjaan untuk anak saya. Kalau saya carikan pekerjaan untuk orang lain, saya akan dicemburui oleh anak saya. Itu contoh sederhana saja dari kehidupan saya.

Anak saya di sekolah pintar sendiri, tidak pernah satu surat pun saya minta supaya diterima di ITB. Tapi anak saya diterima di ITB, diterima di UI melalui perjuangannya sendiri, kepintarannya sendiri. Saya hanya membangun disiplin di rumah tangga walaupun saya dalam bentuk yang sangat terbatas bertemu dengan keluarga tapi disiplinnya harus tetap.
Kalau saya nggak ada di rumah, saat maghrib tiba, anak saya harus mimpin ibunya ikut di belakang, berjama’ah. Itu kan pembentukan karakter.

Saya bilang, berdosa saya menjadi orang yang membangun orang lain, katakan begitu, berjuang untuk orang lain, untuk bangsa, selama rumah tangga saya sendiri hancur-hancuran. Tapi saya katakan pada anak-anak, jangan karena bapak menjadi menteri, kamu jadi lebih hebat, lebih tinggi. Tapi kamu itu hebat karena punya prestasi. Itu yang saya bangun dalam rumah tangga saya. Prestasi belajar anak-anak sebetulnya memang bagus.

Bayangkan saya sampai menyuruh istri saya berhenti dari pegawai negeri. Tahun 1987 saya bersama keluarga pindah ke Jakarta. Istri saya mengurus kepindahannya ke Dinas Pendidikan DKI. Sudah masuk berkasnya, pulang. Besoknya datang orang DKI itu ke rumah, sore-sore: ‘Ibu, kalau ingin beres ini, gampang saja, uang doang’.

Itulah kata-kata pertama yang dikenal anak saya tentang ‘kejahatan’ Jakarta. Anak saya mendengar uang doang itu. Jadi saya bilang ke istri, ‘kalau begitu sudahlah, nggak usah, ngurus anak-anak sajalah, daripada anak-anak kita nanti rusak’. Jadi istri saya cuti di luar tanggungan negara dan pensiun dipercepat, dia ngurus anak, karena saya anak banyak, enam orang. Kalau saya lepas, siapa yang mengontrol anak-anak. Itulah, saya membangun rumah tangga.

TI: Apakah anak-anak Anda merasakan memperoleh previledge selama Bapak menjadi menteri?

Sulit saya mengevaluasi. Barangkali anak saya juga nggak suka dengan saya. Barangkali. Karena saya terlalu keras, sering marah. Anak saya yang pertama S-2, yang kedua S-2, dan ketiga juga S-2 sudah, yang keempat baru selesai S1-nya. Yang tiga ini kerja.

Yang ketiga ini perempuan di UI Sosiologi. Bayangkan saya marah sama dia kenapa, karena dia berhenti bekerja agar dia bisa menyelesaikan tesis S2-nya. Dia dulu bekerja di salah satu perusahaan. Saya bilang, kamu ini gimana, orang susah cari kerja di Jakarta, kamu tinggalkan pekerjaanmu. Gajinya kecil Pak, dia bilang. Ini perempuan. Akhirnya dia selesaikan tesisnya, cum laude. Dia langsung dapat 3 tawaran kerja. Dia kembali mengabdi pada almamaternya walaupun barangkali gajinya lebih kecil. Padahal ada perusahaan Jepang, ada PPM menariknya. Tapi dia ambil yang di UI, jadi konsultan dan sambil ngajar, barangkali penghasilannya nggak gede tapi dia mendapat kepuasan dari itu.

TI: Kalau Anda mengatakan hidup seperti air mengalir, apakah berarti tidak mempunyai ambisi politik?

Tadi saya sudah katakan. Jadi saya itu mengajukan diri untuk pengabdian, untuk melaksanakan tugas, bukan untuk mengejar sesuatu. Ingin berbuat yang terbaik. Saya memiliki prinsip, waktu saya dilatih di-training, basic training saya dulu di HMI: pantang tolak tugas, pantang ulur waktu, pantang kerja tak selesai. Ini saja prinsip yang harus dilakukan. InsyaAllah, kamu akan berprestasi.

Terus masih ingat melekat di kepala saya, Buya Hamka berpesan, kalau kamu menuntut keutamaan kamu konfrontasi dengan tidur. Jadi malam digunakan untuk membaca, untuk belajar, dan lain-lain.

Kemudian, kalau saya mendefinisikan bahagia itu apa. Bahagia itu bukanlah karena kita mendapatkan sesuatu yang kita cita-citakan atau yang kita inginkan. Bahagia itu adalah kemampuan untuk menahan penderitaan terpahit yang kita alami tanpa menggoncang stabilitas diri.

Sebab itu, kalau sudah sepahit apapun hidup yang kita alami, kita nggak goncang. Kepahitan itu justru menjadi nikmat, gitu loh kira-kira. Jadi itu saya katakan, ini adalah orang-orang yang disebut dengan problem hunter. Makanya istri saya bingung kalau seandainya saya pensiun. Jadi nggak ada lagi yang di-hunter-kan. Kayak apa Bapak ini kalau sudah harus pensiun. Saya bilang itu adalah tantangan baru saya, penderitaan baru saya, yang harus saya atasi. Jadi gak perlu ada post power syndrome. Itu justru jadi tantangan baru, bagaimana meng-handle kalau tidak diberi tugas apa-apa. ? (ht-mlp-sam-tsl (Juga diterbitkan di Majalah Tokoh Indonesia Edisi 16)

*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Tokoh Terkait: Syamsul Mu’arif, | Kategori: Wawancara | Tags: golkar, Nasional Demokrat, Soksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here